Misteri rumah terbengkalai di pinggir jalan

Matahari kini telah muncul dan menyingkirkan gelapnya malam, tapi hal itu tak membuat mata Arkan terbuka, ia masih terjaga namun untuk membuka mata Arkan merasa takut. Takut jika pocong itu masih ada di sampingnya.

"Arkan, Arkan bangun nak, ini udah pagi" di pagi hari sudah menjadi rutinitas Risma membangunkan putranya.

Risma masuk ke dalam kamar Arkan, ia membukanya menggunakan kunci cadangan. Risma mendapati Arkan tertidur pulas langsung melangkah mendekatinya.

"Arkan, Arkan bangun nak, ini udah pagi, liat matahari udah muncul" ucap Risma.

Tak ada pergerakan sama sekali, Risma mengerutkan kening, ia duduk di tepi kasur, tangannya menyentuh dahi Arkan.

"Ya Allah kenapa panas banget" terkejut Risma.

"Arkan, Arkan bangun nak, Arkan" panggil Risma menaikkan volume suaranya.

Dengan ragu-ragu Arkan membuka mata, rasa sakit di kepala langsung menyerang, efek tak tidur malam kini ia rasakan.

"Arkan kamu kenapa nak, kamu sakit?" Tanya Risma khawatir.

Kekhawatiran tersemat jelas di wajah Risma, bagaimana tidak kemarin putranya baik-baik saja, tapi mengapa sekarang menjadi seperti ini.

"Enggak kok Bun, Arkan gak papa, Arkan baik-baik aja kok" sahut Arkan menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya.

"Gak papa gimana, jelas-jelas kamu lagi sakit masih aja bilang gak papa, ayo kita ke dokter aja, biar kamu cepat sembuh" ajak Risma.

"Gak usah Bun, Arkan baik-baik aja, Arkan cuman pusing karena kurang tidur,, istirahat bentar pasti juga akan sembuh" tolak Arkan.

Ekonominya tengah kacau balau, di keadaan sesulit ini Arkan tak mau menjadi beban bagi kedua orang tuanya.

"Bener gak papa?" Risma memastikan kembali.

"Iya Bun, Arkan gak papa, bunda gak usah khawatir, bentar lagi Arkan juga akan sembuh kok" jawab Arkan menyunggingkan senyum.

"Ya udah kalau gitu, kamu istirahat aja dulu" suruh Risma.

Kepala Arkan mengangguk, lalu Risma keluar dari dalam kamarnya. Kini di kamar itu tersisa ia seorang.

Arkan menyisir setiap penjuru yang sepi, benar-benar hanya dia seorang yang berada di kamar ini.

Tanpa pikir panjang Arkan langsung memejamkan mata, Arkan yakin di siang benderang seperti ini tak akan ada sosok makhluk halus yang mengganggunya.

Sekitar 2 lamanya Arkan tertidur pulas, ia harus di bangunkan dengan sinar matahari yang menyilaukan mata. Rasa sakit di kepalanya langsung menghilang entah kemana.

Arkan menggeliat, meregangkan tubuhnya, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, habis itu Arkan duduk di meja makan.

"Nek, ayah sama bunda kemana, kok gak keliatan?" Tanya Arkan tak mendekati kedua orang tuanya selepas ia bangun tidur.

Di sana hanya tersisa Arkan dan neneknya saja.

"Ayah sama bunda kamu lagi ke pasar, bentar lagi juga akan pulang, sekarang kamu sarapan dulu gih, kamu belum sarapan kan" jawab nenek.

Arkan mengangguk, perutnya mulai keroncongan, ia pun menyantap makanan yang tersaji.

Setelah makan Arkan langsung mencuci piring kotornya, itu sudah menjadi kebiasaannya sehabis ia makan.

Arkan yang tak punya kegiatan duduk termenung di teras rumah sembari menikmati suasana sejuk di pagi hari. Hujan lebat yang mengguyur desa telah membuat udara menjadi segar dan bersih.

"Ndok, ngapain diam di situ, dari pada kamu bengong aja, mending sekarang kamu anterin makanan ini ke kakek yang ada di sawah" ujar nenek menghampiri Arkan yang duduk termenung seperti orang yang memiliki beban berat.

Dengan semangat Arkan meraih rantang susun di tangan neneknya.

"Baik nek, tapi sebelumnya di mana sawahnya, Arkan gak tau, apa jauh dari sini?" Tanya Arkan.

"Enggak kok, sawahnya gak jauh, kamu hanya tinggal jalan lurus ke sebelah Utara, nanti kamu juga akan ketemu sama sawah-sawah warga dan kakek kamu lagi ada di sana" jelas nenek.

"Kakek ngapain di sana nek?" Penasaran Arkan.

Selama ini Arkan tak pernah tau kegiatan kakek dan neneknya selama berada di desa ini.

"Kakek kamu lagi nanem jagung, ini udah mau masuk bulan kemarau, dan para warga di desa ini umumnya memanfaatkan musim kemarau untuk menanam jagung, kacang atau ubi" sahut nenek.

Arkan tampak manggut-manggut sambil mengatakan 'O'

"Sekarang kamu anterin ke sana, kakek kamu pasti udah laper, tadi dia gak sempat sarapan" suruh nenek.

"Baik nek" jawab Arkan.

"Hati-hati ya, jangan sampai tumpah" peringatan nenek dan Arkan langsung mengiyakan.

Di pagi yang cerah Arkan berjalan menuju sawah sesuai petunjuk neneknya. Suasana desa di pagi-pagi seperti ini begitu asri dan sejuk, tidak ada seram sama sekali seperti tadi malam.

Sambil berjalan Arkan melihat ke kanan dan kiri yang banyak rumah-rumah terbangun, jaraknya tidak terlalu renggang sehingga tidak ada rasa takut walaupun hidup di desa yang dominan penuh dengan pepohonan.

Kaki Arkan terus melangkah hingga tak ada lagi rumah-rumah warga, yang ada hanyalah pohon-pohon dan lebatnya rerumputan.

Tiba-tiba kaki Arkan terhenti di tengah jalan. Sebelah timur jalan berdiri sebuah rumah, ukurannya besar namun terbengkalai, cat-cat telah mengelupas, dinding-dinding banyak di tumbuhi lumut, gentengnya banyak yang pecah dan kayu-kayu di rumah itu juga sudah di makan rayap.

Arkan tertegun melihat rumah sebesar itu namun sayangnya terbengkalai. Di bandingkan rumah-rumah warga yang tadi ia temui, rumah itu yang paling besar saat ini.

"Sayang banget, bangunnya udah sebesar itu tapi di biarkan ancur, sebenarnya kemana pemiliknya, apa mungkin udah meninggal ya" menerka-nerka Arkan dengan pandangan terus tertuju ke arah sana.

Sontak Arkan langsung berbalik badan menghadap ke belakang saat merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya.

Arkan yang terkejut refleks memundurkan tubuh.

"Rumah itu terbengkalai sudah 10 tahun lamanya, sang pemilik rumah itu bersekutu dengan iblis, mereka ingin mendapatkan harta yang melimpah namun dengan cara yang salah. Karena kelakuan mereka anak-anak para warga yang tak berdosa menjadi korbannya. Warga yang tak terima membakar hidup-hidup pasangan suami istri yang serakah akan harta dunia sehingga rumah yang mereka bangun susah payah terbengkalai sampai hari ini" tutur seorang wanita lansia (nenek-nenek) dengan detail dan sorot mata tajam tanpa sedikitpun berkedip.

"Apa mereka gak punya anak sehingga gak ada yang menjadi penerusnya?" Tanya Arkan sedikit demi sedikit mulai penasaran dengan pasangan suami istri yang nenek-nenek itu maksud.

"Anak? Khem" nenek itu tergelak akan pertanyaan yang Arkan lontarkan.

Arkan tak paham, ia kembali mengingat pertanyaannya yang jelas tak ada yang aneh dan akan membuat orang lain yang mendengar tertawa.

"Semua keturunan mereka telah mereka jadikan tumbal, tak ada satu orangpun keturunan mereka yang selamat dari kekejian mereka sendiri. Tak hanya anak mereka, anak para warga juga telah menjadi korbannya, setiap satu bulan sekali tepat pada bulan purnama pasti ada anak warga yang hilang dan itu gara-gara kelakuan mereka" jelas nenek-nenek sinis dan penuh penekanan.

Terpopuler

Comments

Dtyas Aldric

Dtyas Aldric

baru mampir lagi Thor ... lagi baca judul sebelah🤭🤣

2023-08-26

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!