Setelah pengakuan Hiroshi waktu itu, beberapa hari kemudian serasa kehidupan kami bertebaran bunga – bunga musim semi padahal di musim panas.
Mungkin inilah yang disebut dengan perasaan kasmaran anak remaja.
Besok adalah kepergian Hiroshi untuk melanjutkan kuliahnya di Tokyo University sebuah kampus terbaik di Jepang. Aku bersama Megumi pergi ke sebuah pusat perbelanjaan sejenis mall di Sapporo untuk membeli sebuah benda couple yang ingin ku berikan kepada Hiroshi besok sebagai kenang – kenangan.
Meskipun menurutku berlebihan melakukan ini, tapi karena Hiroshi belum tentu pulang seminggu sekali membuatku harus menandainya agar jauh dari para wanita penggoda di Tokyo. Hmmm… aku melakukannya sesuai saran Megumi si gadis paling mahir memikat pria di sekolahku. HAHAHAHA…
“Chiyo… bagaimana perasaanmu setelah berpacaran dengan laki – laki yang tumbuh bersamamu dari kecil?” tanya Megumi yang berdiri di rak accessories salah satu toko.
“Hmmm… entahlah, senang pastinya tapi aku pun merasa terkejut kami menjadi pasangan kekasih” jawabku polos sembari memilah accessories.
“Sejak pertama melihat Hiroshi, aku selalu melihat dirinya menatapmu dengan tatapan laki – laki ke perempuan bukan seperti tatapan kakak ke adik” dia pun menjabarkan analisanya bak detektif.
“Benarkah, sepertinya aku tidak pernah mengamati secara dalam makna sorot matanya kepadaku” tanggap ku.
“Sudah ku prediksi sejak lama, kalau dia memilki perasaan lebih untukmu. Tidak ku sangka dia cukup lama menyatakan perasaannya kepadamu. Hei… tapi bersyukurlah dengan adanya kasus ini, Hiroshi jadi punya keberanian untuk menyatakan perasaannya kepadamu” kata Megumi.
“Apakah aku harus bersyukur dengan adanya hal itu, meski beberapa hari dia sudah tak muncul lagi tapi setiap malam aku susah tidur. Terlebih dia masih berkeliaran di Sapporo dan Kawasan Hokkaido lainnya. Perasaan tak berdaya dengan rasa amarah yang memuncak atas perlakuannya kepadaku tanpa alasan jelas, itu membuatku semakin membencinya” jelas ku.
Megumi langsung memelukku “Maaf kan aku Chiyo… semua salahku, percayalah badai pasti berlalu”.
“Megumi aku terima permohonan maafmu, traktir aku makan sekarang perutku sudah lapar” jawabku mengubah topik pembicaraan.
“Baiklah tuan putri, silahkan pilih restoran mana yang ingin kamu kunjungi” sahutnya.
Kami pun duduk di sebuah restoran yang ada di mall tersebut, duduk saling berhadapan menunggu makanan yang kami pesan.
“TARAAA….Lihatlah!!!” aku pun memamerkan sebuah gantungan ponsel berwarna biru laut dengan icon anime dan di bagian talinya ada manik – manik berinisial kan nama kami berdua HC.
“Kekanak – kanakan sekali, memangnya Hiroshi mau memakainya?” remeh Megumi melihat gantungan couple yang aku beli.
“Kami menyukai anime yang sama, dan Hiroshi menyukai warna biru laut. Pasti dia menyukainya, jangan membuatku menyesal dengan pilihanku” keluhku.
“Ya.. ya… ya kalian memang memiliki selera yang unik, simpanlah mataku iritasi terlalu lama melihatnya” ujarnya sembari menutup matanya.
Setelah lelah bermain seharian di mall, kami pun memutuskan untuk pulang. Aku dan Megumi naik skuter berwarna putih milik paman Megumi.
“Pelan – pelan saja Chiyo, kalau skuter ini kenapa – napa aku bisa di giling oleh pamanku” celoteh Megumi yang duduk di belakangku.
“Tenang, tidak akan terjadi apapun. Ruas jariku harus terlatih, setelah di gips beberapa hari membuatnya malah kaku. Anggap saja ini terapi untuk jemariku, nikmati saja laju skuter ini yang begitu pelan” sahutku menikmati berkendara yang cukup lama tak kurasakan.
“Kalau ibumu tahu, kita bisa mati di lempar oven dan dipukuli habis – habisan” Megumi semakin rusuh di belakang.
“Tenang saja, ibuku sedang mengikuti festival musim panas di Osaka untuk promosi produk kue kami. Kita tak akan menjadi mayat sesampai di rumahku” aku pun makin memaksimalkan laju skuter.
Saat rambu – rambu merah pada lampu lalu lintas di perempatan jalan, ada sebuah mobil sport sedan berwarna hitam ikut berhenti di sebelah skuter kami.
Tiba – tiba kaca mobil di turunkan, dan seorang laki - laki mengenakan topi hitam melempar puntung rokoknya mengenai lenganku. Sontak Megumi yang melihatnya marah, “Hei jangan buang puntung rokok sembarangan!. Rokokmu mengenai temanku!”. Aku mengelus lenganku yang kena rokok tersebut seraya menoleh kearah laki – laki itu. Degh… Dia si rambut coklat Uta… apakah dia membuntuti kami? Atau hanya berpapasan?.
“Megumi diamlah, dan pegang erat pinggangku karena aku akan melaju dengan kencang” kataku memberi kode dan bersiap – siap melaju dengan menatap tajam rambu – rambu. “Ah sial, jangan ngebut jarimu masih proses pemulihan … Chiyo…!” protes Megumi. Akhirnya rambu – rambu berwarna biru, aku pun langsung melaju meninggalkan mobil itu. Nampak jelas dari spion skuter, dia melambaikan tangan dari arah belakang. Megumi masih tidak sadar dan terus mengoceh di belakang.
Mobil itu tak membuntuti kami, tapi terus terang membuatku panik. Entah apa rencana mereka, tapi mereka masih berseliweran di sekitar kami.
Setibanya kami di depan rumahku, aku turun dari skuter dan terduduk lemas di pinggir jalan.
“Hei kamu kenapa? Harusnya aku yang lemas dengan kecepatan gila mu itu mengendarai skuter” tanya Megumi sembari ikut duduk di sebelahku.
“Menginaplah di rumahku malam ini, jangan coba pulang sendiri apalagi ini menjelang malam” mintaku padanya.
“Kenapa? Kamu takut tidur sendiri ya?” dia malah meledek…
“Hmmm… bisa jadi seperti itu” jawabku singkat sembari menenangkan diriku.
Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi aku tidak ingin menceritakan hal ini pada Megumi karena aku takut dia akan semakin cemas. Aku pun takut Megumi jadi incaran, karena Uta pun tahu wajah Megumi sedari awal kami bertemu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments