Megumi berjalan dengan sangat lesu keluar kelas, setelah ujian harian usai. Aku hanya tersenyum memandangi teman terbaikku itu.
“Berhentilah menatapku, aku sedang sangat kesal” kata Megumi dengan wajah cemberut.
“Bukankah beberapa hari lalu, kamu membeli buku bahasa Inggris dan penuh semangat untuk masuk fakultas bahasa Inggris. Kenapa kamu nggak bisa kerjain soal harian pelajaran itu. Aku bingung” sindir ku.
“Aku sedang tidak ingin bicara apapun, aku mau pulang saja” katanya meninggalkanku dengan kesal menuju pintu gerbang sekolah.
Mataku menatap seorang laki – laki di ujung jalan sedang berdiri di samping sepeda motor, di bawah lampu jalan. Kawaki menatapku tajam dengan melambaikan tangan.
“Kenapa kamu pakai masker?” tanyaku heran dengan penampilannya.
“Ikutlah jangan banyak tanya dan pakai ini” katanya memberikan helm dan masker.
“Kenapa tidak naik mobil, tumben sekali” celetukku.
Entah kenapa aku jadi merasa terbiasa dengan sikapnya yang suka memerintah.
Aku tiba di sebuah resort di kawasan Toyako – Cho, distrik Abuta. Kawaki menarik ku berjalan ke lobby dan menyampaikan ada janji bertemu dengan Ryota selaku Presdir Direktur di The Lake View Toyamu Don Resort. Aku terkejut mendengarnya, aku mencoba melepaskan tangannya yang mencengkeram pergelanganku dengan kuat.
“Kenapa aku dibawa kesini?” tanyaku.
“Diam, nanti kamu akan tahu setelah kita bertemu dengannya” jawab Kawaki.
Kami diantarkan di sebuah ruangan tertutup dalam sebuah restoran yang berada di resort tersebut.
“Aku mau ke toilet” kataku untuk melepaskan diri.
“Tahan saja” sahut Kawaki dingin.
Selang tak berapa lama, kak Ryota muncul dengan tenang duduk berhadapan dengan kami.
“Sangat jarang kamu mengunjungi ku di tempat kami” kata kak Ryota.
“Aku butuh bantuan, aku ingin menitipkannya disini hingga besok” kata Kawaki to the point.
“Apa?! Seenaknya saja kamu menitipkan ku, aku bukan barang yang bisa kamu kirim dan simpan dimanapun” protes ku tak terima.
“Bukankah Chiyo keberatan akan hal ini?” tanya kak Ryota dengan tenang.
“Dia tak ada hak untuk menolak, keselamatannya ada di tanganku” jawab Kawaki.
“Apa yang kamu maksudkan tentang keselamatanku, aku bisa menjaga diriku sendiri” aku ku.
“Baiklah kalau itu maumu, kami akan berikan perlindungan kepadanya” kata kak Ryota menyetujui.
“Sebelum aku kembali, pastikan dia berada disni. Ada hal yang sangat penting yang akan aku lakukan malam ini. Aku percayakan kepadamu” kata Kawaki dengan wajah serius.
“Apakah ini mengenai klan Aihara?” tanyaku.
“Kamu tidak perlu tahu, tinggallah disini atau kamu akan berurusan dengan mereka” jelas Kawaki.
Aku hanya bisa terdiam, kak Ryota dengan tenang memandang ke arahku.
Kawaki langsung meninggalkanku, kak Ryota mengantarkan ku ke sebuah kamar dengan view danau yang indah. Tapi perasaanku tak bahagia, seakan banyak hal yang aku khawatirkan.
“Tinggallah disini dengan baik kami akan menjagamu sesuai perkataan Kawaki, aku permisi” kata kak Ryota dengan sopan.
“Kak terimakasih, tapi bisakah kamu mengabari keluargaku di rumah. Pakai alasan apapun, untuk membuat mereka tenang. Kawaki tak pernah memperdulikan keluargaku, bahkan perasaanku” mintaku.
“Baiklah kalau itu keinginanmu, mengenai Kawaki dia bukanlah manusia yang punya perasaan. Jangan pernah berharap di dunia yang ia tinggali sekarang ada hal kamu sebutkan barusan” tambah kak Ryota sembari menutup pintu kamar.
Ku pandangi danau yang tenang dari dalam kamar, seakan ada hal besar yang akan terjadi.
Hingga keesokan harinya, pukul 04.00 pagi suara telepon di meja dekat ranjangku berbunyi. Seorang resepsionis menyambungkan panggilan telepon dari Asahi.
“Nona Chiyo bisakah anda datang sekarang, saya butuh bantuan anda” katanya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Saya akan jelaskan nanti, Enju sudah menjemput anda di lobby. Dia akan mengantar anda segera” jelas Asahi.
Enju membawaku dengan sebuah mobil off road berwarna hitam, nampak wajahnya terdapat luka gores di pipinya yang telah di tutupi dengan plester bening. Telapak tangannya bagian kiri di perban, namun dia masih mahir mengendalikan setir mobil.
“Apakah kamu baik – baik saja?” tanyaku cemas sembari memandangi tubuhnya penuh luka.
“Ya seperti yang kamu lihat, aku baik – baik saja” katanya dengan wajah serius.
“Apakah kalian habis melakukan perkelahian antar kelompok?” tanyaku menyelidik.
“Darimana kamu tahu?” tanya balik Enju.
“Aku tahu kalian berseteru dengan klan Aihara, itu yang aku dapatkan dari Hatori” jawabku.
“Mulut Hatori memang sampah, aku akan menghajarnya kalau ketemu nanti” katanya kesal.
“Apakah itu sebuah perkelahian serius sampai kamu babak belur seperti ini?” tanyaku penuh rasa penasaran.
“Bukan hanya perkelahian, kami telah melakukan pembantaian masal kepada klan Aihara yang membangkang. Kawaki terluka, dia di tembak oleh ketua klan Aihara. Kini kita akan ke rumah sakit di Sapporo, untuk melakukan transfusi darah” jelas Enju.
“Maksudmu golongan darahku sama dengan Kawaki, hingga Asahi memintaku datang kesana untuk mendonorkan darahku?” tanyaku sekali lagi.
“Seperti itulah intinya” sahut Enju menyudahi pembicaraan antara kami berdua.
Kami memasuki salah satu rumah sakit di Sapporo, nampak Asahi sedang berdiri di depan pintu ruang operasi.
“Nona akhirnya kamu datang, kami membutuhkan darahmu untuk Tuan muda Kawaki” minta Asahi kepadaku.
“Aku akan memberikan seberapa banyak yang kamu minta, tapi dengan satu syarat” kataku tegas.
“Maksud anda?” tanya Asahi.
“Berani sekali kamu meminta syarat untuk ini, kami pun bisa membunuhmu dengan mudah!!!” bentak Enju kepadaku.
“Kalian membutuhkan darahku kan, aku tidak peduli dengan Kawaki hidup atau mati” ungkap ku dengan mata penuh keangkuhan.
“Baiklah, apa mau anda?” tanya Asahi dengan tenang.
“Setelah ini, dengan pernyataan tertulis berstempel jari Kawaki menyatakan akan menjauhiku dan tidak mengganggu kehidupan dan privasiku selamanya. Apabila dilanggar, maka dia berhak dipidanakan atas tindakan kekerasan dan pengancaman kepadaku.” aku pun melontarkan syarat yang sudah sedari tadi ku pikirkan.
Peluang untukku melarikan diri dari jeratan Kawaki.
“Kawaki tidak akan sudi melakukannya” ucap Enju.
“Baiklah” Asahi menyetujuinya, kami pun sepakat. Enju mencoba protes, tapi Asahi dengan tenang menyudahi perdebatan itu.
Proses pendonoran darah pun dimulai, aku sudah tidak peduli lagi dengan seberapa banyak darah yang akan ku berikan selama bisa ditukar dengan kebebasanku.
Setelah semua proses berjalan dengan lancar, Asahi menemuiku dan memberikan kertas pernyataan yang sudah di cap ibu jari Kawaki. Dia menepati kesepakatan yang kami buat.
“Terimakasih Asahi, dengan ini aku bisa hidup dengan tenang” kataku.
“Saya tidak bisa menjamin itu, saya hanya melakukan apa yang anda mau” sahut Asahi.
Aku tak memperdulikan apa yang dikatakan Asahi, aku pergi meninggalkan rumah sakit. Aku sama sekali tak peduli tentang nasib laki – laki sadis itu, yang selama ini mengacaukan hidupku.
Semoga ini adalah akhir dari mimpi buruk yang menimpaku. Selamat tinggal anak bre%$ek Kawaki. Aku akan menata hidupku lebih baik lagi tanpa terormu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments