Begitu gelap, aku tak melihat apapun dan tubuhku terombang-ambing di bagasi. Dia yang mengendarai mobil benar – benar ugal – ugalan, gas dan rem seakan tak terkontrol.
Selang tak berapa lama mobil berhenti, syukurlah tapi tubuhku seakan remuk redam. Saat bagasi itu terbuka, akhirnya aku bisa melihat cahaya dari bagasi.
Kawaki menggendongku dan melempar ku ke bawah dimana ku dapati tubuhku terbaring di pasir pantai. Sebentar… dimana ini, kondisinya cukup dingin dan gelap hanya sedikit sinar. Tersorot sinar lampu mobil, aku sadar diriku berada di tepi pantai dan terdengar jelas deburan ombak.
Kawaki melepaskan kain yang menyumpal mulutku dan tali di kaki serta tanganku. Seorang diri tanpa ada siapapun, dia membawaku kesini yakni pantai Sapporo. Dia berjongkok di hadapanku, dimana aku sedang beranjak duduk.
“Bagaimana kalau pesta kita lanjutkan disini” katanya.
“Ku mohon hentikan, sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?!” tanyaku histeris tak sabar dengan tingkahnya.
“Bukankah sudah ku bilang, aku hanya ingin bermain – main denganmu hingga puas” jelasnya.
“Aku bukan mainan, jadi hentikan permainan konyol mu ini” kataku seraya melayangkan kepalan dengan tangan kiriku kearah wajahnya.
Begitu cepatnya dia menangkis pukulan ku tepat di depan wajahnya.
“Kalau dipikir – pikir kamu ini bandel juga, mau bermain lebih konyol dari sebelumnya?” tanyanya sembari meremas kepalanku.
Seketika dia menarik ku menuju ke laut, dan menceburkan tubuhku. Menenggelamkan kepalaku ke air laut berkali – kali hingga aku sulit bernafas. Aku mencoba melepaskan tangannya dari kepalaku tapi sulit.
“Bukankah ini sangat seru” katanya tak berperasaan.
Melihatku kesulitan bernafas dan mulai lemah serta tak lagi meronta di dalam air. Dia menarik ku keluar dan melempar ku ke daratan pasir di pinggir pantai. Aku terbatuk “UHUKKK…UHUKKK, Sial aku terlalu banyak minum air laut” gerutuku dengan nafas tersengal – sengal.
Tubuhku yang basah kuyup dengan pakaian yang begitu minim dan terbuka, kakiku tanpa alas kaki begitu dingin diterpa angin malam.
“Sepertinya kamu sangat menikmatinya, haruskah kita menambah kemeriahan dengan kembang api?” tanyanya sembari menghampiriku.
Tubuhku yang jelas terlalu lelah mencoba berdiri tak perlu pikir panjang, aku pun mengatur pertahanan diri dengan posisi teknik kuda – kuda depan.
“Masih mencoba melawan, HA…HA…HA…!!!” remehnya.
“Mungkin aku tak sebanding denganmu, tapi setidaknya aku tak harus menyerah” sahutku dengan penuh percaya diri.
Begitu cepat dia mulai melayangkan tinjunya kearah wajahku, sontak aku terkejut bak angin yang begitu cepat membuat mataku tak bisa melihat serangannya. Dia bukanlah seseorang yang jago berkelahi, tapi dia adalah seorang yang ahli dalam petarungan. Nihil untuk aku mengalahkannya. Siapa dia sesungguhnya…aku tercengang dan membeku.
Kepalan tangan kanannya yang berjarak 1 cm dari wajahnya seketika terbuka, dia pun mengusap wajahku yang penuh butiran pasir dengan tangan kanannya terasa begitu lembut. Dia psikopat… jelas wajah datarnya dan sikapnya yang sulit diprediksi membuat lawannya berdecak ngeri.
“Tidak akan menarik kalau aku menghabisi mu sekarang, selama aku di Hokkaido aku butuh mainan agar aku tak merasa bosan. Jadi bertahanlah untuk bermain denganku, jangan coba berpikir untuk melarikan diri” katanya.
Aku membeku…
Sebuah sport bike berwarna biru menghampiri kami, dengan pengendara berhelm senada. Ah…itu Asahi, semoga dia menyelamatkanku kali ini.
Dia turun dari motor dan berjalan kearah kami berdiri.
“Tuan Muda, anda diminta menghubungi Tuan besar segera” kata Asahi seraya menyodorkan ponsel yang di pegangnya.
“Apakah Ayah tahu akan progress kita masih 70%?” tanya Kawaki dengan wajah serius.
“Benar” jawab Asahi.
“Baiklah, aku akan menghubunginya setelah sampai di markas. Bawa dia ke depan rumah sakit, nanti juga akan ada yang memungutnya. Aku akan mengendarai motor biar lebih cepat, pastikan kamu pun tidak terlambat sampai di markas” perintahnya sambil mengambil ponsel dari tangan Asahi.
“Baik” jawab Asahi sambil menundukkan kepala.
Asahi dengan sopan mempersilahkan aku masuk ke mobil. Sedangkan Kawaki si anak bren%$ek itu pergi dengan sport bike biru itu.
Sepanjang perjalanan aku Asahi hanya fokus menyetir. Aku memperhatikannya sedari tadi, tapi tak sanggup berkata apa – apa.
“Apakah anda ingin menanyakan sesuatu?” tanyanya.
“Siapa Kawaki?” tanyaku.
“Saya tidak bisa memberikan penjelasan yang gamblang mengenai tuan muda, tapi dia adalah calon penguasa bawah tanah Jepang” jawabnya.
“Berarti dia seorang Yakuza atau sejenisnya?” tanyaku kembali.
Asahi hanya terdiam tak memberi tanggapan.
“Apakah dia memperlakukan semua manusia sepertiku?” tanyaku yang merasa penuh ketidakadilan.
“Bersyukurlah anda tidak menjadi mayat, tuan muda tidak pernah tertarik dengan lawan yang remeh. Bahkan setiap pertarungannya dia selalu mempercepat waktu pertarungan. Berarti anda bukanlah lawannya” jelasnya.
“Kalau bukan lawan lantas kenapa aku harus diperlakukan seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Entahlah, tuan muda juga tidak tertarik dengan hal lain selain bertarung. Pastinya, bersiaplah mulai dari sekarang segala hal bisa saja terjadi. Ini hanya sebuah permulaan” katanya mengisyaratkan sebuah ancaman besar untuk diriku.
Nampak gate depan rumah sakit tempatku dirawat, Asahi menurunkan ku di sana.
Aku berjalan masuk menuju rumah sakit, nampak Hiroshi berdiri di depan kamarku dengan wajah termenung.
“Hiroshi…” panggilku lirih.
Seketika Hiroshi memelukku dengan erat, “Aku berusaha mencari mu hingga aku merasa putus asa tak ada kabar darimu. Semua club pun kami datangi, polisi pun sampai saat ini pun menyusuri Sapporo”.
“Maaf kan aku, ayo kita pulang” kataku dengan menyambut pelukannya.
Seketika mataku terpejam karena rasa lelah yang membelenggu diriku.
Keesokannya…
Aku membuka mataku perlahan dan melihat langit – langit kamarku, nampak Hiroshi menggenggam tanganku dan menatapku penuh rasa cemas duduk disamping kiri ranjang tempat tidurku.
Ayah duduk di sofa sebelah ranjang tempat tidurku nampak tertidur pulas masih menggunakan piyama.
“Chiyo… kamu sudah bangun, apakah ada bagian tubuhmu terasa sakit?” tanya Hiroshi.
Aku menggelengkan kepala, meski aku tahu tubuhku remuk redam dari ujung kaki ke ujung kepala.
“Maaf kan aku, membuatmu cemas dan merepotkan mu. Aku sangat menyesal membuat kegaduhan ini” kataku penuh rasa bersalah kepadanya.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, ini bukan salahmu. Aku sudah minta polisi untuk melakukan penyelidikan atas apa yang terjadi kepadamu. Tenanglah… pasti semua akan baik – baik saja, kamu aman bersama keluargamu disini” jawabnya mencoba menenangkan ku.
“Terimakasih” kataku sambil tersenyum.
Ayah pun terbangun lantas menghampiriku dan mengusap – usap kepalaku.
“Nak apakah kamu lapar? Ayah akan membuatkan sup kesukaanmu agar kamu bisa makan, sudah 30 jam kamu tertidur pasti perutmu keroncongan” ayah menawariku makan seperti biasa dengan begitu lembut.
“Terimakasih ayah… jangan cemas, aku adalah anak ayah yang paling kuat. Pasti berkat sup ayah, aku akan langsung pulih total” jawabku sambil tersenyum.
Kami pun berpelukan begitu hangat, seakan rasa dinginku di pantai Sapporo malam itu terobati.
Sebuah PR besar masih menghiasi benakku tentang Kawaki dan kekuasaannya, akankah polisi bisa menangkapnya?. Laki – laki sadis itu tak memiliki motif yang jelas terhadapku, mengingat kata – kata Asahi yang perlu aku waspadai tentang kedepannya. Dia adalah seorang Yakuza yang berperangai sangat buruk menjadi boomerang dalam hari – hariku nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments