Rinda Pulang Ke Rumah

Rinda pulang dengan capek karena melayani kliennya dan juga jalan bersama Barlin. Pria yang setia menemaninya jalan-jalan ditengah kegundahan dirinya sebagai istri Naufal.

Malam itu sekitar jam empat subuh Rinda pulang ke rumah. Membuka pintu dengan berhati-hati, tanpa ada gesekan dan suara berbunyi, sebab takut membangun anak-anaknya.

Dengan penampilan super seksi dan dress tipis. Matanya tertuju pada sang suami saat beranjak ke kamar, pria tersebut tertidur hingga membuat perempuan itu merasa batinnya bergejolak dan jiwanya terasa hancur lebur.

Kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala begitulah yang cocok saat ini untuk Rinda. Jiwanya melebur, menatap suami dengan penuh kebencian.

"Dia tertidur enak banget, sedangkan aku harus berjuang ...," gumam Rinda dalam hati air mata tidak terasa membanjiri pipinya saat ini.

Kemarahan serta tidak bisa meredam emosi yang merogoh batinnya, bertahun-tahun menikah wanita ini selalu menanggung beban sendirian, padahal sudah punya suami setelah menikah.

Seharusnya suami yang menjadi teman hidup tidak bisa berjuang bersama, bahkan Rinda lah yang berjuang sendirian dalam tumpuan dan cobaan yang datang mengguncangkan rumah tangga mereka.

"Aku kuat dan aku kuat ...." Kalimat itulah yang selalu dikeluarkan Rinda saat menatap suaminya yang tertidur, namun didalam hatinya menangis, harus kuat dengan terpaan masalah yang datang.

Rinda beranjak untuk melepaskan rasa penatnya di ruang tamu, wanita ini duduk termenung sembari menundukkan kepalanya saat itu. Tanpa terasa air mata jatuh berderai dikedua pipinya.

Saat termenung ada panggilan dan hp yang diletakkan di pojok pinggir meja sudut tersebut, segera diraba Rinda untuk memastikan siapa yang menghubunginya sudah subuh begini? Pikirannya terlintas kearah Barlin.

Ternyata benar yang menghubungi Rinda pada subuh tersebut adalah Barlin, ingin memastikan apakah Rinda baik-baik saja dan Barlin selalu menguatkan Rinda untuk berdiri atas cobaan prahara dalam rumah tangga wanita ini.

"Barlin, aku pikir orang lain menghubungiku subuh begini? Ternyata kamu yang menghubungiku," jawab wanita ini mengangkat telpon dengan tertawa.

Barlin lega akhirnya setelah dua kali tidak diangkat, akhirnya diangkat, saat tidak diangkat wanita ini sedang mencuci wajahnya dan membersihkan tubuhnya.

"Sayang mengapa tak diangkat tadi?" protes Barlin.

"Maafkan aku, Sayang. Tadi aku membersihkan tubuhku ...," jawab Rinda pada pria yang mencintainya tersebut.

"Oalah, aku tadi sampai kuatir, kalau suami kamu kasar main tangan, bilang ke aku sayang," kata Barlin dengan perhatian luar biasa.

Setelah satu jam mengobrol melalui handphone, suami Rinda terbangun saat mendengar ada suara dari pojok ruang tamu mendengar istrinya, sedang berbicara melalui handphone dengan seseorang.

Barlin menuju ruang tamu, " Sayang sudah pulang?" tanya Barlin pada istrinya, tidak mendengar suara istrinya membuka pintu saat itu karena sudah tertidur pulas memejamkan mata terlalu berat.

Rinda langsung mematikan ponselnya dan menghapus nomor Barlin dengan sigap supaya suaminya tidak menaruh curiga kepada Barlin dan Rinda.

"Sudah, Sayang. Kamu mengapa terbangun suamiku?" tanya Rinda pada suaminya.

"Mendengar suara, aku memastikan apakah kamu sudah pulang? Ternyata, eh suara dari istriku." Barlin memukul nyamuk dengan menepuk tangannya dan matanya masih ngantuk berat.

"Oh,"

Naufal ingin tahu siapa yang mengantar sang istri pulang, "Siapa yang mengantar kamu pulang ke rumah?" tanya Naufal ingin tahu karena tidak biasa istrinya pulang sama orang lain.

"Client aku ...." Wanita ini menjawab dengan blak-blakan, tanpa ada yang ditutupi terhadap suami.

"Client? Maksudnya, pria teman tidur kamu sayang?" tanya Naufal penasaran.

"Ya, teman tidur aku malam ini, pria itu bernama Naufal," jawab Rinda mengunyah makanan serta berbincang-bincang dengan suami tercinta.

Naufal hanya tertawa, ternyata istrinya sudah pandai menjebak para buaya. Untuk masuk ke dalam perangkap wanita ini, bagi Naufal tidak menjadi masalah. Ada pria merupakan client kerja wanita ini, mengantar istri pulang ke rumah.

Baginya yang penting pekerjaan istri berjalan lancar. Dirinya bisa mendapatkan banyak uang masuk, dengan ongkang kaki saja di rumah dan istri yang bekerja.

"Kamu tidak marah, ada pria yang mengantar aku pulang ...?" tanya wanita ini kepada suaminya, penasaran dengan rasa cemburu suami kepadanya.

"Tidak ... buat apa aku cemburu, urusan pekerjaan aku suport. Malah aku senang ada pria yang mengantar kamu pulang." Naufal menjawab dengan lugas, tak terlihat rasa cemburu di hatinya.

Rinda merasa benci dengan jawaban yang diberikan suami, wanita ini menginginkan jawaban yang keluar cemburu. Namun sebagai wanita Rinda harus menunjukan sikap biasa saja, tidak perlu memaksa orang lain untuk berkata sesuai dengan keinginan hatinya.

Bagi Rinda saat suaminya menyuruh dirinya mengambil jalan pintas. Menjadi seorang wanita malam saja, sudah membuat wanita ini beranggapan, bahwa suaminya tidak menyanyangi dirinya lagi. Naufal lebih memilih mengorbankan tubuh sang istri untuk dinikmati, oleh para ******.

"Apakah tak ada rasa cemburu, sebuah jawaban yang kamu berikan. Wanita ingin suaminya mengerti istrinya, ternyata kamu tidak bisa membuat senang hati istrimu sampai saat ini!" geram wanita ini pada suami yang tidak terlihat cemburu.

"Aku mencintai kamu, tetapi tidak untuk berlebihan cemburu. Buat apa cemburu? Istri aku tahu jalan untuk pulang ke rumah dan kamu tidak akan mungkin meninggalkan anak-anak, demi memilih hidup bersama lelaki lain." Naufal berdiri dihadapan sang istri dan menatap istri.

Rinda benci dengan tanggapan suami, wanita ini terlihat kecewa. Saking dibaluti sebuah rasa kesal, wanita ini langsung beranjak menuju ke kamar. Menghentakkan kaki ke lantai dengan kuat, membuat suara keramik lantai kedengaran.

"Dasar suami tidak tahu, cara menyenangkan hati istri," gumam Rinda dengan wajah kecut dan kesal.

Sesampainya di kamar, wanita ini lebih memilih memeluk anaknya. Sedangkan anaknya Aldi, tidur dengan memisah dengan mereka. Aldi memiliki tempat tidur terpisah tetapi tidak beda kamar.

Menghampiri putranya yang masih dalam pemulihan, Rinda memeluk sebentar putranya di tempat tidur. Saat Rinda sudah pulang bekerja, mereka sudah tertidur nyenyak membuat hati wanita ini merasa lega, saat Aldi bisa tidur dengan nyenyak. Tidak merasakan resah setiap malam, entah mengapa pada malam ini ketika cuaca dingin dan sejuk. Bocah cilik tersebut bisa tertidur pulas.

"Anakku cepat sembuh," kata Rinda berbicara sendiri kepada putranya.

Lalu wanita ini menoleh ke arah kedua putrinya, tertidur terpisah dengan anak pertamanya. Kedua putrinya masih satu tempat tidur bersama Rinda dan Naufal.

Memandangi wajah putri, membuat hati ibu tiga anak ini menangis. Rasanya wanita ini ingin menyaksikan saat anak tertidur dan makan. Kebahagiaan sebagai seorang ibu baginya mengurus ketiga anaknya, sudah sejak lama. Semenjak melakoni menjadi seorang pelacur, setiap malam wanita ini bekerja sampai pagi hari. Membuat ketiga anaknya kurang mendapatkan kasih sayang dari dirinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!