BAB V : KAWAKI ADALAH SEORANG YAKUZA!

Begitu gelap, aku tak melihat apapun dan tubuhku  terombang-ambing di bagasi. Dia yang mengendarai mobil benar – benar ugal – ugalan, gas dan rem seakan tak terkontrol.

Selang tak berapa lama mobil berhenti, syukurlah tapi tubuhku seakan remuk redam. Saat bagasi itu terbuka, akhirnya aku bisa melihat cahaya dari bagasi.

Kawaki menggendongku dan melempar ku ke bawah dimana ku dapati tubuhku terbaring di pasir pantai. Sebentar… dimana ini, kondisinya cukup dingin dan gelap hanya sedikit sinar. Tersorot sinar lampu mobil, aku sadar diriku berada di tepi pantai dan terdengar jelas deburan ombak.

Kawaki melepaskan kain yang menyumpal mulutku dan tali di kaki serta tanganku. Seorang diri tanpa ada siapapun, dia membawaku kesini yakni pantai Sapporo. Dia berjongkok di hadapanku, dimana aku sedang beranjak duduk.

“Bagaimana kalau pesta kita lanjutkan disini” katanya.

“Ku mohon hentikan, sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?!” tanyaku histeris tak sabar dengan tingkahnya.

“Bukankah sudah ku bilang, aku hanya ingin bermain – main denganmu hingga puas” jelasnya.

“Aku bukan mainan, jadi hentikan permainan konyol mu ini” kataku seraya melayangkan kepalan dengan tangan kiriku kearah wajahnya.

Begitu cepatnya dia menangkis pukulan ku tepat di depan wajahnya.

“Kalau dipikir – pikir kamu ini bandel juga, mau bermain lebih konyol dari sebelumnya?” tanyanya sembari meremas kepalanku.

Seketika dia menarik ku menuju ke laut, dan menceburkan tubuhku. Menenggelamkan kepalaku ke air laut berkali – kali hingga aku sulit bernafas. Aku mencoba melepaskan tangannya dari kepalaku tapi sulit.

“Bukankah ini sangat seru” katanya tak berperasaan.

Melihatku kesulitan bernafas dan mulai lemah serta tak lagi meronta di dalam air. Dia menarik ku keluar dan melempar ku ke daratan pasir di pinggir pantai. Aku terbatuk “UHUKKK…UHUKKK, Sial aku terlalu banyak minum air laut” gerutuku dengan nafas tersengal – sengal.

Tubuhku yang basah kuyup dengan pakaian yang begitu minim dan terbuka, kakiku tanpa alas kaki begitu dingin diterpa angin malam.

“Sepertinya kamu sangat menikmatinya, haruskah kita menambah kemeriahan dengan kembang api?” tanyanya sembari menghampiriku.

Tubuhku yang jelas terlalu lelah mencoba berdiri tak perlu pikir panjang, aku pun mengatur pertahanan diri dengan posisi teknik kuda – kuda depan.

“Masih mencoba melawan, HA…HA…HA…!!!” remehnya.

“Mungkin aku tak sebanding denganmu, tapi setidaknya aku tak harus menyerah” sahutku dengan penuh percaya diri.

Begitu cepat dia mulai melayangkan tinjunya kearah wajahku, sontak aku terkejut bak angin yang begitu cepat membuat mataku tak bisa melihat serangannya. Dia bukanlah seseorang yang jago berkelahi, tapi dia adalah seorang yang ahli dalam petarungan. Nihil untuk aku mengalahkannya. Siapa dia sesungguhnya…aku tercengang dan membeku.

Kepalan tangan kanannya yang berjarak 1 cm dari wajahnya seketika terbuka, dia pun mengusap wajahku yang penuh butiran pasir dengan tangan kanannya terasa begitu lembut. Dia psikopat… jelas wajah datarnya dan sikapnya yang sulit diprediksi membuat lawannya berdecak ngeri.

“Tidak akan menarik kalau aku menghabisi mu sekarang, selama aku di Hokkaido aku butuh mainan agar aku tak merasa bosan. Jadi bertahanlah untuk bermain denganku, jangan coba berpikir untuk melarikan diri” katanya.

Aku membeku…

Sebuah sport bike berwarna biru menghampiri kami, dengan pengendara berhelm senada. Ah…itu Asahi, semoga dia menyelamatkanku kali ini.

Dia turun dari motor dan berjalan kearah kami berdiri.

“Tuan Muda, anda diminta menghubungi Tuan besar segera” kata Asahi seraya menyodorkan ponsel yang di pegangnya.

“Apakah Ayah tahu akan progress kita masih 70%?” tanya Kawaki dengan wajah serius.

“Benar” jawab Asahi.

“Baiklah, aku akan menghubunginya setelah sampai di markas. Bawa dia ke depan rumah sakit, nanti juga akan ada yang memungutnya. Aku akan mengendarai motor biar lebih cepat, pastikan kamu pun tidak terlambat sampai di markas” perintahnya sambil mengambil ponsel dari tangan Asahi.

“Baik” jawab Asahi sambil menundukkan kepala.

Asahi dengan sopan mempersilahkan aku masuk ke mobil. Sedangkan Kawaki si anak bren%$ek itu pergi dengan sport bike biru itu.

Sepanjang perjalanan aku Asahi hanya fokus menyetir. Aku memperhatikannya sedari tadi, tapi tak sanggup berkata apa – apa.

“Apakah anda ingin menanyakan sesuatu?” tanyanya.

“Siapa Kawaki?” tanyaku.

“Saya tidak bisa memberikan penjelasan yang gamblang mengenai tuan muda, tapi dia adalah calon penguasa bawah tanah Jepang” jawabnya.

“Berarti dia seorang Yakuza atau sejenisnya?” tanyaku kembali.

Asahi hanya terdiam tak memberi tanggapan.

“Apakah dia memperlakukan semua manusia sepertiku?” tanyaku yang merasa penuh ketidakadilan.

“Bersyukurlah anda tidak menjadi mayat, tuan muda tidak pernah tertarik dengan lawan yang remeh. Bahkan setiap pertarungannya dia selalu mempercepat waktu pertarungan. Berarti anda bukanlah lawannya” jelasnya.

“Kalau bukan lawan lantas kenapa aku harus diperlakukan seperti ini?” tanyaku penasaran.

“Entahlah, tuan muda juga tidak tertarik dengan hal lain selain bertarung. Pastinya, bersiaplah mulai dari sekarang segala hal bisa saja terjadi. Ini hanya sebuah permulaan” katanya mengisyaratkan sebuah ancaman besar untuk diriku.

Nampak gate depan rumah sakit tempatku dirawat, Asahi menurunkan ku di sana.

Aku berjalan masuk menuju rumah sakit, nampak Hiroshi berdiri di depan kamarku dengan wajah termenung.

“Hiroshi…” panggilku lirih.

Seketika Hiroshi memelukku dengan erat, “Aku berusaha mencari mu hingga aku merasa putus asa tak ada kabar darimu. Semua club pun kami datangi, polisi pun sampai saat ini pun menyusuri Sapporo”.

“Maaf kan aku, ayo kita pulang” kataku dengan menyambut pelukannya.

Seketika mataku terpejam karena rasa lelah yang membelenggu diriku.

Keesokannya…

Aku membuka mataku perlahan dan melihat langit – langit kamarku, nampak Hiroshi menggenggam tanganku dan menatapku penuh rasa cemas duduk disamping kiri ranjang tempat tidurku.

Ayah duduk di sofa sebelah ranjang tempat tidurku nampak tertidur pulas masih menggunakan piyama.

“Chiyo… kamu sudah bangun, apakah ada bagian tubuhmu terasa sakit?” tanya Hiroshi.

Aku menggelengkan kepala, meski aku tahu tubuhku remuk redam dari ujung kaki ke ujung kepala.

“Maaf kan aku, membuatmu cemas dan merepotkan mu. Aku sangat menyesal membuat kegaduhan ini” kataku penuh rasa bersalah kepadanya.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, ini bukan salahmu. Aku sudah minta polisi untuk melakukan penyelidikan atas apa yang terjadi kepadamu. Tenanglah… pasti semua akan baik – baik saja, kamu aman bersama keluargamu disini” jawabnya mencoba menenangkan ku.

“Terimakasih” kataku sambil tersenyum.

Ayah pun terbangun lantas menghampiriku dan mengusap – usap kepalaku.

“Nak apakah kamu lapar? Ayah akan membuatkan sup kesukaanmu agar kamu bisa makan, sudah 30 jam kamu tertidur pasti perutmu keroncongan” ayah menawariku makan seperti biasa dengan begitu lembut.

“Terimakasih ayah… jangan cemas, aku adalah anak ayah yang paling kuat. Pasti berkat sup ayah, aku akan langsung pulih total” jawabku sambil tersenyum.

Kami pun berpelukan begitu hangat, seakan rasa dinginku di pantai Sapporo malam itu terobati.

Sebuah PR besar masih menghiasi benakku tentang Kawaki dan kekuasaannya, akankah polisi bisa menangkapnya?. Laki – laki sadis itu tak memiliki motif yang jelas terhadapku, mengingat kata – kata Asahi yang perlu aku waspadai tentang kedepannya. Dia adalah seorang Yakuza yang berperangai sangat buruk menjadi boomerang dalam hari – hariku nanti.

Episodes
1 BAB I: PERTEMUAN DENGANNYA
2 BAB II : SIAPA DIA?
3 BAB III : AKU DICULIK
4 BAB IV : AKU ADALAH MAINAN KAWAKI
5 BAB V : KAWAKI ADALAH SEORANG YAKUZA!
6 BAB VI : PENGAKUAN HIROSHI
7 BAB VII : BERPAPASAN DENGAN UTA
8 BAB VIII : KARAOKE SUNAGAWA
9 BAB IX : TINDAKAN ASAHI MENJADI TANDA TANYA
10 BAB X : KEPERGIAN HIROSHI
11 BAB XI : SISI LAIN DARI KAWAKI
12 BAB XII : BERTEMU GADIS ITU [ KAWAKI]
13 BAB XIII : DIA MENARIK [KAWAKI]
14 BAB XIV : TERGODA [KAWAKI]
15 BAB XV: NASEHAT HATORI
16 BAB XVI : KEMARAHAN KAK RYOTA
17 BAB XVII : PENYERANGAN DARI KLAN AIHARA
18 BAB XVIII : MENJADI SASARAN KLAN AIHARA
19 BAB XIX : KESEPAKATAN AKU DAN KAWAKI
20 BAB XX: KEMUNCULAN HIROSHI
21 BAB 21: PERASAAN HIROSHI
22 BAB 22 : PERTUNANGAN BERDARAH
23 BAB 23 : MELARIKAN DIRI
24 BAB 24 : KEHIDUPAN BARU
25 BAB 25 : KEMATIAN KENJI
26 BAB 26 : KEMUNCULAN KAWAKI
27 BAB 27 : YOSHIKO KOBAYASHI ADALAH AKU
28 BAB 28 : SELAMAT TINGGAL NAOKO
29 BAB 29 : TRAGEDI NAOKO
30 BAB 30 : PERTEMUAN KAWAKI DAN RYOTA
31 BAB 31 : PERTEMUAN DENGAN JIRO SI IKAN BUNTAL
32 BAB 32 : KAKEK JATUH SAKIT
33 BAB 33 : KEMATIAN KAKEK
34 BAB 34 : BERTEMU HIROSHI
35 BAB 35 : KEPUTUSAN HIROSHI
36 BAB 36 : PILIHAN JIRO
37 BAB 37 : TERSEKAP DI BANGSAL BAWAH TANAH
38 BAB 38: API CEMBURU
39 BAB 39 : KANON SANG ADIK TIRI
40 BAB 40 : TANPA KASIH SAYANG
41 BAB 41 : PENGAKUAN JIRO
42 BAB 42 : PERTEMUAN DENGAN AYAH
43 BAB 43 : RENCANA PERTUNANGAN HIROSHI
44 BAB 44 : RENCANA RYOTA
45 BAB 45 : REAKSI HIROSHI
46 BAB 46 : PUNCAK KESABARAN HIROSHI
47 BAB 47 : PERTENGKARAN HIROSHI DAN KAWAKI
48 BAB 48 : OBSESI KAWAKI
49 BAB 49 : MENGINGATKAN KEPADA IBUNYA
50 BAB 50 : EVAKUASI IBU DAN AYAH
51 BAB 51 : PERTEMUAN RAHASIA
52 BAB 52 : RUMAH YANG TERBAKAR
53 BAB 53 : KEDATANGAN KANON
54 BAB 54 : PERTEMUAN KANON DAN HIROSHI
55 BAB 55 : PERKATAAN KANON
56 BAB 56 : KEMBALI KE TOKYO
57 BAB 57 : MALAM PANAS
58 BAB 58 : KEBEJATAN KAWAKI
59 BAB 59 : KEMALANGAN
60 BAB 60 : RAHASIA MASA LALU
61 BAB 61 : TUBUH YANG DIKUASAI KAWAKI
62 BAB 62 : KEHAMILAN YANG MENGEJUTKAN
63 BAB 63 : PERTEMUAN DUA KELUARGA
64 BAB 64 : KEDATANGAN SOMA
65 BAB 65 : H-1 MENUJU HARI PERTUNANGAN
66 BAB 66 : PERTEMUAN KAWAKI DAN SOMA
67 BAB 67 : PENGAKUAN KANON
68 BAB 68 : SEBUAH SURAT PERWALIAN
69 BAB 69 : PENYERANGAN KELOMPOK BERTOPENG
70 BAB 70 : PELARIAN DAN PERBURUAN
71 BAB 71 : SEBUAH JEBAKAN MASA LALU
72 BAB 72 : DIBALIK KEMATIAN KUMIKO
73 BAB 73 : TAK ADA LAGI AIR MATA
74 BAB 74 : KEMARAHAN AYAH KAWAKI
75 BAB 75 : PERSETERUAN KAWAKI DAN SOMA
76 BAB 76 : SEBUAH TANDA KEPEMILIKAN
77 BAB 77 : HARI KEBEBASAN DAN SKEMA PELARIAN
78 BAB 78 : DI BALIK RUMAH TANGGA RYOTA
79 BAB 79 : KEHANGATAN SEORANG KAKAK
80 BAB 80 : PERMINTAAN BERCERAI
81 BAB 81 : MISI PEMBUNUHAN MINNA
82 BAB 82 : PEMAKAMAN MINNA
83 BAB 83 : DRAMA DI MULAI
84 BAB 84 : NIKAHI AKU
85 BAB 85 : PERMINTAAN MENIKAH YANG MENGEJUTKAN
86 BAB 86 : KENCAN PERTAMA
87 BAB 87 : PERASAAN KANON TERHADAP HIROSHI
88 BAB 88 : SIKAP KAWAKI TAK TERDUGA
89 BAB 89 : DUEL PROSTITUSI
90 BAB 90 : PENGAKUAN CINTA KAWAKI
91 BAB 91 : MELEPAS HIROSHI
92 BAB 92 : AYAH KAWAKI
93 BAB 93 : PESONA AKARI
94 BAB 94 : DAYA PIKAT AKARI
Episodes

Updated 94 Episodes

1
BAB I: PERTEMUAN DENGANNYA
2
BAB II : SIAPA DIA?
3
BAB III : AKU DICULIK
4
BAB IV : AKU ADALAH MAINAN KAWAKI
5
BAB V : KAWAKI ADALAH SEORANG YAKUZA!
6
BAB VI : PENGAKUAN HIROSHI
7
BAB VII : BERPAPASAN DENGAN UTA
8
BAB VIII : KARAOKE SUNAGAWA
9
BAB IX : TINDAKAN ASAHI MENJADI TANDA TANYA
10
BAB X : KEPERGIAN HIROSHI
11
BAB XI : SISI LAIN DARI KAWAKI
12
BAB XII : BERTEMU GADIS ITU [ KAWAKI]
13
BAB XIII : DIA MENARIK [KAWAKI]
14
BAB XIV : TERGODA [KAWAKI]
15
BAB XV: NASEHAT HATORI
16
BAB XVI : KEMARAHAN KAK RYOTA
17
BAB XVII : PENYERANGAN DARI KLAN AIHARA
18
BAB XVIII : MENJADI SASARAN KLAN AIHARA
19
BAB XIX : KESEPAKATAN AKU DAN KAWAKI
20
BAB XX: KEMUNCULAN HIROSHI
21
BAB 21: PERASAAN HIROSHI
22
BAB 22 : PERTUNANGAN BERDARAH
23
BAB 23 : MELARIKAN DIRI
24
BAB 24 : KEHIDUPAN BARU
25
BAB 25 : KEMATIAN KENJI
26
BAB 26 : KEMUNCULAN KAWAKI
27
BAB 27 : YOSHIKO KOBAYASHI ADALAH AKU
28
BAB 28 : SELAMAT TINGGAL NAOKO
29
BAB 29 : TRAGEDI NAOKO
30
BAB 30 : PERTEMUAN KAWAKI DAN RYOTA
31
BAB 31 : PERTEMUAN DENGAN JIRO SI IKAN BUNTAL
32
BAB 32 : KAKEK JATUH SAKIT
33
BAB 33 : KEMATIAN KAKEK
34
BAB 34 : BERTEMU HIROSHI
35
BAB 35 : KEPUTUSAN HIROSHI
36
BAB 36 : PILIHAN JIRO
37
BAB 37 : TERSEKAP DI BANGSAL BAWAH TANAH
38
BAB 38: API CEMBURU
39
BAB 39 : KANON SANG ADIK TIRI
40
BAB 40 : TANPA KASIH SAYANG
41
BAB 41 : PENGAKUAN JIRO
42
BAB 42 : PERTEMUAN DENGAN AYAH
43
BAB 43 : RENCANA PERTUNANGAN HIROSHI
44
BAB 44 : RENCANA RYOTA
45
BAB 45 : REAKSI HIROSHI
46
BAB 46 : PUNCAK KESABARAN HIROSHI
47
BAB 47 : PERTENGKARAN HIROSHI DAN KAWAKI
48
BAB 48 : OBSESI KAWAKI
49
BAB 49 : MENGINGATKAN KEPADA IBUNYA
50
BAB 50 : EVAKUASI IBU DAN AYAH
51
BAB 51 : PERTEMUAN RAHASIA
52
BAB 52 : RUMAH YANG TERBAKAR
53
BAB 53 : KEDATANGAN KANON
54
BAB 54 : PERTEMUAN KANON DAN HIROSHI
55
BAB 55 : PERKATAAN KANON
56
BAB 56 : KEMBALI KE TOKYO
57
BAB 57 : MALAM PANAS
58
BAB 58 : KEBEJATAN KAWAKI
59
BAB 59 : KEMALANGAN
60
BAB 60 : RAHASIA MASA LALU
61
BAB 61 : TUBUH YANG DIKUASAI KAWAKI
62
BAB 62 : KEHAMILAN YANG MENGEJUTKAN
63
BAB 63 : PERTEMUAN DUA KELUARGA
64
BAB 64 : KEDATANGAN SOMA
65
BAB 65 : H-1 MENUJU HARI PERTUNANGAN
66
BAB 66 : PERTEMUAN KAWAKI DAN SOMA
67
BAB 67 : PENGAKUAN KANON
68
BAB 68 : SEBUAH SURAT PERWALIAN
69
BAB 69 : PENYERANGAN KELOMPOK BERTOPENG
70
BAB 70 : PELARIAN DAN PERBURUAN
71
BAB 71 : SEBUAH JEBAKAN MASA LALU
72
BAB 72 : DIBALIK KEMATIAN KUMIKO
73
BAB 73 : TAK ADA LAGI AIR MATA
74
BAB 74 : KEMARAHAN AYAH KAWAKI
75
BAB 75 : PERSETERUAN KAWAKI DAN SOMA
76
BAB 76 : SEBUAH TANDA KEPEMILIKAN
77
BAB 77 : HARI KEBEBASAN DAN SKEMA PELARIAN
78
BAB 78 : DI BALIK RUMAH TANGGA RYOTA
79
BAB 79 : KEHANGATAN SEORANG KAKAK
80
BAB 80 : PERMINTAAN BERCERAI
81
BAB 81 : MISI PEMBUNUHAN MINNA
82
BAB 82 : PEMAKAMAN MINNA
83
BAB 83 : DRAMA DI MULAI
84
BAB 84 : NIKAHI AKU
85
BAB 85 : PERMINTAAN MENIKAH YANG MENGEJUTKAN
86
BAB 86 : KENCAN PERTAMA
87
BAB 87 : PERASAAN KANON TERHADAP HIROSHI
88
BAB 88 : SIKAP KAWAKI TAK TERDUGA
89
BAB 89 : DUEL PROSTITUSI
90
BAB 90 : PENGAKUAN CINTA KAWAKI
91
BAB 91 : MELEPAS HIROSHI
92
BAB 92 : AYAH KAWAKI
93
BAB 93 : PESONA AKARI
94
BAB 94 : DAYA PIKAT AKARI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!