"Apa-apaan ini, kenapa ada banyak bunga di kamar aku, siapa yang udah narok bunga ini di sini" marah Arkan.
Gangguan yang datang kini membuat emosi Arkan naik, Arkan kesal lantaran gangguan makin menjadi-jadi saja. Baru selesai satu sudah ada lagi gangguan yang menghampiri.
Arkan mengambil sapu, mengumpulkan bunga-bunga yang berserakan hingga menjadi satu, lalu memungutinya dan melemparnya ke luar jendela. Arkan tak akan membiarkan bunga-bunga itu berlama-lama berada di kamarnya.
"Semuanya udah bersih, awas aja kalau datang lagi!" Kali ini Arkan kelewat kesal.
Arkan naik ke tempat tidur, membaringkan tubuh di kasur, lalu memejamkan mata.
Suara ricuh, teriakan dan jeritan terdengar di samping kamar Arkan, tepat di mana Arkan membuang bunga-bunga itu.
Arkan tak menghiraukan, Arkan sadar jika orang yang telah meletakkan bunga-bunga itu marah dan tak terima, tapi tanggapan Arkan beda jauh, ia malah diam saja tak ada niatan untuk keluar dan melihat siapa yang lagi marah-marah.
Arkan sudah trauma, tak mau masuk ke dalam jebakan para makhluk halus kembali.
"Beraninya dia membuang makanan ku, apa dia tidak tau jika ini semua makanan ku!" Teriak penuh murka seorang laki-laki, di tubuhnya di tumbuhi bulu-bulu panjang dan banyak berwarna hitam lebat, bermata besar warna merah, tinggi badannya melebihi tingginya rumah.
Sosok bertubuh layaknya kingkong itu begitu besar dan tinggi, kini sosok itu tambah ganas cuman gara-gara ulah Arkan.
Emosinya meledak-ledak, tidak terima makanannya di buang cuma-cuma oleh pemuda introvert atas nama Arkan.
"Aaaaarrrrggghh!" Teriak keras sosok yang kerap di sapa genderuwo tersebut.
Tubuh Arkan bergetar ketakutan, niat hatinya yang akan tenang dan santai kandas.
Teriakan amarah milik genderuwo itu menggelegar hingga seisi rumah, namun sayangnya tidak semua anggota keluarga dapat mendengar.
Keringat-keringat dingin bercucuran di wajah Arkan, matanya terpejam kuat, dalam hati Arkan berjanji dia tidak akan keluar apalagi beranjak dari tempat tidur meski apapun yang terjadi.
Erangan serta jeritan menemani sepanjang tidur Arkan, sosok genderuwo itu marah besar, kemarahannya tak selesai-selesai, ia membuat keributan di tengah gelapnya malam.
Pemuda bernama Arkan tetap diam, matanya tertutup tapi dia belum masuk ke dalam tidur.
Bagaimana Arkan bisa masuk ke dalam mimpi jika telinganya terus di suguhkan dengan suara-suara bising dan keributan yang terjadi di luar.
Sosok genderuwo bertubuh kekar tinggi dan besar bermata merah murka, amarahnya belum reda, jeritan keras terus ia keluarkan, itu adalah bentuk balas dendam yang setimpal bagi orang yang sudah membuat emosinya bangkit.
Respon yang Arkan berikan jauh berbanding terbalik dengan apa yang genderuwo harapkan.
Genderuwo ingin pemilik rumah keluar setelah dia menjerit-jerit dan berteriak-teriak keras, namun apa yang terjadi, satupun orang tak ada yang keluar rumah, mereka tetap diam di tempat seolah-olah tak menanggapi sama sekali aksinya.
Lama-kelamaan genderuwo itu penat dengan ulahnya sendiri, di kacangin membuatnya malas untuk membuat keributan lagi, ia pun menghilang dari sana.
Suara-suara jeritan tak lagi Arkan dengar, dalam hati Arkan menyimpulkan jika pasti sosok genderuwo telah pergi dari samping rumahnya. Arkan dapat melanjutkan tidur dengan tenang setelah ini.
...•••...
Sinar surya menyapa dunia, menyingkirkan kegelapan dan menebarkan kehidupan.
Arkan memberanikan diri membuka mata, sebelum beranjak dari tempat tidur ia memastikan jika di kamarnya hanya ada dia seorang.
Mata elang itu menyusuri area di setiap penjuru kamar, Arkan membuang nafas lega.
"Syukurlah" kalimat syukur meluncur kala di kamarnya tak ada hal-hal mistis lagi, hanya dia seorang yang berada di dalam.
Arkan beranjak dari tempat tidur, lalu mendekati kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka.
Habis itu Arkan keluar dari kamar menjumpai sanak keluarganya.
Arkan duduk bersama keluarganya di meja makan, mereka sarapan bersama di pagi hari yang cerah ini.
"Ayah bunda kapan Arkan mau di daftarin sekolah?" Arkan mengajukan pertanyaan menyangkut pendidikannya yang masih duduk di bangku SMA.
"Habis ini bunda sama ayah akan daftarin kamu ke sekolah yang ada di kota, jaraknya agak jauh, kamu gak papa sekolah sejauh itu?" Ilyas memastikan iya atau tidaknya jawaban Arkan.
Jarak tempuh sekolah yang akan menjadi tempat Arkan menuntut ilmu begitu jauh, butuh waktu 1 jam lebih untuk tiba di lokasi.
Kedua orang tua Arkan khawatir, jarak tempuh yang selama itu membuat mereka risau, risau jika terjadi apa-apa sama Arkan di jalan.
Namun hanya itu sekolah satu-satunya yang dekat dengan desa ini, di desa masih belum ada pembangunan sekolah, para warga yang anak-anaknya ingin mengenyam pendidikan harus rela berangkat ke sekolah yang jaraknya di tempuh berjam-jam.
"Gak papa kok yah, yang penting Arkan bisa sekolah. Arkan pasti bisa kok sekolah dengan jarak selama itu, insyaAllah Arkan sanggup" jawab Arkan menerima dengan lapang dada.
Mereka cukup lega, semangat Arkan dalam menimba ilmu begitu luar biasa, keinginannya yang mau menjadi seorang CEO tak pupus, walau keluarganya tengah limit.
"Besok ayah yang akan antar kamu ke sekolah baru mu, nanti kalau ayah punya uang, ayah akan belikan motor biar kamu bisa mudah pulang pergi ke sekolah" ujar Ilyas.
Arkan hanya mengangguk, tak banyak menuntut, rencananya banyak namun dananya yang tak bisa di ajak kompromi.
Kesulitan dana membuat Arkan belajar mengerti keadaan kedua orang tuanya.
"Gak usah ayah, walaupun naik angkot juga gak papa, gak usah pake beli motor segala" larang Arkan.
Untuk biaya makan sehari-hari belum tentu ada, harga motor yang pastinya berjuta-juta mengharuskan Arkan mikir-mikir dulu. Arkan tak mau hanya karena dia keluarganya terlilit hutang.
"Gak papa nak, insyaAllah ayah bisa kok" timpal Ilyas.
Arkan tak mengeluarkan sepatah kata, ia melanjutkan makannya yang baru habis seperempat.
"Ayah sama bunda mau ke pasar dulu, kami mau buka warung makan kecil-kecilan di desa ini, semoga saja usaha ini menjadi sumber penghasilan di keluarga kita. Kamu doakan aja semoga usaha kita kali ini berhasil" Risma punya inisiatif untuk membuka usaha di tengah keterpurukan yang melanda rumah tangganya.
"Pasti Bun, kami pasti akan doain yang terbaik" jawab Arkan semangat.
"Kami pasti akan doain kalian ndok, yang penting sekarang itu apapun usaha kita sedikit atau banyaknya hasil kita harus bersyukur" nasihat nenek.
"Iya Bu, kami pasti akan selalu bersyukur" sahut Risma.
"Udah ngobrolnya, ayo makan-makan" ajak kakek.
Mereka lanjut makan hingga makanan yang tersaji pun ludes.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments