Permintaan Maaf Brodi

"Oh iya, tadi di kelas aku lihat kayak ada kamu. Tapi kok diam aja gak banyak omong kayak sekarang?" tanya Yumna mengingat kejadian tadi.

"Tadi aku sudah berusaha keluar untuk menunjukkan diriku. Jadi aku tak punya cukup tenaga untuk melakukan apapun. Aku hanya berharap, ada seseorang yang melihatku dan bisa membantuku masuk kembali ke dalam tubuhku," cerita Brodi sedih.

"Memangnya apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yumna lagi.

"Aku juga tak tahu, kenapa aku bisa ada di sini. Aku hanya bisa melihat tubuhku sendiri yang terbaring dan terus diawasi oleh pria itu."

"Makanya, ayo ikut kami menghadapi dia. Mintalah maaf, sebelum terlambat," bujuk Yumna.

"Waktu kami menemuimu di sini, juga tak lama. Jadi cepatlah kalau kamu memang ingin segera pulih lagi," sahut Rey.

"Baiklah, ayo anterin aku. Tapi jangan pergi dulu sebelum aku selesai berurusan dengannya ya," pinta Brodi yang mulai memelas menatap ke arah mereka.

"Tapi kamu harus janji, tak akan iseng lagi nanti!" syarat yang Yumna ajukan pada Brodi.

"Iya, ingatkan aku kalau aku tak menepati janjiku. Tapi aku akan berusaha berubah menjadi lebih baik lagi. Aku kapok!"

Rey berdiri di depan mereka berdua. Memimpin berjalan ke arah hantu tanpa muka.

"Mas, ada yang mau minta maaf nih," kata Rey memulai percakapan dengan makhluk mengerikan itu.

Tanpa mereka persiapkan sebelumnya, hantu itu mengangkat kepalanya. Mata yang semula hanya bisa melotot saja, mulai menampakkan kengerian dengan bola mata yang bergelantungan pada kelopaknya.

"Ak... Ak... Akuuu, aduh. Yumna, tolong aku. Aku gak berani melihatnya," ucap Brodi masih bersembunyi di balik tubuh Yumna.

"Cepetan ngomong, kalau nggak aku balik sekarang," ancam Rey.

"Ja.. Jangaaan. Pliss, bantu aku!" mohon Brodi.

"Cepetan!!" Rey sudah mulai tak sabar.

Dengan kaki gemetar, Brodi memberanikan diri melangkah ke depan. Sambil menutup sebelah matanya, dia maju langkah demi langkah.

Tercium bau anyir yang semakin menyeruak di hidungnya. Tapi ditahannya, agar bisa segera kembali masuk ke dalam tubuhnya.

"Mas, ehhemmm..... Mas.... Tolong maafkan saya. Saya kapok, dan tak akan mengulangi lagi. Tolong saya, Mas! Saya masih ingin membuat orang tua saya bangga, karena selama ini saya hanya menyusahkannya saja, huwaaaa..........," tangis Brodi pecah, antara terharu dan ketakutan.

Sedikit demi sedikit, wajah itu mulai berubah lebih baik. Darah yang semula menyelimuti seluruh wajah, sudah mulai surut menghilang. Berganti dengan wajah tampan laki-laki berusia dua puluh tahunan.

"Bahagiakanlah orang tuamu, sebelum takdir menjemput. Aku juga anak yang belum bisa membahagiakan mereka, dan aku sangat menyesali hal itu," sahut hantu itu yang sudah mulai berubah menjadi layaknya wajah manusia biasa.

"Mas, .....tenanglah. Supaya orang tuamu tak selalu bersedih dan bisa mengikhlaskan kepergianmu. Aku yakin orang tuamu bangga punya anak sebaik kamu," kata Yumna menenangkannya.

"Ya, semoga kamu benar. Aku harus bisa pergi dengan tenang. Aku hanya bisa membuatnya sedih, belum bisa membahagiakannya. Tolong sampaikan maafku pada kedua orang tuaku."

"Dimana kami bisa menemuinya?"

"Carilah ke jalan mawar nomor dua puluh tiga, di perumahan Lencana. Tolong sampaikan juga, kalau aku bangga sudah pernah dilahirkan dan dibesarkan oleh mereka," ucap hantu itu yang sedikit demi sedikit mulai menghilang.

"Brodi, cobalah tidur di ranjang itu. Aku dan Yumna menunggumu di alam kita," sahut Rey menggandeng tangan Yumna dan menyuruhnya memejamkan mata juga.

Tak lama, goncangan dan panggilan Rey di bahu Yumna membuatnya membuka mata. Mifta, dan Agnes sudah berdiri di depannya dengan cemas melihat Yumna yang dari tadi tak kunjung bangun juga.

"Kamu kenapa, Yumna?" tanya Mifta.

"HHAAA...... Hehhh.... Hehhh.... Ayo kita lihat perkembangan Brodi, apa dia sudah sadar?" tanya Yumna kembali tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya, masih dengan nafas tersengal-sengal seperti baru berlari keliling lapangan bola.

"Apa Brodi sudah sadar?" tanya Mifta lagi.

"Entahlah, makanya kita lihat dulu saja."

Mereka semua beranjak menuju ke kamar ICU lagi. Ibu Brodi yang terlihat dari kaca, nampak bahagia melihat anaknya sudah menggerakkan jari tangannya.

"Suster, susterr.....!" panggilnya membuat mereka yang mengintip segera lari untuk bersembunyi.

"Ayo pulang, Brodi sudah terlihat baik sepertinya," ajak Rey berjalan pulang tanpa menunggu jawaban dari lainnya.

"Yumna, trimakasih ya. Semoga karena kejadian ini, bisa membuat Brodi sadar akan keisengannya," bisik Mifta di dekat telinga Yumna.

"Kenapa kamu yang berterima kasih? Apa kamu suka padanya?" goda Yumna ikut berbisik.

"Sssttt..... Itu rahasia kita berdua ya," jawab Mifta sambil mengerlingkan sebelah mata, kemudian menggandeng tangan Agnes untuk mendahului Yumna dan Reyhan.

"Yumna, kita duluan ya," kata Agnes berpamitan sambil terus ditarik oleh Mifta yang sepertinya nampak malu.

"Teman kamu itu memang aneh-aneh ya, lihat tuh kelakuannya gak jelas gitu," sahut Rey.

"Sudahlah, ayo kita pulang juga biar nanti nggak telat lagi buat ke restorannya. Biar kamu juga gak lupa bawa barang belanjaan karena sudah tak ada stok di restoran."

"Iya-iyaaa, nih juga mau pulang buat nanyain pesanan ke asisten rumah tanggaku."

"Kasihan juga mbak Shema kalau kita telat lagi, tugasnya jadi lebih banyak nanti," sahut Yumna.

"Kenapa harus kasihan? Dia kan hantu, sudah bukan manusia lagi. Sudah nggak punya rasa capek kayak kita," seru Rey membantah ucapan Yumna, untuk mengajaknya berdebat seperti biasa.

"Masih aja gitu, memang kamu tuh manusia es batu. Gak punya perasaan!" sahut Yumna tak mau kalah.

"Aku punya perasaan, sama kamu!" gumam Rey lirih tapi sempat terdengar Yumna.

Sudah tak ada lagi percakapan sampai mereka pulang ke rumah masing-masing. Mereka terlarut dalam pikiran mereka sendiri, dengan wajah merah menahan malu.

****

Keesokan paginya, Rey menjemput Yumna seperti biasa. Mereka menuju sekolah Yumna terlebih dahulu, untuk kemudian Rey berangkat ke sekolahnya sendiri.

Tanpa sepengetahuan Yumna, Rey sudah meminta orang kepercayaan papanya untuk memindahkan ke sekolah yang sama dengan Yumna beberapa hari lagi.

"Oh iya, nanti kita ke rumah orang tua orang yang kecelakaan kan?" tanya Yumna berbalik arah setelah turun dari mobil, dengan sedikit membungkukkan badannya agar bisa memasukkan kepala ke jendela pintu mobil Rey.

"MINGGIR!" seru Martha yang dengan sengaja menjegal kaki Yumna, dan hampir membuatnya terjungkal.

"Kamu gak apa-apa? Gak bisa dibiarkan tuh anak lama-lama!" sahut Rey kesal melihat perlakuan Martha, yang selalu semena-mena terhadap Yumna.

Rey langsung turun dari mobil mewahnya, untuk menanyakan langsung maksud Martha melakukan itu pada Yumna.

"Sudah, gak usah diladeni. Nanti malah aku yang kena masalah. Sudah biasa kok dia kayak gitu, lagian aku gak kenapa-kenapa," sahut Yumna menggandeng tangan Rey untuk mencegahnya.

Terpopuler

Comments

Maz Andy'ne Yulixah

Maz Andy'ne Yulixah

Martha belum tau saja sama Rey itu siapa dan ada rasa sama Yumna tau Yumna disakitin sama kamu,bisa habis kamu macam2 sama Yumna😏😏

2024-05-13

1

dianelischaa94_

dianelischaa94_

Sudahh ku dugaaaa.. 😆😍😍

2022-04-07

1

kutubuku

kutubuku

q kira Mifta cowok g tau nya cewek 🤭

2022-01-22

0

lihat semua
Episodes
1 Tawaran Kerja Untuk Yumna
2 Pilihan Yang Berat
3 Hari Pertama Bekerja
4 Perjalanan Membantu Risma
5 Penemuan Jasad Risma
6 Diikuti Hantu Rel Kereta Api
7 Pertemuan Santi dan Toni
8 Perpisahan Risma
9 Pencarian di Rel Kereta
10 Penemuan Tangan Santi
11 Perhatian Rey Terhadap Nenek Yumna
12 Kisah Lampau Rey
13 Keisengan Brodi
14 Kecelakaan Brodi
15 Menjenguk Brodi
16 Bertemu di Alam Lain
17 Permintaan Maaf Brodi
18 Ke Rumah Korban Kecelakaan
19 Cerita Meyta, Hantu Rumah Angker
20 Menemui Keluarga Meyta
21 Ke Bank Mayara
22 Penjebakan Bimo
23 Kisah Kinan, Hantu Wanita Hamil
24 Saingan Rey Untuk Yumna
25 Leila, Hantu Ruang Bawah Tanah
26 Penemuan Mayat Leila
27 Hubungan Rey dan Yumna
28 Kakek Tua Misterius
29 Penemuan Mayat Kakek
30 Suami Kinan ke Restoran
31 Pertemuan Kinan dan Suaminya
32 Canda, Sosok Anak Tanpa Orang Tua
33 Pencarian Rey ke Makam
34 Pengakuan Orang Tua Canda
35 Kematian Aneh Robert
36 Mencari Tahu Kasus Robert
37 Ungkapan Perasaan Rey
38 Kisah Tragis Robert
39 Pertolongan Untuk Novi
40 Penangkapan Ravon
41 Perpisahan Robert
42 Rumah Sakit Misterius
43 Pencarian Kamar Bersalin
44 Makhluk Dari Kamar Mayat
45 Perjalanan Keluar Rumah Sakit
46 Kedekatan Rey dan Yumna
47 Kepindahan Novi
48 Gangguan Rumah Baru Novi
49 Rumah Baru Penuh Misteri
50 Penemuan Di Rumah Novi
51 Perjalanan Mimpi Yumna
52 Pertolongan Om Barjo
53 Menjenguk Bu Mey
54 Pengakuan Kepada Nek Kip
55 Rencana Perlawanan 1
56 Rencana Perlawanan 2
57 Pasukan Tak Kasat Mata
58 Malam Keramat
59 Penumbalan Oleh Praja
60 Pertemuan Singkat Rey dan Neneknya (END)
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Tawaran Kerja Untuk Yumna
2
Pilihan Yang Berat
3
Hari Pertama Bekerja
4
Perjalanan Membantu Risma
5
Penemuan Jasad Risma
6
Diikuti Hantu Rel Kereta Api
7
Pertemuan Santi dan Toni
8
Perpisahan Risma
9
Pencarian di Rel Kereta
10
Penemuan Tangan Santi
11
Perhatian Rey Terhadap Nenek Yumna
12
Kisah Lampau Rey
13
Keisengan Brodi
14
Kecelakaan Brodi
15
Menjenguk Brodi
16
Bertemu di Alam Lain
17
Permintaan Maaf Brodi
18
Ke Rumah Korban Kecelakaan
19
Cerita Meyta, Hantu Rumah Angker
20
Menemui Keluarga Meyta
21
Ke Bank Mayara
22
Penjebakan Bimo
23
Kisah Kinan, Hantu Wanita Hamil
24
Saingan Rey Untuk Yumna
25
Leila, Hantu Ruang Bawah Tanah
26
Penemuan Mayat Leila
27
Hubungan Rey dan Yumna
28
Kakek Tua Misterius
29
Penemuan Mayat Kakek
30
Suami Kinan ke Restoran
31
Pertemuan Kinan dan Suaminya
32
Canda, Sosok Anak Tanpa Orang Tua
33
Pencarian Rey ke Makam
34
Pengakuan Orang Tua Canda
35
Kematian Aneh Robert
36
Mencari Tahu Kasus Robert
37
Ungkapan Perasaan Rey
38
Kisah Tragis Robert
39
Pertolongan Untuk Novi
40
Penangkapan Ravon
41
Perpisahan Robert
42
Rumah Sakit Misterius
43
Pencarian Kamar Bersalin
44
Makhluk Dari Kamar Mayat
45
Perjalanan Keluar Rumah Sakit
46
Kedekatan Rey dan Yumna
47
Kepindahan Novi
48
Gangguan Rumah Baru Novi
49
Rumah Baru Penuh Misteri
50
Penemuan Di Rumah Novi
51
Perjalanan Mimpi Yumna
52
Pertolongan Om Barjo
53
Menjenguk Bu Mey
54
Pengakuan Kepada Nek Kip
55
Rencana Perlawanan 1
56
Rencana Perlawanan 2
57
Pasukan Tak Kasat Mata
58
Malam Keramat
59
Penumbalan Oleh Praja
60
Pertemuan Singkat Rey dan Neneknya (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!