...“Pernahkah kalian mendengar pepatah yang mengatakan bahwa penyesalan selalu datang di akhir?”...
...†★†...
Kepergian caroline menjadi angin segar untuk lady carlis, namun beda hal nya dengan beberapa pelayan yang merasa sedih akan kepergian caroline. Caroline adalah matahari di dalam suram nya kastil milik Lucifer, dengan senyuman dan sifat tingkahnya yang sangat menghibur berhasil membuat beberapa pelayan merasa suasana kastil sangat hidup jika ada caroline didalam nya.
Tetapi kali ini matahari itu sudah pergi, tidak tahu kemana. Sudah tidak ada lagi senyuman dan keceriaan milik caroline, bukan kah itu seperti sesuatu yang hilang?
Putaran waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa sangat Surya telah berganti dengan dengan sang bulan. Gelap nya malam sebagai saksi biksu bagaimana kesepian nya seorang Lucifer. Ya benar, Lucifer merasakan kesepian.
Dengan pandangan yang kosong Lucifer menatap ke arah luar melalui jendela besar di kamar nya, ia menatap ke arah bulan yang perlahan tertutup dengan awan hitam.
Kosong dan hampa itulah yang Lucifer rasakan, ia tahu persis penyebab kekosongan ini, namun perlu kalian ingat Lucifer adalah salah satu makhluk yang memiliki tingkah gengsi dan egois yang kelebihan batas.
"Hormat pada penguasa arsenik." Seru seseorang pria yang muncul dari belakang Lucifer. Lucifer hanya diam mengabaikan penghormatan pria itu.
"Mohon maaf yang mulia jika saya mengganggu malam anda, namun seperti nya anggota alpha vernod akan segera kembali ke daerah nya."
Lucifer menghembuskan nafas nya dan berbalik. Argon yang melihat tatapan tajam Lucifer aja menunduk seakan tahu bahwa mood tuan nya ini sangat sangat jauh dikatakan baik.
"Mereka benar benar menyusahkan." Ucap Lucifer dingin dan beranjak pergi untuk mengantarkan kepulangan kawanan serigala licik itu.
Vernod dan beberapa orang penting nya terlihat sudah bersiap. Netra nya yang hijau mengedar seakan mencari seseorang yang sedari tadi tidak ia temukan. Dari kejauhan vernod melihat Lucifer berjalan mendekati nya dengan tatapan dingin.
"Kenapa harus malam malam begini kalian perginya, kenapa tidak besok pagi saja?" Ucap Lucifer berbasa-basi.
Vernod tersenyum miring, "kau lupa yang mulia, kami adalah serigala dan serigala adalah pemangsa yang baik ketika di malam hari."
Lucifer hanya menatap datar ke arah vernod. "Kalau begitu aku tidak bisa melarang mu! Berhati hatilah, terkadang seekor serigala juga dapat masuk ke perangkap jika dia bersifat ceroboh." Sarkas Lucifer.
"Ah kau terlalu menghawatirkan ku yang mulia.." Lucifer menatap tidak suka ke arah vernod yang ia rasa sangat terlalu pede itu.
"Ngomong ngomong dimana pelayan anda, saya tidak melihat nya? Padahal saya juga ingin berpamitan kepada perempuan cantik itu." Jangan tanya bagaimana wajah Lucifer sekarang, jika saja api dapat menyala mungkin sekarang kita dapat melihat api keluar dari kepalanya.
"Dia tidak sepenting itu!" Tegas Lucifer. Vernod hanya tersenyum miring dan berjalan mendekat.
"Aku dengar kau mengusir nya, apakah benar yang mulia?" Tanya vernod dengan wajah tengil nya.
"Bukan urusanmu!" Ucap Lucifer berusaha menahan amarahnya.
"Ck ck ck, ternyata seorang dark angel seperti mu ini sangat bodoh ya!"
"JAGA MULUTMU SIALAN!" Bentak Lucifer dengan mata nya yang mulai berkilat merah kehitaman.
"Kenapa? Kau tidak terima dibilang bodoh yang mulia? Tapi maaf saya tidak akan menarik perkataan saya karna anda memang bodoh!" Ucap vernod tanpa ada rasa takut.
"Maaf tuan vernod lebih baik jangan mengatakan hal yang tidak tidak! Saya takut yang mulia akan.."
"Kenapa Argon? Kenapa aku harus berhenti? Aku memang tidak terlalu suka dengan raja mu ini kau tahu itu kan? Tapi setidaknya aku tidak sebodoh seperti raja mu ini?" Vernod dengan tegas memotong perkataan Argon.
"Lucifer kau terlalu bodoh dan tidak cocok menjadi seorang dark angel!"
Lanjut vernod lagi.
"DIAM! KUBILANG DIAM! DASAR KAU SIALAN!" Dengan kemarahan yang sudah menguap Lucifer memukul wajah vernod hingga vernod terpental, Argon panik berusaha menahan Lucifer sedangkan kawanan vernod bergegas membantu vernod.
"Hahaha, ini lah yang aku maksud bodoh!" Ucap vernod.
'cuih' vernod mengeluarkan darah yang keluar akibat ujung bibirnya yang koyak.
"Lucifer seharusnya kau sadar dan lebih bersikap layaknya seorang raja, mengusir seseorang gadis hanya karna ketidaktahuan mu sungguh hal yang bodoh! Tidak ada kah niat mu untuk mencari bukti yang sebenarnya? Ck ck ck, kau benar benar kehilangan kali ini Lucifer, dan kau tahu? Aku senang melihat mu seperti ini! Hahahaha.."
Setelah mengatakan hal itu vernod dan kawanan nya pun pergi meninggalkan kastil milik Lucifer, tersisa lah hanya Lucifer yang masih berusaha menetralkan amarah nya serta Argon yang selalu setia di samping nya.
Lucifer berbalik dan berjalan cepat, Argon yang merasa Lucifer butuh waktu sendiri hanya diam dan membiarkan nya.
Berjalan dengan tegas dan raut wajah yang gelap membuat siapa saja yang melihat nya pasti merasakan aura hitam yang sangat pekat.
Tanpa ia sadari langkah nya membawa nya ke arah taman di belakang kastil miliknya. Lucifer diam dan merenung disana, apakah benar dia bodoh karena terlalu cepat mengambil keputusan mengusir Caroline dari kastil? Tapi aku adalah raja dan aku berhak mengusir siapa saja yang aku inginkan? Bagaimana Caroline sekarang apakah dia masih berada di kastil ini?
Ya itu lah pemikiran pemikiran Lucifer yang berkecamuk menjadi satu, sedang asik merenung Lucifer menangkap seseorang yang berjalan mendekat ke arah salah satu pohon yang tidak jauh dari tempat ia berada.
Dengan tanggap Lucifer menyamar kan dirinya menjadi tidak terlihat, yang mana merupakan salah satu kekuatan dari sang dark angel.
"Apa dia sudah di usir oleh raja kejam itu?" Terdengar suara pria menyapa gendang telinga Lucifer.
"Tenang saja breno, penghalang kita sudah pergi entah kemana. Ternyata membohongi sang Lucifer sangat lah mudah."
"Bagus carlis, sekarang lanjutkan rencana yang sudah aku susun! Ingat, kau harus bisa membunuh Lucifer jika ingin bersama ku!" Tegas breno namun dengan nada manipulasi andalan nya.
Tangan Lucifer tergenggam erat, urat tangan nya terlihat serta wajah Lucifer mulai memerah menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Ingin rasa nya Lucifer membunuh dua orang yang berada di hadapannya namun ia berusaha mengendalikan emosi nya untuk mengetahui lebih lanjut rencana busuk tunangan dan pria yang ia tahu bernama breno itu.
"Tentu, aku hanya milik mu breno! Hanya milikmu.!" Ucap carlis dan ciuman mereka pun tak dapat dihindari. Lucifer merasa jijik dengan dirinya sendiri yang juga pernah mencium bibir wanita murahan seperti carlis.
Takut hilang kendali Lucifer pun mulai beranjak dari tempatnya.
Langkah nya yang tegas membawanya ke ruang pribadi miliknya nya seorang.
"ARGON!!" Teriak Lucifer dengan emosi yang tersulut sulut. Sekejap mata Argon mulai berdiri di samping Lucifer dan menunduk hormat. Dapat ia rasakan ruangan yang sudah dingin menjadi lebih dingin lagi karna aura yang Lucifer pancarkan.
"Ini tidak baik!" Batin Argon dalam hatinya.
"Yang mulia memanggil hamba?" Ucap Argon hormat.
"Carlis sudah berkhianat, cari bukti penghianatan nya dan penjarakan dia di ruang bawah kastil!" Seru Lucifer dengan nada dingin dan tatapan yang sangat tajam. Em sangat menakutkan.
"Ber berkhianat? Ta tapi apakah anda tidak salah yang mu.."
"Kau ingin membantah ku?" Tanya Lucifer dengan menghadap ke arah Argon. Argon langsung kalut dan menunduk.
"Maaf yang mulia, akan saya kerjakan." Jawab Argon.
"Dan satu lagi, panggil Caroline kemari untuk menjumpai ku." Ucap Lucifer kembali.
"Maaf yang mulia, anda sudah mengusir nona Carol dari kastil. Seharusnya dia sudah pergi dari ta.."
"AKU TIDAK PERDULI, CARI DIA! TEMUKAN DAN BAWA KEHADAPAN KU!" Teriak Lucifer dengan emosi yang tak tertahankan. Entah lah emosi karna penghianatan lady carlis atau penyesalan yang ia rasakan karna tidak percaya dengan perkataan Caroline. Sangat sulit di mengerti.
"Baik yang mulia akan saya kerjakan." Jawab Argon kembali dan menghilang.
"Dia tidak mungkin jauh dari sini, iyakan?" Lirih Lucifer.
"Aghhhhhhh aku akan membunuhmu carlis, kau membuat ku kehilangan orang yang penting, sialan!" Frustasi Lucifer.
Di tempat lain, terlihat seorang gadis dengan gumpalan kain di tangan nya berjalan' menyelusuri jalan setapak demi setapak dengan pikiran yang gamang.
"Huh untuk apa Carol kau memikirkan raja tengik itu? Dia sudah bahagia dengan tunangan kerdil nya itu, sekarang seharusnya aku berpikir dimana aku harus tinggal."
"Hueee mama nasib anak mu ironis sekali."
Ya gadis tersebut tak lain adalah Caroline. Dengan perasaan ngedumel iya berusaha tegar menghadapi permasalahan yang bikin mood nya naik turun layak nya rollercoaster.
"Lucifer sialan, bangsat, aghh untung ganteng kalau enggak udah ku jadikan rendang."
"Wah siapa ini? Sangat berani menjelekkan penguasa arsenik?"
Caroline celingak-celinguk mencari sumber suara. "Ada suara tidak ada orang, mampus jangan jangan setan lagi?" Gidik Caroline.
"Hei gadis kecil, lancang sekali kamu mengatakan saya salah satu pengikut orang yang kau sumpahi itu ha?"
"Aku diatas pohon sini, lihat lah!" Caroline mengikuti perintah suara itu untuk melihat ke atas pohon dan damn, siapa itu tampan sekali pikir Caroline. Menggunakan jubah berwarna putih ke silveran dan jangan lupakan wajah tampan dan mata tajam seperti Lucifer. Eh eh tapi mata Lucifer lebih tajam ngomong ngomong.
"Tampan, siapa namamu?" Tanya Caroline yang terpesona dengan ketampanan yang berada di hadapannya. Jiwa pencinta orang orang handsome mulai terlihat dari mata Caroline.
"Haha benarkah aku tampan? Kalau begitu tampan nan aku atau orang yang sumpahi tadi hem?" Tanya pria tersebut.
"Siapa Lucifer? Ya kau memang tampan tapi Lucifer lebih tampan sorry ye.."
Alis pria tersebut mengkerut kebingungan.
"Apakah mata mu bermasalah gadis kecil, jelas aku yang lebih tampan.!" Seru pria tersebut.
Caroline menggeleng. "No no no, tidak tidak tidak. Aku akui kau juga tampan tapi ketampanan mu berbeda dengan Lucifer. Kau lebih ke pria pria yang good boy ha ya seperti itu, jika Lucifer dia terlihat sangat bad, sangat sangat bad boy." Jelas Caroline.
Pria tersebut tidak mengerti dengan bahasa aneh yang kadang Caroline keluarkan. Apakah gadis kecil ini gila? Itulah yang berada dipikiran nya saat ini.
"Baiklah, siapa namamu gadis kecil?" Tanya pria itu.
"Caroline, nama ku Caroline! Panggil saja Carol atau oline pun boleh."
"Salam kenal oline, aku krikey! Senang bertemu dengan mu."
"Oh hay krikey, senang juga bertemu dengan mu."
"Kau ingin kemana membawa semua buntelan itu?" Tanya krikey melihat ke buntelan yang Caroline pegang.
"Oh aku mencari tempat tinggal, bisa kau membantu ku key?"
"Key?" Caroline tersenyum cerah.
"Iya, aku panggil key aja ya biar gampang hehe." Krikey memutar mata nya malas, namun tetap ia biarkan Caroline memanggil nya seperti itu.
"Kau ingin tempat tinggal? Ikut aku saja bagaimana?" Ajak krikey.
"Ha seriusan?" Kejut Caroline. Krikey mengangguk.
"Apa wajah ku terlihat bercanda?" Tanya krikey. Caroline melihat dalam wajah krikey dan tersenyum cengengesan.
"Oke aku mau.!" Jawab Caroline mantap. Bukan karna menerima asal, sudah Caroline pertimbangkan dengan matang apa lagi melihat pakaian yang digunakan krikey pasti mahal. Setidak nya hidup Caroline terjamin.
Krikey tersenyum tipis. Dengan tangkas ia lompat dari atas pohon dan mengambil buntelan yang Caroline pegang.
"Pegang tangan ku!" Seru krikey mengulurkan tangan kanannya. Tanpa ragu Caroline membalas pegangan itu.
"Pegangan yang erat, karna mungkin kau akan sedikit pusing."
Caroline menyerit keheranan. Namun sesaat itu jantung nya serasa ingin berhenti. Bagiamana tidak, krikey membawa nya terbang ke atas. Caroline yang tak siap tentu saja sangat sik sak sok.
"Aghh kau tidak bilang akan terbang sialan!" Teriak Caroline.
"Sudah ku ingat kan bukan?" Jawab krikey tenang. Caroline menutup matanya takut tidak berani melihat kemana mana. Dapat Caroline rasakan badannya terbang melintasi awan awan yang lembut itu.
Krikey yang melihat wajah tertekan Caroline hanya bisa menahan tawa.
"Setalah ini apa yang akan kau lakukan Lucifer?" Ucap krikey dalam hatinya.
Penyesalan di akhir benar ada nya, bukti bukti yang Argon serahkan ke Lucifer tentang penghianatan lady carlis sangat lah akurat bahkan Argon sampai tidak percaya dengan apa yang ia bawa.
"Penjarakan lady carlis!" Ucap Lucifer dingin.
"Baik yang mulia."
"Bagiamana dengan Caroline? Sudah ada kabar?" Tanya Lucifer kembali dengan harapan hal baik yang akan Argon sampaikan.
"Maaf yang mulia, nona Carol tidak dapat di temukan dimana pun. Kamu sudah mencari namun tidak ada satu jejak pun milik nona Carol yang tertinggal." Lapor Argon.
Lucifer terdiam, dada nya sesak. Hati nya teremas. Begitu cepat kah Caroline meninggal kastil nya? Bukan kan itu hal yang sangat tidak mungkin? Lucifer sangat ingin melihat wajah ceria Caroline, saat ini hati nya benar benar hampa.
Lucifer sangat membenci perasaan seperti ini. Lucifer merasa ini bukan lah dia yang biasa nya, Caroline benar benar membuat nya setengah gila karna kehadiran gadis itu di sisi Lucifer. Sekarang benarkan Lucifer kehilangan sumber nafas nya?
...#bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments