"Kamu tuh jadi anak gak tegas banget ya! Mau sampai kapan kamu dikalahkan terus sama dia?" sahut Rey kesal memandang Yumna.
"Kalah? Siapa bilang aku kalah? Mengalah itu bukan berarti kalah. Tapi kita akan merasa menang saat bisa mengendalikan emosi yang tak terkendali," jawab Yumna semakin membuat Rey bangga.
"Hehh, ya sudah. Masuk sana!"
"Kamu juga harus bisa mengendalikan emosimu. Okey! Aku masuk dulu ya," kata Yumna sambil mengelus dada Rey untuk menenangkan hatinya, dan segera berlalu menuju ke kelasnya.
Tapi tanpa Yumna sadari, sebenarnya hal itu malah membuat desiran halus yang menggetarkan jantung hati Rey.
"Sadar, Rey. Sadar!!!! Gak mungkin aku suka sama gadis itu," gumam Rey sendiri dengan menepuk pipinya sendiri, dan masih menatap punggung Yumna yang semakin jauh meninggalkannya pergi.
"Bang, lagi ngapain? Kayaknya ada yang mulai grogi nih sama Yumna!" sahut Mifta yang tiba-tiba sudah berdiri mengamati Rey sedari tadi.
"Sssstttt, diam. Jangan ngomong sembarangan," jawab Rey segera masuk kembali ke mobilnya, dan menjauhi sekolah Yumna.
****
Tak terasa waktu pulang sekolah telah tiba. Rey sudah di depan gerbang, menjemput Yumna untuk mengantarkannya sesuai janjinya.
"Pulang cepet, Rey?" tanya Yumna membuka pintu mobil Rey.
"Nggak juga!" sahut Rey singkat seperti biasa.
"Ya sudah, ayo jalan saja!" kata Yumna menolak berdebat meski hatinya sudah mulai geregetan melihat Rey yang kembali dingin seperti itu.
Mereka berdua menyusuri jalan raya, menuju ke arah jalan seperti petunjuk peta dalam smartphone miliknya.
"Belok di depan itu kayaknya, tuh...tuh....ada tulisan Perumahan Lencana. Bener kan?" sahut Yumna membaca tulisan besar di gerbang masuk perumahan.
"Iya, bener!" jawab Rey mengikuti arah telunjuk Yumna.
Mereka terus melaju mencari jalan yang sudah disebut kemarin. Tapi baru sampai di Jalan Matahari, mereka berdua merasakan energi lain yang menarik perhatian.
Tepatnya saat mereka tiba di depan sebuah rumah kosong, yang sepertinya sudah lama tak di huni pemiliknya. Ada sosok berbaju seperti pegawai kantoran, dengan wajah pucatnya. Terlihat tatapan memohon pertolongan, yang tak bisa ditolak oleh Yumna.
Meskipun di sekitar tempat itu sebenarnya banyak berbagai bentuk makhluk penunggunya, tapi satu sosok itu yang terlihat serius meminta bantuan.
"Abaikan, fokus ke tujuan kita dulu!" perintah Rey yang tak dapat ditolak oleh Yumna.
Mereka berdua pun melanjutkan mencari nama jalan Mawar sebagai tujuan utamanya.
"Kanan, Rey. Itu tulisannya!" kata Yumna menunjuk sebuat nama jalan, yang hampir tak terlihat jelas karena banyak huruf yang terkelupas.
Tanpa banyak bicara, Rey mengikuti arah petunjuk Yumna dan segera mencari nomor rumah yang dicari.
"Itu nomornya, benar kan?" tanya Yumna lagi untuk memastikan ingatannya.
"Iya, ku parkir di bawah pohon kersen itu saja!"
Merekapun segera bersiap turun, untuk melangkahkan kaki menuju rumah yang dicari.
"Mbak, nitip mobil ya. Kalau ada yang punya niat jahat, kerjain aja!" seru Rey pada sosok dengan kaki bergelantungan yang juga memakai seragam daster putih di atas mobil Rey.
"Ihii....hiii.....hiiii, berani bayar berapa?" sahut sosok itu masih cuek.
"Nanti malam, datang ke Restoran Hantu milikku!" sahut Rey memberi tahu.
"Oke lah, ihiii.....hiiiii......," jawab makhluk itu diiringi tertawa khas darinya.
Kami berdua mengetuk pintu rumah yang tertutup dari dalamnya.
"Permisi," kata Yumna mencoba memanggil seseorang dari dalam beberapa kali.
Perlahan terdengar suara langkah kaki yang berat dari dalam, dan membukakan pintunya untuk kami.
"Ya? Silahkan masuk!" kata wanita paruh baya yang terlihat kusut karena banyaknya masalah yang dipendamnya.
"Apa benar, anak ibu kemarin lusa sempat mengalami kecelakaan di sekitar bundaran air mancur, dekat sekolah Permata?" tanyaku pelan-pelan agar tak membuatnya lebih bersedih lagi.
"Hik... Iya.... Apa kamu mengenal anak saya?" tanya ibu di depan Yumna.
"Kami tak terlalu mengenalnya. Tapi kami hanya ingin menyampaikan permohonan maaf darinya saja, karena belum bisa membahagiakan ibunya," jawab Yumna yang semakin membuat ibu itu tak kuasa menahan air mata.
"Dari mana kamu tahu kalau dia minta maaf? Dimana kamu mengenalnya?"
"Ehmm.... Boleh percaya atau tidak, saya mengenalnya setelah melihat kecelakaan itu terjadi di depan kami," jawab Yumna semakin membuat ibu itu tak mengerti.
"Maksudnya?"
"Boleh percaya atau tidak, kami bertemu dengan arwah anak ibu," sahut Rey.
"La... Laluu.... Dimana dia sekarang? Harusnya aku yang meminta maaf padanya, hik...hik..... Dia tak tau apa-apa, tapi menjadi korban ayah kandungnya sendiri."
"Doakan dan ikhlaskan, agar dia bisa tenang menuju alam yang semestinya," jawab Yumna mengelus punggung ibu di depannya.
"Korban? Apa ayahnya ikut perjanjian dengan iblis?" tanya Rey tanpa basa basi seperti biasa.
"Iya, kamu benar."
"Darimana kamu tahu, Rey?" tanya Yumna.
"Aku melihat, sebelum kecelakaan itu terjadi ada sekelebat bayangan yang sengaja menutupi pandangannya," jelas Rey.
"Oh ya? Kenapa kamu gak bilang kemarin?"
"Aku hanya kurang yakin saja, tapi kalau memang dia sengaja ditumbalkan berarti bisa jadi kematiannya sengaja diharapkan," jawab Rey.
"Lalu dimana ayahnya?" tanya Yumna lagi.
"Ayahnya..... , kami sudah bercerai dari lima tahun yang lalu. Ayahnya menganut ilmu sesat untuk memperkaya dirinya sendiri. Jadi ku putuskan untuk pergi meninggalkannya, sebelum anakku yang dijadikan tumbalnya."
"Lalu, bagaimana ibu tahu kalau kematian anak ibu ada hubungannya dengan ilmu sesat ayahnya?"
"Seminggu yang lalu, anakku sempat bercerita. Dia bertemu dengan ayahnya. Dia senang sekali, setelah lama tak bertemu dengannya. Dia dijamu seperti raja di rumah megah ayahnya, jadi saya yakin pasti ini ada hubungannya."
"Apa anak ibu tak tahu, kalau ayahnya tak sebaik itu?"
"Tidak. Aku tak ingin memberi contoh yang tak baik padanya. Dia seorang laki-laki, yang nantinya ku kira pasti akan menjadi ayah juga. Tapi ternyata harapanku tak berjalan sesuai rencana. Dia meninggal sebelum menjadi ayah, hik...hik....," tangis ibu itu prcah lagi di depan Yumna.
"Sabar, Bu. Ikhlaskan kepergiannya. Berdoa adalah jalan tebaik untuk menebuskan dosa-dosanya. Anak ibu baik, dia hanya ingin membanggakan orang tuanya. Meskipun itu belum sempat dilakukannya," kata Yumna terus mengusap punggungnya.
"Selamat siang, eh ada tamu. Kok gak dikasih minum, Mbak?" tanya seorang wanita yang lebih muda baru masuk dari depan pintu.
"Oh iya, saya sampai lupa. Saya ambilkan minum sebentar ya!"
"Gak usah, Bu. Kami pamit saja, yang penting kami sudah lega kalau pesannya sudah kami sampaikan pada keluarganya," jawab Yumna.
Yumna dan Rey segera pamit kepada dua wanita yang tinggal di rumah ini. Mereka kembali ke mobil, setelah memberikan uang santunan secukupnya sesuai permintaan Yumna sebelumnya.
Saat mobil melaju kembali pulang, mereka berdua merasa sesuatu yang mengikuti dari belakang. Terutama setelah mereka melewati rumah kosong di jalan matahari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Hati Yang Terkilan
uiseh ada yang mula jatuh cinta ni kayanya
2025-01-29
2
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Ooh tumbal toh
2024-09-04
0
Maz Andy'ne Yulixah
Kasihan ternyata dijadikal Tumbal Ayah nya to,sungguh kejam demi kaya rela ngorbanin anaknya😠😠
Kyak nya yang ngikutin yang dirumah kosong deh🤭
2024-05-13
1