Keanehan di dalam kamar Arkan

Setelah selesai makan mereka mengucap syukur pada Allah karena hari ini mereka bisa makan dalam keadaan sehat walafiat.

Sehabis makan mereka masih belum beranjak dari tempat duduk, mereka mengobrol meluapkan kerinduan lantaran sudah bertahun-tahun tak bertatap muka.

Arkan hanya diam mendengarkan tanpa menyahut sama sekali, bibirnya terasa kaku meski di depannya adalah anggota keluarganya sendiri.

"Arkan, sana cari kamar yang kamu suka habis itu istirahat, kamu pasti capek" suruh Risma.

Kepala Arkan mengangguk, sebagai anak yang baik Arkan langsung melaksanakan perintah sang ibunda. Ia beranjak dari tempat duduk dan mendekati sebuah kamar paling pojok sebelah barat.

Arkan membuka pintu kamar itu perlahan-lahan, sebelum masuk ia melihat sekeliling penjuru kamar yang fine-fine aja dan terlihat aman-aman aja.

Saat di rasa pas dan nyaman, Arkan pun masuk ke dalam kamar, langkah pertama yang ia lakukan adalah menaruh tas besarnya yang berisi pakaian-pakaian dan yang lainnya.

Bola mata Arkan menatap sekeliling tempat yang berdebu karena mungkin tak pernah di tempati.

Arkan mengambil sapu lalu mulai membersihkannya tanpa meminta bantuan pada kedua orang tuanya.

Saat Arkan menyapu tepat di depan lemari besar, Arkan berhenti dan melihat dirinya di kaca, tiba-tiba Arkan terkejut, ia langsung menoleh ke belakang.

"Gak ada apapun, tapi tadi kayak ada orang yang berdiri di belakang ku?" Arkan bertanya-tanya, ia mengerutkan alis kebingungan sebab ketika ia mengecek ke belakang sosok berwarna putih itu menghilang tak berbekas.

"Apa ini cuman perasaan aku aja?" Arkan masih setengah tidak percaya jika apa yang ia lihat salah, tapi ia tidak sedang halu, namun untuk membuktikan kebenaran ia kalah.

"Kayaknya aku memang salah liat, ngapain juga aku mikirin hal yang gak berguna" Arkan mengesampingkan keanehan yang menimpanya.

Arkan sibuk membersihkan kamar barunya, setelah semuanya bersih langkah yang Arkan ambil adalah merebahkan tubuhnya yang telah letih habis membereskan kamarnya yang berdebu.

Arkan menatap langit-langit kamar dengan perasaan linglung, mulai dari semalam banyak kejadian-kejadian aneh yang menimpanya, ia kira setelah matahari muncul semuanya akan balik normal, tapi sayangnya keanehan-keanehan itu masih terus berlanjut.

Saking sibuknya memikirkan kejadian-kejadian aneh itu lama-kelamaan mata elang Arkan tertutup rapat, nafasnya mulai teratur menandakan pria 17 tahun itu telah terlelap dalam tidurnya.

Duaaaaar

Bola mata Arkan terbuka dengan lebar, suara ledakan itu membuatnya terkejut dan panik.

Arkan langsung bangkit dan berlari mendekati pintu, tapi saat membuka pintu, tiba-tiba pintu tak bisa ia buka.

"Kok gak bisa di buka, perasaan tadi gak aku kunci" panik Arkan mencoba membuka pintu terus menerus.

Keringat-keringat dingin bercucuran, Arkan terus berusaha untuk membuka pintu, tetapi pintu tahap saja tidak bisa di buka.

"Ada apa ini, kenapa pintu ini gak bisa di buka, tolooong, ayah bunda tolong buka pintunya, tolong Arkan, Arkan terjebak di sini" teriak Arkan mencoba mencari bantuan.

Senyap, tak ada sahutan satupun yang terdengar di telinga Arkan, bahkan rumah ini sepi dan sepertinya hanya Arkan yang menginjakkan kaki di dalamnya.

"Ayah bunda tolong Arkan, tolong buka pintu" teriak Arkan sekali lagi.

Arkan tak akan berhenti begitu saja, ia sekeras tenaga harus bisa keluar dari dalam kamar ini.

"Ayah bunda tolong-

Tiba-tiba perkataan Arkan terhenti, Arkan menelan ludah pahit saat Arkan merasa ada sebuah tangan menyentuh pundaknya.

"Perasaan tadi cuman aku seorang yang ada di kamar ini, lantas siapa yang ada di belakang ku?" Batin Arkan bergidik ngeri.

Kaki Arkan tremor, jantung Arkan berdetak dengan kencang, keringat-keringat berjatuhan bagaikan air hujan.

Dengan tegang Arkan memberanikan diri berbalik menatap siapa sosok yang berada di belakangnya.

Sontak Arkan pun terkesiap, saking terkejutnya ia sampai menjauhi orang misterius itu.

"K-kamu siapa?" Terbata-bata Arkan melihat seorang gadis seusianya, rambutnya sebahu, bibirnya tersenyum manis.

"Kau bisa melihat ku?" gembira gadis misterius.

Dengan gugup Arkan menganggukkan kepalanya."I-iya, sebenarnya kamu siapa, kenapa kamu berada di kamar ku"

"Aku Viola, aku hanya ingin kenal dengan mu" sahut gadis bernama Viola di iringi senyuman manis.

"Nama ku Arkan, aku baru di sini, semoga nanti kita bisa jadi teman" harapan Arkan.

Kepala Viola mengangguk senang, wajahnya tampak happy saat berjumpa dengan Arkan, senyuman terus merekah menghiasi wajah cantiknya dan tak sedikit pun senyuman itu pudar.

"Aku tadi dengar suara ledakan keras, apa kau juga dengar?" Tanya Arkan memastikan terlebih dahulu apa yang membuatnya terjaga dari tidurnya.

"Iya, aku dengar, suara itu berasal dari belakang rumah ini, tapi itu tidak berbahaya, lebih berbahaya dia" tangan Viola menunjuk sebuah lemari kaca besar yang terdapat di kamar yang Arkan tempati.

Arkan mengerutkan alis, ia bertanya-tanya ada apa dengan lemari besar itu sehingga Viola menyebut bahwa lemari itu berbahaya.

Kaki Arkan mendekati lemari, ukiran-ukiran lemari itu begitu kuno, di prediksi bahwa lemari itu di buat tahun 1000-an.

Arkan berdiri menatap dirinya di cermin, alangkah kagetnya ia saat Viola yang berdiri di belakangnya tak dapat di lihat dari kaca.

"K-kenapa kamu tidak bisa terlihat, siapa kamu sebenarnya" tercekat Arkan ketika tubuh Viola tak tampak di kaca.

Tak ada tanggapan sama sekali, Arkan dengan terkejut melihat ke belakang, dan benar saja kalau di belakangnya terdapat Viola, namun ketika dia menghadap ke depan dan melihat Viola dari kaca, sosok Viola tak nampak di matanya.

Tangan Arkan tremor, bibirnya bergetar hebat, dengan keringat-keringat yang keluar membasahi keningnya Arkan berbalik menghadap Viola yang terus mengukir senyum.

"K-kamu siapa, kenapa kamu tidak terlihat, siapa kamu sebenarnya?" Arkan mulai takut dengan gadis cantik yang tak henti-hentinya tersenyum itu.

"Aku Viola, aku memang gak terlihat" jawab Viola dengan polosnya.

Kepala Arkan menggeleng tak percaya."Gak mungkin, gak mungkin ada manusia yang tak terlihat, semua manusia di muka bumi ini terlihat, kalau yang gak terlihat itu biasanya...."

Perkataan Arkan terpotong, ia menutup mulut tak percaya. Perlahan-lahan satu demi satu kakinya melangkah mundur.

"Gak, gak mungkin kalau kamu itu..."

Kepala Viola mengangguk dengan tersenyum.

Kepala Arkan menggeleng tak percaya, Arkan menjadi takut pada Viola yang misterius.

"Gak mungkin, gak mungkin kalau kamu itu han-

Arkan tercekat, bola matanya melotot sempurna saat tubuhnya menabrak seseorang. Arkan menelan ludah, di bibir gadis bernama Viola terus terbit senyuman indah.

Dengan tegang Arkan menatap siapa di belakangnya.

"Aaaaahhhhh!" Jeritan Arkan keras kala wanita berwajah hancur berdiri tepat di depan mukanya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!