Pada malam itu Barlin, Rinda dan anak-anak menjaga Aldi di rumah sakit, malam penuh kesunyian itu Rinda mengirim pesan singkat untuk suami. Supaya tidak terkejut saat pulang ke rumah, tidak mendapati mereka di rumah.
"Sayang, Aldi sakit lagi dan malam ini kami bersama Barlin membawanya langsung ke rumah sakit" Isi pesan singkat dari Rinda terhadap Naufal.
Malam itu suami sedang bermain judi di iringi dengan banyak wanita malam, menemani Naufal dan teman-teman, mereka berpesta ria meminum alkohol.
Naufal membaca pesan masuk dari istrinya sekilas pria itu kaget. Namun kemudian berlagak biasa saja, seakan tidak terjadi sesuatu dihadapan sahabatnya.
"Siapa itu, Naufal?" tanya mereka kepada Naufal saat melihat pria itu termenung sejenak.
Naufal hanya menggelengkan kepala, bahwa itu hanya pesan biasa saja, " Istri aku meminta aku, untuk kembali cepat," ucap Naufal.
"Hahahaha dasar suami takut istri." Mereka semua menertawakan Naufal.
Naufal terdiam wajahnya merah menahan rasa malu. Lalu melanjutkan judi tersebut dengan wanita cantik berada disampingnya malam itu, sebagai pelepat penat. Sebab sudah lama tidak cuci mata, dengan keluar mencari hiburan.
Di saat malam itu di sujud rumah sakit Rinda sedang gelisah, terlihat langkah wanita itu sedang mondar-mandir menapaki langkah tiap langkah, lantai yang telah di injaknya tersebut.
Barlin yang melihat Rinda sedang kuatir segera merangkul dari belakang, pria ini tahu solusinya adalah dengan memeluk. Begitulah yang dilakukan Barlin pada malam itu memeluk seorang ibu tiga yang sedang berjuang demi anak.
Melihat Rinda menangis sesenggukan selesai meniduri kedua putrinya, Rinda tidak kuat menahan rasa cemasnya. Jika suatu saat Aldi tidak ada di dekatnya.
Barlin sangat peka dengan keadaan, segera pria itu mengambil tisu dengan bungkus kecil. Biasa ditaruh dalam saku celananya pria itu meraba saku celananya dan menghapus air mata, membanjiri pipi Rinda pada saat itu.
"Air mata kamu banyak keluar, biar aku hapus keseluruhannya," ucap Barlin menatap Rinda menghapus air mata yang telah membanjiri pelupuk matanya.
"Tidak perlu, Barlin." Rinda menangkap tangan Barlin yang sudah menyentuh pipinya dan menurunkan ke bawah, sudah segan karena pria ini selalu menolongnya.
Wanita ini merasakan, bahwa mengapa tidak dulu Barlin yang hadir. Sebelum mengenal Naufal, jika dulu Barlin hadir terlebih dahulu mungkin Rinda, akan memilih pria itu untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.
Bahkan wanita ini sudah banyak mengetahui tentang seluk beluk, keluarga Barlin. Pria ini sudah kehilangan mama sejak lulus dari universitas dan kehilangan seorang Ayah sejak masih kecil.
Keduanya sudah sama-sama kehilangan Orang tua. Rinda merupakan anak tunggal dari keluarga biasa saja, sedangkan Barlin merupakan keturunan dengan hidup penuh bergelimang harta.
Barlin tidak pernah merasakan hidup susah dari kecil, bahkan meninggal kedua Orang tuanya. Barlin mendapatkan perhatian penuh dari Tante, adik dari mama Barlin.
Barlin tidak pernah merasakan hidup susah dan berada di posisi Rinda pun, belum pernah dialami oleh pria ini. Namun Barlin tidak pernah memandang pertemanan, dari segi status sosial seseorang.
"Aku tahu semua orang punya masalah tinggal bagaimana, kita bisa menghadapi masalah?" kata Barlin memegang tangan wanita itu dan menyandarkan ke dada Barlin saat itu.
"Barlin ... aku terharu, Mengapa kita tidak saling mengenal, sebelum mengenal suami aku saja?" ucap Rinda berlinang air mata hingga air mata itu, basah kebagian leher Rinda.
Barlin memperhatikan sejenak, bahwa air mata wanita itu sudah membasahi sampai kepermukaan leher, tidak tega pria itu mengambil tisu dan memberikan kepada Rinda supaya melap keringat yang membasahi lehernya.
"Aku juga sangat menyayangkan hal ini, kita bertemu disaat, kamu sudah menjadi milik Orang lain." Barlin juga bertanya apakah suatu saat akan memiliki, perempuan yang sangat dia cintai ini.
Mereka saling menghayati kisah cinta mereka yang tiada ujung, berharap suatu hari nanti mereka dipersatukan menjadi pasangan sehidup semati. Namun ada suami yang akan menjadi penghalang besar.
"Namun sayang, penghalang terbesar untuk saat ini adalah suamiku ...," kata ibu tiga anak ini kegundahan luar biasa, tidak mungkin wanita ini bercerai begitu saja. Tanpa persetujuan dari anak kandung.
Rinda sudah muak menjalani pernikahan yang tak ada penyelesaian ini, bahkan melihat suami hanya tidur. Tak ada hal yang dikerjakan untuk mencari uang, sejatinya pria ini tetap menjadi seorang pengganguran.
Mencari kerja hanya sosok istri, suami bermalas. Meletakan kepalanya di bantal hanya untuk menjadi kaum rebahan, hati istri mana yang kuat, sedangkan ibu tiga anak selalu bekerja malam. Mencari target client pria kaya, supaya bisa mencukupi kehidupan mereka.
"Tidak perlu takut, Sayang. Kita akan hadapi berdua, selagi kita masih saling menyanyangi selamanya." Pria itu menyakinkan Rinda.
Suatu saat nanti mereka akan bisa hidup bersama, Barlin tidak akan mengantikan posisi sang suami. Seandainya anak wanita ini belum merestui, pria ini menjadi bapak baru bagi mereka.
Barlin akan terus berusaha, untuk menyakinkan anak Rinda, bahwa pria ini akan menjadi bapak yang baik untuk anak-anak kedepannya.
"Berjanjilah? Kelak kamu akan menjadi Bapak yang baik untuk anakku?" kata Rinda dibalik kata-kata, bisa disimpulkan, selama berumah tangga suami tidak pernah memberikan kebahagiaan dlm rumah tangga mereka.
"Aku akan berusaha meluluhkan hati anak-anakmu, bahwa aku ini akan menjadi suami yang baik," kata Barlin menyakinkan wanita ini.
"Ya, aku mengerti, tetapi aku belum bisa menceraikan suamiku. Anak aku masih sakit dan saat nanti ketika Aldi sudah sembuh dari sakit, aku bisa mengambil keputusan untuk menceraikan suamiku." Rinda memberikan harapan kepada Barlin.
Pria itu tidak bisa memaksa Rinda, untuk menerima ajakan dirinya menikah cepat karena ada suami wanita itu. Harus dihadapi oleh Barlin terlebih dulu, anak-anak juga belum siap pisah dari ayah mereka.
"Oke, akan aku tunggu kamu, sampai menjadi milik aku." Barlin memegang tangan wanita itu penuh cinta dan kasih sayang.
"Mohon bersabar ...."
Saat malam di rumah sakit, saat Rinda membutuhkan sosok suami untuk mendampinginya mengurus anak. Ternyata suami lebih memilih bermain judi di meja pertarungan dengan temannya.
Wanita ini tidak pernah di temani oleh suami di rumah sakit, wanita ini hanya ditemani oleh kekasihnya. Seseorang yang memberikan perhatian lebih kepadanya, sebagai wanita lebih merasa dihargai oleh orang lain dari pada suami sendiri tak peduli.
"Aku juga mengucapkan terima kasih kepada dirimu, sudah menemani aku pada malam ini di rumah sakit. Andai tidak ada kamu mungkin aku bisa menjerit, tak ada yang peduli dengan aku. Semua kebaikan dirimu tidak akan pernah aku lupakan," ucap Rinda menoleh ke arah Barlin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments