Sejak kematian pak Sodek, keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya terus terdengar berita kematian warga dengan derita sakit yang sama, yakni sakit perut.
Warga desa Cempaka di gegerkan dengan kematian-kematian yang menewaskan sanak keluarga mereka.
Ramainya kematian warga setempat membuat tahlilan bergantian ke rumah satu dan rumah satu hingga selesai larut malam.
Dalam 1 hari pasti ada aja yang meninggal, entah 1, 2 bahkan 5, parahnya lagi pernah sampai lebih dari 5.
Seorang warga yang berprofesi sebagai tukang mandi jenazah banjir job, maraknya kematian membuatnya tak berhenti melakukan pekerjaannya yakni memandikan jenazah.
Di tengah maraknya kematian warga yang misterius, warga-warga setempat mulai merasa janggal dengan tewasnya warga-warga yang tiap hari terjadi.
Di suatu malam semua warga desa keluar dari rumah membawa obor, mereka berkeliling membaca sholawat meminta agar musibah yang melanda desa Cempaka segera usai.
Mereka hidup dalam ketakutan semenjak banyak warga yang meninggal dadakan dengan riwayat penyakit yang terdengar ringan, anehnya dapat membuat nyawa melayang.
Lantunan sholawat mereka ucapkan di sepanjang perjalanan, salah satu warga paling tengah bernama pak Holil menghentikan langkah, matanya menatap ke sebelah Utara terus menerus.
Warga-warga yang berada di belakang pak Holil melewatinya, ia tetap diam di tempat.
"Kok kayaknya di sana ada orang?"
"Tapi siapa dia, semua orang ada di sini, apa ada warga yang gak ikut"
Rasa penasaran menghantui pak Holil, ia pun melangkah mendekati tempat di mana ia melihat ada orang yang berjalan.
Di depan pak Holil ada seorang sesosok makhluk namun beda alam dengannya tengah berjalan lurus ke depan.
Pak Holil merasa takut pada sosok makhluk halus mirip gorila itu, tapi ia juga penasaran kemana makhluk astral itu akan pergi.
Derap kaki pak Holil tak terdengar saking pelan, langkah pak Holil terhenti di belakang rumah salah satu tetangga baru bernama pak Suparto dan Bu Narsih.
Makhluk halus itu masuk ke dalam rumah Bu Narsih dan pak Suparto.
"Ngapain makhluk itu masuk ke sana"
"Ada yang gak beres ini!"
Pak Holil mengintip dari jendela, melihat ada apa di dalam rumah pak Suparto dan apa yang akan di lakukan makhluk halus itu di rumah pak Suparto.
Alangkah terkejutnya pak Holil kala melihat pak Suparto beserta istrinya menyembah pada sosok makhluk halus bertubuh besar, tinggi dan menyeramkan.
Bibir pak Holil bergetar, mulutnya terbuka lebar, dengan pelan-pelan pak Holil meninggalkan rumah pak Suparto dan menghampiri para warga yang tengah ronda.
"K-kenapa mereka nyembah sama makhluk halus?"
"Ada yang gak bener ini, aku harus kasih tau warga-warga"
Dengan heboh pak Holil memberitahu para warga atas apa yang ia lihat.
"Bapak-bapak ibu-ibu" teriak pak Holil dengan nafas tersengal-sengal.
"Ada apa pak Holil?"
"Bapak dari mana, kenapa seperti habis di kejar hantu?"
Sesuatu yang menurut warga janggal satu demi satu warga tanyakan langsung pada pak Holil.
"Di rumah pak Suparto ada makhluk halus, mereka nyembah pada makhluk halus" ujar pak Holil dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sontak para warga terkejut hebat, penuturan pak Holil mengguncang mereka.
"Yang bener aja pak Holil, masa pak Suparto nyembah sama makhluk halus"
"Gak mungkin itu terjadi"
"Mereka itu orang baik, gak mungkin mereka bersekutu sama jin"
Protes warga tak percaya kata-kata yang keluar dari bibir pak Holil.
Pak Suparto dan Bu Narsih selama ini yang mereka kenal baik, jujur dan rajin bersedekah, sangat tidak masuk akal kalau mereka menyembah pada makhluk ghoib seperti yang di kabarkan pak Holil.
"Beneran bapak-bapak ibu-ibu, pak Suparto sama istrinya bersekutu sama makhluk halus, mereka lagi nyembah sama sosok makhluk halus yang besar dan serem. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, saya gak bohong. Kalau bapak-bapak sama ibu-ibu gak percaya ayo ikut saya ke rumah pak Suparto, akan saya tunjuk bukti dari apa yang saya katakan" tantang pak Holil demi membuktikan kebenaran dari ucapannya.
Warga pun setuju, mereka tidak akan percaya sebelum melihat langsung kebenarannya.
Dengan berbondong-bondong warga mendatangi rumah pak Suparto dan Bu Narsih yang jaraknya tidak terlalu jauh, hanya beberapa langkah saja mereka sudah sampai di sebuah rumah besar milik pasangan suami istri penjual bubur ayam.
Para warga di minta sembunyi, yang mendekati rumah pak Suparto dan Bu Narsih hanya beberapa orang, di pimpin pak RT.
Mereka yang berjumlah 7 orang menguping pembicaraan yang terjadi di dalam rumah pak Suparto.
Mereka ingin memastikan terlebih dahulu kebenaran dari ucapan pak Holil sebelum mengambil tindakan.
"Suparto, Narsih, kalian sudah mendapatkan semuanya, harta yang melimpah ruah tak lain tak bukan kalian dapatkan dari tumbal yang setiap hari kalian berikan. Aku minta kalian serahkan tumbal lebih banyak lagi, aku berjanji akan berikan kalian harta yang banyak jika kalian menyanggupi permintaan ku" ucap makhluk ghoib yang di sembah oleh pak Suparto dan Bu Narsih demi mendapatkan harta yang melimpah.
"Baik tuan, hamba akan serahkan tumbal lebih banyak lagi, besok hamba pastikan ada banyak warga yang akan menjadi tumbal" jawab pak Suparto.
Mulut pak RT dan beberapa warga yang mendengar dan melihat sendiri kata-kata yang keluar dari bibir pak Suparto tercengang.
"J-jadi yang bikin warga-warga meninggal secara brutal itu pak Suparto" tercekat pak Holil.
"Keterlaluan, kurang ajar dia, sudah di terima di kampung kita dengan baik, dia malah berbuat jahat karena serakah akan harta, dia harus di kasih pelajaran" geram pak RT tak akan tinggal diam setelah mengetahui dalang dari tragedi mematikan yang melanda desa baru-baru ini.
"Tunggu apa lagi pak RT, ayo kita kasih mereka pelajaran, mereka harus binasa, anak, istri ku mati gara-gara mereka. Mereka harus mati juga" gelap mata pak Sugeng.
Anak, istri dan sanak keluarganya satu persatu meninggal karena ulah dari pak Suparto dan Bu Narsih. Pak Sugeng tak dapat memaafkan kesalahan mereka karena kesalahan mereka begitu fatal, gara-gara mereka ia kehilangan orang-orang yang begitu sangat ia sayangi.
Dengan berbondong-bondong warga mendobrak pintu rumah pak Suparto.
Kericuhan yang terjadi di luar terdengar hingga ke dalam.
Pak Suparto dan Bu Narsih di dalam rumah merasa tegang saat para warga menerobos masuk ke dalam tanpa izin.
Makhluk halus yang mereka sembah menghilang saat warga masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini, kenapa kalian masuk ke rumah saya, keluar kalian!" Usir pak Suparto panik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments