2.MAWAR HITAM

"Sekarang, apakah kalian masih berpikir jika dunia lain itu tidak ada?"

†★†

Puas sudah caroline menghilangkan dahaga nya, sekarang ia hanya dapat mengamati rumah tua yang di tunjukan oleh mily. Caroline berjalan menelusuri rumah tua tersebut hingga netra nya melihat banyak nya bunga mawar dibelakang rumah tua itu.

"Caroline apa kau sudah puas meminum air nya? Jika sudah puas mari aku antar kau keluar dari hutan ini." Seru mily.

"Ah iya aku sudah puas, hanya saja mily bisakah kau memberi tahuku pemilik bunga mawar itu?" Tanya caroline.

"Mawar itu tidak punya pemilik Carol, mereka mawar liar." Caroline terdiam menatap mawar yang indah itu.

Mily yang melihat ekspresi caroline mengambil kesimpulan jika caroline suka oleh mawar.

"Kau menyukai mawar? Jika kau menyukai mawar ada satu tempat yang sangat banyak ditumbuhi oleh bunga mawar." Seru mily. Caroline yang awal nya menatap ke arah bunga mawar langsung menatap ke arah mily.

"Aku, tidak suka mawar mily." Seru caroline sendu. Bukan tanpa alasan dia tidak menyukai mawar, bagi nya mawar itu merupakan salah satu bunga yang mengingat kan nya dengan kenangan yang sangat menyakitkan.

"Kau kira aku percaya, Carol? Dari tatapan mu saja sudah terlihat kau sangat menyukai mawar." Ejek mily. Caroline hanya mendengus kesal dan melirik mily tajam.

"Mungkin jika kau tanya dulu? Iya aku suka mawar, namun sekarang aku sangat benci dengan mawar." Seru caroline. Mily yang mendengar hal itu hanya bungkam tidak berani bertanya lebih lanjut.

"Baiklah-baiklah, maafkan aku oke." Mily berujar yang hanya di balas anggukkan oleh caroline.

"Ayo Carol, aku bawa kau keluar dari hutan ini!.. Hutan ini bukan tempat yang bagus untuk mu." Ajak mily. Caroline tanpa protes hanya mengikuti elf kecil yang terbang didepan nya itu.

Diperjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan, hanya caroline dengan segala keinginan tahu nya yang tinggi selalu bertanya ini itu kepada mily. Dan mily yang berusaha sabar menjawab semua pertanyaan random milik caroline tersebut dengan menahan kesal setengah mati.

"Wah jadi mawar hitam itu memang beneran ada? Gila ini sangat fantastis." Ucap caroline.

"Mawar hitam itu memang ada, hanya saja tidak semua orang dapat menanam nya." Mily berusaha menjelaskan nya kepada caroline.

"Kenapa begitu??..Bukannya hanya sebuah mawar?" Seru caroline heran. Mily hanya menggeleng tidak percaya bahwa caroline ini sangat-sangat cerewet.

"Karna mawar hitam itu berbahaya Carol, sudahlah hentikan semua pertanyaan pertanyaan aneh mu itu aku lelah menjelaskan nya." Caroline pun menurut, ia diam saja hingga mereka sampai di luar hutan yang mungkin merupakan perbatasan untuk jalan keluar.

"Aku hanya bisa mengantarkan mu sampai disini, setelah ini kau harus sendiri Carol!" Aku tidak tahu kau berasal dari mana, tapi yang ku yakini kau itu pasti lah manusia biasa." Seru mily. Caroline berdecak kesal.

"Hei, jadi jika aku bukan manusia lalu apa ha?..Kau kira aku ini makhluk jelmaan setan." Sarkas caroline.

Mily menyeritkan dahinya, bingung dengan kalimat aneh yang caroline sebut tadi.

"Setan?" Apa itu setan? Apa sejenis makhluk seperti kami?" Tanya mily penasaran. Caroline tertawa didalam hati dan berniat untuk mengerjai mily.

"Bukan!!.. Setan bukan seperti kau, setan itu seperti.." mily menunggu kelanjutan yang akan caroline katakan dengan sangat sangat penasaran.

"Setan itu seperti demon, hahahaha." Lawak caroline yang dibalas mendelik oleh mily.

"Jaga perkataan mu Caro!" Tidak sembarang orang boleh mengatakan kata itu." Seru mily takut. Caroline menghentikan tawanya lalu berkerut bingung.

"Kata apa? Demon?" Ulang caroline kembali yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari mily.

"Ya kata itu, jangan pernah kau sebutkan lagi!" Perintah mily dengan nada serius. Caroline yang hendak bertanya alasannya pun mengurungkan niatnya nya.

"Baiklah-baiklah, akan aku ingat." Ucap caroline.

"Sudah pergilah kau ke arah timur Carol!!..Disana kau akan menemukan pedesaan yang mungkin kau ingin cari." Ujar mily.

Caroline menatap elf itu dalam dalam, dan menghembuskan nafas nya pelan.

"Terimakasih mily, dan apakah kita dapat bertemu lagi?" Tanya caroline. Mily yang melihat ada gurat kesedihan di mata caroline hanya tersenyum.

"Mungkin suatu hari nanti Carol, berhati hati lah kau kedepannya dan jangan gegabah!" Saran mily berikan kepada caroline.

Caroline hanya mengangguk, dan berusaha kuat dengan kenyataan bahwa dia tidak berada di dunia asli nya.

"Kalau begitu sayonara mily, aku akan merindukan." Ucap caroline tulus. Mily yang kembali mendengar kalimat aneh tidak dapat banyak berkomentar, jika dipikir pikir ia akan ikutan aneh jika terlalu memikirkan setiap kalimat aneh yang selalu caroline ucapkan.

"Baiklah, sayonara juga Carol." Balas mily yang juga mengikuti kalimat Caroline. Caroline tersenyum dan mulai berjalan ke arah timur meninggalkan mily, batin nya menjerit takut akan di makan monster namun dia berusaha menepis semua pemikiran buruk itu dan terus berjalan.

†★†

Lelah pun sudah di rasakan oleh caroline, ia memutuskan untuk duduk dibawah pohon yang agak rindang itu sambil memegang perut nya yang dari tadi berbunyi seperti kodok minta hujan.

"Ah tau begini aku tadi seharusnya minta makan dulu sama mily, lihat lah sekarang aku seperti orang miskin yang kelaparan." Gerutu caroline.

"Kau lapar nona?" Caroline yang mendengar suara seseorang pun langsung mendongak dan mendapati seorang pria yang berkulit eksotis dengan tatapan yang lembut dan jangan lupak dimple nya yang sangat menarik itu.

"Wah tampan." Batin caroline terpana. Pria itu yang melihat carol menatap nya dengan tatapan memuji hanya bisa tersenyum manis dan tertawa pelan.

"Nona aku tahu aku tampan, tapi jujur tatapan mu membuat aku risih." Ujar pria tersebut yang berhasil menyadarkan caroline.

"Astaga caroline kau sungguh memalukan, sangat sangat memalukan." Ucap nya dalam hati dengan perasaan yang malu.

"E-eh ma-maaf tuan, aku hanya merasa kau ini sangat manis." Ucap caroline dengan gugup namun masih terdapat kejujuran didalamnya.

Pria tersebut hanya tersenyum dan mulai ikut duduk di depan Carol yang masih menatap nya.

"Kau sangat jujur nona, dan karna kejujuran mu itu ini ambillah makanan yang aku punya!! Bukankah kau kelaparan?" Seru pria tersebut.

Caroline berbinar melihat makanan yang berada di dalam kantung milik pria tersebut.

"Wah terimakasih, memang benar rejeki tidak akan kemana hehe." Ucap caroline tanpa malu langsung mengambil kantung yang berada ditangan pria tersebut dan membuka nya.

"Haha kau benar-benar tidak bisa berbasa-basi ya nona? Baiklah selamat makan nona dan terus lah berhati hati!!.. Selamat tinggal." Ucap pria tersebut berdiri meninggalkan caroline yang masih mengiler melihat makanan yang ia punya.

"Eh?" Pria manis terimakasih makanannya." Teriak caroline yang melihat pria tersebut sudah tampak agak jauh.

"Hehehe makanan gratis, ya tuhan apakah ini karna aku adalah anak yang berbakti?" Ucap caroline bahagia lalu mulai memakan makanan tersebut.

Ketika sedang asik menikmati makanan nya, sesuatu jatuh dari atas kepala nya. Caroline pun melihat nya dengan serius lalu menyadari sesuatu.

"Astaga ular!!!!!" Teriak caroline panik. Caroline sudah berjalan menjauhi ular tersebut yang tampak tidak sama sekali menunjukkan tanda-tanda akan menyerang.

Caroline menatap ular itu dengan hati hati, namun entah kenapa ada sedikit rasa kasihan nya melihat ular tersebut yang tampak tidak berdaya itu. Dengan perlahan ia pun mendekat dan mengambil ranting kayu untuk melihat pergerakan ular tersebut.

Dengan hati hati ia mencolek tubub ular tersebut dengan ranting kayu yang ia pegang, namun lagi lagi tidak menimbulkan pergerakan apa apa.

"Apa ular itu mati karna terjatuh dari pohon?" Pikir caroline. Akhirnya dengan keberanian setipis tisu dibagi dua caroline berjalan mendekati ular itu dan mulai memperhatikan nya dengan seksama.

"Astaga ular ini terluka, pantas saja dia tidak bergerak." Ujar caroline melihat luka ditubuh ular tersebut.

Caroline yang tidak sampai hati pun berusaha memegang ular itu walaupun sebenarnya ia takut. Hei tidak ada orang waras yang ingin menolong ular, hanya caroline orang yang tidak waras yang melakukan itu.

Caroline membalik badan ular yang lumayan berat itu agar dapat melihat luka nya dengan jelas. Dengan sedikit ilmu pengetahuan obat obatan tradisional yang diajarkan kakek nya, caroline pun mulai mencari kira nya daun yang dapat membuat luka itu tertutup. Setelah mendapatkan nya ia pun kembali dan langsung mengeksekusi obat tersebut dengan alat seadanya.

"Hei dengar ular!" Aku ini orang baik, jadi jangan menyakiti ku!!..ingat itu!" Seru caroline kepada ular yang tidak bergerak itu.

Caroline mengoleskan obat yang telah ia buat tadi ke tubuh ular tersebut dengan perlahan, lalu ia balut dengan kain yang ia koyak dari pakaian nya. Caroline membalut luka itu dengan sangat rapi dan baik, ia tersenyum senang melihat hasil kerjanya.

"Baiklah selesai, cepat sembuh ular kecil." Ujar caroline. Caroline pun beranjak dan merapikan bekas makan milik nya, terkadang ia berbalik menatap ke arah ular yang berwarna hitam itu untuk memastikan keadaan nya.

Setelah selesai merapikan bekas makanya, caroline pun kembali berjalan untuk mendapatkan pedesaan yang mily pernah bilang ke dia. Ia terus berjalan dan merenungkan apa yang akan ia buat di dunia ini, dia sebenarnya sangat lelah ingin rasanya pulang atau tidak bertemu tempat tidur saja sudah cukup bagus untuk istirahat.

Dalam perjalanan nya tanpa sengaja caroline bertemu dengan dua orang yang tampak seperti warga desa, dengan perasaan gembira caroline pun mendekat dan mulai menceritakan sedikit karangan dia sendiri agar warga desa tersebut mau menolong nya.

"Kesian sekali kau gadis kecil, mari ikut lah kami pulang!" Kebetulan dirumah kami memiliki anak perempuan, mungkin dia akan suka melihat kau karna ia tidak memiliki teman." Ujar wanita tua tersebut dengan lembut.

"Iya benar, ikut lah dengan kami." Caroline pun menatap ke arah pria tua dan wanita tua yang dengan berbesar hati mau menerima nya. Dengan rasa yang senang caroline pun mengiyakan dan ikut pulang bersama pria dan wanita tua itu.

"Syukur lah aku bertemu orang baik, aku jadi rindu mama." Ucap caroline dalam hati.

"Kira kira mama bakal kecarian gak ya?" Pikir caroline kembali. Selama perjalanan banyak yang dikatakan wanita tua itu yang mampu membuat caroline sedikit nyaman, sedangkan pria tua itu hanya ikut berbicara sesekali saja.

Setelah mereka masuk ke pedesaan, caroline menatap takjub melihat ramai nya orang yang berlalu lalang, ini seperti pekanan sabtu yang berada dirumahnya. Tangan caroline dipegang oleh wanita tua itu agak caroline tidak tersesat lagi.

Dalam rasa takjub nya, mata caroline tanpa sengaja melihat bangunan tua yang amat jauh dari pedesaan. Bangunan tua itu seperti berada di bukit yang sangat jauh namun masih dapat dilihat oleh mata, caroline memperhatikan bangunan tua itu dengan seksama walaupun yang terlihat tidak lah terlalu jelas.

"Bangunan apa itu?" Seperti kastil, tapi kastil siapa?" Batin caroline menatap bangunan yang ia yakini kastil itu dengan seksama.

Jika dipikir pikir kembali dunia ini benar benar aneh, namun caroline tidak dapat berbuat banyak ia hanya bisa berusaha untuk tetap hidup dan menemukan jalan untuk kembali ke dunia nya, walaupun sebenarnya ia juga penasaran dengan dunia ini.

"Hah ya tuhan aku merasa seperti sudah memasuki dunia fantasi milik Ara." Ucap caroline kembali dalam hati.

Bersambung...

[On going]

BOOK STORY FANTASI 1

Terpopuler

Comments

Graziela Lima

Graziela Lima

Tidak terduga

2023-07-25

0

Mochiiz!

Mochiiz!

Gak kuat nahan tawa

2023-07-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!