Dikarenakan Anita berkali-kali dihubungi oleh Rara namun tak juga diangkat, akhirnya Rara memutuskan untuk pergi ke rumah kontrakan Anita. Rara berencana mengajak Anita jalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk sekedar melepas penat.
Sejak Rara tak bekerja lagi di kantor dan tinggal di rumah ibu mertuanya, dirinya jarang keluar rumah. Baik untuk jalan-jalan maupun sekedar berbelanja. Tabungannya juga sudah sangat tipis. Terlebih kemarin Sisy memelas padanya, meminta uangnya guna membayar biaya buku kuliah senilai lima juta rupiah.
Sisy memang dikuliahkan oleh suaminya di perguruan tinggi swasta yang cukup mahal di Jakarta. Rara cukup paham berapa biaya berkuliah di sana. Namun yang ia bingung, jika ia mengadukan pada suaminya, Pram hanya membiarkan saja.
Dan Pram berjanji nanti akan mengganti uang Rara. Namun tak kunjung dilunasi oleh Pram. Walaupun sudah tiba waktunya gajian. Dan Rara terkadang juga sudah melupakan akan hal tersebut. Dan malas menagih.
Rara pikir tabungannya juga bisa digunakan oleh suami, mertua dan adik iparnya itu. Karena Rara tulus menyayangi mereka. Walaupun ia selalu mendapat tatapan sinis dari Mama Dian karena belum kunjung hamil, Rara berusaha untuk tetap bersabar.
Ceklek...
Derit pintu kamar Rara terbuka, ia melihat sang ibu mertuanya tengah duduk di depan televisi di ruang keluarga.
Saat Rara akan membuka mulutnya untuk meminta izin, sudah terpotong terlebih dahulu dari suara sang ibu mertua.
"Mau ke mana kamu malam-malam begini?" tanya Mama Dian menatap tajam menantunya.
"Rara mau izin Mah, pergi ke rumah Anita. Dia sahabat Rara di kantor dulu," cicit Rara dengan sopan.
"Apa kamu enggak lihat di dapur banyak piring kotor dan tumpukan cucian baju di belakang. Cepat bersihkan itu semua! Mama gak suka lihat rumah berantakan begitu. Apalagi besok ada arisan di rumah Mama. Malu kan dilihat tetangga, rumah seperti kandang tikus tak terurus!" pekik Mama Dian.
"Besok pagi-pagi sekali, Rara akan bangun untuk bereskan itu semua ya Mah. Malam ini tolong biarkan Rara pergi sama Anita," pinta Rara memohon.
"Kamu sudah berani ngebantah perintah Mama! Kamu itu di sini cuma numpang hidup sama Pram. Jadi tolong kamu jaga sikapmu dan sopan dengan orang tua!" bentak Mama Dian.
"Tapi Mah_" cicit Rara terpotong.
"Cepat ganti baju sana! Alesan saja kamu jalan sama teman. Jangan-jangan kamu ada main sama laki-laki lain. Apalagi Pram sedang keluar kota seperti ini," sindir Mama Dian dengan pedasnya.
Jlebb...
Hati Rara langsung tertohok dan mencelos mendengar tuduhan ibu mertuanya itu terhadapnya. Akhirnya Rara mengalah dan tak jadi keluar rumah. Ia tak ingin membuat keributan di rumah mertuanya.
Rara masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia menangis tersedu-sedu di sudut kamarnya. Ia terduduk di lantai dan menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya.
"Mas Pram aku rindu kamu," batin Rara sendu.
☘️☘️
Setelah beberapa saat menangis, Rara pun bangkit dan menghapus air matanya. Ia masuk ke dalam kamar mandi pribadinya yang ada di dalam kamar lantas mencuci muka.
Rara pun bergegas berganti pakaian dengan daster rumahannya lalu membersihkan dapur serta mencuci pakaian dan sprei kotor yang jumlahnya cukup banyak.
"Semangat, Rara. Itung-itung membakar kalori," batin Rara menyemangati dirinya sendiri untuk segera mengerjakan tugas dari ibu mertuanya.
Mama Dian pun mengawasi terus pergerakan Rara di dapur maupun area belakang rumahnya.
"Dasar menantu bo-doh. Mau saja jadi ba-bu di sini," batin Mama Dian menampilkan senyum smirknya.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Mama Dian berpamitan pada Rara.
"Malam ini harus selesai semuanya. Dan besok pagi saat Mama bangun, jika ada yang belum selesai atau salah, kamu akan Mama hukum. Paham kamu, Ra!" pekik Mama Dian.
"Iya, Mah."
Rara hanya bisa menunduk dan mengiyakan tanpa banyak membantah. Sebab ini bukan rumahnya yang bisa seenak jidatnya. Tentunya ibu mertuanya itu lebih berkuasa.
Mama Dian pun tak lama bergegas masuk ke kamar dan beristirahat malam. Sedangkan Rara masih berkutat dengan setumpuk tugas negara di rumah sang mertua hingga jam menunjukkan pukul satu dini hari.
"Fiuh..."
"Lega rasanya. Lumayan berkeringat banyak. Semoga bisa nurunin berat badanku yang sudah gendut ini. Ya ampun suntik hormon kenapa malah jadi begini badanku. Pantes Mas Pram males nyentuh aku. Sudah hampir empat bulan ini dia enggak nyentuh aku. Padahal dulu biasanya hampir tiap malam dia selalu minta jatah. Kalau enggak dikasih bakal ngambek. Huft!" keluh Rara seraya melihat lekuk tubuhnya di cermin kamarnya.
Sedangkan di tempat lain, sepasang manusia berbeda gender tengah mengeluarkan keringat juga dengan sangat deras seperti halnya Rara yang juga berkeringat.
Akan tetapi bedanya Rara bekerja sendirian untuk mengeluarkan keringat, sedangkan sepasang manusia di sana saling bekerja sama berbagi keringat.
"Eugh... honey,"
"Yeah, Mas..."
"Kamu sungguh nikmat,"
Akhirnya keduanya menjerit bersama seiring peleeepasan yang terjadi untuk ke sekian kalinya.
"Kamu selalu perkasa, honey. I like it," bisik mesra sang wanita.
"Hem..."
"Lebih besar punyaku atau dia?" tanya sang lelaki dengan nada manja sambil memeluk tubuh polos wanita di sampingnya.
"Pastinya kamu, honey. It's Big..." cicit sang wanita seraya menggenggam sesuatu di bawah yang baru saja membuatnya keenakan terbang ke angkasa.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
kayaknya nih sama2 punya keluarga
2024-11-05
0
Ita Mariyanti
sahabat bang*at ki Anita
2024-10-19
1
¢ᖱ'D⃤ ̐🔵⏤͟͟͞R𝔞shqι🐬𝐀⃝🥀
Nah Loh Pram. Kasian Rara Ditusuk dari Belakang sama Sahabatnya
2024-10-04
1