"Maksudnya gimana?" tanya Yumna.
"Nenekku adalah satu-satunya manusia yang paling peduli sama aku. Kedua orangtua ku lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri, daripada bermain bersamaku."
"Lalu sekarang nenekmu dimana?" tanya Yumna tak sabar mendengar kelanjutan ceritanya.
"Dari kecil aku sudah bisa melihat makhluk tak kasat mata. Bahkan para tetangga, dan pengasuh masa kecilku yang sudah tiadapun pernah menemuiku untuk yang terakhir kalinya. Tapi.......," kata Rey terputus.
"Apa karena kamu tak pernah bertemu dengan nenekmu, setelah beliau.... Ehmm maaf, sudah tiada?" tebak Yumna dijawab anggukan oleh Rey.
"Ikhlaskan beliau. Mungkin sekarang sudah tenang di alamnya," sahut Yumna mencoba menenangkan hati Rey.
Rey menjalankan kembali mobilnya menuju restoran hantu miliknya.
"Pengasuhku saja bisa berpamitan sebelum kepergiannya. Tapi kenapa nenekku tidak?" tanya Rey sedikit emosi.
"Rey, tenangkan dirimu. Lalu apa tujuanmu membuka restoran itu?"
"Aku berharap, nenek bisa menemuiku dengan datang ke restoran itu. Atau paling tidak aku bisa mencari tahu keberadaan nenek, lewat para makhluk tak kasat mata yang selalu datang dari segala penjuru. Dan ku rasa nenek masih ada di dunia kita, karena tak mungkin beliau pergi tanpa mengucap pamit padaku," ucap Rey yakin.
"Sepenting itukah nenek bagimu?"
"Bahkan lebih penting dari apa yang bisa aku ucapkan sebagai gambaran perasaanku padanya," kata Rey.
"Memang nenekmu kenapa sampai meninggal?" tanya Yumna mulai penasaran.
"Nenek meninggal secara mendadak. Kemungkinan serangan jantunglah penyebabnya. Dan saat itu aku masih ada di sekolah, jadi tak sempat menemani di saat terakhirnya di dunia ini."
"Jadi karena itu kamu masih berat mengikhlaskan kepergiannya? Ayolah, Rey. Kamu harus maju menjalani kehidupanmu selanjutnya. Jangan sampai bayangan nenekmu di pikiranmu, bisa membuat langkah beliau berat menuju alam selanjutnya," ucap Yumna memberinya semangat.
"Biarlah ku jalani hari-hariku seperti ini dulu. Aku bisa berkata ikhlas nenek pergi, meskipun dalam hati masih sulit untuk tak menunggu kedatangannya kemari," ucap Rey saat kami sudah tiba di depan Restoran Hantu miliknya.
"Wuiihh, belum buka aja udah kelihatan meriah nih tempat ya?" kata Yumna menggandeng tangan Rey untuk segera masuk ke dalamnya.
Yumna berharap, dengan ikut membantu persiapan pesta malam ini bisa membuat Rey sedikit melupakan kesedihannya tadi.
"Eh, sepasang anak manusia sudah datang. Pake gandengan lagi," celetuk Shema menggoda mereka.
"Aduh, maaf Rey. Gak sengaja," ucap Yumna tersipu malu, setelah sadar tangannya masih menggandeng.
"Kenapa?" tanya Rey menggandeng tangan Yumna yang sempat dilepaskannya tadi, untuk terus berjalan mengecek persiapan acara pesta Santi dan Toni.
"Kamu gak marah?"
"Trimakasih, Yumna," kata Rey melepaskan tangannya untuk menuju ke dapur membantu Boni.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Yumna tak mendapat jawaban darinya.
"Hei, sepertinya persiapan di sini sudah hampir selesai. Sebaiknya kamu bantu di dapur saja sama mereka," tunjuk Shema ke arah Rey dan Boni.
Aku menuju dapur, untuk membantu menata peralatan makan di sana.
"Kamu bisa masak, Rey?" tanyaku membuka obrolan di ruangan ini.
"Rey itu jago masak lo. Aku di sini cuma bantuin aja, tapi dia yang memasak semuanya," jawab Boni.
Rey hanya tersenyum ke arah Yumna, dan menggelengkan kepalanya saat Boni menceritakan keahliannya.
Tak terasa jam dinding sudah berbunyi, tepat di angka dua belas. Para tamu sudah mengantri melebihi hari biasa. Mungkin karena adanya undangan pesta dari Toni dan Santi, membuat para pengunjung sedikit membludak di restoran ini.
Yumna dan Shema cukup sibuk menyajikan hidangan di setiap meja. Tamu silih berganti duduk di kursi yang sudah di sediakan, kecuali kursi spesial yang sudah dihadiri oleh hantu dari pabrik di sebelah rel kereta.
Malam ini cukup melelahkan bagi mereka semua. Tapi Santi dan Toni sangat menikmatinya.
Mereka berdua berdiri di panggung yang sudah disediakan, untuk mengajak berdansa semua hadirin di restoran ini.
"Kita tutup lebih cepat saja, soalnya stok makanan sudah mulai menipis," teriak Boni pada Jodi yang biasa membunyikan peringatan tutupnya restoran.
Tak lama, Jodi sudah mengumumkan tutupnya restoran. Memang sedikit membuat kecewa para tamu yang sudah datang, tapi mereka sudah cukup puas menikmati acara pestanya.
"Hai, Mbak Sus. Terimakasih ya, sudah membantu menemukan tulang lenganku," ucap Santi mendekat ke arah hantu pabrik itu.
"Iya, sama-sama. Aku juga terimakasih, sudah membuatku berani mendekatinya. Ku kira dia terlalu seram untuk di dekati. Ternyata hanya badannya saja yang seperti harimau, tapi hatinya seperti kucing manis," senyum hantu berdaster merah itu memancar senang, saat naik di belakang punggung kekasihnya untuk beranjak pulang ke tempat asalnya.
"Yumna, Rey, dan semuanya. Santi dan Toni pamit ya, terimakasih sudah bersedia membantu kami," ucap Santi melambaikan tangan bersama Toni, menuju cahaya menyilaukan di depan mata kami.
"Akhirnya sepi juga, haduh.... Sampai gak ada waktu jeda sama sekali ya!" ucap Boni menekuk semua tulang-tulangnya, hingga berbunyi yang membuat geli di telinga.
"Sudah, ayo kita bereskan. Besok hari minggu, jadi kita libur tutup dulu."
Rey mengajak semuanya untuk berberes, dan mengembalikan seperti keadaan sebelum pesta. Mereka cukup lama membereskan semuanya.
"Kelihatannya tutup lebih cepat, tapi pulangnya sama saja kayak biasanya," kata Yumna sudah bersiap untuk pulang.
"Soalnya hari ini terlalu berantakan. Yang penting sudah selesai nih," kata Shema.
Yumna kembali diantar Rey untuk kembali pulang. Tak lupa membawa sedikit makanan, untuk mbak Susi yang sudah berbaik hati menjaga nenek di rumah sendiri.
****
Satu bulan berlalu dengan kegiatan rutin mereka seperti biasa. Rey juga semakin dekat dengannya karena selalu antar jemput Yumna, baik ke restoran hantu maupun ke sekolahnya.
Teman-teman sekolah Yumna yang sebelumnya meremehkan, menjadi lebih segan padanya. Tapi Martha masih selalu memusuhi, dan berusaha mendekati Rey setiap kali menjemput Yumna.
"Heh, aku nanti mampir ke rumahmu ya. Kangen sama nenek," kata Rey seusai sekolah.
"Boleh, tapi bisa nggak panggilnya bukan 'heh'?" protes Yumna.
"Ya deh, Yu Nah!" ejek Rey menatap ke arah kemudinya.
"Dasar, cowok es batu!"
'Braaaakkkk'
Suara sepeda motor yang tertabrak, dan terperosok di bawah truk tronton tepat di depan mobil Rey. Hal itu juga membuat Rey mengerem secara mendadak, dan membuat Yumna menjerit seketika.
"Berisik banget sih, sampai pengeng nih telinga!" seru Rey sedikit terganggu dengan teriakan Yumna.
"Abis kaget banget, lihat kejadian itu langsung di depan mata," tunjuk Yumna pada gerombolan yang menuju arah kecelakaan.
"Tuh orang gimana keadaannya, ya?" tanya Rey sedikit melongokkan kepala.
"Ayo turun aja!" ajak Yumna membuka pintu mobil di sebelah Rey, dan langsung menggandeng tangannya.
"Tapi, tapi...," kata Rey sedikit ragu.
"Dah, ikut aja!"
Nampak darah segar mengalir dari bawah truk. Ada beberapa orang yang berusaha mengeluarkan orang tersebut, tapi lebih banyak lagi orang yang hanya mengabadikan di smartphone miliknya.
"Dasar manusia tak berperi kemanusiaan!" dengus Yumna memandang orang-orang yang merekam.
"Iseng banget tuh orang!" kata Rey saat melihat seorang anak remaja dengan sengaja meneteskan air jeruk pada darah yang mengalir di tepi jalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
julius
serius nanya nih thor, jenis makanan yg disajikan di resto hantu itu apa aja ya?
2024-09-06
0
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Suka nih, cerita hantu tapi ga pake gambar hantu2an
2024-09-04
0
Maz Andy'ne Yulixah
Ya Allag bener2 iseng banget itu Anak minta digantayangin ya,disini juga ada yang gitu,ada orang kecelakaan malah dikasih air jeruk darah nya ya gentayangan deh😖😖
2024-05-12
1