"Jangan dekat-dekat dengan ku, aku tidak mau kau mendekati ku lagi" titah Arkan.
Sontak keinginan Arkan membuat senyuman manis yang terukir indah di bibir Viola sirna. Wajahnya tertunduk sedih, kekecewaan tersemat jelas.
"Kalau seperti itu baiklah, aku tidak akan mengganggu mu lagi" sahut Viola menerima keinginan Arkan meski menyakitkan.
Viola yang terlanjur kecewa bangkit dari duduk, dengan kepala tertunduk ke lantai Viola berjalan ke sebelah Utara, lalu tubuhnya menghilang setelah menabrak tembok.
Kening Arkan berkerut."Apa aku salah ngomong ya, kok tiba-tiba dia langsung pergi. Gak ada salahnya bukan kalau aku minta dia buat jangan dekat-dekat dengan ku"
Arkan mengingat kembali kalimat yang telah terlontar dan mampu mengusir gadis bernama Viola hingga pergi meninggalkannya sendirian.
"Tapi begini itu lebih baik, aku tidak mau berkawan dengan makhluk halus, dengan cara ini aku yakin tidak akan ada makhluk halus yang mengganggu ku lagi" tutur Arkan.
Arkan mengusap keringat yang membasahi dahi, ia bangkit dari duduk dan kembali merebahkan tubuh di kasur. Arkan yakin setelah ini tak akan ada gangguan lagi yang menimpanya lantaran makhluk halus itu telah ia usir.
Mata Arkan terpejam kuat, setelah mengusir Viola benar saja kalau Arkan dapat langsung masuk ke dalam mimpi tanpa menunggu lebih lama lagi.
Di malam yang gelap rintik-rintik hujan satu persatu berjatuhan membasahi bumi, suara derasnya hujan tak mampu membangunkan pemuda tampan bernama Arkan. Saking ngantuknya Arkan sampai tak mendengar jika di luar sedang hujan.
Dengan deras hujan mengguyur kampung Arkan dan daerah-daerah sekitar, angin kencang juga ikut berhembus menerpa pohon-pohon, hingga membuat daun-daun bergerak.
Angin kencang juga telah menerobos masuk dan membuka jendela kamar Arkan. Seketika udara sejuk masuk, Arkan merasa kedinginan padahal selimut tebal telah menyelimuti tubuhnya.
Tak tahan dengan udara yang makin lama makin sejuk, Arkan terpaksa membuka mata, ia mendapati jendela terbuka akibat terpaan angin.
Secepat mungkin Arkan menutup jendela dan menguncinya, setelah selesai Arkan kembali merebahkan tubuh dan melanjutkan tidurnya yang terjeda.
"Arkan, Arkan keluar nak" panggil seseorang dari luar.
Seketika mata Arkan langsung terbuka, ia mengenal betul pemilik suara itu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Arkan langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
Bola mata Arkan menyusuri area sekitar."Aneh, kok gak ada orang"
"Perasaan aku dengar suara bunda manggil aku, tapi kenapa pas di cek malah gak ada apa-apa"
Suara panggilan itu keras dan jelas terdengar di telinga Arkan, tapi anehnya tak ada apapun yang Arkan temukan. Satu manusia pun tak nampak di matanya, di malam yang gelap dan sedingin ini pasti seluruh anggota keluarganya tengah terlelap dalam tidur.
Berulang kali Arkan mencari orang yang memanggilnya tapi hasilnya tetap saja nihil.
Karena tak ada apapun Arkan melangkah mengarah ke dapur, sekalian ia mengambil air lantaran tenggorokannya mulai kering.
Setibanya di dapur Arkan terkejut mendapati wanita berpakaian putih berdiri di dekat wastafel membelakangi tubuhnya, dengan posisi kepalanya masuk ke dalam wastafel.
Arkan menutup mulut tak percaya, sosok berambut panjang berwarna putih itu sudah jelas siapa dan percuma baginya untuk menghampirinya.
Arkan bergegas pergi dan masuk kembali ke dalam kamarnya, kemudian menguncinya rapat-rapat dengan harapan sosok itu tak masuk ke dalam kamarnya.
Ngos-ngosan itulah yang terjadi setelah usai berlari menghindari sosok wanita yang tak sengaja di temui di dapur.
"Huft selamat" lega hati Arkan saat telah tiba di dalam kamar, meski sesekali rasa deg-degan masih terasa.
Bulu kuduknya berdiri namun Arkan berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan ada apapun yang terjadi padanya.
Mata Arkan melirik jam yang terpampang jelas di dinding.
"Pukul 00, masih lama paginya, lebih baik aku lanjut tidur aja"
Arkan berbaring di tempat tidur kembali, tak ada cara lain selain itu yang Arkan lakukan, lagipula tak ada hal lain yang bisa Arkan lakukan lantaran hari masih gelap.
Rasa takut terus menghampiri Arkan, suara panggilan misterius dan penampakkan hantu di dapur terus berputar-putar di benaknya sehingga membuatnya tak bisa tidur.
Suara dentingan jam menambah mencekam, baru pertama kali ini Arkan tidur dalam ketakutan. Biasanya Arkan selalu menginginkan malam yang panjang dan lama, tapi kini ia ingin malam segera berganti menjadi pagi.
Arkan memiringkan tubuhnya ke sebelah Utara, matanya terbuka, sontak ia langsung kembali menutup mata.
Tubuh Arkan langsung bergetar, di samping kiri Arkan yang tadi jelas-jelas merupakan bantal guling, kini bantal guling berubah menjadi pocong berwajah hitam legam, kain kafannya putih, seputih kapur, matanya melotot tajam.
Melihat bertapa seramnya pocong dengan mata kepala sendiri telah membuat Arkan makin ketakutan.
Tubuh Arkan berubah menjadi patung, bergerak sedikit saja ia tak mampu, tiba-tiba semuanya terasa kram dan tak bisa di gerakan.
Tidur di temani pocong salah satu hal yang tak pernah terlintas di benak Arkan.
Malam ini gangguan datang bertubi-tubi, Arkan tadi mengira setelah mengusir Viola tidak akan ada gangguan yang menghampirinya tapi sayangnya itu malah membuat gangguan di kamarnya makin menjadi-jadi.
Arkan tidur dalam ketakutan, posisi tubuhnya tetap berbaring miring ke sebelah kiri, wajahnya telah berubah menjadi pucat, sepucat mayat. Keringat-keringat dingin menghujani tubuh Arkan, untuk beranjak dan pergi dari kamar rasanya Arkan tak mampu. Saking takutnya menghirup nafas saja rasanya sesak.
"Kenapa di samping ku ada dia, tadi jelas-jelas itu bantal guling, kenapa ketika di tengah malam bantal guling itu berubah menjadi pocong" batin Arkan ketar-ketir memikirkan ragam keanehan serta gangguan yang makin berdatangan.
Arkan tak dapat memberontak, membuka mata kembali Arkan rasanya sudah takut apalagi beranjak dari tempat tidur.
Tak ada cara lain selain menikmati rasa takut yang terus berdatangan.
Srett
Rasanya Arkan ingin menangis dan berteriak saat selimut tebal yang menutupi tubuhnya di tarik tak tau siapa. Arkan tak dapat memastikan langsung karena untuk membuka mata saja Arkan sudah tidak kuat.
"Kenapa malam ini banyak gangguan, kenapa mereka terus ganggu aku, aku tidak melakukan apapun lantas mengapa mereka terus menerus mengganggu ku sampai separah ini" batin Arkan tak tahan tapi tetap saja ia diam tak bergerak.
"Bunda, tolong Arkan, tolong selamatkan Arkan, tolong datanglah kemari dan selamatkan Arkan Bun" batin Arkan berteriak namun jelas tak akan ada yang mendengar.
Malam semakin gelap tapi Arkan tetap terjaga, tak mungkin baginya dapat kembali melanjutkan tidur di saat pocong masih stay di tempat.
Di derasnya hujan Arkan merasa gerah, keringat-keringat terus bercucuran, dalam diam Arkan menangis tak tahan dengan gangguan yang terus menghujaninya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Dtyas Aldric
mungkim Arkan belum menerima kelebihan yang dia dapat .. jadi masih jadi beban .. kalau pun udh menerima . di suguhkan sama begituan jelas ada rasa takut
2023-08-17
1