"Brodi? Ngapain juga dia kayak gitu," sahut Yumna, memandang anak yang meneteskan air jeruk nipis ke darah korban kecelakaan itu.
"Kamu kenal?" tanya Rey.
"Iya, dia teman sekelasku. Dan dia memang tipe anak yang suka nekat dan lumayan bandel di kelas."
"Dah kelihatan. Tampangnya sok berani, tapi lihat aja tuh nanti!" tunjuk Rey ke arah sosok penuh darah di sekujur tubuhnya.
Sosok itu nampak marah, karena kesakitan.
"Perihh... Perihhh.... Dasar anak kurang ajar!" ucapnya terus memandang tajam ke arah Brodi, yang tak dapat melihatnya.
"Brodi, stop. Ngapain kamu?" tanya Yumna menghampiri temannya itu.
"Menurutmu lagi ngapain?," ucap Brodi santai, yang membuat amarah sosok itu semakin besar.
"Eh, Mas. Kok dikasih air jeruk, sih? Ati-ati lo, nanti arwahnya bisa gangguin mas sampai pulang," sahut seorang laki-laki paruh baya yang ikut menyaksikan kecelakaan itu.
"Memang itu yang saya cari, Pak. Saya penasaran aja, apa benar bisa kayak gitu?" ucap Brodi sombong.
Tak berapa lama, para polisi datang untuk mengevakuasi mayat korban kecelakaan itu. Dan satu persatu masyarakat yang melihat membubarkan diri mereka sendiri.
"Dah puas nontonnya? Ayo pulang!" ajak Rey langsung menggandeng tangan Yumna.
"Rey, tuh hantu kayaknya sengaja ngikuti Brodi deh. Tuh lihat!" seru Yumna.
"Biarin, salahnya sendiri iseng gak jelas," sahut Rey asal.
"Kasihanlah, Rey. Mana mukanya serem lagi kalau buat yang belum biasa lihat. Tuh, klihatan darah yang terus mengucur dari tengkorak kepalanya yang terkelupas sebagian. Sampai mukanya juga gak kelihatan, mana mata mana hidung. Abis penuh darah semua sih," kata Yumna menjelaskan detailnya.
"Woi, gak usah dijelasin juga kan! Ayo ke rumahmu, bikin hilang selera makan aja," sahut Rey segera memasukkan Yumna ke dalam mobil dan menutupnya.
Yumna terus mengamati Brodi yang terlihat kesusahan mengendarai sepeda motor miliknya. Dia seperti merasakan berat di bagian tubuh belakang. Terlihat sosok berdarah yang terus bergelayut di punggung anak itu.
Sampai mobil Rey berbelok, tak terlihat lagi keadaan Brodi oleh Yumna.
"Kamu ngapain? tumben! Apa belum makan ulat?" tanya Rey.
"Ulat? Maksudnya apa?"
"Biasanya kan kamu ngoceh terus sepanjang jalan. Persis kayak burung pemakan ulat punya papaku, ha....ha....ha....," ejek Rey mencairkan suasana yang sejak tadi hening tanpa suara.
"Apaan sih. Gak lucu, malah garing," sahut Yumna kesal.
"Kriuk-kriuk malah enak kan?"
"Sudahlah, gak pantes kamu buat melucu! Tuh, sudah sampai jalan masuk rumahku. Gak lupa kan?"
"Tiap hari jemput, mana bisa lupa. Itu baru lucu, ha...ha...ha....," Rey pura-pura tertawa yang membuat Yumna semakin kesal.
"Ayo turun, langsung masuk aja!" ajak Yumna singkat.
"Eh, cucu nenek kok baru pulang? Cemberut lagi!" kata nek Kip yang keluar setelah mendengar suara deru mobil di depan rumahnya.
"Yumna ganti baju dulu, Nek. Rey katanya kangen sama nenek. Dia gak ada teman ngobrol kalau langsung pulang ke rumahnya," ucap Yumna sesuai apa yang pernah dikatakan Rey sebelumnya.
Yumna langsung bergegas ke kamar, untuk menyelesaikan tugas sekolah hari ini. Sampai tak terasa, cacing di perutnya terus berbunyi. Ternyata warna matahari di langit sudah mulai jingga.
"Nenek masak nggak hari ini?" tanya Yumna melangkah menuju meja makan, yang di sekat oleh tirai yang memisahkan dapurnya.
"Tadi gak masak, cuma ceplok telur aja," jawaban nek Kip yang belum sempat diselesaikan.
"Trus sekarang masak nasi goreng? Wangi banget sih," kata Yumna langsung duduk dan memindahkan sebagian nasi goreng ke piringnya.
"Enak banget sih, Nek. Cuman kok beda ya sama buatan nenek sebelumnya?" tanya Yumna yang baru menoleh ke arah nenek Kip, setelah beberapa suapan.
"Enakkan?"
Rey sudah berdiri di sebelah nek Kip, dengan membawa sepiring mie goreng telur dan sayur, sesuai bahan yang ada di rumah Yumna.
"Kamu yang masak?"
"Menurutmu?"
"Entahlah," jawab Yumna sambil membantu Rey meletakkan mie goreng, yang masih dipegangnya di meja makan.
"Ayo makan bersama, biar lebih ramai," ajak nek Kip membuat Rey ikut duduk memutari meja makan.
"Ow, jadi tadi bantuin taruh piring di meja karena gak tahan incip mie nya juga kan?" sindir Rey.
"Makan gak boleh sambil ngomong," jawab Yumna mengalihkan pembicaraan.
Yumna membereskan dan mencuci peralatan makan di dapur. Sedangkan Rey pamit pulang, untuk istirahat sejenak di rumahnya sebelum malam menjelang.
Yumna juga segera merebahkan tubuh sejenak, sebelum Rey menjemputnya diam-diam di setiap malam.
Nenek Kip selalu tidur saat Yumna melakukan pekerjaannya. Tapi dia sadar, kalau suatu saat nenek akan mengetahuinya juga. Jadi dia berencana menunggu nenek benar-benar sehat dulu untuk diberitahukan hal itu.
Tak terasa jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, dan membuat Yumna segera mengendap untuk keluar.
"Mbak Susi, seperti biasa ya."
Yumna melangkah jauh ke depan rumah, setelah berpamitan pada sosok penunggu di sebelah rumah Yumna.
"Tumben jam segini belum datang? Apa ketiduran ya?" gumam Yumna sendiri.
Tanpa berpikir lama, dia menekan nomor panggilan untuk Rey.
'Tulilit.... Tuliliiiiiiiittttt.........'
Suara sebuah telepon genggam dari arah kiri Yumna, yang sempat tak di lihat olehnya.
"Lhoh, kok di sini? Tidur pasti nih anak!!" sahut Yumna mengintip dari kaca jendela.
"Tuh kan bener. Dasar tukang molor, bisanya merem aja kalau lagi nunggu. Rey, bangun Rey, woeyyy!" seru Yumna terus mengetuk kaca mobil Rey.
"Apaan sih," kata Rey mulai sadar saat melihat Yumna, dan segera membukakan pintu untuknya.
"Dari kapan kamu di situ? Sampai ketiduran gitu?" tanya Yumna.
"Lha memangnya kamu sejak kapan da di situ?" tanya Rey balik.
"Eh, ditanya malah nanya."
"Dari tadi aku nunggu kamu di sini, lama banget. Makanya sampai ketiduran nih!" sahut Rey membela diri.
"Maaf, tadi aku juga ketiduran di rumah. Makanya telat pas jalan ke sini," cengir Yumna yang berhasil membuat Rey tersenyum puas.
"Kok kamu masih pakai seragam? Jangan-jangan dari tadi kamu di sini?" tebak Yumna yang dijawab anggukan Rey.
"Tadi itu dah mau pulang, tapi di perempatan jalan ada kecelakaan. Makanya nunggu di sini aja sekalian. Lagian di rumah juga gak ada yang peduli, aku mau pulang jam berapapun," sahut Rey.
"Kecelakaan lagi?"
"Iya, kayaknya pakai seragam sekolah kyk punyamu deh yang kecelakaan," kata Rey dengan menjalankan mobilnya.
"Masa sih? Kamu tahu nggak, gimana kondisi anaknya? Atau namanya siapa, ciri-cirinya seperti apa? Trus cowok atau cewek?" tanya Yumna.
"Kamu tuh kalau tanya panjang banget ya. Sampai bingung mau jawab yang mana dulu!"
"Terserah mau jawab yang mana dulu, yang kamu tahu apa gitu aja deh," seru Yumna mulai penasaran.
"Dia cowok, aku gak tau nama dan kondisinya. Tapi aku sempet lihat ada sosok hantu berdarah, seperti yang kecelakaan tadi saat kita pulang sekolah."
"Apa jangan-jangan, Brodi?" tebak Yumna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Langsung Meninggoy si Brodi,iseng sih🙄
2024-05-12
2
Diana Sujito
apakah itu brodi thor
2021-09-18
0
Oi Min
Brodi??? Wah... Di ajakin hantu buat mati sekalian.... Iseng sech lu Brod....
2021-05-07
0