Naufal masih memaksa Rinda untuk menjalankan pekerjaannya dengan sepenuh hati menjadi psk. Rinda merasa jenuh dengan pekerjaannya.
Rinda dan sang suami berdebat di rumah pada saat Naufal bertanya, tentang keperluan di rumah sudah habis seperti sabun mandi keperluan rumah tangga dan listrik rumah belum dibayar.
Memicu Rinda marah dan terbawa emosi pada saat itu. Saat suaminya mengadu tentang pengeluaran dalam rumah tangga mereka.
"Ini ada tagihan listrik untuk bulan ini dan segala keperluan dapur sudah habis," kata Naufal menyerahkan catatan pengeluaran dalam rumah tangga.
Rinda kurang mood pada saat Dokter menyatakan, kemungkinan kecil anak mereka akan sembuh dari sakit. Membuat mood Rinda tidak beraturan pada saat itu dan mengoyakkan kertas.
"Buat apa kamu menyerahkan kertas ini pada saya? Menjadi kepala rumah tangga itu adalah kamu, bukan saya." Rinda menoleh kearah suami.
"Kamu melihat suami kamu pengangguran saat ini? Masih sanggup kamu berkata seperti itu kepada suami kamu!" jawab Naufal ketika istri membahas masalah tentang sebuah tanggung jawab kepala keluarga dalam rumah mereka.
"Jika bertahun-tahun kamu menganggur sampai saat ini, istri mana yang bisa sabar ketika tidak dinafkahi!" cetus Rinda tidak bisa menahan luka, saat suami tidak bisa diandalkan lagi.
"Kamu mau aku jadi apa? Mau aku jadi presdir atau pun Ceo tidak mungkin! Jika kamu mau, suami kamu ini mempunyai pekerjaan, seandainya aku menjadi seorang penjahat dengan maling. Apakah kamu mau menerima uang suami kamu?" teriak Naufal tidak terima dikatakan pengangguran.
"Jika kamu pengganguran, setidak kamu berusaha untuk mencari pekerjaan. Ini malah istri, kamu paksa untuk menjadi seorang psk di klub malam atau pun bar," ucap Rinda dengan marah dan suaranya mulai tinggi pada saat itu.
Rinda tidak pernah meminta suami untuk bekerja dengan pangkat tinggi, setidaknya membawa uang walaupun sedikit, Rinda sudah senang. Sebab perempuan hanya butuh dinafkahi walaupun gaji suami lebih kecil.
"Kamu perempuan, aku ini laki-laki. Pekerjaan apa yang tersedia untuk pria dengan jalur cepat. Perempuan mengambil jalan pintas seperti itu, bisa menjadi lebih cepat kaya atau mempunyai banyak uang," kata Naufal bahwa lowongan pekerjaan untuk pria, lebih sedikit dari pada perempuan.
"Jika dasarnya pemalas akan tetap pemalas kamu!" kata Rinda tidak terima, bahwa suaminya selalu ngeles jika berbicara dengannya.
Tidak terima dikatakan pemalas oleh istri pada saat itu. Naufal langsung menjambak rambut istri. Menjadi pengganguran adalah pilihan hidupnya karena sudah merasakan enak di rumah saja.
"Iya, aku ini suami pemalas. Aku tidak bekerja karena pilihan hidupku," bentak Naufal lalu menjambak rambut istri, saat mau tidur saat pagi hari. Sebab Rinda capek sudah melayani kliennya pada malam hari sampai subuh karena suruhan suami.
Meskipun Barlin memintanya tidak bekerja sebagai psk. Namun Rinda selalu kekurangan uang dan segan selalu meminta kepada Barlin. Pria lajang yang menyukai dirinya tersebut, lalu diam-diam Rinda masih bekerja karena takut suaminya curiga, bahwa Rinda mempunyai hubungan spesial dengan Barlin pria lajang.
Rinda menangis pada saat suami menjambak rambutnya. Rinda merasa bahwa hidupnya kurang beruntung, dalam mendapatkan suami ketika menikah. Penyesalan terbesarnya kini adalah menyesali menikah dengan seseorang yang merupakan seorang pengganguran yang tidak mau bekerja.
"Aku menyesal menikah dengan suami pengangguran ...!"
"Kamu menyesal? Menikah dengan suami pengganguran! Hei sadar kamu, Rinda. Sudah mempunyai anak dari saya," kata Naufal menyebutnya sebagai wanita kurang beruntung, mendapatkan suami seorang pengangguran.
"Iya ...," jawab Rinda.
Naufal menertawakan Rinda, mengapa mau menikah dengan Naufal. Jika bukan karena berdasarkan cinta diantara keduanya pada waktu itu.
"Salah kamu sendiri! Mengapa tergoda dengan saya. Walaupun saya pengganguran kamu mau," kata Naufal dengan bangga kepada Rinda, bahwa istrinya sudah tertipu dengan rayuan Naufal.
"Aku menikah sama kamu ... Sebab kamu menyakinkan, bahwa kamu bisa berubah menjadi lebih baik, nyatanya kamu hanya menjadi suami pemalas," kata Rinda merasa capek melihat suami di rumah.
"Terus ... ketika suami kamu seperti ini sekarang? Apakah kamu bisa menerima suami kamu?" tanya Naufal.
"Tidak bisa, dong! Kamu harus berubah demi anak-anak, kamu."
Rinda merasa capek dengan perannya seorang istri. Saat pulang bekerja rasanya Rinda ingin marah besar, ketika suami didapati hanya menjaga anak dirumah sakit dan tiduran saja. Rinda jadi berpikir keras yang menjadi kepala rumah tangga adalah suaminya, terus mengapa Rinda yang harus banting tulang mengambil jalur pintas menjadi psk atas suruh suami.
"Aku mau berhenti saja menjadi psk, sebab aku sudah tidak butuh lagi dengan pekerjaan ini. Anakku sudah mulai sehat dan minggu depan, sudah bisa pulang dari rumah sakit dirawat," ujar Rinda memutuskan tidak bekerja lagi menjadi psk.
"Tidak bisa! Kamu harus tetap bekerja, lihat aku pengangguran. Jika kamu tidak bekerja di jalur salah, bagaimana aku bisa merasakan hidup enak lagi?" kata Naufal tanpa perasaan membuat hati Rinda semakin terluka.
Keputusan Rinda sudah tepat, sebab Rinda sudah tidak butuh banyak uang lagi. Lagian anaknya juga sudah mulai sembuh, Rinda memikirkan tentang penyakit menular suatu saat nanti, jika banyak ditiduri dengan laki-laki berbeda. Maka akan menjadi penyakit masuk kedalam tubuhnya.
"Tidak, aku masih bisa membuka usaha catering. Aku tidak butuh uang banyak lagi dalam hidupku," bantah Rinda tegas.
"Pokoknya kamu tidak boleh berhenti! Jika kamu berhenti, kita cerai saja." Naufal mengancam Rinda, supaya mau menuruti semua perkataannya.
"Ahhh bercerai? Kamu mau bercerai denganku. Mau makan apa kamu di luar sana nanti?" ucap Rinda terbahak-bahak, saat suami mengucapkan cerai.
Rinda menertawakan sang suami, sudah pengganguran banyak tingkah, mana akan sanggup Naufal bercerai dari Rinda yang ada datang sebuah penyesalan. Sebab Naufal tidak bisa berdiri sendiri, sedangkan yang cari makan saja istri.
"Kamu menertawakan aku?" tanya Naufal merasa dipermalukan.
"Kamu konyol, apakah kamu sanggup berpisah denganku?" tanya Rinda merasa tidak yakin dan hal ini hanya sebuah bentuk ancaman suami saja.
Rinda sebenarnya masih sangat mencintai suaminya dan tidak sanggup untuk berpisah dengan suami, tetapi semakin ke sini suami semakin kurang ajar, merusak mental wanita itu habis-habisan.
"Ya, aku sanggup," ancam pria itu.
"Dengar, Barlin! Kamu itu seorang pengangguran, tidak perlu banyak bertingkah saat itu. Kamu bisa apa ketika seandainya bercerai dengan aku?" tanya Rinda kepada Naufal.
Naufal merasa disepelekan, saat kini dirinya menjadi seorang pengganguran. Tidak mempunyai banyak uang, membuat Naufal berpikir keras. Untuk meninggalkan Rinda dan pergi dari rumah mereka, seandainya berpisah dengan Rinda. Pria ini memikirkan tidak mendapatkan uang masuk jatah dari istri untuk suami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments