"Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang? Apa satpam itu sudah menanggung semua hasil perbuatannya?" tanya Yumna lagi.
"Tidak, mereka masih berkeliaran di luar sana. Biarlah nanti dia dihukum oleh takdirnya saja, entah di dunia ini atau di alam selanjutnya," kara Meyta pasrah.
"Lalu?" tanya Rey mulai tak sabar.
"Aku cuma ingin nama baikku, nama baik keluargaku. Supaya rumahku juga bisa segera terjual. Dulu aku tulang punggung keluarga setelah ayahku pergi meninggalkan kami terlebih dahulu. Tapi setelah kepergianku, tak ada lagi yang bisa mencukupi kebutuhan keluargaku. Ibuku sudah cukup tua, sedangkan adik-adikku masih membutuhkan biaya," tangis Meyta dengan menundukkan kepala.
"Tapi bagaimana caraku menjualnya? Dimana surat-surat kepemilikan rumahnya?" tanya Rey.
"Suratnya sempat aku gadaikan di bank Mayara. Tolong tebus, dan berikan pada ibuku. Bantu beliau untuk bisa menjualnya. Aku rela disuruh apa saja untuk menebus surat tanah itu, agar ibuku juga bisa memulai usaha yang tak memberatkannya di depan rumah di desa," mohon Meyta.
"Waduh, kalau nebus sertifikat rumah rasanya saya belum bisa bantu Mbak. Gimana ya? Ehmmm,....apa aku bantu modalin usaha kecil-kecilan saja? Semampu tabunganku?" Yumna memikirkan cara lain untuk bisa membantu Mifta.
"Besok antar aku menemui ibunya, lalu kita ke bank bersama," jawab Rey.
"Trus yang nebus? Kan aku gak ada uang banyak untuk itu?" sahut Yumna bingung.
"Kamu lupa kalau uang pak Bos buanyak?" celetuk Shema, yang membuat Yumna langsung memandang ke arah Rey.
Rey tersenyum penuh arti dan segera mengajak Yumna pulang.
"Trus, ini kan belum kelar beres-beresnya? Dari tadi cuma cerita aja kan?" tanya Shema.
"Mbak Meyta, siap kerja buat menebus sertifikat tanahnya?" sahut Rey menggeret Yumna menuju pintu keluar, setelah melempar kain lap yang tak sengaja menimpa wajah Jodi.
"Siap, Bos! Terimakasih," jawab Meyta tampak girang mendengar tawaran kilat Rey.
"Untung dia bos, kalau nggak? Huuhhh,... Dah ku godain sampai terkencing-kencing!" gerutu Jodi setelah Rey pergi.
Rey dan Yumna segera melaju pulang, meninggalkan rumah tua yang dijadikan tempat berkumpul para hantu.
"Rey, kamu serius?" tanya Yumna saat di perjalanan.
"Serius gimana?"
"Trus, aku kerja apa kalau Meyta juga di sana?" tanya Yumna menunduk, membayangkan nasibnya nanti.
"Kamu?"
"Iya, gimana?"
"Kerjamu sudah terlalu berat selama ini. Bukan hanya di restoran saja, tapi kamu juga selalu bekerja diluar jam kerja yang sebelumnya sudah ku tetapkan," jawab Rey masih fokus ke depan.
"Maksudnya?"
"Kamu lupa, kita selalu melakukan pekerjaan bersama? Menyelesaikan masalah para hantu, seperti ke desa Meyta besok sepulang sekolah?" tanya Rey mengingatkan.
"Trimakasih, Rey! Tak ku sangka ternyata kamu lebih baik dari pada kelihatannya," gumam Yumna lirih, memandang lekat ke arah Rey.
"Apa kamu bilang?"
"Tak apa, kita jalan pulang saja!" jawab Yumna sambil terus tersenyum sendiri karena mulai terkesan melihat sifat Rey yang sebenarnya.
****
Sepulang sekolah Rey sudah siap menjemput Yumna dengan mobil mewah keluarganya. Dia bermaksud memboyong keluarga Meyta untuk mengurusi rumah yang sudah lama ditinggalkan Meyta.
Rey juga sudah menghubungi pengacara keluarga sebelumnya. Dia membutuhkan bantuan untuk menuntaskan semua surat rumah kosong itu, agar bisa segera dibersihkan untuk ditawarkan.
"Tumben ganti mobil?" tanya Yumna saat melihat Rey berdiri membelakangi mobilnya.
"Ayo naik, tak usah banyak tanya!" sahut Rey memberi tanda.
"Yum, hari ini Brodi sudah boleh dijenguk katanya. Kamu mau ikut lagi nggak?" tanya Mifta mendekati Rey dan Yumna, sebelum mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Aduh, gimana ya?" sahut Yumna mulai tak enak.
"Mifta ini, gak lihat ada anak lagi pacaran. Ganggu aja, ayo berangkat. Tuh dah ditunggu yang lain," kata Agnes tersenyum menggoda.
"Apaan sih, kita gak pacaran lo. Tapi kita bener-bener minta maaf, karena gak bisa ikut ke sana. Ehmm.... Tolong sampaikan salamku saja pada Brodi ya," kata Yumna menangkupkan kedua tangannya di depan dada agar kedua temnnya bisa menerima alasan darinya.
"Ya deh, selamat kencan ya!" seru Agnes menggoda Yumna lagi sembari beranjak pergi.
"Iya, Yum. Makasih ya, katanya perkembangan Brodi semakin membaik," bisik Mifta meninggalkan mereka, sebelum dijawab oleh Yumna.
"Ayo, Rey!" ajak Yumna meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua mengantar Meyta menuju ke desanya. Sekitar dua jam perjalanan harus ditempuh dengan keadaan jalan yang tak ramai seperti hari ini.
Rey terus fokus menyetir, sedangkan Yumna masih memanfaatkan untuk tidur seperti biasa.
"Rey, apa kamu suka sama dia?" goda Meyta saat melihat Rey berulang kali melirik ke arah Yumna.
"Kenapa?" tanya Rey balik.
"Sudahlah, jujur saja kalau kamu memang suka! Katakan saja, sepertinya dia juga suka sama kamu," sahut Meyta sedikit menahan ketawa.
Rey hanya tersenyum mendengarnya. Dia masih terus melirik Yumna dengan rasa bergetar di dadanya. Tapi dia menikmati rasa itu. Karena ini baru pertama kalinya dia merasakannya, meski sudah beberapa kali berkencan dengan beberapa teman perempuannya dulu.
Tak terasa, perjalanan semakin dekat. Tinggal masuk ke dalam satu jalan lagi setelah berkelok di depan, sudah sampai di rumah tujuannya. Yumna terbangun oleh jalan yang mulai tidak rata karena masih berupa tanah dan bebatuan kecil.
"Huaaahhhmmm...... Belum sampai, Rey?" tanya Yumna merenggangkan tubuhnya.
"Sebentar lagi!" jawab Rey sambil terus fokus mengemudi, karena sudah tak bisa lagi melirik ke arah Yumna yang sudah terbangun.
"Nah, rumah yang di ujung itu. Yang catnya warna hijau," kata Meyta menunjuk sebuah rumah.
Mereka semua turun, dan mulau mengetuk pintu rumah yang temboknya sudah nampak perlu dicat ulang.
Setelah beberapa panggilan, keluarlah seorang ibu tua renta dengan jalan membungkuk. Beliau berjalan dengan bantuan kayu batang pohon sebagai tongkatnya.
"Mau mencari siapa, Nak?" tanya ramah ibu di depan mereka.
Meyta sudah mulai menangis melihat kondisi ibunya. Dia terduduk dan tak mampu berkata apa-apa lagi.
"Nama saya Yumna, dan ini Rey. Kami teman mbak Meyta, Bu. Apa kami boleh masuk?" jelas Yumna tak kalah ramah.
"Meyta? Hu... Hu.... Huuuu....., anakku itu kenapa bisa mengakhiri hidupnya seperti itu," tangis ibu tua itu mulai membuatnya lemas.
Rey dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai.
"Maaf, kita duduk di sini dulu ya, Bu!" ujar Yumna ikut menuntun ibu tua ke kursi bambu panjang yang ada di teras rumah itu.
Tak lama, keluarlah seorang anak laki-laki seumuran mereka berdua keluar rumah. Memakai celana yang di lipat sedikit ke atas, dan juga sedikit basah di ujungnya.
"Ada apa, Bu?" tanyanya.
Yumna menjelaskan pada anak tersebut, tentang tujuannya datang ke rumah itu. Dan menceritakan semua kejadian yang kenimpa Meyta hingga dia terpisah dari raganya.
Tak mudah membuat mereka percaya, tapi karena Yumna mengatakan akan membantu mengurusi penjualan rumah Meyta akhirnya mereka mengikuti kemauan Rey untuk mengajaknya.
Ibu Meyta sempat pingsan mendengar kejadian sebenarnya yang menimpa anaknya, tapi tak perlu waktu lama untuk bisa menyadarkannya dan membuatnya bisa mengikhlaskan semuanya.
"Baiklah, kita tunggu Adit sebentar ya. Oh iya, nama saya Handi," kata laki-laki yang mengaku sebagai adik Meyta.
Handi bercerita kalau dia putus sekolah, untuk mencari penyambung hidup keluarga setelah kematian Meyta. Sedangkan Adit, sepulang sekolah menjual tempe buatan kakaknya di setiap jalan desa.
Setelah perdebatan ringan, akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah di desa ini saja. Dan pindah untuk tinggal di rumah Meyta.
Karena akan lebih sulit menjual rumah yang dinyatakan angker selama bertahun-tahun. Selain itu, Handi juga ingin menyelidiki lebih jauh tentang pelaku pembunuhan kakaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Raihan Al Rasyid
gak enak punya gitu
tapi kalo emng ada dari lahir ya mau tak mau
2021-04-24
2
Dinlutfia Widiasih
butuh konsentrasi utk melihat mereka.
2021-04-09
1
Anisa Nadifa
enk sh bs liatt hantu bisa dimanfaatkan jagan sampe kita yg di manfaatkan jadi seru
2021-03-04
2