Di dalam masjid sudah ada beberapa orang, jumlah jemaah masjid jauh dari ekspektasi Arkan. Arkan sedikit terkejut menatap suasana masjid.
"Ayah, kok sedikit banget jemaah di masjid ini, Arkan kira semua orang udah pada ada di sini" tutur Arkan memelankan suaranya, tak enak hati jika sampai ada warga kampung yang mendengarnya.
"Ayah juga gak tau, mungkin para warga lain masih on the way ke sini" sahut Ilyas.
Arkan tak banyak bicara, ia langsung mengambil duduk dan menunggu kedatangan para jemaah lainnya lantaran benar-benar hanya beberapa orang yang berada di masjid. Saking sedikitnya dapat di hitung dengan jari.
Ustadz yang mengumandangkan adzan telah selesai, kini beliau melantunkan sholawat sambil menunggu jemaah lain agar berkumpul di masjid.
Tapi anehnya sampai sholawatan selesai tak ada penambahan jemaah.
Arkan terkejut sekaligus bertanda tanya kemana semua orang pergi, padahal saat ia berjalan ke masjid suasana jalan begitu sepi, ia mengira bahwa orang-orang sudah berkumpul di masjid tapi ketika sampai di masjid malah sebaliknya yang ia dapatkan.
Tak ada yang bisa Arkan mintai keterangan, alhasil Arkan sholat dengan fokus di masjid dengan jumlah jamaah yang di bawah 10 orang.
Setelah selesai sholat lanjut dzikir singkat, setelah usai Arkan tak pulang ke rumah, ia duduk di depan masjid menatap area sekitar masjid yang gelap dan banyak suara-suara hewan kecil. Ketika dulu ia hidup di bandar kota tak ada bunyi-bunyian seperti ini, baru setelah pindah ke desa ini baru ia mendengarnya.
Ilyas yang mendapati putranya duduk termenung di depan masjid sendirian mengambil duduk di dekatnya.
"Ada apa nak, kok diam di sini, kamu gak ikut pulang sama nenek dan bunda mu?" Tanya Ilyas.
Kepala Arkan menggeleng."Enggak ayah, nanggung kalau pulang, bentar lagi juga mau isya' sekalian Arkan sholat di sini baru habis itu pulang ke rumah"
"Oh ya ayah, kenapa kok jemaah di masjid ini sedikit banget, masa warga kampung gak ada yang sholat di masjid, terus fungsinya masjid di bangun besar-besar buat apa kalau gak ada orang yang sholat" penasaran sekaligus heran Arkan.
"Ayah juga gak tau, mungkin warga di desa ini lebih suka sholat di rumah, kita masih baru di sini, kita belum tau seperti apa kebiasaan warga-warga kampung" jawab Ilyas.
Arkan tampak manggut-manggut, setiap daerah memiliki kebiasaan yang terbeda-beda, Arkan yang masih baru diam dengan kondisi kepala yang penuh akan rasa penasaran.
Anak dan ayah menunggu waktu isya' tiba. Tak lama dari itu terdengar suara adzan yang di kumandangkan, mereka pun sholat berjamaah di sana dengan kondisi jemaah yang lebih sedikit ketimbang tadi.
Setelah sholat isya' Arkan dan Ilyas pulang ke rumah lantaran malam sudah mulai gelap. Arkan masuk ke dalam kamar untuk istirahat, ia menaruh peci hitam tepat di atas nakas lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka.
Arkan merebahkan tubuhnya di kasur, matanya susah untuk terpejam namun Arkan berupaya untuk masuk ke dalam alam mimpi.
Di tempat tidur Arkan gusar dan tak bisa tenang, susah untuk tidur padahal rasa kantuk menyerang membuat batin dan jiwanya tersiksa.
Arkan tak berhenti menyerah, ia kembali memejamkan mata, tak hanya itu Arkan menyelimuti tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Seluruh tubuhnya tak terlihat sebab di tutupi selimut tebal. Tips itu Arkan lakukan agar ia bisa dengan mudah masuk ke dalam alam mimpi.
Brukk
Sontak Arkan langsung terduduk dengan terkejut dari tidurnya. Wajah Arkan tercekat mendapati bantal guling warna putih yang terlempar tepat ke arah perutnya.
Mata Arkan menyisir sekitar, tapi tetap saja tak ada yang Arkan temukan, hanya ia seorang di kamar dan kalaupun ada orang yang masuk ke dalam kamarnya pasti terdengar suara pintu.
Tangan Arkan tremor, makin lama wajah Arkan makin memucat, tapi Arkan tetap tenang, mengatur nafas yang mulai tak stabil lalu kembali merebahkan tubuh. Arkan pikir hanya bantal yang terlempar ke arahnya bukan benda aneh ataupun menakutkan untuk apa Arkan permasalahkan lagi.
Setelah kejadian di mana ia di lempari bantal guling, Arkan makin tak bisa tidur, namun matanya tetap terpejam.
Teps
Lampu kamar Arkan tiba-tiba mati, Arkan yang panik langsung berlari mendekati saklar dan kembali menghidupkannya.
"Hai"
"Aaaaahhhhh!" Arkan berteriak keras saat tiba-tiba tepat di depannya berdiri sosok wanita sepantaran dengannya, rambutnya sebahu, senyuman manis terus merekah di bibirnya.
Arkan mundur sampai tubuhnya mentok ke dinding, wajah Arkan pucat pasi bak mayat yang tak teraliri darah.
"K-ka-u s-siapa?" Terbata-bata Arkan shock menatap gadis itu yang muncul secara tiba-tiba.
"Kemarin aku kan udah bilang nama ku Viola, aku penghuni kamar ini" jawab Viola santai dan tak menakutkan apalagi menggertak Arkan.
Arkan tak bergeming, sesekali ia menampoli dirinya sendiri biar dia yakin bahwa apa yang ia lihat sekarang itu tidak benar alias halusinasi.
Tak cukup sampai di situ, Arkan juga mencubit tangannya. Tangan Arkan sampai berdarah namun gadis bernama Viola masih diam di tempat. Arkan berusaha menyadarkan dirinya bahwa ini semua mimpi bukan nyata.
"Kamu gak halusinasi kok, kamu memang beneran bisa liat aku" ucap Viola.
"J-jadi kamu beneran...."
Kepala Viola mengangguk cepat."Iya, aku bukan manusia, aku hidup ratusan tahun, jauh sebelum kamu lahir aku sudah menempati kamar ini. Kamu tidak perlu takut pada ku, aku tidak akan menyakiti mu"
Arkan tak menyahut, bibirnya tertutup rapat, saking shocknya Arkan sampai tak berkedip sedikitpun.
Ketidakbenaran muncul di benak Arkan, apa yang ia lihat dan apa yang ia alami terbilang aneh dan terkesan mistis. Arkan yang belum menerima ini shock parah sampai-sampai Arkan terduduk lemas, dengan punggung yang bersandar di pintu.
Arkan menatapi kedua tangannya, sesekali ia mengucek matanya takut apa yang ia lihat salah.
Viola duduk tepat di dekat Arkan, dengan cepat Arkan menjauhi sedikit tubuhnya, Arkan khawatir dan takut dengan gadis bernama Viola, karena sebelumnya tak pernah Arkan melihat atau berinteraksi dengan makhluk modelan seperti Viola.
"Kamu jangan takut, aku tidak berbahaya, aku cuman ingin kenal sama kamu" ujar Viola di lengkapi senyuman yang semanis gula agar Arkan tak takut padanya, walaupun ia dan Arkan dua orang yang berbeda alam.
Tapi Arkan tetap saja takut, semenjak menginjakkan kaki di desa ini Arkan merasakan ada banyak perubahan dari dirinya, ia sampai takut dengan dirinya sendiri yang di tuai makin aneh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Dtyas Aldric
kalau aku jadi Arkan .. pasty udah ngompol duluan .. pernah dulu waktu masih SMA aku tinggal di rumah orang jaman dulu mksd x rmh modelan joglo lama ..... BPK ibuk ku main di tetangga dekat dari rmh .. nah aku pulang sedirian .. pas mau buka pintu ada bayangan gedeeeeeee bgt .. terus aku lagi pontang panting 🤧sangking takut x .
2023-08-17
1