Arkan menatap dirinya di cermin, kemeja yang ia kenakan berwarna hitam, peci hitam lengkap dengan sarung yang berwana hitam pula.
Arkan merapihkan penampilannya sebelum berangkat ke masjid.
Adzan magrib di kumandangkan, Arkan yang mendengar lantas keluar dari kamar.
Ketika keluar Arkan mendapati jika rumah susah kosong, semua orang pastinya sudah berangkat ke masjid meninggalkan dia sendirian.
Arkan tanpa banyak bicara berjalan mendekati pintu untuk keluar dan melakukan perjalanan ke masjid.
Praaaang!
Suara pecahan piring terdengar hingga seisi rumah.
Langkah Arkan terhenti, dengan terkejut ia menatap ke belakang.
"Kok kayak ada yang pecah?" Arkan mengerutkan kening, satu demi satu kakinya melangkah, mendekati dapur yang ia curigai jika suara pecah tersebut berasal dari sana.
Tap
Tap
Tap
Suara derap kaki Arkan terdengar memantul, tanda kalau tinggal dia seorang yang berada di rumah.
Langkah Arkan terhenti, matanya menyisir sekitar tempat."Kok gak ada apapun, suara pecah itu dari sini apa bukan. Kok kayaknya tadi berasal dari sini?"
Arkan mengerutkan kening, di dapur tak ada satupun orang yang terlihat, semua piring tersusun rapih di rak. Tak ada puing-puing pecahan yang tertinggal di lantai.
"Aneh betul, suaranya tadi ada, kenapa pas di periksa malah gak ada" geleng-geleng Arkan.
Arkan tak mengambil pusing, karena tak ada apa yang ia cari, Arkan pun bergegas meninggalkan dapur dan kembali melanjutkan perjalanan menuju masjid.
Adzan di kumandangkan dan terdengar seisi desa sampai ke desa sebelah.
Pemuda bernama Arkan Al-Ghazali itu terus berjalan di suasana yang perlahan-lahan mulai gelap.
Wussshhhh
Kelebat bayangan hitam tertangkap di manik mata elang Arkan.
Arkan menegak ludah pahit, tubuhnya menegang, namun wajah harus tetap terlihat tenang seperti tak ada yang terjadi.
Dengan pasti kaki Arkan berjalan, Arkan sedikit mempercepat langkah biar segera sampai di masjid.
Panik dan tegang menyatu, dapat di lihat betapa paniknya Arkan, tapi ia tetap profesional dan tak mau menunjukan betapa takutnya ia saat ini.
Langkah demi langkah Arkan lakukan, jarak masjid yang awalnya dekat secara tiba-tiba berubah menjadi jauh.
Mendadak langkah Arkan terhenti, dengan tegang Arkan berbalik badan.
"Gak ada apapun, tapi kok aku ngerasa kayak ada orang yang ngikutin"
Mata elang Arkan menatap sekitar yang kosong, tak ada satupun orang yang ia temukan. Di jalan hanya Arkan seorang satu-satunya manusia, satu pun warga tak tampak, semua pintu-pintu rumah tertutup rapat.
"Aku harus cepet-cepet sampai di masjid"
Dengan tergopoh-gopoh Arkan kembali berjalan, kali ini Arkan tak akan mau terkecoh lagi dan fokus ke arah tujuan utama.
Setibanya di masjid Arkan mengucap syukur yang tiada tanding, hatinya lega, segala pikiran buruk langsung menyingkir.
"Akhirnya sampai juga di sini" lega Arkan mengatur nafas yang tersengal-sengal.
Arkan melihat ke belakang yang gelap, banyak rerimbunan pepohonan yang tumbuh di depan masjid.
Sesuatu menarik perhatian Arkan, lantas Arkan menajamkan penglihatan.
Di dekat pohon besar yang tumbuh di depan masjid, berdiri sosok berwarna putih, rambut panjang hingga menyentuh mata kaki, bibir sosok itu terbuka, senyum mematikan terlihat jelas.
"Hihihi" tawa singkat meluncur keluar.
Sontak Arkan dengan panik masuk ke dalam masjid. Arkan mengambil duduk di dekat para jemaah laki-laki, kemudian berlagak seolah-olah tidak terjadi apapun padanya.
Jantung Arkan memompa dengan kencang, ingatan akan sosok putih terngiang-ngiang di benaknya.
Ilyas melirik putranya yang duduk di sampingnya."Kamu dari mana aja, kenapa baru sampai?"
"Anu...tadi itu Arkan lama di kamar mandi ayah, jadi lama sampai di sini" alasan Arkan.
Ketidakmungkinan bagi Arkan untuk berterus terang pada ayahnya, prihal apa saja yang terjadi ketika melakukan perjalanan ke masjid, walau sedikit menyiksa batin Arkan akan tetap pendam sendiri.
Ilyas diam, tak memperpanjang masalah meski ia yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh putranya sendiri.
Sholat magrib pun di laksanakan, dengan jumlah jemaah yang relatif lebih turun setiap harinya.
Dengan fokus Arkan melakukan ibadah, setelah usai sholat di lanjut dengan dzikir singkat yang di ikuti oleh semua orang.
Setelah beberapa menit berlalu dzikir pun ikut selesai, satu persatu warga pulang meninggalkan masjid.
Arkan ikut pulang ke rumah, bersama ayah dan juga keluarganya yang lain.
Di malam yang gelap, mereka melangkah sambil sesekali mengobrol agar suasana tidak sunyi.
Arkan hanya menyimak, enggan untuk nimbrung. Pikirannya masih penuh dengan penampakkan sosok putih di dekat pohon depan masjid.
Arkan tanpa sengaja melihat ke belakang, wajahnya kembali panik.
Sosok putih yang ia pikirkan kini mengikutinya dari belakang dengan berjarak.
Kepanikan tak dapat Arkan sembunyikan, ia melirik anggota keluarga yang berjalan dengan santai lantaran tak merasa ada sosok makhluk lain yang telah ikut di belakang.
"Gawat, kenapa dia ikut aku pulang" batin Arkan cenat-cenut mikirin bagaimana caranya sosok itu agar menyingkir dan tak mengikutinya lagi.
"Aku harus segera sampai di rumah" batin Arkan telah tak sanggup terus di tampakan dengan mereka yang tak kasat mata.
Mata Arkan kembali melirik ke samping."Bagaimana caranya aku bilang sama mereka kalau ada sosok lain yang ikut di belakang" batin Arkan resah.
"Arkan, kamu kenapa nak, kenapa wajah kamu pucat gitu?" Ilyas mendapati wajah Arkan yang pucat, seperti tak teraliri darah.
Kepala Arkan dengan cepat menggeleng."Enggak ayah, gak ada apapun, aku baik-baik aja"
Terbit senyum di wajah Arkan, senyum itu di terbitkan agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Kamu bilang aja ada apa, gak perlu kamu sembunyiin" suruh Ilyas merasa ada sesuatu yang telah di sembunyikan oleh Arkan.
Arkan panik, ia menoleh ke belakang, sosok putih dengan perlahan-lahan masih mengikuti mereka.
"Udah bilang aja nak, kami ini keluarga kamu, kami gak perlu sembunyiin masalah mu dari kami" titah Risma sadar kalau akhir-akhir ini gerak-gerik Arkan makin mencurigakan.
"S-sebenarnya di belakang ada sosok lain yang ngikutin kita pulang" sebut Arkan.
Tangan Arkan dingin dan berpeluh, Arkan takut bukan pada hantu tapi takut jika keluarganya tak percaya akan penuturannya.
Mereka pun menoleh ke belakang, sebagian besar di antara mereka tak ada yang dapat melihat orang yang Arkan maksud. Tetapi ada satu orang yang diam, tatapan tajamnya terus menatap sosok putih yang perlahan-lahan mengikuti mereka dari belakang.
"Mana kok gak ada?" Risma tak menemukan apapun, di belakangnya kosong, tak ada sosok yang Arkan maksud.
"Iya ndok, gak ada apapun" timpal nenek juga tak dapat melihat sosok yang sedari tadi mengganggu Arkan.
"Di belakang kita ada sosok makhluk halus yang ngikutin kita tanpa kita sadari, benar kata Arkan kalau dia ikut kita pulang, sesegera mungkin kita harus pulang. Kita bicarakan ini nanti" ajak kakek menjadi panik dan khawatir tanpa sebab.
Tak ada yang membantah, semua orang dengan tergesa-gesa pulang ke rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments