"Oh iya, tadi di kelas aku lihat kayak ada kamu. Tapi kok diam aja gak banyak omong kayak sekarang?" tanya Yumna mengingat kejadian tadi.
"Tadi aku sudah berusaha keluar untuk menunjukkan diriku. Jadi aku tak punya cukup tenaga untuk melakukan apapun. Aku hanya berharap, ada seseorang yang melihatku dan bisa membantuku masuk kembali ke dalam tubuhku," cerita Brodi sedih.
"Memangnya apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yumna lagi.
"Aku juga tak tahu, kenapa aku bisa ada di sini. Aku hanya bisa melihat tubuhku sendiri yang terbaring dan terus diawasi oleh pria itu."
"Makanya, ayo ikut kami menghadapi dia. Mintalah maaf, sebelum terlambat," bujuk Yumna.
"Waktu kami menemuimu di sini, juga tak lama. Jadi cepatlah kalau kamu memang ingin segera pulih lagi," sahut Rey.
"Baiklah, ayo anterin aku. Tapi jangan pergi dulu sebelum aku selesai berurusan dengannya ya," pinta Brodi yang mulai memelas menatap ke arah mereka.
"Tapi kamu harus janji, tak akan iseng lagi nanti!" syarat yang Yumna ajukan pada Brodi.
"Iya, ingatkan aku kalau aku tak menepati janjiku. Tapi aku akan berusaha berubah menjadi lebih baik lagi. Aku kapok!"
Rey berdiri di depan mereka berdua. Memimpin berjalan ke arah hantu tanpa muka.
"Mas, ada yang mau minta maaf nih," kata Rey memulai percakapan dengan makhluk mengerikan itu.
Tanpa mereka persiapkan sebelumnya, hantu itu mengangkat kepalanya. Mata yang semula hanya bisa melotot saja, mulai menampakkan kengerian dengan bola mata yang bergelantungan pada kelopaknya.
"Ak... Ak... Akuuu, aduh. Yumna, tolong aku. Aku gak berani melihatnya," ucap Brodi masih bersembunyi di balik tubuh Yumna.
"Cepetan ngomong, kalau nggak aku balik sekarang," ancam Rey.
"Ja.. Jangaaan. Pliss, bantu aku!" mohon Brodi.
"Cepetan!!" Rey sudah mulai tak sabar.
Dengan kaki gemetar, Brodi memberanikan diri melangkah ke depan. Sambil menutup sebelah matanya, dia maju langkah demi langkah.
Tercium bau anyir yang semakin menyeruak di hidungnya. Tapi ditahannya, agar bisa segera kembali masuk ke dalam tubuhnya.
"Mas, ehhemmm..... Mas.... Tolong maafkan saya. Saya kapok, dan tak akan mengulangi lagi. Tolong saya, Mas! Saya masih ingin membuat orang tua saya bangga, karena selama ini saya hanya menyusahkannya saja, huwaaaa..........," tangis Brodi pecah, antara terharu dan ketakutan.
Sedikit demi sedikit, wajah itu mulai berubah lebih baik. Darah yang semula menyelimuti seluruh wajah, sudah mulai surut menghilang. Berganti dengan wajah tampan laki-laki berusia dua puluh tahunan.
"Bahagiakanlah orang tuamu, sebelum takdir menjemput. Aku juga anak yang belum bisa membahagiakan mereka, dan aku sangat menyesali hal itu," sahut hantu itu yang sudah mulai berubah menjadi layaknya wajah manusia biasa.
"Mas, .....tenanglah. Supaya orang tuamu tak selalu bersedih dan bisa mengikhlaskan kepergianmu. Aku yakin orang tuamu bangga punya anak sebaik kamu," kata Yumna menenangkannya.
"Ya, semoga kamu benar. Aku harus bisa pergi dengan tenang. Aku hanya bisa membuatnya sedih, belum bisa membahagiakannya. Tolong sampaikan maafku pada kedua orang tuaku."
"Dimana kami bisa menemuinya?"
"Carilah ke jalan mawar nomor dua puluh tiga, di perumahan Lencana. Tolong sampaikan juga, kalau aku bangga sudah pernah dilahirkan dan dibesarkan oleh mereka," ucap hantu itu yang sedikit demi sedikit mulai menghilang.
"Brodi, cobalah tidur di ranjang itu. Aku dan Yumna menunggumu di alam kita," sahut Rey menggandeng tangan Yumna dan menyuruhnya memejamkan mata juga.
Tak lama, goncangan dan panggilan Rey di bahu Yumna membuatnya membuka mata. Mifta, dan Agnes sudah berdiri di depannya dengan cemas melihat Yumna yang dari tadi tak kunjung bangun juga.
"Kamu kenapa, Yumna?" tanya Mifta.
"HHAAA...... Hehhh.... Hehhh.... Ayo kita lihat perkembangan Brodi, apa dia sudah sadar?" tanya Yumna kembali tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya, masih dengan nafas tersengal-sengal seperti baru berlari keliling lapangan bola.
"Apa Brodi sudah sadar?" tanya Mifta lagi.
"Entahlah, makanya kita lihat dulu saja."
Mereka semua beranjak menuju ke kamar ICU lagi. Ibu Brodi yang terlihat dari kaca, nampak bahagia melihat anaknya sudah menggerakkan jari tangannya.
"Suster, susterr.....!" panggilnya membuat mereka yang mengintip segera lari untuk bersembunyi.
"Ayo pulang, Brodi sudah terlihat baik sepertinya," ajak Rey berjalan pulang tanpa menunggu jawaban dari lainnya.
"Yumna, trimakasih ya. Semoga karena kejadian ini, bisa membuat Brodi sadar akan keisengannya," bisik Mifta di dekat telinga Yumna.
"Kenapa kamu yang berterima kasih? Apa kamu suka padanya?" goda Yumna ikut berbisik.
"Sssttt..... Itu rahasia kita berdua ya," jawab Mifta sambil mengerlingkan sebelah mata, kemudian menggandeng tangan Agnes untuk mendahului Yumna dan Reyhan.
"Yumna, kita duluan ya," kata Agnes berpamitan sambil terus ditarik oleh Mifta yang sepertinya nampak malu.
"Teman kamu itu memang aneh-aneh ya, lihat tuh kelakuannya gak jelas gitu," sahut Rey.
"Sudahlah, ayo kita pulang juga biar nanti nggak telat lagi buat ke restorannya. Biar kamu juga gak lupa bawa barang belanjaan karena sudah tak ada stok di restoran."
"Iya-iyaaa, nih juga mau pulang buat nanyain pesanan ke asisten rumah tanggaku."
"Kasihan juga mbak Shema kalau kita telat lagi, tugasnya jadi lebih banyak nanti," sahut Yumna.
"Kenapa harus kasihan? Dia kan hantu, sudah bukan manusia lagi. Sudah nggak punya rasa capek kayak kita," seru Rey membantah ucapan Yumna, untuk mengajaknya berdebat seperti biasa.
"Masih aja gitu, memang kamu tuh manusia es batu. Gak punya perasaan!" sahut Yumna tak mau kalah.
"Aku punya perasaan, sama kamu!" gumam Rey lirih tapi sempat terdengar Yumna.
Sudah tak ada lagi percakapan sampai mereka pulang ke rumah masing-masing. Mereka terlarut dalam pikiran mereka sendiri, dengan wajah merah menahan malu.
****
Keesokan paginya, Rey menjemput Yumna seperti biasa. Mereka menuju sekolah Yumna terlebih dahulu, untuk kemudian Rey berangkat ke sekolahnya sendiri.
Tanpa sepengetahuan Yumna, Rey sudah meminta orang kepercayaan papanya untuk memindahkan ke sekolah yang sama dengan Yumna beberapa hari lagi.
"Oh iya, nanti kita ke rumah orang tua orang yang kecelakaan kan?" tanya Yumna berbalik arah setelah turun dari mobil, dengan sedikit membungkukkan badannya agar bisa memasukkan kepala ke jendela pintu mobil Rey.
"MINGGIR!" seru Martha yang dengan sengaja menjegal kaki Yumna, dan hampir membuatnya terjungkal.
"Kamu gak apa-apa? Gak bisa dibiarkan tuh anak lama-lama!" sahut Rey kesal melihat perlakuan Martha, yang selalu semena-mena terhadap Yumna.
Rey langsung turun dari mobil mewahnya, untuk menanyakan langsung maksud Martha melakukan itu pada Yumna.
"Sudah, gak usah diladeni. Nanti malah aku yang kena masalah. Sudah biasa kok dia kayak gitu, lagian aku gak kenapa-kenapa," sahut Yumna menggandeng tangan Rey untuk mencegahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Martha belum tau saja sama Rey itu siapa dan ada rasa sama Yumna tau Yumna disakitin sama kamu,bisa habis kamu macam2 sama Yumna😏😏
2024-05-13
1
dianelischaa94_
Sudahh ku dugaaaa.. 😆😍😍
2022-04-07
1
kutubuku
q kira Mifta cowok g tau nya cewek 🤭
2022-01-22
0