Berakhirnya pertarungan, Kawaki menghampiriku menatapku dengan seksama.
“Hei…kenapa dengan dirimu?, Apakah ini pertama kalinya kamu memegang pistol?” tanya Kawaki padaku dengan wajah datar.
“Aku menembaknya, apakah dia mati?” tanyaku balik dengan wajah pucat pasif.
Kawaki memastikan tubuh yang tergeletak tidak jauh dari aku duduk. Dia mengecek denyut nadi dan nafas pria garang itu.
“Dia masih hidup, tenanglah. Apakah kamu tidak pernah membunuh orang?” tanya Kawaki sambil tersenyum sinis.
“Aku bukan dirimu, jangan samakan aku denganmu” jawabku sambil menatapnya tajam.
Dia langsung mencengkeram rahangku dengan kuat, “Menurutmu seperti apa aku? Aku bisa membunuhmu disini kalau aku mau”.
Sebuah mobil melaju kencang dari arah belakang dan berhenti di depan kami. Asahi dan si kembar beralis tebal datang menghampiri kami.
“Tuan Muda, apakah anda baik – baik saja?” tanya Asahi memastikan kondisi majikannya.
“Tentu aku baik – baik saja, mereka dari klan Aihara. Sepertinya mereka sudah mulai menyerang, tak akan aku ampuni. Lakukan misi kita secepatnya” Kawaki pun mulai tersenyum licik.
“Baik, 90% sudah kami persiapkan. Besok kita akan memaksimalkan 10% sisa dari persiapan misi tersebut” jawab Asahi.
Hatori memapahku yang lemas, “Apakah kamu baik – baik saja?”.
“Aku menembak orang” aku ku.
“Tenangkan lah dirimu, dalam hal ini kamu melakukan pembelaan diri. Tak perlu diambil pusing dan lupakan” sahut Hatori mencoba menenangkan ku.
Kawaki menatap kami dengan sinis, “Sejak kapan kalian seakrab itu?”.
“Aku hanya mencoba membantunya” kata Hatori yang masih merangkulku menolongku untuk berdiri dengan benar.
“Tinggalkan dia, biarkan dia menggunakan kakinya sendiri. Dia tidak butuh untuk ditolong” ketus Kawaki.
Hatori pun melepaskan ku, Hotaru menghampiri saudaranya.
“Mobilku habis bensin, aku akan menggunakan mobil ini (menunjuk mobil yang digunakan Asahi). Pastikan semua sudah dibersihkan, aku tak mau ada satu pun berita di media tentang malam ini. Headline News harus disaat klan Aihara binasa total” perintah Kawaki.
“Baik” kata mereka.
Kawaki menarik aku naik ke mobil, mengambil ranselku dari mobil sebelumnya.
Aku masih membeku seakan tak percaya dengan apa yang telah ku lakukan.
“Aku membunuh sejak usiaku 7 tahun, dalam duniaku senjata apapun digunakan untuk mempertahankan diri. Jadi tak perlu merasa bersalah dan mendramatisir mengenai hal itu” akunya.
Di membantuku mengenakan sabuk pengaman, memegang tanganku yang masih gemetar.
“Lihat aku” katanya mendekatkan wajahnya kepadaku.
“Tak ada yang perlu disesali mengenai malam ini, mengerti” katanya dengan tegas.
Aku hanya mengangguk dengan menatapnya datar.
Kawaki mengantarku sampai di depan rumah, tak ada kata apapun menghiasi perpisahan kami malam itu.
Ayah duduk di ruang tamu, “Chiyoo… malam sekali kamu pulang, jangan bermain sampai lupa waktu seperti ini. Diluar sangatlah berbahaya”.
“Maaf ayah, aku tadi dari rumah teman dia memintaku mengajarinya beberapa bab baru. Aku tak tahu kalau waktu cepat berlalu, sampai jam segini” kataku berbohong.
“Baiklah, masuklah ke kamarmu. Besok kamu harus berangkat sekolah, mandi dan tidurlah” kata Ayah sembari menggiringku menuju kamarku.
“Terimakasih” ucapku sembari membuka pintu kamarku.
Aku terbaring di kamar menatap langit – langit kamarku, “Mari kita coba lupakan kejadian hari ini”.
Selang beberapa hari dimana hari minggu datang.
Aku membantu Miyaki melayani pelanggan, nampak ada Hatori datang dengan kembarannya.
“Hei Chiyo…” sapanya.
“Sedang apa kamu disini?” tanyaku heran.
“Aku akan menjadi pelanggan tetap mu, sambutlah dengan baik. Aku membawa Hotaru untuk mencoba sepuasnya” jawabnya dengan penuh semangat.
“Pilihlah, aku kasih diskon hanya kali ini” kata Miyaki.
“Benarkah?” Hatori bertanya dengan mata berapi – rapi.
“Miyaki… seenaknya kamu memberikan diskon kepada customers, mereka punya banyak uang selalu berpesta – pora” protes ku.
“Kamu memang pelit” sahut Hatori.
Mereka duduk dengan beberapa kue pilihan mereka, sangat heboh saat makan. Seperti anak kecil yang menemukan permen rasa baru.
Aku menghampiri mereka, duduk satu meja.
“Kalian hari ini senggang?” tanyaku.
“Siang ini kami ditugaskan untuk bermain denganmu” kata Hotaru sedari tadi diam.
“Cih… siapa yang ingin bermain dengan kalian, pulanglah” kataku.
“Chiyo… jangan kemana pun hari ini, karena klan Aihara sudah menargetkan mu” kata Hatori dengan wajah serius.
“Kenapa aku? Dan siapa klan Aihara apa hubungannya denganku?” tanyaku bingung dan agak terkejut.
“Malam itu, adalah salah satu anggotanya. Klan Aihara memata – matai Kawaki, sedangkan kamu adalah orang yang mereka lihat beberapa kali bersamanya. Klan Aihara adalah musuh klan Endo yaitu organisasi kami berada. Kejadian malam itu mungkin akan berulang” jelas Hatori.
Degh…aku tak menyangka diriku terseret ke arus permusuhan antar kelompok mereka.
“Tenanglah, kami akan menjagamu” tambah Hotaru.
Miyaki menghampiri kami dengan wajah penuh kecurigaan.
“Kalian sedang berdiskusi apa? Kenapa serius sekali, kalian mau ada rencana apa?” tanya Miyaki menyelidik.
“Kami tidak membahas hal aneh, jangan coba untuk mencari tahu atau menguping” kataku.
“Ngomong – ngomong kalian sepertinya bukan anak SMA, dan bukan juga teman Hiroshi. Kalian sekolah dimana, bagaimana bisa kenal Chiyo?” Miyaki mulai mengintrogasi.
“Kami bertemu di pantai lantas berteman begitu saja” kata Hotaru.
“Owh ya…dimana kalian bersekolah?” tanya Miyaki memastikan.
“Kami tidak melanjutkan sekolah” aku Hotaru.
“Lantas apa pekerjaan kalian?” tanya Miyaki lagi.
“Hmm.. mereka seorang security” jawabku singkat.
“Benarkah?” Miyaki seakan tak percaya.
“Sudahlah, jangan ganggu mereka dengan banyak pertanyaan. Mereka kan pelanggan baru kita” selaku mempercepat introgasi dari Miyaki.
“Baiklah… jangan lupa beli untuk orang di rumah ya” tambah Miyaki kemudian berlalu.
Aku dan si kembar beralis tebal akhirnya bisa menghela nafas lega karena lolos dari intrograsi Miyaki.
“Intinya kami kesini menjenguk mu, sekaligus memperingatkan mu untuk berhati – hati. Sebelum misi kami selesai, posisimu tidaklah aman” tambah Hatori sebagai final dari pembicaraan kami.
Mereka pun pulang dengan membawa banyak kue, katanya akan dibagikan kepada tim. Setidaknya kali ini Hatori membawa mobil jadi muat banyak.
Disisi lain aku merasa cemas, tentang apa yang dikatakan mereka soal diriku menjadi salah satu target musuh mereka. Semoga semua ini berakhir dengan cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments