BAB XI : SISI LAIN DARI KAWAKI

Aku berjalan menuju pintu keluar stasiun, nampak Kawaki berdiri menyandar di samping mobil sambil merokok dan mengenakan topi hitam dan hoodie hitam. Pakaian khasnya serba hitam menutupi wajahnya yang putih pucat itu. Aku pun menghampirinya aku terdiam berdiri di hadapannya.

“Kamu sungguh kembali, bodoh” katanya sambil membuang puntung rokok yang ada di mulutnya dan menginjaknya di tanah dengan kaki kanannya.

“Kamu pun menungguku, bukankah sama bodohnya” ketus ku.

Seketika dia mencekik ku dan membenturkan tubuhku ke sisi mobil. “Masuklah, cuaca sangat panas” katanya melepaskan ku kemudian masuk ke dalam mobil.

Aku pun mengikutinya masuk kedalam mobil, lalu mengenakan sabuk pengaman.

Sepanjang jalan kami tak berbicara dan begitu hening, dia menyetir ugal – ugalan dengan kecepatan tinggi dan menerobos rambu – rambu lalu lintas beberapa kali. Aku tak tahu kemana tujuan kami, tapi aku sudah mempertaruhkan diriku kali ini. Tak ambil pusing dengan apa yang akan dia lakukan, perlakuannya yang sangat kasar kepadaku sudah tak lagi membuatku terkejut.

Kami berkendara hingga matahari pun mulai terbenam dan berganti menjadi malam, seakan kami hanya berputar – putar di Kawasan Hokkaido. Kami berbelok kearah pengisian bahan bakar. Aura dingin dalam dirinya seakan merayapi diriku. Kami tak saling memandang hanya melihat ke depan.

Sikap dinginnya dan begitu acuh nampak dia mencoba meredakan amarahnya. Tapi kenapa dia seperti itu? Biasanya dia langsung menyerang ku, padahal aku sudah duduk disampingnya berjam – jam.

Kami berhenti di Kawasan Chuo – ku, Sapporo. Dia pun memarkirkan mobilnya dan berjalan keluar, cukup gelap dengan cahaya lampu yang minim dan remang – remang. Aku merasa berjalan menuju sebuah kuil. Kenapa kuil ini buka di jam 9 malam?.

Ada seorang biksu menyambut kami di depan pelataran kuil.

“Apakah aku akan dijadikan korban untuk sebuah ritual?” kataku dalam hati mulai berpikir macam – macam.

“Sudah lama kamu tak datang kesini?” tanya biksu paruh baya itu kepada Kawaki.

“Aku cukup sibuk dengan banyak misi yang diberikan kepadaku” jawab Kawaki.

“Siapa anak perempuan ini, temanmu?” tanya biksu itu kembali.

“Dia bukan temanku, dia milikku” jawab Kawaki sambil menggenggam jemariku.

Biksu itu tersenyum dan mempersilahkan masuk kami berdua.

Aku hanya bisa diam dan mengikuti Kawaki masuk ke dalam kuil tanpa protes dengan perkataannya mengenai diriku yang merupakan miliknya. Aku mencoba mengamati situasi ini.

Biksu menyalakan dupa, Kawaki menaruh kedua tangannya di depan dada dalam posisi berdoa sembari duduk berlutut. Orang yang akhir – akhir ini menganiaya diriku terus menerus, bisa berdoa kepada dewa. Sangat luar biasa pemandangan kali ini, aku yang sedari tadi memperhatikan Kawaki yang duduk di sebelahku yang sedang berdoa. Nampak begitu hikmat dengan keheningan malam yang terasa pekat di aula kuil.

Kawaki tiba – tiba menoleh ke arahku, “Jangan hanya melihatku, berdoalah agar aku tidak membunuhmu”.

“Bisa – bisanya kamu mengatakan hal semengerikan itu di dalam kuil suci ini, benar – benar sulit dipercaya” keluhku.

Setelah berdoa, Kawaki duduk bersama biksu itu menghadap keluar kearah pelataran kuil di pinggiran aula.

“Apakah misi kali ini akan memakan banyak korban jiwa?” tanya biksu itu sayup – sayup terdengar olehku yang berjalan – jalan d pelataran.

“Aku akan menaklukkan klan Aihara, tak akan ada yang tersisa apabila mereka melawan” jawab Kawaki.

“Begitu banyak dosa yang telah kamu lakukan, apakah tidak ada pilihan untukmu menjalani hidup lebih baik?” tanya biksu itu sambil menatap Kawaki begitu dalam dan sedih.

“Aku tak bisa meninggalkan klan Endo seperti apa yang dilakukan paman waktu itu. Takdirku sudah terukir semenjak kelahiranku, Menjalaninya adalah hal terbaik untukku” jawab Kawaki sambil tersenyum getir.

Perbincangan mereka adalah perbincangan antara anggota keluarga, pantas biksu itu sangat dekat dengan Kawaki. Aku merasa kehidupan yang dijalani Kawaki cukup kelam, itulah analisaku sementara dari obrolan mereka berdua.

Kawaki pun berpamitan kepada biksu tersebut.

“Kembalilah saat kalian ada waktu luang” kata biksu dengan ramah.

“Baik” jawabku.

Biksu itu mendekat ke arahku dan memegang tangan kananku dengan kedua tangannya.

“Bersabarlah dengan sikap Kawaki, mungkin dia terlihat menakutkan tapi dia sebenarnya adalah anak yang baik” kata biksu itu kepadaku.

Aku hanya bisa tersenyum meski aku ingin mengatakan bahwa aku butuh pertolongan untuk bisa lepas dari anak bren%$ek ini.

“Jangan dengarkan dia, ayo pulang” kata Kawaki langsung menarik ku untuk meninggalkan kuil. Aku masih menoleh ke belakang melihat biksu itu tersenyum menatap kami pergi.

Sisi lain yang aku dapati dari laki – laki dingin dengan mata sadis, dia masih bisa berdoa kepada dewa. Entah seperti apa hidupnya yang dia jalani hingga kini, hingga dia tumbuh tanpa perasaan. Sepintas aku merasa kasihan kepadanya.

Di dalam mobil, saat dia mulai menyalakan mesin mobil tiba – tiba tanganku menyentuh wajahnya. Jujur ini diluar kendaliku, rasa kasihan itu membuatku jadi bodoh. Aku pun langsung menarik tanganku dari pipinya, tapi langsung ditangkap dengan tangannya.

“Apa ini?” tanyanya.

“Apa…” jawabku bingung mencoba melepaskan pergelangan tanganku.

“Apa kamu mencoba menggodaku?” tanyanya kembali.

“Tidak seperti apa yang kamu pikirkan” tegas ku.

“Jangan mencobanya, aku tidak tertarik kepadamu. Kamu hanyalah mainanku, jangan coba melewati batas” katanya dengan tatapan tajam kepadaku.

“Aku tahu, aku pun tidak punya pikiran konyol seperti itu” jelas aku.

Kami saling terdiam sesaat merasa canggung namun berakhir dengan Kawaki mulai mengendarai mobil kembali meninggalkan kuil. Dia pun mengantarkan aku pulang hingga depan rumahku.

“Apakah kamu mencari tahu tentangku? Hingga Asahi dan dirimu tahu dimana letak rumahku” tanyaku menyelidik.

“Apakah itu penting bagimu, aku hanya memastikan dimana posisi mainanku berada” jawabnya ketus.

“Jangan lukai siapapun, bila targetmu adalah diriku maka tetaplah fokus padaku. Apalagi keluargaku dan orang – orang terdekatku, jangan pernah melukai mereka. Anggap ini sebuah permohonan dari dalam lubuk hatiku terdalam” mintaku kepadanya sambil menatap matanya.

Tangannya meraih tengkuk leherku, dan menghadapkan wajahku begitu dekat dengan wajahnya. Menatapku dengan tersenyum sinis lantas membisikkan “Aku akan fokus kepadamu, jadi tetaplah di posisimu. Aku akan mengunjungimu kembali untuk bersenang – senang”.

Aku pun turun dari mobil dan melihat kepergiannya dengan tatapan sedih dan marah bercampur aduk, mau sampai kapan dia akan meneror ku?. Kenapa harus aku yang dijadikan sasaran, apa yang dia lihat dariku?.

Episodes
1 BAB I: PERTEMUAN DENGANNYA
2 BAB II : SIAPA DIA?
3 BAB III : AKU DICULIK
4 BAB IV : AKU ADALAH MAINAN KAWAKI
5 BAB V : KAWAKI ADALAH SEORANG YAKUZA!
6 BAB VI : PENGAKUAN HIROSHI
7 BAB VII : BERPAPASAN DENGAN UTA
8 BAB VIII : KARAOKE SUNAGAWA
9 BAB IX : TINDAKAN ASAHI MENJADI TANDA TANYA
10 BAB X : KEPERGIAN HIROSHI
11 BAB XI : SISI LAIN DARI KAWAKI
12 BAB XII : BERTEMU GADIS ITU [ KAWAKI]
13 BAB XIII : DIA MENARIK [KAWAKI]
14 BAB XIV : TERGODA [KAWAKI]
15 BAB XV: NASEHAT HATORI
16 BAB XVI : KEMARAHAN KAK RYOTA
17 BAB XVII : PENYERANGAN DARI KLAN AIHARA
18 BAB XVIII : MENJADI SASARAN KLAN AIHARA
19 BAB XIX : KESEPAKATAN AKU DAN KAWAKI
20 BAB XX: KEMUNCULAN HIROSHI
21 BAB 21: PERASAAN HIROSHI
22 BAB 22 : PERTUNANGAN BERDARAH
23 BAB 23 : MELARIKAN DIRI
24 BAB 24 : KEHIDUPAN BARU
25 BAB 25 : KEMATIAN KENJI
26 BAB 26 : KEMUNCULAN KAWAKI
27 BAB 27 : YOSHIKO KOBAYASHI ADALAH AKU
28 BAB 28 : SELAMAT TINGGAL NAOKO
29 BAB 29 : TRAGEDI NAOKO
30 BAB 30 : PERTEMUAN KAWAKI DAN RYOTA
31 BAB 31 : PERTEMUAN DENGAN JIRO SI IKAN BUNTAL
32 BAB 32 : KAKEK JATUH SAKIT
33 BAB 33 : KEMATIAN KAKEK
34 BAB 34 : BERTEMU HIROSHI
35 BAB 35 : KEPUTUSAN HIROSHI
36 BAB 36 : PILIHAN JIRO
37 BAB 37 : TERSEKAP DI BANGSAL BAWAH TANAH
38 BAB 38: API CEMBURU
39 BAB 39 : KANON SANG ADIK TIRI
40 BAB 40 : TANPA KASIH SAYANG
41 BAB 41 : PENGAKUAN JIRO
42 BAB 42 : PERTEMUAN DENGAN AYAH
43 BAB 43 : RENCANA PERTUNANGAN HIROSHI
44 BAB 44 : RENCANA RYOTA
45 BAB 45 : REAKSI HIROSHI
