Setibanya di rumah, kakek dengan cepat menutup pintu dan jendela rapat-rapat.
Wajah kakek panik, mereka ikutan panik dan tegang.
"Ada apa pak, kenapa semuanya di tutup?" Risma yang penasaran mengajukan pertanyaan.
Semua jendela di tutup rapat-rapat, kakek tak membiarkan ada satu jendela yang terbuka dan tindakannya terkesan aneh hingga membuat yang lain keheranan.
"Gak papa, bapak hanya gak mau dia masuk ke dalam rumah kita" sahut kakek berkeringat dingin.
"Siapa dia pak?" Penasaran nenek.
"Bukan siapa-siapa, udah kalian gak usah khawatir, dia bukan siapa-siapa, dia gak bakal bahayain kita" jawab kakek membantah pikiran-pikiran buruk mereka.
Mereka pun tenang, perasaan mereka lega, setelah mendengar penjelasan kakek mereka tak khawatir seperti tadi.
"Bu, sana siapkan makanan, bapak udah lapar" suruh kakek pada nenek.
Nenek pun langsung melaksanakan perintah, di bantu Risma nenek membuat makanan untuk makan malam bagi mereka.
Di ruang tamu ada tiga orang laki-laki, yakni Ilyas, Arkan dan kakek. Wajah Arkan bagai mayat saking putihnya, Arkan tegang tanpa sebab.
"Pak, tadi itu siapa?" Ilyas melempar pertanyaan.
Keanehan putranya Arkan membuat Ilyas beranda tanya ada apa yang terjadi pada Arkan, akhir-akhir ini gerak-gerik Arkan mencurigakan, ia sebagai ayah belum mengerti apa yang terjadi pada anaknya sendiri.
"Tadi itu makhluk halus, yang biasa di kenal dengan sebutan 'kuntilanak', makhluk sejenis itu sangat suka mengikuti atau mendekati anak yang punya mata batin" jelas kakek.
"MATA BATIN" kaget Arkan dan Ilyas.
Mata mereka membulat sempurna, kata mata batin telah membuat mereka tercengang.
"Iya, anak mu ini punya mata batin, dia dapat melihat sosok-sosok yang tak dapat di lihat oleh orang biasa, salah satunya ada sosok seperti tadi" jawab kakek menerangkan apa yang terjadi pada Arkan.
"Tapi kek kenapa tiba-tiba Arkan bisa lihat makhluk begituan, sebelumnya Arkan gak pernah begini" Arkan sadar jika ada keanehan dari dirinya.
Sejak pindah ke desa, mulai dari lika liku perjalanan, mata Arkan terus di suguhkan dengan hal-hal berbau mistis.
Hari ini Arkan tau jika ternyata dia memiliki indera keenam sehingga dirinya dapat melihat sosok-sosok astral yang telah tiada puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.
"Indera keenam mu terbuka dengan sendirinya, dulu nenek moyang mu memiliki indera keenam, dia dapat melihat mereka yang tak kasat mata, kemampuannya turun pada kakek, sekarang pada mu" jelas kakek.
Arkan terdiam, mencerna betul-betul ucapan kakek. Indera keenam yang ia punya asal muasalnya dari buyutnya dan sekarang jatuh padanya.
"Kamu harus sabar, kamu jangan anggap kelebihan kamu sebagai beban, kamu harus tetap tawakal, Allah punya banyak cara untuk melindungi hamba-hamba-Nya, salah satunya memberikan kelebihan yang mungkin jatuh pada orang-orang tertentu" jeda kakek.
"Kamu sebagai anak yang di beri kelebihan itu harus menerima dan jadikan kelebihan itu untuk menolong orang lain. Kalau ada orang yang membutuhkan bantuan kamu, kamu harus tolongin, kalau ada kesulitan kamu bisa ceritakan pada kakek dan kedua orang tua mu, barang kali kami punya solusinya" nasihat kakek.
Arkan terdiam, antara menerima atau menolak semuanya terasa pahit di dirinya. Kelebihan yang ia dapatkan begitu sulit dan menyiksa.
"Tapi kek, Arkan gak siap buat hidup di dua alam, Arkan gak sanggup" Arkan menyerah sebelum berperang, di benaknya hidup berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata terasa sulit, beberapa hari di kampung halaman kakek neneknya ia merasakan kesulitan karena banyaknya gangguan-gangguan dari mereka yang biasa di sebuah HANTU.
Di tampakkan dengan mereka yang tak kasat mata membuat Arkan ketakutan parah, untuk berinteraksi secara face to face Arkan belum siap, mentalnya kalah dengan rasa takut yang lebih mendominasi.
"Kamu bisa nak, ada kami di samping kamu, kamu gak perlu takut, kami akan tetap dukung kamu, kalau ada problem kamu cerita saja sama kami, jangan kamu pendam sendiri" saran Ilyas memberikan semangat untuk anaknya.
Arkan tidak merespon, antara iya atau tidak ia tak dapat memberikan jawaban.
Apa yang Arkan rasakan berat dan sulit untuk di jalani, ia bingung harus apa, tapi seenggaknya ada keluarganya yang akan selalu mendukung dan berdiri di belakangnya.
"Ini udah malem, sana kamu masuk ke dalam kamar, isya'-nya kamu sholat di rumah aja, gak usah ke masjid" saran kakek.
"Iya kek" jawab Arkan lemas.
Dengan langkah gontai tak ada semangat Arkan melangkah meninggalkan ruang tamu, tangannya membuka pintu kamar.
Alangkah kagetnya Arkan kala mendapati seorang gadis, berambut sebahu, menampakkan batang hidungnya tepat ketika ia membuka pintu.
"Allahu Akbar" kaget Arkan, mundur satu langkah ke belakang, satu tangannya mengusap dada yang berdetak kencang.
Helaan nafas berat Arkan hembuskan."Kamu lagi, aku kan udah bilang jangan ganggu aku, kenapa kamu datang lagi!"
Sikap Arkan pada gadis berambut sebahu berwarna coklat, mata hazel, bibir ranum masih ketus dan dingin.
Gadis itu mengerucutkan bibir, tanggapan Arkan masih saja cuek dan tetap tak mau menerima keberadaannya.
"Aku gak akan ganggu kamu kok, aku akan jaga kamu, aku akan bantu kamu ketika kamu kesulitan, aku gak akan ninggalin kamu, aku janji kok" janji Viola tulus.
Keinginan Viola untuk memiliki teman seperti Arkan kain meningkat.
Arkan yang polos, baik hati dan tidak banyak berjanji ini itu telah membuat gadis yang sudah tiada bernama Viola mantap memilihnya menjadi teman walau mereka dua orang yang berbeda alam.
Arkan diam sejenak, memikirkan baik-baik tawaran Viola, semenjak mengetahui kalau dirinya adalah anak yang memiliki indera keenam, Arkan mulai butuh sosok makhluk halus yang baik dan bisa membantunya ketika ada makhluk halus jahat yang mengganggunya.
"Pliiisss aku mohon jangan usir aku lagi, aku gak akan apa-apain kamu, keluarga kamu akan aman, aku gak usil kok, aku bukan hantu jahat" mohon Viola mencoba melunakkan hati Arkan agar mau menerimanya sebagai temannya.
"Tapi...kamu beneran gak akan ganggu aku sama keluarga ku kan?" Arkan yang kurang yakin kembali memastikan tawaran Viola.
Kepala Viola mengangguk."Iya, aku janji aku gak akan ganggu kalian, malahan aku bersedia menolong kalian. Kamu tau gak aku udah hidup ratusan tahun jauh sebelum kamu lahir, aku sudah berada di rumah mu dari seabad yang lalu, sudah ada banyak keturunan yang lahir di keluarga ini sebelum kamu" jelas Viola.
Tiba-tiba Arkan tambah diam, mengamati Viola dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan seksama.
"Apa bener yang dia katakan?" Batin Arkan kurang yakin.
"Masa iya dia hidup mulai dari ratusan tahun yang lalu" batin Arkan tak percaya.
"Tapi kalau di lihat-lihat, dia kayaknya bukan penduduk pribumi, sepertinya memang benar kalau dia telah hidup jutaan tahun yang lalu" batin Arkan mulai percaya akan penuturan Viola.
"Arkan kenapa kamu diam!" Keheranan Viola.
Lamunan Arkan langsung buyar."E-enggak kok, siapa juga yang ngelamun"
"Gimana, boleh kan aku jadi teman kamu, aku gak akan jahatin keluarga kamu kok, aku janji" ujar Viola.
"Iya boleh, kamu boleh jadi teman aku, asal kamu jangan pernah ganggu aku, aku gak suka di ganggu!" Peringatan keras Arkan.
Gadis bermata hazel layaknya keturunan bangsa Eropa itu bersorak kegirangan, setelah sekian lama Arkan mau bersedia mengangkatnya sebagai teman meski pun Arkan tau kalau dia bukan manusia.
"Iya, aku janji aku gak akan ganggu keluarga kamu" sahut Viola antusias.
Terbit senyum indah yang mengukir wajah Viola, rasa senangnya menyingkirkan segalanya. Apa yang ia tunggu-tunggu akhirnya tercapai juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Dtyas Aldric
mampir lagi Thor ...
reallife ku lagi GK baik2 saja ..
2023-10-17
1