Setibanya di terminal semua penumpang bergegas turun dari dalam bus.
Suasana pagi yang asri menyambut kedatangan mereka, mereka semua bernafas lega lantaran dapat tiba di tempat tujuan dengan selamat meski perjalanannya tidak semulus yang mereka harapkan.
"Ini kita udah sampai ayah?" Tanya Arkan melihat suasana sekitarnya yang asing.
"Belum, kita masih harus naik angkot untuk tiba di desa kakek dan nenek kamu, karena tempatnya lumayan jauh dari sini" jawab Ilyas.
"Nah itu ada angkot, ayo kita naik itu aja, sebelum keburu pergi" tunjuk Risma pada sebuah angkutan umum yang mangkal tak jauh dari posisi mereka berdiri.
Mereka bertiga mendekati angkutan umum tersebut dengan membawa barang-barang bawaan, di dalamnya sudah ada banyak penumpang yang menepatinya.
Arkan duduk di dekat pintu sambil melihat semua penumpang yang kebetulan satu kendaraan dengannya.
Tatapan Arkan jatuh pada seorang wanita berkebaya merah yang berada di seberangnya. Wajah wanita berusia kira-kira 37 tahun itu terlihat judes, ketus dan cuek.
Angkot berwarna kuning melaju meninggalkan terminal dan menuju tempat tujuan mereka semua.
Sepanjang perjalanan Arkan melihat keluar yang begitu asing di matanya, sebelumnya ia tak pernah ke tempat ini sehingga tempat yang akan ia singgahi terbilang cukup asing.
Satu persatu penumpang turun di tempat yang mereka inginkan. Kini di dalam angkutan umum hanya tersisa 5 orang, yakni, pak supir, Arkan, Ilyas, Risma dan wanita berkebaya merah yang masih belum turun itu.
Angkot melesat memasuki sebuah jalanan yang agak gelap, sejak melintasi jalanan itu rumah-rumah warga yang biasanya di bangun di pinggir jalan kini tak lagi terlihat. Semuanya berganti dengan pohon dan pohon yang menjulang tinggi.
Tak ada satupun rumah warga yang di bangun di area jalanan itu, yang ada hanya pohon dan semak-semak belukar. Suara riuh hewan-hewan kecil memecah keheningan angkot yang sepi.
Suasana jalanan itu terlihat seram dan sedikit gelap sebab datangnya sinar matahari di halangi oleh pohon-pohon yang tumbuh dengan kokoh.
Arkan mengamati jalanan yang terkesan sedikit seram, sepi dan hening itu.
Ketika angkot berada di tengah-tengah jalan, tiba-tiba Arkan terkesiap kala matanya tak sengaja melihat sosok berwarna putih pucat yang berdiri di pinggir jalan seperti menunggu kedatangannya.
"Siapa itu?" Batin Arkan bertanya-tanya.
Sosok bergaun putih panjang itu tampak pucat seperti tak teraliri darah, rambut panjangnya terurai, pancaran matanya begitu seram.
Saat angkot melintas tepat di depannya sosok bergaun putih menyunggingkan senyuman, ia tampak senang dan gembira sekali, Arkan merasa aneh mengapa sosok itu terlihat begitu senang.
"Siapa wanita itu, mengapa dia seperti menunggu kedatangan ku" gumam Arkan menerka-nerka.
Arkan melihat ke belakang dan sosok itu masih berdiri di sana. Lama kelamaan sosok itu tak lagi terlihat lantaran angkot mulai menjauh dari sana.
Arkan di kejutkan dengan satu keanehan yang berhasil membuat bola matanya melotot sempurna.
"Loh kemana wanita berkebaya merah itu, kenapa dia tidak ada, tadi dia ada di sini" batin Arkan shock.
"Bunda, kemana wanita berkebaya merah itu?" Tanya Arkan barang kali ibunya tau.
Risma mengerutkan alis."Wanita kebaya merah? Gak ada wanita berkebaya merah di sini"
Arkan tambah terkejut sebab ibunya tak mengetahui jika di antara mereka sejak tadi terdapat seorang wanita berkebaya merah yang terbilang cukup misterius.
"Ada loh Bun, tadi dia ada di dalam angkot ini juga, masa bunda gak liat" heran Arkan dengan respon ibunya.
"Beneran loh dari tadi gak ada wanita berkebaya merah, di angkot ini cuman ada kita aja, gak ada tuh penumpang lain, mereka sudah turun di persimpangan jalan tadi" jelas Risma meyakinkan Arkan bahwa tak ada orang yang Arkan sebut di antara mereka.
"Tapi tadi ada Bun, dia ikut bareng kita, kenapa bunda malah bilang gak ada" terheran-heran Arkan.
"Kamu palingan salah liat, dari tadi gak ada penumpang yang makai kebaya" sahut Ilyas.
"Masa aku salah liat" sedikit tak percaya Arkan jika orang yang sedari tadi ia curiga lantaran misterius tak nyata.
Arkan berpikir keras, ia merasa heran mengapa lagi-lagi ia harus bertemu dengan sesuatu yang bersifat aneh dan tak masuk akal.
Arkan diam seribu bahasa, ia masih belum sadar apa yang telah terjadi menimpanya.
Angkot terus melaju lalu perlahan-lahan memasuki area perkampungan yang cukup asri namun jauh dari kata maju karena letaknya jauh dari kota.
Tak lama kemudian angkot berhenti di sebuah rumah sederhana yang halamannya sangat luas.
"Ayo nak turun kita udah sampai" ajak Risma.
Arkan turun dan menatap rumah sederhana milik kakek neneknya.
"Kita akan tinggal di sini ayah bunda?" Tanya Arkan.
"Iya, kita akan tinggal di sini" jawab Risma.
Senyuman mengambang di wajah Risma."Nah itu kakek dan nenek mu, sana salim sama mereka"
Bola mata Arkan menatap pasangan suami istri yang telah renta yang lagi berdiri di ambang pintu dengan senyuman haru karena setelah sekian lama akhirnya mereka berjumpa dengan anak dan menantu mereka serta cucu yang mereka rindukan selama bertahun-tahun belakangan ini.
Arkan mendekati kakek dan neneknya dengan senyuman manis yang terus merekah menghiasi wajahnya. Arkan menyalami punggung tangan mereka berdua.
"Ya Allah kamu Arkan, cucu kakek sama nenek?" Tanya nek Darmi terharu melihat pemuda tampan berusia 17 tahun itu. Dulu setahunya cucunya masih kecil dan ia tidak menyangka bahwa Arkan sudah sebesar ini.
Arkan mengangguk dengan tersenyum.
"Ibu mbok, ini Arkan, dia sekarang sudah besar" jawab Risma.
"Ya Allah ndok, kamu udah besar aja sekarang, dulu waktu kamu ke sini masih kecil sekali" nek Darmi memeluk erat cucu yang begitu ia rindukan itu.
"Udah Bu, jangan di peluk-peluk dulu Arkannya, suruh masuk aja, dia pasti capek habis dari perjalanan jauh" suruh kakek Toyo.
"Ayo nak masuk, nenek udah masak banyak buat kalian, kalian pasti laper kan" ajak nek Darmi dan di balas anggukan oleh Risma.
Mereka pun masuk ke dalam rumah sederhana namun bersih dan terawat meski penghuninya adalah seorang kakek dan nenek yang telah renta.
Nek Darmi begitu senang dan gembira saat anak, menantu dan cucunya berkumpul lagi bersamanya, rindunya telah terbayarkan. Meski baru-baru ini keluarga anaknya tertimpa musibah besar, tapi dari balik musibah itu mereka dapat berkumpul membentuk satu keluarga yang utuh.
Arkan dan kedua orang tuanya duduk dengan tenang di sebuah meja makan yang terbuat dari kayu.
Ragam lauk tersaji di meja makan, mulai dari sayur-sayuran dan lauk pauk yang serba sederhana.
"Ayo-ayo makan, kalian harus makan yang banyak" suruh nek Darmi.
Mereka menyantap makanan itu dengan lahap, meski rata-rata lauk pauknya sederhana tapi tak mengurangi kelezatannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Dtyas Aldric
semangat Thor .. jgn lama2 up nya
2023-08-09
1