46 BAB 46 : PUNCAK KESABARAN HIROSHI
47 BAB 47 : PERTENGKARAN HIROSHI DAN KAWAKI
48 BAB 48 : OBSESI KAWAKI
49 BAB 49 : MENGINGATKAN KEPADA IBUNYA
50 BAB 50 : EVAKUASI IBU DAN AYAH
51 BAB 51 : PERTEMUAN RAHASIA
52 BAB 52 : RUMAH YANG TERBAKAR
53 BAB 53 : KEDATANGAN KANON
54 BAB 54 : PERTEMUAN KANON DAN HIROSHI
55 BAB 55 : PERKATAAN KANON
56 BAB 56 : KEMBALI KE TOKYO
57 BAB 57 : MALAM PANAS
58 BAB 58 : KEBEJATAN KAWAKI
59 BAB 59 : KEMALANGAN
60 BAB 60 : RAHASIA MASA LALU
61 BAB 61 : TUBUH YANG DIKUASAI KAWAKI
62 BAB 62 : KEHAMILAN YANG MENGEJUTKAN
63 BAB 63 : PERTEMUAN DUA KELUARGA
64 BAB 64 : KEDATANGAN SOMA
65 BAB 65 : H-1 MENUJU HARI PERTUNANGAN
66 BAB 66 : PERTEMUAN KAWAKI DAN SOMA
67 BAB 67 : PENGAKUAN KANON
68 BAB 68 : SEBUAH SURAT PERWALIAN
69 BAB 69 : PENYERANGAN KELOMPOK BERTOPENG
70 BAB 70 : PELARIAN DAN PERBURUAN
71 BAB 71 : SEBUAH JEBAKAN MASA LALU
72 BAB 72 : DIBALIK KEMATIAN KUMIKO
73 BAB 73 : TAK ADA LAGI AIR MATA
74 BAB 74 : KEMARAHAN AYAH KAWAKI
75 BAB 75 : PERSETERUAN KAWAKI DAN SOMA
76 BAB 76 : SEBUAH TANDA KEPEMILIKAN
77 BAB 77 : HARI KEBEBASAN DAN SKEMA PELARIAN
78 BAB 78 : DI BALIK RUMAH TANGGA RYOTA
79 BAB 79 : KEHANGATAN SEORANG KAKAK
80 BAB 80 : PERMINTAAN BERCERAI
81 BAB 81 : MISI PEMBUNUHAN MINNA
82 BAB 82 : PEMAKAMAN MINNA
83 BAB 83 : DRAMA DI MULAI
84 BAB 84 : NIKAHI AKU
85 BAB 85 : PERMINTAAN MENIKAH YANG MENGEJUTKAN
86 BAB 86 : KENCAN PERTAMA
87 BAB 87 : PERASAAN KANON TERHADAP HIROSHI
88 BAB 88 : SIKAP KAWAKI TAK TERDUGA
89 BAB 89 : DUEL PROSTITUSI
90 BAB 90 : PENGAKUAN CINTA KAWAKI
91 BAB 91 : MELEPAS HIROSHI
92 BAB 92 : AYAH KAWAKI
93 BAB 93 : PESONA AKARI
94 BAB 94 : DAYA PIKAT AKARI
Episodes

Updated 94 Episodes

1
BAB I: PERTEMUAN DENGANNYA
2
BAB II : SIAPA DIA?
3
BAB III : AKU DICULIK
4
BAB IV : AKU ADALAH MAINAN KAWAKI
5
BAB V : KAWAKI ADALAH SEORANG YAKUZA!
6
BAB VI : PENGAKUAN HIROSHI
7
BAB VII : BERPAPASAN DENGAN UTA
8
BAB VIII : KARAOKE SUNAGAWA
9
BAB IX : TINDAKAN ASAHI MENJADI TANDA TANYA
10
BAB X : KEPERGIAN HIROSHI
11
BAB XI : SISI LAIN DARI KAWAKI
12
BAB XII : BERTEMU GADIS ITU [ KAWAKI]
13
BAB XIII : DIA MENARIK [KAWAKI]
14
BAB XIV : TERGODA [KAWAKI]
15
BAB XV: NASEHAT HATORI
16
BAB XVI : KEMARAHAN KAK RYOTA
17
BAB XVII : PENYERANGAN DARI KLAN AIHARA
18
BAB XVIII : MENJADI SASARAN KLAN AIHARA
19
BAB XIX : KESEPAKATAN AKU DAN KAWAKI
20
BAB XX: KEMUNCULAN HIROSHI
21
BAB 21: PERASAAN HIROSHI
22
BAB 22 : PERTUNANGAN BERDARAH
23
BAB 23 : MELARIKAN DIRI
24
BAB 24 : KEHIDUPAN BARU
25
BAB 25 : KEMATIAN KENJI
26
BAB 26 : KEMUNCULAN KAWAKI
27
BAB 27 : YOSHIKO KOBAYASHI ADALAH AKU
28
BAB 28 : SELAMAT TINGGAL NAOKO
29
BAB 29 : TRAGEDI NAOKO
30
BAB 30 : PERTEMUAN KAWAKI DAN RYOTA
31
BAB 31 : PERTEMUAN DENGAN JIRO SI IKAN BUNTAL
32
BAB 32 : KAKEK JATUH SAKIT
33
BAB 33 : KEMATIAN KAKEK
34
BAB 34 : BERTEMU HIROSHI
35
BAB 35 : KEPUTUSAN HIROSHI
36
BAB 36 : PILIHAN JIRO
37
BAB 37 : TERSEKAP DI BANGSAL BAWAH TANAH
38
BAB 38: API CEMBURU
39
BAB 39 : KANON SANG ADIK TIRI
40
BAB 40 : TANPA KASIH SAYANG
41
BAB 41 : PENGAKUAN JIRO
42
BAB 42 : PERTEMUAN DENGAN AYAH
43
BAB 43 : RENCANA PERTUNANGAN HIROSHI
44
BAB 44 : RENCANA RYOTA
45
BAB 45 : REAKSI HIROSHI
46
BAB 46 : PUNCAK KESABARAN HIROSHI
47
BAB 47 : PERTENGKARAN HIROSHI DAN KAWAKI
48
BAB 48 : OBSESI KAWAKI
49
BAB 49 : MENGINGATKAN KEPADA IBUNYA
50
BAB 50 : EVAKUASI IBU DAN AYAH
51
BAB 51 : PERTEMUAN RAHASIA
52
BAB 52 : RUMAH YANG TERBAKAR
53
BAB 53 : KEDATANGAN KANON
54
BAB 54 : PERTEMUAN KANON DAN HIROSHI
55
BAB 55 : PERKATAAN KANON
56
BAB 56 : KEMBALI KE TOKYO
57
BAB 57 : MALAM PANAS
58
BAB 58 : KEBEJATAN KAWAKI
59
BAB 59 : KEMALANGAN
60
BAB 60 : RAHASIA MASA LALU
61
BAB 61 : TUBUH YANG DIKUASAI KAWAKI
62
BAB 62 : KEHAMILAN YANG MENGEJUTKAN
63
BAB 63 : PERTEMUAN DUA KELUARGA
64
BAB 64 : KEDATANGAN SOMA
65
BAB 65 : H-1 MENUJU HARI PERTUNANGAN
66
BAB 66 : PERTEMUAN KAWAKI DAN SOMA
67
BAB 67 : PENGAKUAN KANON
68
BAB 68 : SEBUAH SURAT PERWALIAN
69
BAB 69 : PENYERANGAN KELOMPOK BERTOPENG
70
BAB 70 : PELARIAN DAN PERBURUAN
71
BAB 71 : SEBUAH JEBAKAN MASA LALU
72
BAB 72 : DIBALIK KEMATIAN KUMIKO
73
BAB 73 : TAK ADA LAGI AIR MATA
74
BAB 74 : KEMARAHAN AYAH KAWAKI
75
BAB 75 : PERSETERUAN KAWAKI DAN SOMA
76
BAB 76 : SEBUAH TANDA KEPEMILIKAN
77
BAB 77 : HARI KEBEBASAN DAN SKEMA PELARIAN
78
BAB 78 : DI BALIK RUMAH TANGGA RYOTA
79
BAB 79 : KEHANGATAN SEORANG KAKAK
80
BAB 80 : PERMINTAAN BERCERAI
81
BAB 81 : MISI PEMBUNUHAN MINNA
82
BAB 82 : PEMAKAMAN MINNA
83
BAB 83 : DRAMA DI MULAI
84
BAB 84 : NIKAHI AKU
85
BAB 85 : PERMINTAAN MENIKAH YANG MENGEJUTKAN
86
BAB 86 : KENCAN PERTAMA
87
BAB 87 : PERASAAN KANON TERHADAP HIROSHI
88
BAB 88 : SIKAP KAWAKI TAK TERDUGA
89
BAB 89 : DUEL PROSTITUSI
90
BAB 90 : PENGAKUAN CINTA KAWAKI
91
BAB 91 : MELEPAS HIROSHI
92
BAB 92 : AYAH KAWAKI
93
BAB 93 : PESONA AKARI
94
BAB 94 : DAYA PIKAT AKARI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!