Arkan dan Amanda diam di tempat, mereka penasaran berat apa yang tengah di bicarakan oleh pak Burhan dengan siluman ular itu. Karena jarak yang jauh membuat obralan mereka tak dapat di dengar oleh keduanya.
"Apa yang mereka obrolin coba, aku pengen tau" penasaran Amanda.
"Sstt diam, nanti mereka sadar gimana, kita akan kena masalah besar" larang Arkan.
Amanda pun diam, pandangannya fokus pada mereka berdua yang sedang membicarakan sesuatu yang pastinya sangat penting.
Siluman ular berjalan lurus di atas air berwarna merah, di ujung sebelah timur danau terdapat air terjun, di balik air terjun ada goa dan siluman ular itu masuk ke sana.
Pak Burhan bangun setelah siluman ular pergi, ia lalu bergegas meninggalkan Daurah.
Arkan dan Amanda bersembunyi, menahan nafas agar pak Burhan tak menyadari kalau mereka telah mengikutinya sejak tadi dan melihat dengan jelas ular sawah berubah menjadi siluman ular.
Pak Burhan tak menyadari jika ada dua orang manusia yang telah mengetahui rahasia besarnya sehingga ia pulang ke rumah dengan tenang.
Amanda dan Arkan keluar setelah tak ada lagi siapapun di Daurah.
"Dia udah pergi, kita aman" ucap Amanda.
Arkan mengucap syukur, lega hatinya kala pak Burhan dan juga siluman ular tak ada yang sadar kalau mereka berada di lokasi yang sama.
"Amanda ada hubungan apa pak Burhan sama siluman ular itu, kenapa sepertinya ada sesuatu yang terjadi di antara mereka" kecurigaan Arkan.
Walau baru pertama melihat pak Burhan, Arkan telah menaruh kecurigaan kalau keberadaan siluman ular di desa Cempaka ada hubungannya dengan pak Burhan.
"Aku juga merasakan hal yang sama, tapi aku belum tau ada hubungan apa mereka sebenarnya, tapi aku akan cari tau, aku tidak akan berhenti sebelum tau apa yang sebenarnya terjadi di antara siluman ular dan pak Burhan" sahut Amanda.
Penampakan siluman ular di desa Cempaka adalah berita besar, dampak keberadaannya belum di ketahui, apakah akan membawa dampak positif atau malah sebaliknya, untuk itu mereka patut menyelidiki hingga ke akar-akarnya.
Amanda termasuk orang yang tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia cari.
Apalagi sesuatu yang tengah Amanda selidiki menyangkut orang terkaya di kampung yakni pak Burhan.
"Aku masih gak nyangka tau kalau ular yang tadi keluar dari rumah pak Burhan itu bukan ular sungguhan melainkan siluman" geleng-geleng kepala Arkan jika ingat kejadian mistis, di luar nalar yang beberapa waktu terjadi.
"Aku juga gak nyangka, karena sebelumnya gak pernah aku lihat ada siluman ular berkeliaran di desa ku, Baru kali ini aja aku lihat dengan mata kepala ku sendiri kalau siluman ular itu nyata dan memang benar adanya. Aku kira siluman ular itu mitos dan cuman ada di film-film, tapi ternyata memang sungguhan" takjub Amanda.
Sebagai warga desa yang mulai dari lahir hingga tumbuh sebesar ini Amanda juga merasa tercengang, kaget saat melihat langsung ular berubah menjadi manusia.
"Kita harus cari tau ada hubungan apa pak Burhan dengan siluman ular itu, aku yakin mereka bukan sekedar kenal saja, hubungan mereka lebih dari pada itu" yakin keras Arkan.
Amanda menganggukkan kepala tanda setuju."Iya, aku juga penasaran banget, pokoknya kita harus cari tau seluk beluk tentang pak Burhan dan siluman ular. Sebelum dapat jangan berhenti!"
Arkan menjabani keinginan Amanda karena di sini ia sama-sama penasaran.
Amanda melangkah ke depan mendekati Daurah. Arkan mengikuti dari belakang.
Mereka duduk di dekat pohon, di depan mereka merupakan danau yang luas tapi airnya berwarna merah.
Arkan ragu-ragu menyentuh air danau yang berwarna semerah darah, mengambil sedikit air dan menciumnya.
"Gak ada bau apapun, baunya kayak air biasa, tapi mengapa warnanya merah seperti darah" keheranan Arkan lalu mengembalikan air ke tempat semula.
"Dari segi warna air danau ini memang berwarna semerah darah, tapi kalau dari segi bau sama kayak air pada umumnya, gak ada bau apa-apa" jelas Amanda.
Arkan menatap danau merah, ia merasa ngeri melihat danau di depannya.
Biasanya Arkan suka melihat pemandangan yang berbau-bau alam tapi kali ini ia tidak suka sedikitpun malahan dia ngeri, karena danau yang biasa ia kenal beda jauh dengan danau yang saat ini ia tatap.
"Katanya kamu mau jelasin mengapa air di danau ini berwarna merah, aku ingin tau alasannya"
Arkan penasaran kronologi yang menyebabkan air di danau yang semula berwarna bening berubah menjadi merah layaknya darah.
"Dulu itu ada seorang pasangan suami istri....
Flashback on.
Cerita 50 tahun silam.
Seorang pasangan suami istri masuk ke desa dan berkeinginan menetap di desa. Niat baiknya di sambut ramah oleh warga setempat.
Pasangan suami istri bernama Suparto dan Narsih begitu senang kala para warga desa Cempaka menerima kehadiran mereka.
Mereka membangun sebuah rumah yang dekat dengan sebuah danau.
Letak rumah mereka agak menjauh dari pemukiman penduduk, rumah-rumah warga sangat jauh dari letak rumah mereka.
Suparto yang berprofesi sebagai tukang bubur sementara sang istri Bu Narsih menjadi ibu rumah tangga, ia kini sedang hamil dan tidak bisa bekerja terlalu keras.
Setiap pagi pak Suparto menjajankan dagangnya pada warga desa.
Saparan pagi dengan bubur sangat warga minati apalagi bubur buatan pak Suparto begitu lezat dan murah meriah.
"Pak Suparto beli buburnya 3 porsi, di bungkus ya" teriak Robiah menghentikan pak Suparto yang tengah menjual dagangannya keliling desa.
Pak Suparto yang di teriaki pun berhenti, ia dengan senang melayani pembeli pertamanya.
"Ini Bu pesanannya" pak Suparto menyodorkan bubur ayam pesanan Bu Robiah.
"Pak, apa bapak gak rugi apa jualan bubur, udah enak banyak lagi porsinya" ucap Bu Robiah sedikit heran dengan porsi bubur ayam pak Suparto yang murah meriah.
Pak Suparto tersenyum."Enggak Bu, saya gak rugi, saya senang kalau warga desa suka dengan bubur buatan saya, sesekali saya sedekah biar dagangan saya bermanfaat"
"Owh makasih ya pak, besok saya pasti beli lagi" janji Bu Robiah senang karena setiap hari dapat merasakan kelezatan dari bubur buatan pak Suparto.
"Sama-sama Bu" jawab pak Suparto.
Bu Robiah melangkah pergi membawa bubur ayam ke rumahnya untuk di santap bersama keluarganya.
Senyum sinis penuh kelicikan terukir di wajah pak Suparto saat mengamati punggung Bu Robiah yang pergi. Ia kemudian lanjut berjualan hingga ludes terjual.
Keesokan harinya.
Berita duka di umumkan di masjid, tangis keluarga Bu Robiah terdengar seisi rumah.
Suami Bu Robiah yang bernama pak Sodek di kabarkan meninggal, sebelumnya pak Sodek mengeluh sakit perut, Bu Robiah menganggap sakit yang di derita pak Sodek sakit biasa namun ternyata dapat membuat nyawa suami tercinta melayang.
Warga satu demi satu datang untuk mengucap bela sungkawa, warga laki-laki maupun perempuan bahu membahu membantu keluarga Bu Robiah dalam mengurus jenazah hingga di kebumikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments