Hanya Mau Kamu

Barlin mengajak Rinda untuk keluar dari ruangan dansa tersebut. Mereka akan mengobrol di luar, sebab Barlin tidak bisa mengobrol di bar tersebut karena ramai tidak membuatnya fokus.

Dengan menutupi baju Rinda dengan jasnya lalu pria itu menggandeng tangan Rinda untuk pergi. Rinda merasa terharu saat melihat perhatian Barlin begitu baik padanya selama ini.

"Kita mau kemana ...?" tanya Rinda kepada pria itu.

"Ke restoran, disana kita akan berbicara lebih banyak," jawab Barlin selalu menggengam tangan Rinda dengan erat setiap kali melangkah.

Akhirnya Rinda mengikut saja kemana diajak Barlin. Hingga akhirnya sampai di parkiran mobil, Barlin langsung membukakan pintu menyuruh Rinda untuk masuk.

"Masuklah ...." Barlin menyuruh masuk kedalam mobil.

"Terimakasih." Hanya ucapan terimakasih yang bisa diucapkan Rinda.

Lalu Barlin menutup pintu mobil dan menyetir mobilnya, sambil berbincang-bincang dengan Rinda. Barlin juga banyak bertanya selama pindah apa yang dilakukan Rinda dalam hidupnya, apakah penderitaan dalam rumah tangganya masih terasa berat.

"Btw, bagaimana dengan suami kamu? Dia masih suka melukai hatimu?" tanya Barlin ingin tahu, sambil menoleh kearah Rinda pada saat itu.

Rinda menghela nafas, capek rasanya jika membicarakan tentang suami. Rasanya sudah muak dengan pernikahan ini, tetapi harus bertahan demi anak-anak.

Karena Rinda diam tidak menjawab, Barlin menatap kearah perempuan itu. Pesona perempuan itu belum hilang sampai sekarang senyumnya masih seperti dulu, bahkan yang disuka Barlin dari Rinda adalah lesung pipi dan tubuh Rinda mungil.

"Sudah ... jika kamu tidak kuat untuk bercerita tentang suamimu, jangan cerita kepada aku dan sampai sekarang aku paham dengan perasaan, kamu." Barlin memegang bahu Rinda dan mengelus bahu Rinda dengan penuh kelembutan.

Lalu Rinda mulai membahas tentang suaminya, saat ini suaminya masih sama seperti dulu. Belum ada perubahan dari dalam diri Naufal, bahkan sampai sekarang Naufal masih seorang pengganguran dan malas bekerja.

"Sampai sekarang suamiku pengangguran dan malas bekerja, aku capek bekerja menjadi psk. Bahkan menjadi kepala keluarga dalam rumah tangga kami." Rinda mengambil tisu dari dalam tasnya dan menghapus air mata yang telah membanjiri pipinya.

Melihat Rinda menangis segera Barlin menghentikan mobilnya di tepi. Barlin meminta maaf, telah membuat Rinda menangis karena membahas suami Rinda pada saat dalam mobil.

"Rinda, maafkan aku. Tidak ada maksud aku untuk membuat kamu menangis, ketika sedang membahas suamimu." Barlin mendekati badannya kearah Rinda dan memeluk wanita itu dengan erat.

Rinda menangis terisak-isak, air matanya tidak terasa sudah membasahi pipinya dan matanya berkaca-kaca. Mungkin saat ini suaminya sedang tidur menjaga anak-anak di rumah, sedangkan Rinda sudah lama menginginkan melihat suaminya bekerja mencari nafkah.

"Barlin apakah aku salah menyesali pernikahan aku dengan Naufal?" tanyanya kepada Barlin karena sudah merasa capek dengan pernikahannya.

"Wajarlah kamu menyesalinya, sebab perempuan itu butuh dinafkahi nafkah dan batin." Barlin juga ikut sedih tak terasa air matanya hampir saja keluar.

Barlin adalah pria berumur 29 tahun belum menikah. Saat ini hidup dengan ayah angkatnya, Barlin juga pernah merasa kecewa mendalam saat ditinggal menikah oleh mantan yang paling disayang.

Namun kini Barlin menemukan perempuan yang berbeda latar belakang dengannya yaitu perempuan punya anak tiga, terpaut usia tiga tahun lebih tua darinya dan merupakan seorang pelacur.

Rinda menangis dan menatap ke arah Barlin heran mengapa pria ini masih mau berteman dengannya. Sedangkan Rinda adalah perempuan murahan yang sudah melayani banyak pria.

"Barlin apakah kamu mau berteman dengan perempuan pelacur seperti aku?" tanya Rinda menatap serius kearah Barlin.

"Aku tidak pernah membeda-bedakan dengan siapa aku berteman," jawab Barlin melihat ke arah Rinda.

"Begitu baik hatimu ...," puji Rinda.

Bahkan jika Rinda bersedia. Barlin juga akan siap menjadi ayah dari anak-anak Rinda mengantikan posisi suami yang tidak tahu diri tersebut.

"Jika diminta aku mengantikan suamimu saat ini. Maka aku juga akan bersedia untuk menjadi ayah angkat dari anak-anak kamu Rinda." Barlin lalu melanjutkan perjalanan mereka pada malam hari untuk sekedar makan dan mengobrol di restoran.

Pada malam hari tersebut, suami Rinda hendak menjemput istrinya. Di bar yang menjadi tempat sarang psk, pada saat bertanya kepada pelayan bar, bahwa istrinya tidak ada sudah pulang dengan pria lain dari tadi. Naufal sudah dikenal oleh pelayan bar sebagai suami dari Rinda seorang pelacur yang biasa mencari mangsa di bar tersebut dan melayani dansa pria hidung belang dan mata keranjang.

"Hai, Mbak. Apakah kamu melihat istriku di bar ini?" tanya Naufal kepada batender.

"Oh, Mbak Rinda baru setengah jam yang lalu pergi dengan seorang pria," jawab batender tersebut.

"Pergi kemana Mbak?" tanya Naufal kebingungan. Biasanya jam segini adalah waktunya istri pulang, mengapa harus pergi dengan pria lain.

"Kurang tahu, Kak," kata Batender yang tidak mengetahui pergi kemana.

Naufal keluar dari bar, segera menghubungi istrinya. Biasanya istrinya di jam 3 malam adalah waktunya pulang, kini Naufal merasa kuatir istrinya pergi dan akan menceraikannya kelak.

Rinda yang sedang berduaan dari restoran menjadi ke kamar hotel. Untuk menceritakan keluh kesahnya, melihat ada panggilan suara berdering dari hpnya dan segera mengambil hp dari atas meja yang diletakan Rinda di sana.

"Barlin ...," panggil Rinda.

"Ada apa, Rinda?" tanya Barlin segera berdiri dari tempat tidur menghampiri Rinda dan melihat ke layar hp Rinda, ternyata suami Rinda menghubungi perempuan itu.

"Ada apa, Rinda. Suami kamu menghubungi kamu?" tanya Barlin saat itu juga merasa cemburu langsung mematikan panggilan tersebut.

"Mengapa dimatikan Barlin ...?" tanya Rinda tidak mengerti, mengapa Barlin mematikan panggilan tersebut.

"Biarkan saja! Aku muak melihat suamimu yang banyak tingkah!" ucap Barlin dan mengambil hp Rinda, menyembunyikan untuk sementara waktu, sampai waktu obrolan mereka selesai.

Rinda mengetahui bahwa saat itu Barlin sedang terbawa api cemburu. Namun Barlin tidak mengungkapkan kepada Rinda sedang cemburu. Berusaha untuk membuat Rinda tidak berkomunikasi pada suaminya pada malam itu.

"Jika suamimu sayang padamu, mungkin dia akan melarang kamu menjadi seorang pelacur." Barlin mempermasalahkan tentang masalah pengorbanan.

Barlin juga mengatakan pada malam yang dingin itu. Tidak pernah melihat seorang istri di suruh suami untuk menjadi pelacur dan baru pertama kali dia jumpai yaitu perempuan dikenalnya Rinda.

"Aku tidak bisa berbicara tentang suamiku saat ini." Rinda masih membela suaminya karena Naufal adalah ayah dari anak-anak Rinda.

"Aku mengerti, bahwa kamu masih membela suami kamu. Karena dia adalah ayah dari anak-anak kamu, aku tidak akan pernah menyangkal itu, bahwa kamu masih membelanya," jawab Barlin merasakan bahwa Rinda masih peduli kepada sang suami.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!