Tak Peduli

Sempat terlintas dalam pikiran Naufal seorang pria tampan, berkharisma serta sangat tampan, pria itu adalah Barlin merupakan klien dari sang istri yang telah membayar biaya rumah sakit putra mereka berdua.

Pikiran Naufal pada saat itu, pastilah sang istri sedang bersama dengan pria tersebut sempat terlintas cemburu, tetapi Naufal tidak peduli lagi yang penting istrinya bisa mendapatkan uang banyak dari pria yang telah tidur, bersama istrinya.

"Buat apa aku cemburu? Aku tak peduli yang penting pria itu banyak uang, bisa memenuhi permintaan istriku, aku tinggal duduk santai saja di rumah," gumam Naufal dalam hati senyumnya ceriwis seakan setuju, bahwa demi uang, Naufal akan memberikan izin istrinya untuk mendekati pria itu.

Naufal pulang ke rumah, di ruang tamu anak-anak sedang terbangun, mereka bertiga termasuk Aldi yang sedang sakit juga ikut terbangun, mereka mempertanyakan dalam pikiran mereka, pekerjaan mama mereka jadi apa? Mengapa selalu bekerja jam 6 sore dan pulang jam 4 subuh.

Naufal tersenyum, saat anak menunggu di ruang tamu. Dengan wajah panik dan kuatir sebab tidak bertemu dengan istri di bar pas menjemput, anak-anak tahu, bahwa sang ayah sedang menjemput mamanya, tetapi pada saat ayah mereka muncul, tidak nampak sosok mama mereka.

"Ayah mana, Mama?" tanya Aldi, anak mereka yang sakit. Serta sangat perhatian kepada sang mama.

Naufal hanya menganggukkan kepala dan mengelus kepalanya, seakan tidak tahu mau menjawab apa.

"Mama sedang ada kerjaan, jadi saat Ayah menjemput, Mama belum selesai bekerja saat ini." Naufal berbohong pada anak-anak bahwa mama mereka sedang banyak pekerjaaan.

Lalu Aldi bertanya kepada Ayahnya, selama ini Aldi penasaran pekerjaan mamanya karena selalu pulang subuh, " Mama sebenarnya kerja apa sih, Ayah?" tanya Aldi kepada ayahnya.

Naufal semakin melihat, bahwa kini anaknya sudah mengerti, jadi sudah lebih banyak bertanya dengan apa yang dilakukan Orang tuanya di luar sana, termasuk pekerjaan Orang tuanya.

"Mama bekerja di restoran, Sayang. Restoran tersebut, selalu buka malam. Jadi karena itu Mama selalu bekerja malam," ucap Naufal mencari alasan yang tepat, tiba-tiba terlintas untuk memberikan alasan itu.

Aldi menangis, diantara anak Naufal dan Rinda yang paling peka dengan keadaan adalah Aldi, " Ayah ... kasihan Mama bekerja selalu malam, mengapa tidak Ayah saja yang menggantikan pekerjaan, Mama? Sedangkan Ayah selalu ongkang kaki di rumah saja sedangkan Mama berjuang, mencari nafkah di luar sana?" ucap Aldi prihatin dengan mamanya, kini Aldi juga sudah bisa melihat keadaan situasi.

Melihat anaknya sudah mengerti, bahwa kepala rumah tangga adalah seorang suami bukan seorang istri, serta sudah cerdas dalam menyikapi sesuatu, membuat Naufal terdiam sejenak.

"Ayah sedang menganggur, saat ini Ayah belum mendapatkan pekerjaan yang pas untuk bekerja." Naufal menjawab pertanyaan putranya, bahwa pekerjaan laki-laki memang sangat sulit didapatkan, ditambah lagi Naufal adalah seorang pemalas.

Aldi menghela nafasnya, mengapa ayah Orang lain, bisa mendapatkan pekerjaan dan jika lapangan pekerjaan sangat sulit saat ini untuk bekerja. Mengapa ayahnya selalu di rumah saja, tidak pernah keluar membawa amplop coklat, bahkan tidak pernah terlihat usaha seorang ayah, sebagai kepala dalam rumah tangga.

"Kepala dalam rumah tangga adalah Ayah dan Mama adalah seorang istri, tugas seorang istri adalah menjaga anak-anak dan mengurus pekerjaan rumah," jawab Aldi karena pelajaran itu, sudah didapat dari sekolah.

Naufal terdiam saat putranya mengomel karena sudah mengerti, akhirnya Naufal menjadi malu, sebab sang istri yang sudah berjuang dari mereka menikah.

"Nak, masuklah. Soalnya Ayah, mau pergi untuk menjemput Mama, saat Mama nanti menghubungi," ucap Naufal supaya tidak banyak pertanyaan dari anak-anak dan langsung membawa mereka ke kamar masing-masing.

"Baik, Ayah. Selamat tidur, Ayah." Aldi mengecup pipi sang Ayah dan diikuti oleh kedua adek Aldi.

"Selama tidur juga putra dan putri, Ayah," kata Naufal, menyelimuti ketiga anaknya, matikan lampu, lalu mengecup pipi anaknya.

Naufal menunggu kabar dari istrinya, sudah satu jam berlalu. Semenjak anak mereka tidur Rinda belum juga muncul, membuat Naufal merasa kuatir dan panik, takut istrinya meninggalkan Naufal dan anak-anak, jika tanpa anak, Naufal tidak akan bisa mengurus anak-anak.

"Kemana dia pergi?" tanya Naufal di dalam hatinya.

Selang satu setengah jam berlalu. Rinda menghubungi Naufal, bahwa akan pulang sebentar lagi dan tidak perlu dijemput lagi sebab Barlin sudah mengantarnya pulang ke rumah.

"Kamu kemana saja sih? Aku datang ke tempat kerja, Kamu. Kata Mbak batender kamu keluar," kata Naufal mengangkat telpon dari istrinya, dengan suara penuh kepanikan dan penekanan.

Rinda menoleh kearah Barlin yang sudah di izinkan oleh Barlin, " Aku sedang jalan bersama klien, kamu jangan risau! Urus saja anak-anak, sebentar lagi aku akan pulang ke rumah. Ini lagi dalam perjalanan pulang ke rumah." Rinda tak mampu sebenarnya untuk berkata-kata, bahkan bibir terlihat seperti menahan kesakitan.

"Baik, aku akan menjaga anak-anak. Pulang lah sebab pintu tidak aku kunci dan aku mau tidur ...." Naufal sudah ngantuk dan memerintahkan istrinya, untuk membuka pintu sendiri, sebab pintu tersebut tidak dikunci oleh Naufal.

"Terimakasih," kata Rinda, hanya mengucapkan terimakasih. Lalu mematikan ponselnya.

Rinda memegang dagunya dengan kedua tangannya, terlihat termenung. Tanpa mengajak berbicara Barlin, pria yang sedang menyetir tersebut pun, membelai rambut Rinda dengan manja.

"Sayang ...." Barlin mencoba memancing dengan panggilan sayang.

Rinda yang termenung, tiba-tiba dikejutkan dengan panggilan sayang tersebut. Rinda seperti salah dengar, ternyata tidak salah dengar, bahwa suara tersebut berasal dari samping yaitu dari Barlin, pria tersebut tiba-tiba memancingnya dengan panggilan sayang.

"Apa, Sayang ...?" tanya Rinda memiringkan kepalanya kearah Barlin.

"Kamu terkejut dengan panggilan itu, ini pertama kalinya, aku memancing dengan panggilan, Sayang." Barlin kembali membelai rambut wanita itu dengan manja dan penuh kelembutan.

Wah rasanya luar biasa perhatian Barlin padanya, hingga membuat mata Rinda terkena tanpa kedip menatap kearah Naufal saat menyetir, " Aku tidak terkejut sih, tidak menyangka saja ...," jawaban Rinda.

"Pesona kamu tidak pernah hilang, sejak awal aku mengenalmu. Pesonamu tetap membuat hatiku terpikat," canda Naufal bergelut kagum dengan kecantikan ibu tiga anak dan badan Rinda masih seperti anak gadis yang belum pernah turun mesin

"Sudah, jangan terus memujiku. Aku tidak suka dengan sebuah pujian," canda Rinda sambil merendah dihadapan lajang yang ditinggal menikah.

"Aku apalah kan? Mana mungkin ibu tiga anak akan mencintai aku seorang lajang yang belum mengerti urusan kamar," ledek Barlin membandingkan dengan suami Rinda pada saat itu, baginya jika Rinda menjadi janda maka akan berpengalaman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!