Dehaman respon yang Arkan berikan."Minggir aku mau masuk!"
Viola dengan cepat menyingkir dan membiarkan Arkan masuk ke dalam bilik kamar.
Gadis keturunan bangsa barat itu membuntuti Arkan dari belakang, tak ingin melepaskan Arkan sama sekali.
Arkan duduk di tepi kasur, menatap wajah Viola yang tak henti-hentinya menebar senyum.
"Ini udah malem, aku mau istirahat, sekarang kamu pergi tinggalin aku sendiri" usir Arkan.
Viola mengerucutkan bibir."Yaaah aku kan masih mau di sini, kenapa kamu malah ngusir aku"
Enggan Viola meninggalkan teman barunya, Viola mau berlama-lama berada di kamar Arkan.
"Gak bisa, sekarang kamu pergi sebelum aku berubah pikiran dan gak mau angkat kamu jadi teman aku" tolak keras Arkan.
Cling
Lenyap, gadis keturunan bangsa barat atas nama Viola lenyap dari hadapan Arkan, ia pergi meninggalkan Arkan dalam waktu satu detik.
Arkan menghembuskan nafas."Pergi juga dia"
Sebagai seorang anak introvert, kesulitan interaksi selalu di dapati Arkan, ketidak nyamanan ketika ada orang asing Arkan rasakan walau orang asing itu bukan makhluk sebangsanya, tapi tetap saja Arkan belum bisa menerima jika di kehidupannya ada orang baru.
Arkan merebahkan tubuh, nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya penat padahal dia tidak ngapa-ngapain. Rendahnya tingkat sosialisasi membuat mental Arkan naik turun, keberanian Arkan masih kisaran 25 persen.
Arkan memiringkan tubuh ke sebelah Utara, matanya langsung membulat sempurna, di dekat nakas berdiri seorang anak kecil, kepalanya botak, matanya merah terang.
Mata Arkan langsung tertutup, menyembunyikan rasa takutnya dengan menutup mata.
Dahi Arkan basah karena keringat dingin, Arkan mengira jika gangguan yang mendatanginya hanya ada di luar rumah saja tapi nyatanya di dalam rumah pun gangguan makhluk halus tetap saja ada.
Anak kecil berkepala botak, mata merah itu berlarian di kamar Arkan bersama kawan-kawannya yang baru datang, suara tawanya terdengar jelas di telinga Arkan.
Arkan seperti mau mati ketakutan, tawa anak kecil itu terdengar di telinganya.
Anak-anak makhluk halus yang berjumlah 3 orang itu ketawa ketiwi, menjadikan kamar Arkan sebagai tempat bermain, mereka berlari dan bermain seolah-olah tak ada siapapun selain mereka.
Sang pemilik kamar terus memejamkan mata, keringat-keringat dingin membanjiri tubuh.
Cukup lama mata Arkan tertutup tanpa pergerakan, tiba-tiba suara anak-anak kecil itu terhenti, kesenyapan terjadi.
Arkan merasa jika para makhluk halus telah pergi meninggalkan kamar, ia pun memberanikan diri membuka mata.
Kosong, kamar Arkan kosong, tak ada seorang pun yang Arkan lihat. Arkan bernafas lega saat makhluk halus itu telah pergi dari kamarnya.
"Hiks hiks hiks hiks.."
Suara tangisan seseorang begitu menyayat hati.
Baru beberapa saat Arkan bernafas lega, tapi lagi-lagi ia harus kembali di hampiri dengan sesuatu yang berbau mistis.
"Kok ada orang nangis, malam-malam lagi" Arkan mengerutkan alis, mulai penasaran akan sosok yang menangis di tengah malam.
Manik hitam Arkan menatap sekitar, segala penjuru ia tatap namun tetap tak ada apapun.
"Hiks hiks hiks hiks..."
Suara tangisan terus terdengar, membuat siapa saja yang mendengar penasaran akan sosoknya.
Arkan beranjak dari tempat tidur, mencari keberadaan pemilik suara tangisan yang telah membangkitkan rasa penasaran.
Pandangan Arkan jatuh pada jendela kamar yang terbuka, angin kencang bertiup sehingga gorden tak bisa diam.
Satu demi satu kaki Arkan melangkah mendekati jendela, makin melangkah makin jelas pula suara tangisan misterius.
Secara dadakan Arkan merasa tegang, tubuhnya di selimuti rasa tegang dan takut, tapi kakinya tak berhenti melangkah, rasa penasaran membuat rasa takut sekaligus tegang menyingkir.
Tekad Arkan untuk mengecek pemilik suara misterius masih kokoh, tak tumbang sama sekali walau rasa takut perlahan-lahan datang menghampiri.
Langkah Arkan terhenti tepat di depan jendela, sorot mata menatap ke luar.
Di luar telah berdiri seorang wanita kebaya merah, rambut di sanggul, wajahnya pucat pasi, lingkar matanya amat serem.
Tangisannya terhenti, pancaran matanya menatap Arkan tanpa berkedip.
"Dia, dia bukannya wanita kebaya merah yang aku lihat di angkot itu" Arkan mengenali sosok kebaya merah yang suara tangisannya telah mengganggunya.
"Gak salah lagi, itu memang dia, dia memang wanita kebaya merah misterius di angkot kemarin" yakin Arkan.
"Kenapa dia bisa ada di sini, apa lagi yang dia inginkan?" Penasaran Arkan.
Pancaran mata wanita misterius kebaya merah begitu tajam, layaknya orang yang memiliki dendam.
Arkan diam membisu, mikir keras kenapa dirinya di tatap setajam itu oleh wanita kebaya merah.
"Apa salah ku, kenapa dia natap aku segitu tajam. Aku gak ngelakuin apapun" batin Arkan tak tenang menjadi pusat perhatian wanita kebaya merah.
Arkan yang di tatap dengan tajam hanya bisa diam, ia tidak akan pergi, menjadikan moment ini sebagai bentuk untuk menata mental agar tidak terlalu takut jika bertemu dengan makhluk-makhluk tak kasat mata lainnya.
"Dia siapa sebenarnya, hantu atau manusia. Tapi kalau dia manusia emang ada manusia keluyuran di jam segini" batin Arkan belum tau pasti siapa wanita kebaya merah tersebut.
Arkan tercengang, wajah mulus wanita kebaya merah tiba-tiba berubah menjadi hancur, darah-darah amis mengalir mulai dari ubun-ubun hingga memenuhi wajahnya.
"Allahu Akbar" terkesiap Arkan.
Tubuh Arkan mundur selangkah, terkejut dengan perubahan dari sosok wanita kebaya merah.
Senyuman sinis dan mematikan terukir di wajah wanita kebaya merah.
"Hahahaha" tawa terbahak-bahak meluncur keluar, kemudian sosok itu menghilang bagai makhluk halus.
Arkan langsung sadar siapa wanita kebaya merah yang ia jumpai di angkot kemarin setelah kejadian malam ini.
"J-jadi dia bukan manusia, pantesan aja waktu itu dia hilang gak berbekas, pantesan juga ayah sama bunda gak ada bisa lihat dia" shock Arkan geleng-geleng kepala.
Lama kelamaan matanya terus di tampakan dengan benda-benda halus, hal-hal di luar nalar ia jumpai dengan mudah. Makhluk-makhluk aneh dan tak tampak oleh mata biasa dapat di lihat di sekelilingnya.
Arkan menutup jendela rapat-rapat, tak tanggung-tanggung ia juga menguncinya, ketakutan Arkan akan sosok wanita kebaya merah masih tinggi, Arkan takut jika dia kembali dan mengganggu Arkan lagi.
Arkan berbalik badan, menghadap ke sebelah selatan, tepat pintu kamar berada.
Arkan mengerutkan alis, saat ia masuk ke dalam kamar semuanya aman damai tak ada yang terjadi, tapi entah mengapa sekarang kondisi kamarnya berubah total.
Lantai kamar Arkan di penuhi bunga, yang meliputi bunga sedap malam, mawar merah, kenanga kuning, kenanga hijau, kantil, melati, kamboja terakhir padan.
Delapan bunga itu menyatu menjadi satu menciptakan aroma yang membangkitkan para bulu kuduk yang tengah tidur.
Arkan menelan ludah pahit, macam-macam bunga itu berserakan hingga seisi kamar.
Saat dia beranjak dari tempat tidur lantai masih bersih, keberadaan bunga itu belum muncul.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments