Aku berjalan menuju pintu keluar stasiun, nampak Kawaki berdiri menyandar di samping mobil sambil merokok dan mengenakan topi hitam dan hoodie hitam. Pakaian khasnya serba hitam menutupi wajahnya yang putih pucat itu. Aku pun menghampirinya aku terdiam berdiri di hadapannya.
“Kamu sungguh kembali, bodoh” katanya sambil membuang puntung rokok yang ada di mulutnya dan menginjaknya di tanah dengan kaki kanannya.
“Kamu pun menungguku, bukankah sama bodohnya” ketus ku.
Seketika dia mencekik ku dan membenturkan tubuhku ke sisi mobil. “Masuklah, cuaca sangat panas” katanya melepaskan ku kemudian masuk ke dalam mobil.
Aku pun mengikutinya masuk kedalam mobil, lalu mengenakan sabuk pengaman.
Sepanjang jalan kami tak berbicara dan begitu hening, dia menyetir ugal – ugalan dengan kecepatan tinggi dan menerobos rambu – rambu lalu lintas beberapa kali. Aku tak tahu kemana tujuan kami, tapi aku sudah mempertaruhkan diriku kali ini. Tak ambil pusing dengan apa yang akan dia lakukan, perlakuannya yang sangat kasar kepadaku sudah tak lagi membuatku terkejut.
Kami berkendara hingga matahari pun mulai terbenam dan berganti menjadi malam, seakan kami hanya berputar – putar di Kawasan Hokkaido. Kami berbelok kearah pengisian bahan bakar. Aura dingin dalam dirinya seakan merayapi diriku. Kami tak saling memandang hanya melihat ke depan.
Sikap dinginnya dan begitu acuh nampak dia mencoba meredakan amarahnya. Tapi kenapa dia seperti itu? Biasanya dia langsung menyerang ku, padahal aku sudah duduk disampingnya berjam – jam.
Kami berhenti di Kawasan Chuo – ku, Sapporo. Dia pun memarkirkan mobilnya dan berjalan keluar, cukup gelap dengan cahaya lampu yang minim dan remang – remang. Aku merasa berjalan menuju sebuah kuil. Kenapa kuil ini buka di jam 9 malam?.
Ada seorang biksu menyambut kami di depan pelataran kuil.
“Apakah aku akan dijadikan korban untuk sebuah ritual?” kataku dalam hati mulai berpikir macam – macam.
“Sudah lama kamu tak datang kesini?” tanya biksu paruh baya itu kepada Kawaki.
“Aku cukup sibuk dengan banyak misi yang diberikan kepadaku” jawab Kawaki.
“Siapa anak perempuan ini, temanmu?” tanya biksu itu kembali.
“Dia bukan temanku, dia milikku” jawab Kawaki sambil menggenggam jemariku.
Biksu itu tersenyum dan mempersilahkan masuk kami berdua.
Aku hanya bisa diam dan mengikuti Kawaki masuk ke dalam kuil tanpa protes dengan perkataannya mengenai diriku yang merupakan miliknya. Aku mencoba mengamati situasi ini.
Biksu menyalakan dupa, Kawaki menaruh kedua tangannya di depan dada dalam posisi berdoa sembari duduk berlutut. Orang yang akhir – akhir ini menganiaya diriku terus menerus, bisa berdoa kepada dewa. Sangat luar biasa pemandangan kali ini, aku yang sedari tadi memperhatikan Kawaki yang duduk di sebelahku yang sedang berdoa. Nampak begitu hikmat dengan keheningan malam yang terasa pekat di aula kuil.
Kawaki tiba – tiba menoleh ke arahku, “Jangan hanya melihatku, berdoalah agar aku tidak membunuhmu”.
“Bisa – bisanya kamu mengatakan hal semengerikan itu di dalam kuil suci ini, benar – benar sulit dipercaya” keluhku.
Setelah berdoa, Kawaki duduk bersama biksu itu menghadap keluar kearah pelataran kuil di pinggiran aula.
“Apakah misi kali ini akan memakan banyak korban jiwa?” tanya biksu itu sayup – sayup terdengar olehku yang berjalan – jalan d pelataran.
“Aku akan menaklukkan klan Aihara, tak akan ada yang tersisa apabila mereka melawan” jawab Kawaki.
“Begitu banyak dosa yang telah kamu lakukan, apakah tidak ada pilihan untukmu menjalani hidup lebih baik?” tanya biksu itu sambil menatap Kawaki begitu dalam dan sedih.
“Aku tak bisa meninggalkan klan Endo seperti apa yang dilakukan paman waktu itu. Takdirku sudah terukir semenjak kelahiranku, Menjalaninya adalah hal terbaik untukku” jawab Kawaki sambil tersenyum getir.
Perbincangan mereka adalah perbincangan antara anggota keluarga, pantas biksu itu sangat dekat dengan Kawaki. Aku merasa kehidupan yang dijalani Kawaki cukup kelam, itulah analisaku sementara dari obrolan mereka berdua.
Kawaki pun berpamitan kepada biksu tersebut.
“Kembalilah saat kalian ada waktu luang” kata biksu dengan ramah.
“Baik” jawabku.
Biksu itu mendekat ke arahku dan memegang tangan kananku dengan kedua tangannya.
“Bersabarlah dengan sikap Kawaki, mungkin dia terlihat menakutkan tapi dia sebenarnya adalah anak yang baik” kata biksu itu kepadaku.
Aku hanya bisa tersenyum meski aku ingin mengatakan bahwa aku butuh pertolongan untuk bisa lepas dari anak bren%$ek ini.
“Jangan dengarkan dia, ayo pulang” kata Kawaki langsung menarik ku untuk meninggalkan kuil. Aku masih menoleh ke belakang melihat biksu itu tersenyum menatap kami pergi.
Sisi lain yang aku dapati dari laki – laki dingin dengan mata sadis, dia masih bisa berdoa kepada dewa. Entah seperti apa hidupnya yang dia jalani hingga kini, hingga dia tumbuh tanpa perasaan. Sepintas aku merasa kasihan kepadanya.
Di dalam mobil, saat dia mulai menyalakan mesin mobil tiba – tiba tanganku menyentuh wajahnya. Jujur ini diluar kendaliku, rasa kasihan itu membuatku jadi bodoh. Aku pun langsung menarik tanganku dari pipinya, tapi langsung ditangkap dengan tangannya.
“Apa ini?” tanyanya.
“Apa…” jawabku bingung mencoba melepaskan pergelangan tanganku.
“Apa kamu mencoba menggodaku?” tanyanya kembali.
“Tidak seperti apa yang kamu pikirkan” tegas ku.
“Jangan mencobanya, aku tidak tertarik kepadamu. Kamu hanyalah mainanku, jangan coba melewati batas” katanya dengan tatapan tajam kepadaku.
“Aku tahu, aku pun tidak punya pikiran konyol seperti itu” jelas aku.
Kami saling terdiam sesaat merasa canggung namun berakhir dengan Kawaki mulai mengendarai mobil kembali meninggalkan kuil. Dia pun mengantarkan aku pulang hingga depan rumahku.
“Apakah kamu mencari tahu tentangku? Hingga Asahi dan dirimu tahu dimana letak rumahku” tanyaku menyelidik.
“Apakah itu penting bagimu, aku hanya memastikan dimana posisi mainanku berada” jawabnya ketus.
“Jangan lukai siapapun, bila targetmu adalah diriku maka tetaplah fokus padaku. Apalagi keluargaku dan orang – orang terdekatku, jangan pernah melukai mereka. Anggap ini sebuah permohonan dari dalam lubuk hatiku terdalam” mintaku kepadanya sambil menatap matanya.
Tangannya meraih tengkuk leherku, dan menghadapkan wajahku begitu dekat dengan wajahnya. Menatapku dengan tersenyum sinis lantas membisikkan “Aku akan fokus kepadamu, jadi tetaplah di posisimu. Aku akan mengunjungimu kembali untuk bersenang – senang”.
Aku pun turun dari mobil dan melihat kepergiannya dengan tatapan sedih dan marah bercampur aduk, mau sampai kapan dia akan meneror ku?. Kenapa harus aku yang dijadikan sasaran, apa yang dia lihat dariku?.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments