Belum Sadar

Naufal tetap menghabiskan malamnya dengan bermain judi. Sedangkan di rumah sakit sang istri menikmati malam dengan rasa kekuatiran, berharap rasa kuatir itu hilang menjadi rasa bahagia. Saat nanti sang putra telah dinyatakan sembuh.

Sudah dua hari Barlin dan Rinda menghabiskan waktu mereka di rumah sakit untuk menjaga anak. Dalam dua hari saat anaknya sakit, belum pernah nampak sosok seorang ayah datang menemui putranya Aldi pada saat itu.

Bahkan Naufal belum ada balik ke rumah mengabiskan hari-hari, dengan bermain judi dan bermalas. Pada saat anak mereka di rawat di rumah sakit, saat malam kedua itu jugalah, Naufal kalah taruhan judi hingga berhutang dua ratus juta.

Naufal menghubungi istrinya, bukan untuk menanya kabar anak mereka? Namun Barlin ingin meminta uang. Jika tak punya uang Rinda, mau tak mau perempuan itu harus mengusahakan, uang yang telah diminta Naufal.

Saat mengelus anaknya yang terbangun karena kemoterapi di pagi hari. Ada bunyi dering dari dalam tas Rinda, di tas tersebut tersimpan sebuah handphone.

Tas di taruh dalam meja tersebut, Rinda lalu membuka tas tersebut. Betapa bahagianya wanita ini, saat yang menghubungi dirinya adalah suaminya.

"Pasti dia mau nanya kabar anak ...," gumam Rinda dalam hati.

Rinda menundukkan kepala dan hendak keluar. Untuk berbicara, tanpa di dengar oleh Barlin karena hal ini berkaitan dengan privasi keluarga.

"Barlin ... gue angkat telpon dari suami. Dia menghubungi, Saya." Tepuk Rinda ke bahu Barlin.

"Hmmmm," jawab singkat Barlin, bernada cemburu.

Segera Rinda beranjak dan Aldi melihat mamanya, seakan menutupi sesuatu darinya pada saat itu. Sudah dua hari, Aldi tidak melihat sosok ayah menemaninya di rumah sakit.

"Om ... Ayah kemana, ya?" tanya Aldi pada pria lebih muda 3 tahun dari sang ibu.

Barlin spontan terkejut dengan pertanyaan putra Rinda. Pria itu takut salah ngomong mengenai suami wanita itu, demi menjaga perasaan anak dari wanita itu. Barlin menjawab dengan sangat hati-hat takut melukai hati anak-anak.

"Ayah, Kamu? Ayah Naufal sedang bekerja Sayang," ucap Barlin.

Anak itu keningnya sempat berkerut, setahu Aldi sang ayah hanya seorang pengangguran dan menurut pengakuan sang mama juga begitu, bahkan sang mama yang selalu direpotkan, sebab mempunyai seorang suami pengganguran.

"Sejak kapan Ayah bekerja ...?" tanya Aldi pada Barlin.

Ternyata Aldi tidak seperti yang dibayangkan oleh Barlin, bahwa anak itu tidak akan mempersalahkan jawaban yang dilontarkan Barlin. Ternyata anak itu sangat cerdas bahkan kuat dalam ingatan.

"Hmm Ayah, Kamu. Sudah dapat pekerjaan dua hari kemarin." Barlin menjawab lagi dengan sangat hati-hati.

Bocah kecil itu sangat senang, mendengar ucapan Barlin. Setiap kali, sang mama meninggalkan rumah pada malam hati, Aldi selalu berkaca-kaca matanya, seakan tidak rela mamanya bekerja malam hari dan anak itu ingin mengikut ke tempat kerja mama.

Namun Rinda tidak membolehkan dengan alasan, tidak ada anak-anak yang boleh di bawa ke tempat kerja. Akhirnya Aldi tidak bisa ikut dan berharap suatu saat nanti, bisa membanggakan mamanya.

"Wah aku senang mendengarnya, kini mama tidak perlu lagi. Menjadi beban, setiap kali melihat mama, aku selalu merasakan kasihan sama, Mama." Anak itu seakan tahu penderitaan Orang tuanya, seakan mengerti saat ini mama tercinta adalah kepala dalam rumah tangga.

Di sisi lain saat sang putra mengobrol dengan pria yang menemaninya. Wanita ini sedang mengangkat telpon, tak lain yang menghubungi Rinda saat itu adalah sang suami.

"Halo, Sayang kemana saja? Semenjak anak kita di rawat di rumah sakit. Kamu tak ada menghubungi balik, aku ini memberikan kabar bahagia sama kamu, bahwa putra kita sudah mulai pulih," kata Rinda menceritakan semua kebahagiaan tersalurkan kembali.

"Tidak perlu banyak bicara! Aku menghubungi kamu, bukan untuk menanyakan kabar anak kita." Naufal seakan tak peduli dengan kehidupan istri dan anak, dunia dalam perjudian sudah menghancurkan Naufal menjadi jauh.

"Maksud kamu apa sayang ...?" kata Rinda seakan tak mengerti.

"Aku menghubungi, untuk meminta uang dua ratus juta!" kata pria itu langsung tutup point pada saat itu.

Sontak saja perkataan Naufal, membuat Rinda histeris. Uang dua ratus juta buat apa suami? Sedangkan, selama ini wanita ini hanya mengentahui Naufal seorang pengangguran, tidak mungkin untuk modal dalam usaha.

"Buat apa? Kamu, kok langsung meminta uang, sih! Apa tidak peduli lagi, bukan kabar anak yang langsung ditanya?" teriak Rinda sedikit menjauh dari keramaian.

"Pokoknya aku butuh uang itu! Buat apa aku peduli anak, sedangkan mereka ada sama kamu, jika mereka sudah sama, kamu, artinya hidup mereka akan aman." Pria itu membasmi mental Rinda habis-habisan.

Rinda tidak tahu uang tersebut digunakan buat apa sama suami? Dibenaknya, kemudian terlintas, bahwa uang tersebut akan digunakan untuk judi.

Wanita itu juga berusa menahan kemarahan dalam hati, bahwa suaminya juga seorang pecandu minuman keras. Istri mana yang tidak merasakan penat, menghadapi suami yang tidak beres dan hanya bermalas-malasan saja.

"Uang dua ratus juta, buat apa ...?" tanya ibu tiga anak ini.

"Hmm uang tersebut, aku kalah dalam taruhan judi tadi malam, bahkan aku sudah berhutang. Aku harus melunasi hutang dan jika tak dilunasi, maka aku tak bisa ikut dalam taruhan judi dua hari lagi!"

Spontan Rinda ingin menjerit, sudah ke tiga kalinya. Dirinya dilibatkan untuk membayar hutang suami, hutang yang tiada ujungnya dan selalu pelampiasan ke istri.

Mengapa setiap kali habis taruhan judi? Hati istri yang selalu dipermainkan! Seakan tak peduli dengan kehidupan istri. Bahkan jika pria itu mencintainya, tak akan mungkin bisa melihat istri berjuang sendirian dalam mencari nafkah.

"Terus ... hutang kamu lampiaskan ke istri kamu, sadar dong! Aku ini sedang mengurus anak sedang sakit! Bagaimana, aku bisa membayar semua hutang kamu!" jawab Rinda merasa marah.

Naufal tidak mau tahu, uang tersebut harus ada. Memaksa istrinya, untuk mencarikan uang atau meminta uang pria kaya yang dikenalnya.

"Diam! Tidak perlu menasehati aku, kamu mempunyai banyak kenalan pria kaya serta client. Dari pria kaya kenalan, selama menjadi pelacur, kamu kan sangat hebat dalam menggaet pria kaya." Pria itu tak habis dengan cara berpikirnya.

Tak ada uang lagi tinggal gampang saja meminta. Soalnya, istrinya sudah mempunyai banyak melayani pria kaya, mereka juga pasti menuruti kemauan istrinya.

"Tega banget, loh! Aku ini bukan perempuan rendahan! Ingatlah, aku bekerja menjadi pelacur, bukan karena keinginan dari dasar hatiku. Melainkan menjadi pelacur adalah jalan pintas, demi kesembuhan anak kita Aldi yang sedang berjuang sembuh." Rinda menahan tangis saat bicara.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!