Arkan menegak ludah, kini ia cemas setelah mendengar kata terakhir Amanda.
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi, gimana kalau benar mereka akan ganggu aku, aku gak mau di ganggu sama makhluk halus" risau Arkan panas dingin walau matahari masih menyinari bumi.
Malam belum datang tapi Arkan sudah takut duluan, malam-malam sebelumnya pasti ada aja makhluk halus yang datang mengganggu Arkan, padahal Arkan tidak melakukan apapun.
Tapi kali ini Arkan telah membuat masalah terlebih dahulu, ia menjadi takut jika benar pasangan suami istri itu akan balas dendam dengan cara mendatanginya selama kurun waktu 7 hari 7 malam.
Amanda mengigit bibir bawah, wajahnya memucat bak mayat hidup."Aku baru ingat sekarang, jujur kalau aku ingat dari tadi aku gak akan ceritain kisah hidup mereka. Bodoh banget aku malah cerita di tempat di mana mereka meregang nyawa"
"Aku yakin mereka pasti gak akan tinggal diam, mereka akan beri kita pelajaran"
Mendengar itu Arkan makin cemas, bingung harus melakukan apa agar terlepas dari hantu penunggu Daurah.
"Terus ini gimana Amanda, aku gak mau di ganggu sama mereka?" Bingung Arkan tak bisa diam.
Kepanikan terlihat jelas di wajah Arkan, Arkan belum mahir dalam dunia pergaiban, ia belum tau banyak hal tentang para hantu-hantuan sehingga ia tidak tau bagaimana caranya berdamai dengan hantu agar mereka tak jadi mengganggu.
"Aku juga gak tau, aku mau pulang dulu, aku mau nanya sama kakek dan nenek ku, barang kali mereka tau cara agar terlepas dari mereka, nanti aku akan kabarin kamu" ujar Amanda.
Arkan mengangguk setuju, mereka berdua pun berpisah, mereka balik ke rumah masing-masing.
Gara-gara hantu penunggu Daurah mereka malah melupakan siluman ular dan pak Burhan yang belum di selidiki lebih lanjut.
Di sepanjang jalan pulang tatapan mata Arkan kosong, wajahnya pucat pasi. Arkan bingung, ia takut hantu penunggu Daurah datang dan mengganggunya, sungguh Arkan tak mau di ganggu oleh makhluk halus.
Arkan kepikiran, ia tak mau berurusan dengan makhluk halus tapi kejadian hari ini akan membuatnya terjerat dalam dendam hantu penunggu danau yang nyawanya terenggut di desa Cempaka pada 50 tahun yang lalu.
Dengan linglung Arkan melangkah pulang ke rumah, tak sengaja Arkan melihat ke samping.
Arkan langsung kembali menghadap ke depan. Wajah Arkan panik, sampai-sampai Arkan berkeringat basah.
"Matilah, dia ada di sini, aku harus pergi" batin Arkan bergetar ketakutan.
Tanpa aba-aba Arkan berlari secepat kilat menuju rumah yang tak seberapa.
Sosok makhluk halus kebaya merah menatap tajam punggung pemuda berusia 17 tahun yang lari ketakutan saat tak sengaja melihatnya.
"Sejauh apapun kau berlari, kau tidak akan bisa lepas dari ku!" Tutur sosok makhluk halus kebaya merah penuh dendam yang menyala-nyala.
Sosok kebaya merah menghilang, amarahnya pada Arkan belum reda.
Faktor yang membuat hantu kebaya merah mengintai nyawa Arkan belum di ketahui, kesalahan yang Arkan perbuat belum Arkan sadari. Seingat Arkan ia tidak pernah mengusik ketenangan hantu manapun apalagi hantu kebaya merah itu.
Arkan berlari masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan cepat lalu menguncinya.
Nafas Arkan tersengal-sengal seperti orang yang baru habis lari maraton.
Arkan mengintip dari jendela, memastikan apakah di luar ada hantu kebaya merah yang mengikutinya pulang atau tidak.
"Aman, dia gak ikutin aku" lega Arkan lantaran tak menemukan satupun hantu di halaman rumah.
Untuk sejenak Arkan dapat bernafas lega, cukup melelahkan bagi Arkan lari-larian dari mereka yang tak kasat mata.
Arkan berbalik badan menghadap ke depan.
"Nenek!"
Arkan gelagapan, wajahnya panik ketika ia berbalik badan tiba-tiba neneknya berdiri tepat di belakangnya dengan mata tanpa berkedip.
"Nenek ngagetin Arkan aja" ucap Arkan mengelus dada.
Jantung Arkan memompa dengan cepat, seharian ini ia terus di tampakan dengan sesuatu yang menegangkan.
"Kamu nyari apa?" Tanya nenek dingin.
Arkan berkeringat dingin, bingung harus memberikan alasan apa. Tidak mungkin Arkan bilang kalau ia mencari hantu kebaya merah yang sempat ia lihat ketika di perjalanan pulang.
"G-gak nyari apapun kok nek, gak ada yang Arkan cari" balas Arkan menutupi rahasia dengan senyum palsu.
Nenek menatap Arkan tanpa berkedip, pancaran dari sorot mata nenek serem, Arkan ketar-ketir dan tegang di tatap sebegitu tajam oleh neneknya sendiri.
Dalam hati Arkan berkata."Kenapa nenek liatin aku sampai segitunya, apa dia curiga sama aku?"
Arkan tak bisa tenang, rasa deg-degan menyelimuti tubuh, raut wajah panik tak dapat di buang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata nenek meninggalkan Arkan pergi.
Walau terkesan aneh tapi Arkan mengucap ribuan syukur, hatinya plong ketika nenek tidak bertanya apapun lagi karena jelas Arkan akan kesulitan dalam menjawab.
"Huft syukur nenek gak nanya apapun lagi, aku udah tegang banget, hampir mati aku sama rasa tegang itu" syukur Arkan mengelus dada yang berdetak kencang.
Krieet
Pintu rumah terbuka, seorang nenek-nenek masuk ke dalam rumah dengan membawa keranjang yang berisi sayur mayur yang di petik dari kebun mini di belakang rumah.
"Arkan kamu udah pulang, gimana seru jalan-jalannya?" Tanya nenek dengan wajah ceria di sertai pula senyum ramah.
Arkan tercengang, ia menunjuk ke arah Utara di mana nenek yang barusan ia temui pergi, lalu menunjuk ke arah nenek yang mengajaknya bicara.
"Kok bisa ada dua" terkesiap Arkan.
Dalam waktu yang berdekatan, bahkan hanya berjarak 1 menit saja Arkan malah bertemu dengan dua wujud dalam 1 orang.
Nenek mengurutkan alis tak paham."Apanya yang ada dua, siapa yang ada dua?"
Nenek heran melihat tingkah Arkan yang aneh.
"Nenek dari mana, kenapa nenek dari luar, bukannya nenek tadi ada di dalam?" Tanya balik Arkan.
"Kamu ngelantur, nenek dari tadi itu ada di luar, nenek habis dari kebun metik sayur buat di olah" jelas nenek.
Arkan terdiam membisu, satu nenek ia temui dalam waktu singkat begitu tak masuk akal. Tapi kejadian yang barusan Arkan lewati nyata walau tidak resional.
"Tapi nek barusan Arkan ketemu sama nenek di sini, Arkan sempat ngobrol sama dia, pas dia pergi nenek malah datang dan bilang kalau nenek ada di luar. Itu kan aneh" ujar Arkan menjelaskam sesuatu yang membuatnya kebingungan sekaligus heran.
"Kamu ngawur Arkan, nenek ada di luar, nenek gak masuk ke rumah sama sekali. Ini baru aja nenek masuk ke rumah, nenek gak ada di dalam rumah sejak tadi" sahut nenek menganggap cucunya aneh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments