Setelah Hiroshi pergi, aku mencoba untuk tidur. Tak akan ada yang pernah tahu, apakah si vampire sialan itu kembali menghampiriku.
Malam pun tiba dengan hati yang berkecamuk, aku terus menatap jarum jam di jam dinding yang terpasang di tembok depan ranjangku. Jarum jam pendek menunjukkan angka 10, tepat pukul 10.00 malam tak akan ada yang bisa keluar masuk rumah sakit sembarangan. Kecuali mereka menyamar seperti kemarin, mereka bukanlah gerombolan anak nakal amatir. Semua yang mereka lakukan sangatlah rapi dan terorganisir.
Keheningan malam ini, tak bisa membuatku terlelap karena pikiranku sedang porak poranda karena dirinya. Saat aku mencoba memejamkan mata, ada suara langkah kaki yang menggema di lorong rumah sakit “TAP. . .TAP. . . TAP”. Aku terus menutup mataku mencoba untuk tertidur, ku raih selimut menutupi wajahku.
“SREKKKK….” Jelas suara pintu geser itu dibuka dan kembali di tutup. Langkah pelan mendekatiku, aku mencoba mengatur nafasku seolah – olah diriku tertidur. Ada yang menarik selimutku dengan kasar, “SRETTTT…”. Aku tetap menutup mataku, pura – pura tidur. Ada yang menaiki ranjang kemudian duduk diatas perutku, seakan ada jemari menggerayangi leherku. Dengus nafas seseorang aku rasakan begitu dekat dari wajahku. Dia pun berbisik pelan ditelinga kiriku, “Aku datang, sambut aku dengan mata indah mu. Atau selamanya kamu tak akan melihat dunia ini lagi”.
Seketika aku terbelalak, nafasku memburu sekujur tubuhku bergidik ngeri. Wajah datar dengan tatapan sadis itu tepat di atas wajahku, sedang memandangiku. Kedua tangannya sudah berada di leherku, dia ingin mencekik ku!.
“Kamu takut, cukup takut atau sangat takut? Pilihlah jawaban yang tepat agar kamu selamat” katanya.
“Aku tak takut padamu, puas” jawabku ketus meski aku menyadari dia sangat menakutkan.
“Benarkah? Lantas kenapa kamu pura – pura tidur, padahal kamu menungguku” sindirnya.
“Aku memang ingin tidur, dan jangan terlalu percaya diri untuk ditunggu” aku pun muak menjawabnya.
Wajahnya yang begitu datar itu, dengan mata yang sadis menatapku tanpa ekspresi. Tangannya perlahan mengeratkan pegangannya pada leherku. Aku mencoba melepaskan tangannya dengan tangan kiriku yang terinfus. Cekikannya membuatku sulit bernafas, tapi aku tetap berusaha bertahan.
“Hen..ti…kan, le..pas…kan” kataku yang tak memiliki nafas yang cukup.
Dia pun melepaskan leherku dan aku pun terbatuk sembari menata nafasku. Dia terdiam melihatku kesakitan, lantas membelai rambutku dengan kasar dan berkata “Aku sudah bilang pilihlah jawaban yang tepat, dan jangan coba untuk berbohong”.
Dia beranjak bangun dari atas tubuhku dan berdiri menjauhi ranjangku, berjalan ke arah jendela.
“Disini sangat membosankan, mari kita menghirup udara segar diluar” ajaknya yang memunggungi ku.
“Pasien dilarang untuk keluar tanpa izin” ujarku.
“Aku yang mengizinkannya, kita akan berpesta merayakan keluarnya dirimu dari rumah sakit” kata lalu menoleh ke arahku.
"Aku tak sudi berpesta denganmu, ku mohon pergilah jangan ganggu aku" tolak ku tegas.
"Siapa yang memberimu pilihan untuk menolak, semua keputusan ada di tanganku. Begitupun hidup dan matimu".
" Bukan hakmu untuk memerintah ku... " kataku terpotong.
Si ikan buntal masuk membawa sekantong plastik dan kursi roda.
“Hai apa kabar gadis nakal, aku datang menjemputmu” sapanya.
Aku mencoba menekan tombol darurat di samping ranjangku, dengan sigap si ikan buntal menghalangiku.
“Kalian ingin menculik ku, aku akan berteriak sekarang juga!” kataku dengan nada tinggi, aku sangat panik.
Lantas si ikan buntal menusukkan jarum suntik ke leherku, aku pun tak sadarkan diri.
Saat aku mencoba untuk membuka mataku, dentuman music begitu keras mulai terdengar di telingaku. Seakan getaran sound system terasa merayapi tubuhku, tercium aroma rokok yang begitu pekat. Samar – samar aku pandangi sekelilingku begitu banyak orang. “Aku dimana?” gumamku dalam hati.
Aku terbaring dengan tubuh miring di sofa menghadap meja kaca yang besar, sedangkan kepalaku diatas paha seseorang yang mengenakan celana panjang hitam. Aku memfokuskan pandanganku keatas, wajah itu sepertinya tak asing. Tepat tatapan mata kami saling bertemu, mata sadis itu dan ekspresi datar yang paling ku benci.
“Kamu sudah bangun, siapkan dirimu untuk menari di pesta ini” katanya.
Mataku terperanjat, seketika aku terbangun dari pangkuannya lalu ku tatap sekelilingku.
Tujuh orang yang sama berkumpul dalam satu ruangan bersama para wanita dewasa yang mengenakan pakaian sexy dan vulgar.
“Tamu kita sudah terbangun dari tidurnya, mari kita sambut dengan bersulang!!” teriak si ikan buntal dengan sumringah yang diapit 2 wanita dewasa dengan make up yang begitu tebal.
“CHEEERRRRSSSSS!!!”
Tempat macam apa ini dan dimana aku sekarang! Aku hanya bisa terdiam mematung sambil memperhatikan sekelilingku. Ku pandangi kakiku tanpa alas kaki, dan pakaianku berganti. Dress ketat berwarna hitam, super pendek, dengan lengan panjang, dan punggung terbuka. Apakah aku akan dijual dan dilecehkan, apakah mereka menculik ku untuk ini?!.
Si vampir sialan meraih rambutku yang terurai panjang dan menjambak ku begitu kasar dengan tangan kirinya. Lantas tangan kanannya yang sedari tadi memegang sebatang rokok yang menyala, dihisapnya dan dibuangnya kepulan asap rokok dari mulutnya kearah wajahku.
“DASAR BREN%$EK” gumamku lirih menatapnya tajam.
“Ini adalah pesta untukmu, begini caramu menanggapinya. Sangat tidak tahu diri” katanya.
Puntung rokok yang ada ditangan kanannya di masukkan ke dalam gelas berisi minuman keras lalu disiramkan kearah wajahku.
“Mari berpesta” katanya sambil tersenyum dingin.
Semua yang ada di ruangan itu berteriak kegirangan “PESTA!!!!”.
Sangat erat dia merangkul pundakku, dan meremas dengan keras ujung bahuku. Dia seakan sengaja menyakitiku, aku hanya bisa merintih kesakitan dengan hati penuh amarah dan kekhawatiran.
Seorang pria begitu tegap mengenakan jas hitam dengan setelan senada, sangat rapi mengenakan kacamata, berambut hitam, bermata sipit masuk menghampiri kami. Dia lebih tua dari si vampir, usianya sekitar 30 tahunan.
“Hei Asahi…ke marilah” kata si Vampir kepadanya.
Inilah orang yang meyelamatkan ku lewat panggilan telephone malam itu. Asahi, pria yang tak terbilang ramah dan sama dinginnya seperti si vampir.
Dia duduk disebelah kanan si Vampir, nampak dia begitu hormat dengan anak bren%$ek di sebelahku ini.
“Tuan muda Kawaki, strategi kita sudah dilancarkan sekitar 70% dari yang diharapkan” katanya. Lantas dia membisikkan sesuatu ke telinga si Vampir. Seakan memberikan report rahasia yang tak perlu banyak orang tahu.
Jadi orang di sebelahku ini bernama Kawaki, dan dia di panggil tuan muda. Seberapa berkuasanya keluarganya, apakah dia anak konglomerat atau anak Yakuza?. Tapi setidaknya aku tahu, Asahi adalah anak buahnya begitu pun dengan anak – anak muda yang mengelilingi meja yang ada di ruangan ini.
Aku harus bisa menyelamatkan diriku sendiri dari mereka, atau aku akan menjadi korban selanjutnya. Entah apa motifnya dia menculikku, aku harus mencari cara untuk melarikan diri sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
lyaa
Ini baru novel keren, author kudu bangga!!
2023-08-09
3
farmy 7
Banyak air mata terbuang untuk cerita ini, tapi worth it!
2023-08-09
1
Graziela Lima
Cerita yang sangat inspiratif, terima kasih author!
2023-08-09
2