"Rey, mbaknya ngikutin kita?" tanya Yumna terus memandang ke belakang.
"Itu karena dari tadi kamu memperhatikan dia," jawab Rey.
"Trus gimana ini?"
"Sudah, abaikan saja!" jawab Rey cuek.
Mereka segera melaju pulang, untuk istirahat sejenak sebelum membuka restoran hantu nanti malam. Masih seperti biasa, Yumna menggunakan sejenak waktunya untuk belajar sebelum memejamkan mata.
Entah berapa lama dia tertidur di atas buku, tapi alarm sudah berbunyi tanda peringatan agar dirinya segera bangun.
"Hoaaahhmmm, sudah jam sepuluh malam? Padahal rasanya baru aja merem," gumam Yumna sendiri sambil beranjak ke kamar mandi.
"Makan dulu, Nak. Kamu pasti capek, ya? Nenek tak tega membangunkanmu tadi," kata nek Kip yang ternyata masih terbangun dengan merajut di atas kursi kesayangannya.
"Nenek belum tidur?"
Yumna jadi bingung saat neneknya masih terjaga saat malam tiba, karena itu bisa membuatnya susah untuk menyelinap pergi bekerja.
"Hooaahhhhmm....... Iya nenek ngantuk. Tadi nenek pikir mau membangunkanmu dulu untuk makan. Ternyata kamu sudah bangun sendiri, ya sudah nenek masuk kamar ya. Makanannya sudah nenek siapkan di lemari makan seperti biasa," kata nek Kip langsung membuat Yumna lega.
Sebelum masuk kamar mandi, tercium aroma bunga melati. Dan dia sudah yakin, pasti ini ada sesuatu yang tak beres di sekitarnya.
"Haaaiii.......," sebuah suara wanita nyaring dengan menampakkan dirinya, setelah Yumna membuka pintu kamar mandi rumahnya.
"Astaga! Kamu siapa? Bikin kaget aja!" seru Yumna sedikit terkejut.
"Namaku Meyta, aku cuma pengen bercerita," jawab sosok berbaju resmi dengan rok plisket dan blazer berwarna coklat muda, masih dengan wajah pucatnya seperti hantu pada umumnya.
"Waduh, aku harus segera berangkat kerja. Nanti saja ceritanya, nanti ikut aku ke restoran khusus sejenismu," jawab Yumna menyuruhnya keluar, agar dia bisa segera membersihkan diri sebelum Rey menjemputnya nanti.
"Restoran?" teriak Meyta di luar setelah Yumna menutup pintu kamar mandinya.
"Sssttt, jangan teriak-teriak. Nanti nenek bangun, malah aku gak bisa menyelinap pergi kerja," jawab Yumna membuka pintu itu lagi, dengan melongokkan kepalanya.
"Memang nenekmu bisa mendengarku?"
"Oh iya, aku suka lupa kalau kamu makhluk tak kasat mata," jawab Yumna menutup kembali pintunya, dan melanjutkan aktivitas di dalamnya.
Semua persiapan sudah dia lakukan sebelum menemui Ray di depan gang. Yumna juga sudah meletakkan guling, yang ditutup selimut di atas tempat tidurnya seperti biasa. Tak lupa berpamitan pada mbak Susi penunggu pohon nangka di samping rumahnya.
"Restorannya bagus nggak? Ada yang cakep juga nggak di sana nanti?" celoteh Meyta di sepanjang perjalanan Yumna menuju tempat biasa dia menunggu.
"Heemmmm.....," jawab Yumna singkat.
"Waahh, kayaknya gak salah aku ngikutin kamu tadi. Eh, tapi sebenarnya ada hal yang ingin ku ceritakan sama kamu. Ini tentang....," ucap Meyta terputus.
"Sssttt..... Nanti saja. Itu juragannya sudah datang!" seru Yumna meninggalkan Meyta, untuk menghampiri Rey.
"Waduh, ngikut juga kan tuh hantu!" gerutu Rey.
"He.... Iya nih. Katanya mau cerita, tapi ya sudahlah yang penting dia gak ganggu kerja, biar sekalian bantuin mbak Shema," seru Yumna melirik nakal ke arah Meyta.
"Boleh juga, biar Shema gak ngomel terus kalau kamu mau ku ajak pulang," sahut Rey ganti melirik Yumna.
Tak terasa, perjalanan sudah dilewati sampai mereka tiba di depan sebuah bangunan tua seperti biasa. Yumna dan Rey segera masuk ke dalamnya, sedangkan Meyta masih berdecak kagum melihatnya.
Meyta baru menyadari dan segera mengikuti masuk, saat tak nampak lagi kedua manusia di depannya.
"Hih, ninggalin aja. Keren juga tempat kerjamu? Kok bisa kamu manusia kerja di restoran khusus para makhluk tak kasat mata?" tanya Meyta masih memandang sekeliling ruangan.
Yumna menceritakan awal mula saat dia berada di tempat ini, sampai bisa bekerja bersama Rey. Termasuk tujuan awal Rey membuka restoran ini.
Banyak obrolan yang terjadi, sampai restoran dibuka untuk para pelanggan tak kasat mata. Tapi Meyta belum sempat menceritakan maksud dan tujuannya mengikuti Yumna.
Hari ini pekerjaan Yumna dan Shema sedikit terbantu oleh kehadiran Meyta, sampai waktu tutup pun tiba.
"Hadeehh, akhirnya mereka pulang juga," kata Yumna merentangkan kedua tangannya sembari mengambil kursi.
"Heh, kok kayaknya jadi aku yang bantuin kamu? Padahal sebenarnya tujuanku mengikuti karena aku yang ingin dibantu," sahut Meyta sambil ikut membereskan meja.
"Oh iya-ya? Sampai lupa aku, he....," sahut Yumna cengengesan.
"Memang kamu kenapa?" tanya Shema ikut penasaran.
"Aku mau minta tolong buat membersihkan nama baikku. Supaya rumahku juga bisa terjual untuk biaya sekolah adik-adikku di desa," Meyta memulai ceritanya.
"Okey, sekarang beralih jadi konsultan hantu nih kayaknya," sahut Rey menyindir Yumna, dengan ikut mendengarkan di sebelahnya.
"Bisa aja, Pak Bos. Dah ayo terusin lagi ceritanya," sahut Yumna.
"Lima tahun yang lalu, sepulang aku dari kantor tempatku bekerja, aku melewati pos satpam komplek seperti biasa, dengan diantar oleh kekasihku untuk pertama kalinya. Kalau tahu akan seperti ini, rasanya aku menyesal menyuruhnya mengantar malam itu," cerita Meyta mulai menampakkan wajah sedihnya.
"Memang kamu diapain sama pacarnya? Makanya, Mbak. Kalau pacaran itu jangan malam-malam, nanti diganggu setan kan?" sahut Yumna asal.
"Lhah, kalian sendiri juga tengah malam pacaran di sini. Diganggu banyak setan kan jadinya?" sahut Jodi ikut menghampiri.
"Kita nggak pacaran!" jawab Yumna bersamaan dengan Rey, yang membuat muka mereka berwarna merah.
"Tuh, kompak banget. Jodoh kayaknya! Udah, pacarin aja Rey eh.... Bos," Boni ikut berbicara sebentar sambil menembus tembok dapur seperti biasa.
"Apaan sih, ayo kita kembali ke cerita dia lagi!" seru Yumna mengalihkan pembicaraan.
"Bukan tentang pacarku, tapi karena kedua satpam itu," sahut Meyta lagi.
"Memang satpamnya kenapa?" tanya Shema.
"Ada salah satu satpam yang suka sama aku. Tapi aku tak suka dengannya, jadi ku tolak halus setiap kali dia mulai menunjukkan perasaannya padaku."
"Trus kenapa dengan satpamnya?" tanya Yumna.
"Aku cuma berusaha menunjukkan kalau aku punya kekasih, supaya satpam itu tak terus menerus menyatakan perasaannya. Jadi saat pertama kali aku meminta kekasihku untuk mengantarku malam itu, mungkin si satpam merasa sakit hati."
"Trus kamu diapain?" tanya Shema mulai tak sabar.
"Setelah kekasihku pulang, satpam itu datang menghampiriku. Aku sudah berusaha menolak saat dia masuk ke rumah karena sudah malam, tapi mulutku dibekap dengan cepat. Lalu aku diikat dan dilecehkan bersama temannya."
"Kurang ajar tuh satpam, masih hidup nggak?" sahut Jodi ikut kesal.
"Ehemm..... Awas kalau ikutan cari perhatian," ancam Shema pada Jodi yang duduk di sebelahnya.
"Sudah, kasian mbak Meyta. Silahkan lanjutkan ceritanya," kata Yumna.
"Kedua satpam itu mengangkat dan menggantung tubuhku setelah mengetahui kematianku akibat bekapannya yang terlalu kuat. Mereka mengikat leherku terlebih dahulu, jadi seolah-olah aku mati karena bunuh diri. Kemudian mereka menyebar isu tentang rumahku yang menjadi angker karena itu. Supaya tak ada yang menyelidiki kematianku lebih jauh lagi," cerita Meyta mulai meneteskan air mata di wajah cantiknya yang terlihat pucat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Kasihab mba Meyta,Dsar Satpam kelakuan nya Bejat banget,ayo Rey dan Yumna usut kematian mba Meyta biar bisa tenang😌😌
2024-05-13
1
@ Rickana🌹🌹🌹
makin kesini makin suka ceritanya,,jd inget hotel de luna 👍👍😘😘
2021-06-06
0
Mayda Pesecx
tsga bgt itu satpamnya
2021-04-11
1