“Aku tidak suka, melihat mu memandang kagum ke orang lain. Hati ku bergemuruh tidak tenang.”
†★†
Tarikan yang begitu kuat membuat pergelangan tangan caroline menjadi memerah, Caroline berusaha melepaskan diri namun cengkraman itu semakin kuat seakan ingin meremukan tulang kecil nya itu.
"Kau ingin membuat pergelangan tangan ku remuk ya?" Ketus caroline.
Lucifer hanya diam dan malah membawa caroline ke ruang kerja miliknya.
Dengan sekali hempasan Lucifer membuang tangan caroline kasar dan berbalik arah menatap tajam ke arah caroline.
"Hindari si vernod itu!" Seru lucifer tajam. Caroline mengerut kan dahi nya bingung.
"Vernod? Si alpha itu ?" Tanya caroline memastikan. Lucifer hanya diam dan menatap caroline semakin tajam.
"Kenapa aku harus menjauhi dia? Dia tidak lebih berbahaya dari kau sendiri." Lanjut caroline santai dengan nada mengejek.
"Lagi pula kau tidak memiliki banyak hak atas diriku..kau tidak memiliki hak untuk terlalu mencampuri dengan siapa aku ingin berkomunikasi, permisi!" Ujar caroline kesal dan langsung pergi meninggalkan ruang kerja Lucifer.
Lucifer tertegun dan hanya mampu menatap punggung caroline dengan tatapan dingin, dan raut tidak terbaca
"Ini salah, semua ini salah!" Seru lucifer pelan dan mengusap wajah nya frustasi.
†★†
Caroline berjalan dengan kaki yang di hentak kesal, dengan wajah sedikit mencibir tingkah Lucifer yang keterlaluan untuk nya, siapa dia yang harus mengatur Caroline seperti remot televisi.
Mengingat tentang telivisi, caroline jadi teringat dengan kampung halamannya. Disini memang menyenangkan tapi di dunia aslinya lebih menyenangkan. Caroline berhenti di sebuah jendela besar dan menatap ke arah luar, melihat matahari yang mulai terbenam.
Jika di kasi kesempatan memilih, mungkin caroline tidak akan pernah sama sekali membuka buku tua yang ada di perpustakaan ayahnya itu. Bagiamana dengan ayah dan mama? Apakah mereka mencari anak nya yang beban ini? Apakah mereka merasakan kehilangan? Caroline ingin pulang ma.
Itulah yang ada di pikiran caroline saat ini, dalam lamunan nya ia mengingat dengan jelas awal mula semua ini terjadi, hingga dia terjebak di kastil dark angel sebagai tumbal untuk menyelamatkan penduduk nikel. Sungguh perjalanan yang panjang, dan caroline berharap ini semua segera berakhir.
"Aku rasa matahari terbenam lebih menarik dibandingkan saya ya nona?" Caroline berbalik badan dan mendapati si alpha serigala telah berada di belakang nya dengan senyum manis miliknya itu.
"Ah anda ternyata? Maaf saya tidak sadar anda dibelakang saya." Jawab caroline sedikit malu.
"Tidak apa, senyaman nona saja, bolehkah saya tahu nama anda sekali lagi nona? Saya rasa perkenalan kita tadi terlalu singkat?"
"Em iya anda benar, saya caroline..ya anda tahu sendiri siapa saya di kastil ini." Canda caroline agar tidak terlihat canggung.
"Caroline? Nama yang bagus sekali..saya vernod dan saya alpha serigala, bisakah kita berteman nona caroline?" Tanya vernod.
"Kenapa tidak tuan?"
"Hahaha baiklah, bagaimana jika kita saling panggil nama sekarang? Sangat lucu jika kita sudah berteman kau dan aku memanggil tuan, nona?"
"Kau benar, baiklah vernod bukankah seharusnya kau istirahat?" Tanya caroline mulai bersikap santai.
"Aku tidak akan bisa beristirahat jika ada seorang gadis manis yang saat ini menemani ku." Goda vernod yang berhasil mengundang gelak tawa Caroline.
"Kau penggoda ulung ternyata, tidak ku sangka kau ini alpa serigala yang pandai menggombal.." seru caroline.
"Menggombal? Apa itu?" Tanya vernod.
"Emm ya seperti yang tadi kau lakukan!" Jelas caroline.
"Ah aku baru mendengar kata itu, maaf jika aku agak kuno." Seru vernod dengan sedikit menggaruk pelipis nya yang tidak gatal.
"Wajar jika kau tidak tahu, kata kata seperti itu hanya aku yang tahu artinya."
"Ya tentu saja, karna kau yang membuat nya, yakan?" Caroline hanya tersenyum mendengar perkataan vernod, asik mereka bicara hingga tidak sadar waktu semakin gelap.
Waktu untuk makan malam sebentar lagi akan segera tiba, caroline pun berpamitan kepada vernod untuk membersihkan diri, dan menyiapkan keperluan Lucifer. Vernod tidak mempermasalahkan hal itu, dengan senyum tulus pun mereka mengakhiri pembicaraan random mereka.
"Eric, bagaimana menurut mu tentang gadis itu?" Tanya vernod. Dalam sekejap mata sesosok pria muncul di samping vernod. Pria tersebut memiliki rambut berwarna putih dan memakai jubah berwarna silver serta mata nya yang berwarna zamrud terlihat membungkuk hormat ke arah vernod.
"Dia berbeda alpha." Jawab pria tersebut.
"Aku tahu, dan aku ingin tahu lebih dalam! Cari tahu tentang dia..tidak seharusnya dia berada disini!" Ucap vernod datar dan berjalan meninggalkan pria yang bernama Eric itu.
"Baik alpha." Sahut Eric sopan dan menghilang entah kemana.
Caroline sedikit tergesa gesa berlari menuju kamar Lucifer, tidak ada lagi kata anggunly saat ini yang dapat kita lihat hanyalah seorang gadis yang berlari dengan rok gaun nya yang di angkat hingga dengkul kami agar memudahkan ia berlari dengan kencang.
"Ah sial sial sial, jauh banget si kamar si Lucifer ini.." gerutu caroline yang sudah ngos-ngosan.
"Kau tidak memiliki tata krama seorang wanita ya?" Seru seseorang dengan suara dingin yang berhasil membuat caroline berhenti.
"Duh ni dia orang nya.." ucap caroline dalam hati. Ya Lucifer lah si pemilik suara dingin itu, tidak harus berbalik untuk memastikan apakah benar atau tidak, caroline sudah benar benar hapal dengan nada suara Lucifer yang menyebalkan itu.
"Ekhem, ini efek panik tau gak si?" Ucap caroline santai.
Lucifer hanya diam dan mengabaikan, ia berjalan mendahului caroline dan masuk ke kamar tidur nya tentu dengan caroline yang imut membuntuti.
"Siapkan aku air mandi!" Ucap Lucifer datar.
"Tanpa kau bilang pun pasti itu yang aku lakukan." Jawab caroline yang berjalan menuju kamar mandi.
Lucifer menghela nafas dan mendudukkan dirinya di sofa yang berada di dalam kamar nya itu.
Perasaan ini aneh bagi lucifer, dia benar benar merasakan ketidak nyamanan ketika melihat caroline yang berbicara santai dengan si alpha serigala itu. Ya sebenarnya Lucifer tadi ikut menyusul caroline, tidak tahu kenapa dia memilih untuk menyusul caroline, dan karna hal itu juga yang membuat sesuatu di dalam diri Lucifer tidak tenang.
Ia kesal, marah dan tidak suka melihat alpha serigala yang berusaha akrab dengan caroline, Lucifer bingung dengan dirinya sendiri. Ia berusaha abai namun lagi dan lagi ia terpikir dengan perasaan perasaan aneh itu.
Tanpa pikir panjang Lucifer bangun dari duduk nya dan masuk ke dalam kamar mandi, terlihat disana caroline yang menunggu bak air mandi untuk nya terisi penuh, dapat Lucifer lihat caroline melamun dan itu membuat Lucifer geram karna dikiranya caroline memikirkan si alpha serigala itu.
Lucifer berjalan mendekati caroline dan menarik lengan nya hingga caroline terkejut. Lucifer merapat kan tubuh nya yang hanya mengenakan celana itu ke tubuh caroline.
"Lu-lucy.." ucap caroline gugup dengan kedekatan ini.
"Hem?"
"Astaga jangan aku gak kuat, ya tuhan berdamage banget ini orang..." Ucap caroline dalam hatinya. Tanpa sadar caroline menggigit bibirnya yang berhasil mengundang tatapan mata dari Lucifer.
"Jangan digigit, biar aku saja.." ucap Lucifer.
"Ap--ehmm"
Lucifer ******* bibir caroline rakus, manis, itulah yang dia rasakan semakin dalam Lucifer ******* bibir itu hingga caroline sendiri kewalahan menghadapi nya.
Merasa tidak nyaman dengan posisi mereka yang berdiri, Lucifer membawa caroline untuk duduk di pinggiran bak mandi dengan posisi caroline yang berada di pangkuan Lucifer dan menghadap ke arah nya.
******* itu membuat caroline pening karna tidak mampu menghentikan nya dan juga terlena dengan bibir tebal milik Lucifer. Merasa nafas mereka mulai tersengal Lucifer pun melepaskan pungutan itu dan menatap caroline sendu.
Dengan pelan Lucifer mengelus bibir caroline yang terbuka karna ulah nya itu. Caroline menatap ke arah Lucifer dengan ganas, karna merasa ini tidak adil untuk nya caroline pun balas dendam dengan gantia memungut bibir Lucifer dengan tergesa gesa. Lucifer terkejut namun dia tersenyum tipis dan membalas ******* Caroline yang kaku itu.
******* demi ******* terjadi, terlihat kepala mereka bergerak ke kanan dan kekiri mencari posisi nyaman. Dengan perlahan tautan mereka terlepas, kening mereka saling menempel dan mereka juga berusaha menetralkan nafas.
"Jangan dekati vernod, aku tidak suka!" Ucap Lucifer serak dengan tangan nya yang mengelus pipi milik caroline.
"Kenapa?" Tanya caroline pelan.
"Kau milikku Carol, milikku!" Ucap Lucifer tegas.
"Tidak Lucifer, aku bukan milik siapa pun! Aku adalah milik ku sendiri, bukan kau atau pun vernod.." jelas caroline.
Lucifer menatap caroline dengan sendu. "Aku bukan milik mu Lucifer, dan aku rasa tidak akan pernah bisa." Lanjut caroline. Caroline bangun dari pangkuan Lucifer dan membenahi penampilan nya.
"Anggap saja apa yang kita lakukan tadi karna ketidaksengajaan, dan air mandi mu sudah selesai aku permisi!" Seru caroline pergi meninggalkan ruangan saksi biksu cumbuan panas ia dengan Lucifer.
Lucifer hanya diam, dan mengepal kan tangan nya geram. "Karna itu aku ingin egois memiliki mu Carol." Ucap Lucifer dingin.
†★†
Makan malam yang tenang, tidak ada keributan bahkan ini lebih menyenangkan dari pada melihat kartun Upin dan Ipin di dunia nya. Caroline melihat ke arah meja makan yang penuh dengan segala jenis hidangan yang menggunggah selera. Perut nya yang karet mulai menjerit minta di isi dengan semua makanan itu.
"Silahkan nikmati hidangan anda alpha." Ucap Lucifer tegas.
"Dengan senang hati baginda." Jawab vernod tidak kalah tegas.
Makan malam itu pun dimulai dengan tertib dan teratur, caroline dengan santai memakan makanannya tanpa sadar sedari tadi di lihat oleh vernod yang berada tepat di depan nya.
Vernod melihat ke arah caroline dengan sangat intens, tatapan itu sama sekali tidak di sadari oleh caroline dan malah di sadari oleh Lucifer yang berada di tengah tengah di antara mereka.
Lucifer menatap tajam ke arah vernod yang melihat ke arah caroline dengan sedemikian rupa, lagi dan lagi tangan nya terkepal hingga garpu yang berada di tangan nya patah menjadi dua.
Vernod yang memang memiliki pendengaran yang sensitif mendengar suara patahan garpu dari tempat Lucifer. Lucifer dan vernod saling tatap dengan sorot yang sama sama tajam.
Sedikit menyesal Lucifer mengundang vernod ke kastil miliknya, jika saja Lucifer tidak mengundang vernod mungkin saat ini Lucifer tidak harus merasakan perasaan was was di hati dan pikiran nya.
Walaupun suasana di antara kedua pria itu tidak lah menyenangkan, tapi makan malam tetap berakhir tanpa ada keributan. Satu persatu para bangsawan mulai kembali ke kamar tidur nya masing masing dan beristirahat.
"Terimakasih Baginda, jamuan makan malam anda sangat lah enak..ditambah lagi dengan adanya nona Carol!" Ucap vernod.
"Tidak masalah, bagaimana pun anda adalah tamu, dan saya berharap anda bertingkah layak nya seorang tamu disini alpha!" Seru Lucifer dengan sedikit sindiran didalam kalimat nya.
"Hahaha tentu tentu, tidak harus Baginda ingat kan tentang hal itu! Kalau begitu saya permisi undur diri."
Seru vernod.
"Silahkan.." jawab Lucifer datar.
Caroline yang masih berada disitu pun memukul lengan Lucifer sedikit kuat. "Bahasa mu sedikit keterlaluan." Ucap nya kesal.
"Benarkah? Aku rasa itu biasa saja.." jawab Lucifer santai.
"Kau ini benar benar, padahal niat dia kan bagus bisa bisa nya balasan kau seperti itu.."
"Apa urusan ku?" Jawab Lucifer datar.
"Haus dasar, baiklah lupakan.. aku ingin minta ijin pada mu!" Ucap caroline.
"Ijin? Ijin kemana?"
"Kabur!!! Ya ijin keluar lah , aku mau kunjungan ke tempat teman lama." Jawab caroline.
"Dimana?" Tanya lucifer datar.
"Hutan huma."
"Tidak, kau tidak boleh pergi!" Final Lucifer tanpa mau di ganggu gugat.
"Hei hei hei, aku sudah berbaik hati meminta ijin tapi tidak kau berikan, wah keterlaluan sekali!"
"Bukan kau yang menentukan Carol." Ucap Lucifer tegas.
"Mau kau apa si ha? Aku juga ingin sesekali pergi keluar bertemu teman teman ku, kau tidak akan paham karna kau tidak memiliki teman, iyakan? Kau hanya selalu bersikap arogan dengan segala keputusan mu yang sama sekali tidak bisa di ganggu itu? Aku bisa mati jika seperti ini terusss.." seru caroline meluapkan rasa amarah nya.
"Aku tidak perduli, jika aku bilang tidak makan tidak!" Bentak Lucifer.
"Lihat? Lihat inilah kamu, arogan, egois, ingin menang sendiri dan tidak ingin terbantah, jika kau selalu memiliki sipat seperti ini tidak akan ada seorang pun yang akan tahan dengan mu , TIDAK AKAN!!"
"DIAM, KAU SUNGGUH KETERLALUAN? TAU APA KAU TENTANG AKU HA? TIDAK KAN? LEBIH BAIK KAU PERGI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI! AKU MUAK MELIHAT SIKAP PEMBANGKANG MU ITU!!" Ucap Lucifer dengan wajah yang sudah memerah menahan marah.
"Jika disuruh memilih aku memang sangat ingin pergi kau tahu, sangat ingin malah.." ucap caroline sendu. Dengan air mata yang mengalir jatuh caroline pergi meninggalkan Lucifer di ruang makan itu sendiri.
Lucifer yang sadar jika dia terlalu kasar dengan caroline hanya bisa mengusap wajah nya kasar, ia tidak berniat mengatakan hal itu tapi apa boleh daya semua sudah terjadi. Lucifer hanya berharap caroline tidak melakukan hal nekat.
"Kau membuat aku gila Carol, aku tidak terkendali karna mu. Sekarang bukan lah bulan merah yang aku takuti, tapi ketidakhadiran mu yang menjadi ketakutan terbesar ku."
"Kau seperti bayangan Carol, ada tapi bisa saja menghilang suatu saat nanti jika aku lengah, aku takut itu terjadi, maaf jika aku egois! Aku rasa tidak seharusnya perasaan ini ada untuk mu."
"Argon, buat surat ke pada lady carlis agar dia berkunjung ke tempat ku." Ucap Lucifer dalam telepati nya.
"Baik Baginda." Jawab Argon dalam telepati mereka.
"Mungkin dengan ini, aku dapat melupakan perasaan ku yang salah ini Carol, maaf kan aku! Maaf." Ucap lucifer lirih.
Bersambung...
BOOK STORY FANTASI 1
On Going
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Jasmine Flow
lama si outhor baru update sekarang...lanjutkn thor
2023-08-19
0