Mendengar penjelasan nenek-nenek itu Arkan menegak ludah pahit, dari tiap kalimat yang keluar telah berhasil membuat bulu kuduk Arkan berdiri.
Kisah tragis dan keji pasangan suami istri itu sudah membuat Arkan tak selera untuk makan.
"Anak muda, kau jangan coba-coba mendekati rumah itu, di sana ada banyak penunggunya, kau jangan nekat masuk ke sana" peringatan nenek-nenek itu.
Pandangan Arkan beralih menatap kembali ke arah rumah terbengkalai itu.
Dari tempatnya berdiri telah terasa aura gelapnya, di pagi hari seperti ini melihat rumah seseram itu Arkan merasa takut apalagi ketika di malam hari.
"Nek, siapa nama pasangan suami istri itu?" Tanya Arkan berbalik menatap nenek-nenek itu kembali.
"Loh kemana nenek tadi, tadi kan ada di sini. Kenapa sekarang sudah gak ada" tersentak kaget Arkan saat tak melihat nenek-nenek itu lagi.
Mata Arkan menatap sekitar yang sepi, hanya ada dia seorang yang berada di jalan, tak ada warga lain apalagi nenek-nenek itu yang Arkan temukan.
"Kok udah gak ada, cepat banget nenek itu perginya, aneh" ucap Arkan menggaruk belakang kepalanya sambil mikir keras kemana nenek-nenek itu pergi.
Walaupun nenek-nenek itu pergi secepat kilat, Arkan membawa enjoy dan tidak terlalu memikirkannya.
Arkan melirik rumah terbengkalai yang makin lama di tatap makin tambah seram.
Arkan membuang muka ke arah lain ketika tak sengaja menangkap ada bayangan hitam yang masuk ke dalam rumah itu.
Secepat kilat Arkan berlari melanjutkan perjalanan sebelum ada sesuatu yang berbahaya menimpanya.
Arkan sudah mulai jauh dari rumah terbengkalai itu, ia mengatur nafas karena ngos-ngosan.
Arkan menatap ke depan yang penuh dengan puluhan hamparan sawah hijau, tempat para petani mengais rezeki.
Para petani mulai menanam jagung, kacang, ubi, singkong, kacang hijau dan lain-lain untuk bekal musim kemarau.
Hasil panen biasanya di jual ke kota dengan menyewa pick up milik salah satu warga. Karena tak mungkin hasil panen sebanyak itu di jual di pasar desa yang mayoritas penduduknya sedikit.
Senyum merekah di bibir Arkan melihat laki-laki lansia yang bugar tengah menabur benih jagung di tengah teriknya matahari.
"Kakek" teriak Arkan dari tepi sawah.
Kakek Toyo yang mendengar panggilan dari orang yang tak asing langsung berhenti beraktivitas, kemudian berjalan menghampiri cucunya.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya kakek terkejut.
"Aku di suruh anterin makanan ini sama nenek ke sin, kakek makan aja dulu, istirahat bentar biar Arkan yang akan lanjutin" suruh Arkan.
"Emang kamu bisa?" Setengah tak percaya kakek.
"Bisa dong kek, gitu aja mah gampang" sahut Arkan.
"Ya sudah nih kamu taburin semua benih jagung ini di lubang yang sudah kakek bikin" perintah kakek menyerahkan baskom isi bening-bening jagung yang belum di tanam.
"Baik kek" jawab Arkan menerima dengan senang hati.
Kakek Toyo istirahat di tepi sawah sambil menyantap makanan yang sudah Arkan bawakan, sementara pria kota itu menaburkan bibit-bibit jagung seusai perintah.
Tak hanya kakek Arkan saja yang berada di sawah, ada banyak pula warga yang berada di sana.
Arkan melaksanakan tugasnya dengan penuh semangat, ia mengisi semua lubang-lubang panjang itu dengan bibit-bibit jagung, tak lupa ia memberi sedikit jarak agar tidak terlalu berdempetan.
Setelah selesai Arkan berteduh di bawah pohon, peluh-peluh yang bercucuran ia usap. Angin kencang berhembus dan mengerikan keringat-keringat yang membasahi tubuhnya.
"Arkan sana kamu pulang nak, nanti kamu di cariin sama ayah dan bunda mu" suruh kakek menghampiri Arkan.
"Emang kakek gak mau pulang juga, kan pekerjaannya sudah selesai" sedikit kaget Arkan saat tiba-tiba kakeknya menyuruhnya untuk pulang.
Kakek Toyo menanggapi dengan senyuman."Ini masih separuh, tuh ada banyak yang belum kakek tanam"
Tangan kakek menunjuk sebuah lahan yang sudah siap di tanami benih di sebelah sawah yang telah Arkan selesaikan.
Arkan melongo, ukuran sawah itu cukup luas dan panjang, malahan lebar dan panjangnya dua kali lipat dengan sawah yang pertama.
"Masih ada lagi kek, Arkan kira cuman satu" ujar Arkan.
Lagi-lagi kakek Toyo tersenyum."Ya gak satu nak, udah biar kakek aja, sana kamu pulang, gak usah bantuin kakek, kamu istirahat aja di rumah, di sini panas"
Bukannya pulang Arkan malah merebahkan tubuh letihnya di atas rumput-rumput hijau.
"Enggak ah kek, Arkan mau bantu kakek aja, lagian kalau pun Arkan pulang ke rumah, gak ada yang bisa Arkan lakuin, mending Arkan di sini aja bantuin kakek" respon Arkan menatap birunya langit.
"Ya sudah terserah kamu, kamu istirahat aja dulu, nanti kalau udah selesai capeknya lanjut bantu kakek" ujar kakek.
Arkan mengangguk, baru pertama kali baginya bekerja di sawah, tapi dia sudah selelah itu, padahal pekerjaannya paling ringan dan mudah.
"Gak nyangka nyari uang seberat ini, kalau di pikir-pikir kasihan kakek sama nenek, udah waktunya pensiun mereka harus bertani" ucap Arkan prihatin.
"Ayah sama bunda pasti juga sekarang sibuk cari usaha yang dapat menghasilkan uang. Andai aku udah lulus sekolah, pasti aku yang akan kerja" sambung Arkan merenungkan segala beban yang di pukul oleh keluarganya dan dia sebagai anggota termuda hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa.
Arkan tengkurap dan menatap ke sebelah timur yang banyak semak-semak.
Arkan menajamkan penglihatan, tiba-tiba ia menangkap dua bola mata berada di tengah semak-semak dan kini lagi menatapnya.
"Siapa di sana" teriak Arkan.
Seketika orang itu langsung lari masuk ke dalam hutan dan membuat semak-semak serta rerumputan bergerak.
"Siapa itu, kenapa kayak ada orang yang mantau aku. Apa mungkin dia itu...."
Tak jadi Arkan melanjutkan ucapannya, ia keburu menegak ludah pahit, di benaknya sudah muncul bayangan tentang orang misterius tersebut.
Letih yang menyerang tubuh Arkan tiba-tiba telah usai, ia pun langsung kembali membantu kakeknya.
Berada di sana sendirian akan membuatnya makin tercekik karena yang ada di pikirannya hanyalah mereka yang tak kasat mata. Menurut Arkan lebih baik ia membantu pekerjaan kakeknya saja.
...•••...
Matahari kini sudah mulai turun, cahayanya tak terlalu terik, semua pekerja baik di ladang maupun di sawah beranjak meninggalkan tempat dan pulang ke rumah masing-masing karena matahari sudah mau terbenam.
Begitu pula dengan Arkan dan kakeknya, mereka berjalan pulang ke rumah setelah seharian berada di sawah.
Matahari masih belum terbenam secara sempurna, namun makhluk-makhluk aneh dan mengerikan bermunculan dan jelas tampak di mata Arkan.
Arkan yang dapat melihat mereka semua tak ada pilihan lain selain diam dan menundukkan pandangan. Rasa takut memang ada, tapi ia harus profesional dan terlihat seperti tidak terjadi apapun.
Jantung Arkan berdegup kencang saat sebentar lagi ia dan kakeknya akan melintas tepat di rumah terbengkalai yang terkesan horor.
Dari kejauhan aura gelap dan seramnya dapat di rasakan dengan jelas oleh Arkan.
Arkan menegak ludah pahit kala tak sengaja melirik ke arah rumah terbengkalai yang banyak sekali para makhluk halus dengan berbagai jenis.
"Ayo Arkan kita harus cepet sampai di rumah sebelum magrib" ajak kakek Toyo mempercepat langkah.
Arkan mengangguk patuh, dengan posisi kepala menunduk kakinya terus berjalan melintas tepat di depan rumah itu.
Hati Arkan plong kala berhasil melintas dengan selamat tanpa gangguan.
Tak berselang lama mereka pun tiba di rumah.
"Assalamualaikum" salam mereka setelah habis pulang dari sawah.
"Wa'alaikum salam" jawab semua orang.
"Kamu dari mana aja Ar, kenapa seharian ini gak ada di rumah" risau Risma.
"Dia ikut bapak ke sawah Risma, dia bantu bapak di sana. Bapak udah nyuruh dia pulang, tapi dia gak mau" jelas kakek.
Risma menghela nafas."Ar kamu kan lagi sakit, kenapa pake ke sawah segala"
"Arkan gak papa kok Bun, tadi cuman pusing aja, sekarang udah sembuh kok" sahut Arkan.
"Ya udah sana kamu cepetan mandi habis itu ke masjid, kita tunggu kamu di sana, kamu gak lupa kan jalan menuju masjid?" Memastikan Ilyas.
"Enggak dong yah, Arkan masih inget" timpal Arkan.
"Sekarang mandi gih sebelum masuk waktu magrib" suruh Risma.
Kaki Arkan berjalan menuju kamar mandi dan melakukan segala ritual sebelum adzan magrib di kumandangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Vera Wahyufi
kakek nenek nya arkan gk ngeh gt ya, klu cucu nya sering diganggu
2023-10-07
1
Dtyas Aldric
lanjut Thor
2023-08-26
1