"Sebentar, aku hubungi Rey dulu!" kata Yumna meminta ijin sejenak pada kedua teman yang sedang ada di depannya.
"Rey itu pacarmu? Beruntung banget kamu ya, punya pacar cakep, tajir mlintir pula," kata Agnes yang berdiri di sebelah Mifta.
"Bukan, dia bosku. He....., sebentar ya!" seru Yumna sedikit menjauh untuk menghubungi Rey.
Yumna menceritakan semua kejadian yang dialaminya melalui smartphone pemberian Rey.
"Sudah ceritnya? Aku sudah ada di halaman parkir sekolahmu," jawab Rey masih melalui sambungan telepon.
"Hahh? Kenapa gak bilang! Ya udah, aku ke sana," sahut Yumna sambil menekan tanda untuk mengakhiri panggilan.
"Eh, kita ke parkiran dulu gimana? Rey udah di sana ternyata," ucap Yumna pada kedua temannya yang masih menunggunya.
"Eheemm....mana ada bos yang mau antar jemput anak buah kemanapun dia pergi. Kayaknya dia ada hati sama kamu lo," goda Agnes lagi.
"Masa sih? Jangan bikin aku GR ya, haha...... Dah yuk!" tawa Yumna menutupi rasa malu, saat jantungku bergetar mendengar godaan Agnes barusan.
Mereka bertiga segera menuju ke tempat dimana Rey menunggu Yumna.
"Rey, gimana ini? Kamu mau ikut menjenguk Brodi nggak? Tadi pas berangkat sekolah katanya gak mau ikut," ucap Yumna mendekat ke arah Rey mendahului teman-temannya.
"Kapan aku bilang gak mau?"
"Tadi pas berangkat, kan aku bilang kalau aku mau cari tahu tentang Brodi. Aku juga bilang kamu hari ini gak usah jemput aku, trus kamu jawab hemm, gitu!" sahut Yumna kesal.
"Tapi aku gak bilang gak mau kan?" jawab Rey santai.
"Hiihh, dasar makhluk aneh," geram Yumna dengan mengangkat genggaman kedua tangannya di depan muka.
"Gimana,Yum? Kita mau boncengan naik sepeda motor nih. Kamu jadi ikut gak? Kayaknya yang lain sudah nunggu di gerbang sekolah deh," sahut Mifta yang sudah siap berangkat.
"Eh, iya jadi. Tapi aku ajak Rey gak apa-apa ya," kata Yumna sambil masuk ke mobil Rey, setelah mendapat jawaban dengan anggukan dan tanda jempol dari mereka berdua.
Mereka segera berangkat menuju rumah sakit tempat Brodi dirawat. Ada sekitar tiga sepeda motor yang berjalan di depan mobil Rey.
Tak lama waktu yang mereka perlukan untuk sampai di rumah sakit. Karena kebetulan, itu rumah sakit terdekat dan sama dengan yang pernah merawat nenek Kip sebelumnya.
Seperti biasa, baru masuk ke pintu masuk sudah mulai terlihat banyak sosok yang menghuni rumah sakit itu.
"Rey, kok aku jadi ingat mbak Tina ya?" tanya Yumna saat berjalan di lorong rumah sakit ini.
"Mbak Tina siapa?"
"Yang dulu lengket di kaki kamu, minta buat dianter pulang. Ingat gak?"
"Oh, yang itu," jawab Rey singkat.
"Tuh gimana ceritanya, kok aku dah gak pernah lihat lagi sosoknya setelah ikut kamu pulang?" tanya Yumna celingukan, mencari keberadaannya diantara para penghuni tak kasat mata.
"Ya sudah ku anterin lah."
"Kok kamu gak cerita? Memang sebenarnya dia tuh gimana ceritanya sih?" tanya Yumna.
"Kamu gak tanya kan?" jawab Rey.
"Hiihh, kamu tuh ya. Ya udah, sekarang aku tanya ceritanya!" sahut Yumna sedikit kesal.
"Tina itu penyandang disabilitas. Trus pas lagi nyebrang buat ketemu papanya, eh malah ketabrak. Kebetulan orang tuanya sudah berpisah," jelas Rey lumayan panjang daripada biasanya.
"Lhah trus, kamu anterin kemana?" tanya Yumna.
"Ya ke rumah papanya, sesuai permintaan. Soalnya kebetulan si Tina tak membawa identitas saat nekat ke luar rumah."
"Nekat keluar rumah? Maksudnya melarikan diri dari mamanya sendiri?" Yumna semakin penasaran.
"Ya, itu dia lakukan karena mamanya melarangnya untuk menemui papanya," jawab Rey.
"Hehh, belum ketemu papanya trus dah meninggal?"
"Ya gitulah. Tapi saat aku cerita ke papanya, beliau bersedia segera mengurus pemakamannya."
"Jadi mungkin dia sudah tenang ya sekarang?" yakin Yumna.
"Mungkin juga."
"Eh, itu kayaknya ruang ICU. Tuh ada mamanya Brodi," tunjuk Agnes pada seorang ibu yang baru keluar dari sebuah ruangan.
"Tante, gimana keadaan Brodi?" tanya Mifta di luar ruangan.
Brodi hanya terlihat dari kaca pembatas ruangan saja. Karena tidak boleh masuk tanpa baju khusus yang hanya tersedia untuk orang terdekatnya.
"Kita lihat dari luar saja gak apa-apa kok, Tante," kata Agnes mewakili kami.
"Maaf ya, kalian jadi di luar. Doakan biar bisa segera masuk ke ruang perawatan, biar bisa masuk ke dalam," kata ibu Brodi.
Ibu Brodi menceritakan, kalau anaknya sempat pulang dan mengeluh sakit di punggungnya. Tapi dia tetap nekat berangkat lagi untuk futsal dengan teman-temannya.
Belum sempat ganti baju seragam, dia hanya pulang untuk mengambil sepatu dan baju gantinya. Tapi tak lama setelah dia menjalankan sepeda motornya, ibunya mendapat kabar tentang kecelakaan anaknya.
"Rey, kamu lihat nggak sama makhluk di pojokan itu?" tanya Yumna terus mengawasi makhluk itu dari luar kaca jendela.
"Ya, dia yang kemarin darahnya dikasih air jeruk sama temenmu itu," jawab Rey ikut berbisik.
"Siapa sih, Yum?" tanya Mifta yang ternyata sempat mendengar percakapan mereka.
Yumna menggandeng Mifta menjauhi ibu Brodi yang masih bersedih di hadapan teman-teman yang lainnya.
"Kenapa? Ada masalah apa sama makhluk tak kasat mata yang ada hubungannya sama kecelakaan Brodi?" tanya Mifta langsung pada intinya.
"Maksudnya?"
"Kamu bisa melihat mereka kan?" tanya Mifta memberanikan diri bertanya, setelah tersimpan rapat dalam ingatannya.
"Kamu tahu darimana?"
"Dulu sepulang belajar kelompok di rumahku, kan kamu yang pulang paling belakangan. Aku mengamati kamu seperti sedang ngobrol di bawah pohon depan rumahku."
Yumna baru teringat, itu kejadian saat dia pertama kali mendapat informasi tentang restoran hantu milik Rey.
"Kenapa waktu itu kamu gak tanya langsung?" tanya Yumna heran.
"Aku gak enak mau memulai bertanya darimana. Tapi aku jadi terus mengamati kamu, semenjak kejadian itu."
"Trus setelah kamu tahu, kamu gak takut kan? Pliss, jangan berubah menjauhi aku ya," kata Yumna sedih.
"Nggaklah. Aku gak mungkin menjauhi teman cuma karena kamu punya kelebihan melihat yang orang lain tak bisa lihat," jawab Mifta membuat Yumna terharu.
"Itu bukan kelebihan, karena malah membuatku semakin dijauhi teman-teman. Aku ingat banget, dulu Martha yang sering panggil aku anak setan saat dia melihatku berbicara dengan makhluk seperti mereka."
Yumna mengingat kejadian saat dirinya diejek habis-habisan oleh temannya saat masih di bangku awal sekolah dasar. Dan itu semua diawali dari ejekan Martha yang membuat lainnya mengikuti.
"Martha kan memang anaknya seperti itu. Jangan samakan semua orang dengan dia. Tidak semuanya suka merendahkan orang seperti Martha," kata Mifta semakin membuat Yumna terharu.
"Aku mohon, rahasiakan ini dari semuanya ya," ucap Yumna memohon, dengan memeluk teman pertama yang bisa menerima keadaannya.
"Beres, tenang aja. Tapi ngomong-ngomong, sosok apa yang kamu bilang tadi? Apa itu mengganggu Brodi?" tanya Mifta membuat Yumna melepaskan pelukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-09-04
0
listy
suka sama ceritanya😍
2021-05-20
2
Hadi Ghorib
1343 up
2021-05-05
0