Malam itu Barlin dan sahabatnya nongkrong disebuah bar, semua yang berkumpul pada malam itu ada 10 orang, mereka bercerita tentang karir dan kisah asmara mereka selama ini.
Giliran Andi sahabat Barlin bercerita tentang mau dijodohkan, " Gue mau dijodohkan sama anak teman Bapak gue," curhat Andi pada sahabatnya, mereka sontak saja kaget dengan Andi.
Selama ini mereka mengenal Andi adalah seorang playboy, spek cewek mana pun bisa didapat oleh pria ini. Sekilas para sahabatnya menjadi bingung sendiri, apakah Andi akan menerima cewek tersebut yang sangat jauh dari standarnya.
Barlin bertanya, " Lah terus Kamu terima dengan perjodohan ini?" tanya Barlin tersenyum dan merasakan lucu, lalu mereka sama-sama ketawa melihat reaksi Andi tidak bisa berkata apa-apa lagi merasakan dilema tidak mungkin mau dijodohkan, bukan zamannya lagi untuk dijodohkan.
Andi merasa dilema, " Tidak mungkin gue menolak, bro. Orang tua gue sudah mengancam harus menikah,"
"Ya, sudahlah. Ikuti kata Orang tua loh saja sekarang," jawab Barlin.
Barlin juga merasakan kegundahan jauh didalam hatinya. Ingin rasanya cerita pada 9 orang sahabatnya ini. Namun Barlin tidak bisa mengungkapkan aib Rinda wanita yang dicintainya tersebut.
"Aku tidak bisa menceritakan ini semua pada sahabatku," gumam Barlin dalam hati.
Melihat 9 orang sahabatnya menatapnya dengan serius. Barlin mengalihkan pembicaraan, dalam benaknya tidak mungkin untuk bercerita tentang wanita yang merupakan seorang pelacur, sebab Barlin masih malu untuk mengakui. Kini dekat dengan seorang pelacur.
"Mengapa menatapku dengan serius? Ayo minum lagi ...," kata pria itu mengambil gelas dan membuka botol minuman keras untuk diberikan kepada temannya.
Salah satu sahabat Barlin bertanya, " Kisah asmara, bagaimana kisah asmara kamu Barlin?" tanya Vanno kepada pria itu.
Barlin mendekatkan bibirnya, untuk minum bir bingung untuk menjawab, tidaklah mungkin Barlin cerita kini yang didekati adalah ibu tiga anak dan juga seorang pelacur.
"Aku tidak mempunyai pacar sekarang, tapi aku sedang dekat dengan seorang perempuan." Barlin memulai untuk sedikit cerita masalah asmaranya.
Pria ini dilema sekarang antara mempertahankan atau meninggalkan wanita yang dicintai. Namun hatinya belum siap untuk berpisah, dimalam kelabu tersebut Barlin merenungi sejenak, lalu berpikir jika suatu saat Barlin memulai hubungan dengan wanita itu sebagai pasangan. Apakah sahabat dan Orang terdekatnya bisa menerima hubungan mereka.
Vanno mengingat lagi seminggu yang lalu dia pernah bertemu Barlin dengan seorang wanita. Perempuan itu, tak lain adalah Rinda wanita berambut panjang, terurai dan memiliki tubuh semok.
"Oh, ya, Barlin. Satu minggu yang lalu, gue melihat loh dengan seorang perempuan keluar dari bar, kebetulan tanpa sengaja aku melihat kamu dengan wanita itu, siapakah wanita itu, Barlin?" tanya Vanno tiba-tiba terlintas dalam isi kepalanya.
Barlin menjadi panik, tangannya keringat dingin seketika. Saat sahabatnya Vanno melihatnya jalan keluar bersama Rinda pada saat itu.
"Apakah aku jujur pada mereka, bahwa Rinda adalah wanita yang sedang aku dekati pada saat ini," guman Barlin dalam hati rasanya jiwanya bergejolak, untuk menyampaikan sesuatu ini. Pastilah sahabatnya akan menentang hubungan mereka, andai tahu latar belakang perempuan itu.
Barlin merenung sebentar lalu membuka keberanian untuk bercerita, " Wanita itu adalah orang yang sedang aku dekati pada saat ini. Dia juga wanita pertama yang mengindahkan hatiku." Wajar Barlin berbicara seperti itu.
Selama tinggal oleh kedua Orang tuanya bahkan ditinggal menikah sang mantan 8 bulan lalu, lantas sebagai pria paling disakiti menggangap si mantan sangat jahat membuat Barlin, menutup pintu hatinya dengan rapat.
Tidak akan memulai pacaran lagi dan berpegang teguh pada prinsipnya, bahwa pacaran hanya akan menghabiskan waktu saja. Pacaran tidak akan membawa keberuntungan lagi, bagi pria yang sudah di tinggal menikah ini.
Vanno dan kedelapan sahabatnya saat mendengar jawaban Barlin, mereka bertepuk tangan, seakan memberikan respon positif setelah lama melihat sahabatnya Barlin diambang kepedihan ketika ditinggal menikah oleh Mery.
"Bagus, nah gini dong, berusaha bangkit lagi kedepannya, kemana Barlin yang kami kenal playboy dulu, menjadi menutup pintu hatinya dengan rapat," jawab sahabatnya dengan bersama-sama.
Barlin hanya bisa memiringkan senyumnya pada sahabatnya, sangat berterima mendapatkan sahabat yang memberikan suport luar biasa, teringat saat 8 bulan yang lalu, saat Mery pergi karena sudah hamil duluan dengan selingkuhannya.
Pada saat itulah Barlin merasa kecewa dan tak percaya cinta. Setelah bertahun-tahun menaruh harapan besar kepada Mery, tanpa sepengatahuan Barlin, ternyata sang mantan sudah mempunyai hubungan gelap dengan orang lain.
Hati pria mana yang tidak hancur, saat melihat semua kehidupan tak terarah bahkan sempat ingin melampiaskan kemarahan kepada semua orang dan tak menampakan diri berbulan-bulan karena malu.
"Aku sebenarnya belum bisa bangkit dari kegagalan percintaan, tetapi wanita yang aku cintai saat ini, latar belakang dan kehidupannya juga sangat dramatis," kata pria itu kepada sahabatnya, sambil meminum bir yang ditaruh dalam gelas.
"Memang wanita seperti apa yang kamu cintai sekarang? Bagaimana dengan kehidupan keluarganya?" sambung Aldo sahabat Barlin.
"Sulit untuk menjelaskan kepada semua Orang, bahwa tidak akan percaya? Dengan apa yang aku bicarakan." Barlin belum bisa menaruh kepercayaan lebih kepada sahabatnya, lalu karena enggan untuk berbicara segera pria ini beranjak untuk berdiri dan meninggalkan ruangan Bar yang mereka singgahi.
Semua sahabatnya tercengang melihat kelakuan pria ini yang sangat aneh. Bahkan raut wajah Barlin seketika berubah, seakan tak percaya untuk bercerita kepada sahabatnya. Sebab hal ini adalah masalah berat dalam hidupnya.
Tak memperdulikan sahabatnya Barlin mengemudikan mobilnya, untuk pulang kembali ke rumah. Di dalam mobil Barlin menyesalkan mengapa harus singgah dihati seseorang yang kini sudah berstatus sebagai istri orang.
"Mengapa aku menaruh perasaan dengan istri orang, mengapa perasaan ini selalu salah tempat dan status?" tanya Barlin dalam hatinya sekaligus memukul pelan kaca mobilnya, sepanjang perjalanan Barlin merasa terpukul dengan kenyataan yang harus dia terima.
Barlin hendak menemui Rinda yang sudah demam selama satu minum. Namun Barlin tidak mempunyai keberanian untuk melangkah ke rumah wanita yang sangat dia cintai karena sudah mempunyai suami.
"Aku rindu kamu, apakah aku harus ke rumah kamu, supaya kita bisa saling menatap satu sama lain?" gumam Barlin dalam hati sambil menatap foto kebersamaan mereka di layar handphonenya.
Beginilah nasib mencintai istri orang saat rindu hati harus ditahan. Saat ingin bertemu harus pandai dalam mencari kesempatan dan jika ingin memiliki, harus bercerai dulu dengan suami.
Sesampainya di rumah, Barlin menatap layar handphonenya seakan ingin mendapatkan notifikasi chat dari Rinda, sudah dua jam sesampainya pria itu di rumah belum juga mendapatkan notif chat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments