Kemunculan ular di area rumah pak Burhan

Arkan pasrahkan semuanya pada gadis itu, sepertinya dia telah paham betul dengan mereka yang biasa di kata makhluk halus.

"Oh ya nama kamu siapa?" Tanya Arkan.

"Kenalin nama aku Amanda, aku warga di desa ini, rumah ku gak jauh dari rumah mu, cuman berjarak beberapa rumah aja" gadis bernama Amanda mengulurkan tangan pada Arkan seraya berkenalan.

Dengan senang Arkan menyambutnya."Aku Arkan, aku warga baru di sini, ceritanya tadi aku mau jalan-jalan karena aku belum tau apapun tentang desa ini"

"Oh ya, kalau kamu mau aku akan ajak kamu keliling desa, aku akan tunjukkan apapun yang ada di desa ini, kamu mau gak?" Tawar Amanda.

"Boleh, soalnya aku pengen tau ada apa aja di sini" dengan senang hati Arkan menerima tawaran Amanda.

"Ayo ikut aku, aku akan ajak kamu keliling kampung" antusias Amanda.

Arkan mengangguk dengan senang, karena Amanda akan mengajaknya keliling kampung. Apa yang menjadi kesulitannya atau rasa penasarannya akan ia tanyakan semuanya pada Amanda selaku warga asli desa ini.

Kedua sejoli itu berjalan masuk ke area perkampungan yang di mana banyak rumah-rumah warga di bangun di pinggir jalan desa hingga ke tengah-tengah desa bahkan ke perbatasan desa.

Rumah-rumah yang terbangun pun cukup sederhana, tapi ada beberapa yang terbilang mewah namun sayangnya tidak banyak.

Dengan begitu detail Amanda menjelaskan rumah-rumah yang terbangun di sepanjang jalan berserta dengan nama pemiliknya hingga terhenti di sebuah rumah yang berukuran paling besar.

"Nah kalau rumah ini milik juragan Burhan, dia orang paling top, paling kaya, paling berkuasa tapi paling pelit" tunjuk Amanda pada sebuah bangunan yang menjulang tinggi, bercat putih, di tiang rumah di beri cat warna gold yang membuat rumah semakin mewah layaknya istana.

Arkan menatap rumah paling besar di desa ini, hatinya sedikit terasa nyeri kala ingat pada rumah yang pernah ia tempati di bandar kota. Namun terpaksa ia tinggalkan karena rumah masa kecilnya di rampas paksa oleh bank.

Ukuran rumah Arkan di kota jauh lebih besar dari pada rumah yang saat ini ia tatap, namun karena kekejaman rekan kerja ayahnya apa yang ia miliki semuanya harus di ambil dan perjuangan ayahnya selama ini berakhir dengan kata sia-sia.

Amanda terheran-heran, saat menjelaskan rumah penduduk desa mulai dari ujung ke ujung wajah Arkan begitu antusias dan bersemangat, namun mengapa ketika tiba di rumah pak Burhan raut sedih menjadi penghias di wajah Arkan.

"Kamu kenapa Arkan, apa ada yang salah sama rumah ini?" Amanda mencoba untuk bertanya, perubahan draktis Arkan ia rasakan, ia berkeyakinan penuh ada sesuatu yang membuat pemuda tampan itu kehilangan semangatnya.

Helaan nafas Arkan hembuskan."Saat liat rumah pak Burhan, aku jadi ingat sama rumah ku di kota. Ukurannya jauh lebih besar tapi sayangnya rumah itu gak bisa aku tempati lagi"

Wajah Arkan tertunduk sedih, walau bukan dia yang berjuang mati-matian untuk membangun rumah sebesar itu namun ia juga merasa sangat kehilangan saat tempat yang ia tinggali harus di bekukan oleh bank.

"Kenapa bisa begitu?" Makin penasaran Amanda.

Sepotong cerita yang Arkan katakan telah membangkitkan rasa penasaran Amanda.

"Karena rumah ku udah di sita sama bank, semua aset keluarga ku di bekukan bank. Keluarga ku bangkrut gara-gara keserakahan sahabat ayah, dia nipu keluarga kami, usaha yang ayah bangun hancur total, itu semua gara-gara dia" jelas Arkan.

Amanda terenyuh, walau dia tidak mengalaminya namun ia bisa merasakan bagaimana jadi Arkan dan keluarganya yang kehilangan segalanya hanya karena kejahatan sahabat ayahnya.

Kesedihan tak dapat Arkan sembunyikan, sejak di tipu oleh sahabat ayahnya keluarganya hancur lebur, perkonomiannya kacau, semuanya harus di mulai dari nol lagi.

Apa yang Arkan miliki dahulu telah lenyap gara-gara satu orang.

"Kamu yang sabar Arkan, tetap tawakal, aku tau ujian yang lagi menimpa keluarga kamu berat, tapi kamu gak boleh putus asa, kamu harus bisa bangkit. Jika dulu ayah mu yang bisa membawa mu dan keluarga mu ke dalam kebahagiaan, sekarang giliran kamu, yakinlah kalau kamu bisa mengangkat derajat orang tua mu, yakinlah kalau kamu bisa memberikan kebahagiaan bagi mereka" motivasi Amanda untuk pemuda yang kehidupannya tengah di selimuti awan mendung.

Arkan mengangguk di iringi seulas senyum, akan ia jadikan keadaan pahit, buruk, menyedihkan ini sebagai langkah awal untuknya bisa maju.

Apa yang kini hilang darinya, akan Arkan capai kembali.

"Iya, aku akan pastikan kelak aku akan menjadi orang sukses di masa depan, orang-orang yang dahulu pernah meninggalkan keluarga ku, menganggap rendah orang tua ku, akan aku buat mulut mereka bungkam. Akan aku perlihatkan kalau aku bisa menjadi orang sukses di masa depan" tekad Arkan.

"Amiiin" balas Amanda dengan kencang.

Arkan merasa senang berada di dekat Amanda, meski ia baru mengenalnya, tapi Amanda begitu baik tak seperti teman-teman Arkan di kota yang malah mencampakkan Arkan bahkan menghina keluarga Arkan atas kebangkrutan keluarganya.

Arkan hanya dapat menegak ludah pahit, penghinaan mereka terhadapnya begitu menusuk jantung hingga ke tulang-tulang. Akan Arkan tandai wajah mereka, kelak Arkan akan balas mereka dengan caranya sendiri.

"Kamu jangan sedih, apa yang hilang dari mu sekarang akan Allah gantikan yang lebih baik lagi, kamu harus banyak sabar, ujian yang menimpa mu dan keluarga mu sekarang akan melatih mu menjadi makhluk yang lebih tawakal lagi pada Allah. Tetap sholat, tetap berdoa, tetap berusaha, jalanilah walaupun pahit, insyaAllah di balik pahitnya obat pasti ada nikmatnya sehat" nasihat Amanda.

Hati Arkan sedikit dingin, jiwa penuh dendam pada sosok penipu, penjahat, orang serakah itu agak sedikit mereda berkat Amanda.

Dalam hati Arkan berkata."Aku pasti bisa melewati ini semua"

"Ayo ikut aku, aku akan tunjukin tempat lain lagi yang pasti belum kamu ketahui" antusias Amanda demi membangkitkan semangat Arkan lagi.

Arkan kembali bersemangat, keinginannya untuk mengetahui seluk beluk tentang desa yang ia tempati sangat tinggi.

"Eh tunggu dulu Amanda" cegah Arkan.

Amanda terkejut, menatap Arkan heran saat tiba-tiba Arkan menghentikan niatnya yang akan melangkah pergi dari depan rumah pak Burhan.

"Ada apa?" Tanyanya penasaran.

"Lihat itu" telunjuk tangan Arkan mengarah pada seekor hewan berukuran besar, ekornya panjang tengah keluar dari rumah pak Burhan.

Amanda terpaku melihat seekor ular sawah yang ukurannya jauh dari standar ular yang biasanya ia jumpai di sekitarnya.

"U-ular, sebesar itu" tercekat Amanda menutup mulut tak percaya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!