Sosok yang mengintai nyawa Arkan

Seusai makan, Ilyas dan Risma berangkat ke pasar membeli perlengkapan untuk membuka usaha baru mereka, sementara Arkan duduk termenung di depan teras sambil menikmati sejuknya udara segar.

"Nek, Arkan bosen tau di rumah terus, pengen cepat-cepat sekolah" keluh Arkan pada neneknya yang lagi membersihkan halaman rumah.

"Besok kamu juga akan sekolah, jangan risau" balas nenek.

Arkan membuang nafas berat."Nek Arkan mau liat-liat desa dulu ya, nanti kalau ayah sama bunda nanya bilang aja kalau Arkan lagi jalan-jalan di sekitar desa"

"Iya, nanti nenek akan kasih tau mereka, sana kalau mau jalan-jalan, tapi jangan jauh-jauh" peringatan nenek di balas anggukan oleh Arkan.

Arkan melangkahkan kaki tanpa arah, niatnya pagi hari ini untuk jalan-jalan di sekitaran desa.

Desa yang Arkan pijak dan akan ia tinggali begitu asing, ada banyak hal yang tidak Arkan ketahui di desa tersebut.

Saat berjalan sambil melihat rumah-rumah penduduk Arkan merasa ada seseorang yang mengikuti di belakang.

Arkan berbalik mengecek siapa yang telah membuntutinya.

"Gak orang, kok aku kayak ngerasa ada orang yang ikutin aku dari belakang" perasaan Arkan.

Arkan memperhatikan sekitarnya dengan seksama, di belakangnya kosong, tak ada orang yang melintas namun batin Arkan merasa kalau ada seseorang yang memantau gerak-geriknya.

Arkan kembali melangkah dengan pasti, secara bersamaan pula ia kembali merasakan pergerakan di belakang, Arkan yakin betul ada orang yang mengikutinya dari belakang.

Mencoba untuk mengabaikan sesuatu yang tidak penting meski jiwa penasaran Arkan menyerang.

Suasana desa yang asri menyapa Arkan pagi hari ini, warga melakukan rutinitas seperti pada umumnya. Kaki Arkan terus melangkah menyusuri desa tempat ia tinggal, hingga ia terhenti di sebuah halaman yang di tumbuhi banyak rumput-rumput, di kanan-kiri tidak ada lagi rumah-rumah penduduk yang terlihat. Arkan sudah memasuki tempat yang jauh dari permukiman penduduk.

Arkan mengerutkan alis, menatap semak-semak di samping jalan yang bergerak. Arkan menajamkan pengelihatan, memperhatikan semak-semak itu dengan begitu penasaran apa isi di dalamnya.

"Siapa di sana?" Teriak Arkan.

Seorang gadis sebaya dengan Arkan berlari keluar dari semak-semak.

"Eh tunggu" teriak Arkan mengejar gadis itu.

Gadis itu yang di kejar berlari dengan secepat mungkin.

"Jangan pergi, tunggu aku!" Teriak Arkan tak berhenti mengejarnya walau dia berusaha untuk melarikan diri.

Gadis itu berlari kencang, menoleh sepintas ke belakang lalu berlari dengan secepat kilat.

"Tunggu, aaakkkkh" pekik Arkan tersandung batu dan jatuh.

Lutut Arkan tergores, pemuda introvert itu meringis menahan rasa sakit di lututnya.

Gadis itu terhenti, kala mendapati Arkan terjatuh ia langsung berlari mendekatinya untuk menolong.

"Kamu gak papa?" Tanyanya panik.

Dengan cepat Arkan mencekal kuat tangan gadis itu, gadis itu berteriak histeris, niatnya yang akan menolong Arkan malah Arkan balas dengan cara menangkapnya.

"Lepasin, lepasin!" Berontak gadis itu mencoba kabur.

"Gak, aku gak akan lepasin, katakan sekarang kenapa kamu ikutin aku, kenapa kamu terus ikutin aku, siapa kamu sebenarnya?" Introgasi Arkan.

Sedari tadi Arkan merasa kalau gadis di depannya terus berupaya mengikutinya dari belakang. Kemarin juga Arkan merasa ada yang memantaunya dan ia yakin gadis di depannya yang telah melakukannya.

"A-aku, aku gak ikutin siapa-siapa kok" elak gadis itu tidak mau mengaku.

"Halah, gak usah boong, kamu dari kemarin terus ikutin aku, kamu pikir aku gak ngerasa, udah deh akuin aja, gak perlu ngeles lagi!" Bantah keras Arkan tak akan percaya dengan kebohongan gadis di depannya.

"Sebenarnya aku ikutin kamu cuman mau ngasih peringatan kalau ada sosok makhluk halus jahat yang mengintai mu" jelas gadis itu membuka mulut dan mengatakan yang sebenarnya.

Mata Arkan membulat sempurna."Makhluk halus?"

Gadis itu dengan takut mengangguk, bukan takut Arkan marah tapi takut Arkan tak percaya pada apa yang ia terangkan.

"Makhluk halus yang mana, seperti apa dia, aku mau tau mana yang ingin berbuat jahat pada ku?" Dengan bertubi-tubi Arkan melayangkan pertanyaan.

Arkan penasaran sosok makhluk halus yang mana yang telah mengintai nyawanya. Secara banyak makhluk halus yang akhir-akhir ini berdatangan dan mencoba untuk mengusik kehidupannya, Arkan belum bisa memastikan apakah mereka semua baik atau malah sebaliknya.

Telunjuk tangan gadis itu menunjuk ke sebelah berat yang berdiri sesosok makhluk halus yang ia maksud.

Arkan menoleh ke belakang, alangkah terkejutnya ia kala melihat siapa makhluk halus yang di maksud gadis itu.

"Dia, jadi dia yang punya niatan jahat sama aku" terkesiap Arkan menatap tak percaya.

"Benar, dia terus berupaya keras untuk membuat mu celaka, berhati-hatilah dengannya" peringatan keras gadis itu.

Arkan melongo tak percaya jika sosok itu punya niatan jahat padanya padahal dia tidak melakukan apapun.

Sosok makhluk halus bergender wanita, mengenakan kebaya merah, rambutnya di sanggul dan di hiasi aksesoris-aksesoris lainnya berdiri menatap Arkan dengan senyuman mematikan.

"Liat saja aku akan membunuh mu hahaha" ucap sosok wanita kebaya merah lalu menghilang tanpa jejak.

Arkan diam membisu, memikirkan mengapa sosok wanita kebaya merah mengincar nyawanya.

"Apa salah ku, kenapa dia ingin mencelakai ku?" Arkan merenungkan kesalahan yang telah ia perbuat sehingga nyawanya menjadi incaran makhluk halus.

"Coba kamu ingat-ingat apa yang buat kamu bisa berurusan sama dia" suruh gadis itu.

Tidak akan ada asap tanpa adanya api, sama dengan hal ini, masalah tidak akan tumbuh kalau tidak ada awal mulanya.

"Beneran aku gak pernah ganggu dia, aku itu ketemu sama dia pas di angkot. Tapi entah mengapa setelah itu dia terus datangin aku, aku gak tau kenapa dia terlihat punya dendam pada ku" jelas Arkan.

Hantu itu datang tanpa di undang, Arkan tidak melakukan sesuatu yang dapat membuatnya marah namun dia terus menerus datang dan menebarkan kebencian.

"Sungguh kau tidak ingat sesuatu yang dapat membuat hantu itu marah?" Tanya gadis itu kembali.

Arkan menggeleng."Aku tidak tau, seingat aku, aku bertemu dengannya di angkot umum, setelah itu entah mengapa dia terus mendatangi ku, aku tidak tau alasan mengapa dia memiliki dendam sebegitu kejam pada ku"

Gadis itu menatap mata Arkan, tak ada kebohongan yang Arkan sembunyikan, terlihat Arkan berkata yang sejujur-jujurnya tanpa melibatkan dusta di dalamnya.

"Kalau begitu nanti aku akan coba cari tau mengapa hantu itu punya niat jahat pada mu" ujar gadis itu.

"Dengan cara apa?" Penasaran Arkan.

"Ada deh, nanti kamu juga akan tau" jawab gadis itu tak mau memberi tau Arkan cara apa yang akan dia lakukan.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!