Penemuan Tangan Santi

Rey bersama Yumna berjalan beriringan menuju tempat pembuangan sampah. Mereka melihat ada sesuatu yang terbungkus, seperti cerita mbak Sus tadi.

"Rey, kayaknya bener itu deh. Dikerubutin lalat tuh, mana baunya busuk banget lagi. Padahal kita masih ada di sini, jauh banget kan ya," kata Yumna berhenti mendadak.

"Kalau berhenti tuh jangan dadakan. Sengaja pasti! Ayo kita lihat!"

Rey memaksa Yumna mendekat, dengan menggandeng tangannya. Sempat ada rasa heran dipikiran Yumna. Tapi entah kenapa, dia ikutin juga tarikan dari Rey.

"Wuiiihh, bau banget Rey!" kata Yumna tanpa sadar, menutup hidungnya dengan lengan Rey yang masih menggandengnya.

'Deg.. Deg.. Deg.....'

Degup jantung Rey berdetak kencang. Rey segera melepaskan Yumna, untuk menggindari debaran dari dadanya.

"Maaf, reflek aja tadi. Abis bau parfummu lebih wangi, jadi lumayan buat nutupin bau busuk itu," sahut Yumna setelah Rey mengibaskan tangannya.

"Heemmm."

"Dih, kalau dipikir-pikir tadi yang gandheng duluan kamu deh!" gumam Yumna lirih.

"Kamu bilang apa barusan?" tanya Rey meskipun sebenarnya mendengar.

"Eh, enggak! Ayo kita lebih mendekat lagi," sahut Yumna mengalihkan pembicaraan.

Mereka berjalan semakin mendekat, dan terus mendekat. Rey mengambil tongkat kayu untuk mencoba membukanya pelan-pelan dari jauh.

Banyak darah kering menempel pada bagian bawah karung, yang mungkin sempat merembes saat dimasukkan ke dalamnya.

"Halo, polisi?"

Rey berkata setelah beberapa saat memencet nomor pada handphone miliknya, dan terdengar suara seseorang di sana.

Kami menunggu bungkusan itu, sampai pihak berwajib datang untuk menangani masalah ini. Tidak terlalu jelas apa yang ada di dalamnya, meski bungkusnya sudah sedikit terbuka.

Tapi setelah diperhatikan dengan benar, memang berbentuk seperti sebuah tulang lengan. Banyaknya bekas darah dan kerumunan belatung sudah memenuhi permukaan, yang hanya terlihat kulit kering yang menempel pada tulang.

Tak lama kami menunggu, sebuah rombongan polisi datang.

"Kami mencium bau busuk saat melewati area sini, jadi kami coba mencari asal baunya dan menemukan bungkusan itu di sana. Tapi karena ada bekas darah mengering, makanya saya langsung menelepon kantor polisi, karena kami tak berani membukanya," alasan Rey pada para polisi yang menanyakan kronologi penemuannya.

"Lalu, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya iseng seorang polisi, yang sepertinya berpikir buruk tentang keberadaan kami.

"Kemarin tunangan saya naik kereta, lalu secara tak sengaja cincin tunangan kami jatuh di sekitar sini. Dan hari ini baru sempat mencarinya," kata Rey langsung menggandeng tangan Yumna.

"Masih sekolah sudah tunangan?" tanya seorang polisi memandang kami dari atas sampai ke bawah, saat melihat kami masih berseragam sekolah.

Pertanyaan itu sempat membuat Yumna was-was, karena tak tahu harus beralasan apalagi agar bisa segera pergi dari tempat ini.

"Kami dijodohkan, dan hanya ditunangkan saja sebagai pengikat satu sama lain. Kalau menikah masih lama, Pak. Nunggu lulus kuliah dulu," cengir Rey menggaruk rambut di kepala belakangnya.

"Baiklah, kami akan menyelidiki ini semua dulu," ucap pak polisi menjabat tangan Rey dan Yumna bergantian.

"Oh iya, tadi pas parkir kayaknya denger ada yang ngomong, kalau sebulan lalu ada yang menabrakkan tubuhnya di sekitar sini," kata Yumna mencoba memberi petunjuk tentang Santi.

"Iya bener, saya baru ingat itu. Padahal saya ikut menangani juga, kenapa gak terpikirkan. Trimakasih sudah mengingatkan," kata salah seorang polisi yang lainnya.

Kami bisa pulang dengan lega, setelah beberapa pertanyaan lain yang cukup membuat keringat dingin Yumna mulai bercucuran. Ini adalah kali pertama dia berhadapan langsung dengan para penegak hukum.

"Ternyata pintar bohong juga kamu ya?" tanya Yumna menatap Rey dengan tajam, saat mereka hendak melangkah ke arah mobil Rey.

"Tapi kamu suka kan?" jawab Rey menarik Yumna dengan tangan kanannya .

Tak sengaja Yumna sudah berada dalam pelukan Rey, dan waktu seperti berhenti sesaat untuk mereka. Tangan kiri Rey menahan tubuh Yumna, dengan mata saling berpandangan dengan jarak tak lebih dari sejengkal tangan.

"Sudah belum menatapnya?" tanya Rey membuyarkan lamunan Yumna.

"Ih, ngapain kamu pakai peluk-peluk. Gak gitu juga kali!" sahut Yumna memasang muka jengkel.

"Bukannya terimakasih, malah ngomel. Tuh, tadi ada sepeda yang hampir nabrak kamu. Jangan GR dulu makanya jadi cewek tuh!"

Rey segera berlalu meninggalkan Yumna yang masih belum bisa menguasai keadaan. Dari jauh memang nampak seorang anak laki-laki seumuran mereka, sedang naik di atas sepedanya. Dia menangkupkan kedua tangan di depan dada, sebagai tanda permintaan maaf untuk Yumna.

"Rey, maaf ya. Dan terimakasih!" kata Yumna singkat, sambil menahan rasa malu masuk ke dalam mobil.

Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, masih dalam diam. Tak ada seorangpun yang mau memulai pembicaraan.

"Rey, mampir dulu?" tanya Yumna basa-basi, yang ternyata disanggupi oleh Rey.

Merekapun berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit. Petang hampir menjelang, dan suasana sudah mulai suram. Banyak sosok-sosok yang mulai menampakkan dirinya, tapi itu sudah biasa bagi Rey dan Yumna.

"Aduh, ngapain juga nih cewek nempel?" tanya Rey tiba-tiba.

"Kan tadi aku gak maksa kamu ikut masuk? Lagian aku juga gak terlalu nempel sama kamu," jawab Yumna.

"Kamu tuh jadi orang GR terus ya? Tuh, lihat di bawah kakiku!" perintah Rey langsung membuat Yumna menunduk.

"Siapa dia? Kok aku baru lihat, setelah beberapa hari di sini?" gumam Yumna sendiri.

"Tolongin saya! Hik... Hik.... Saya ingin pulang," ucapnya.

"Lhah, mau pulang aja tinggal pulang kan? Ngapain nemplok di kakiku?"

"Saya gak tahu jalan pulang. Kaki saya juga tak bisa berjalan," ucapnya masih dengan menangis.

"Oke, nanti ya Mbak. Ehmm, siapa namanya?" tanya Yumna masih dengan bergumam agar tak membut orang lain heran.

"Aku Tina. Tolong bawa aku ke rumah orangtuaku," jawabnya.

"Mbak Tina, tunggu di sini aja ya. Kita mau nengokin nenek sebentar. Nanti pasti lewat sini lagi. Lepasin teman saya ya, kasian berat lo," kata Yumna.

"Iya, Mbak. Lepasin kenapa. Berat tau!" ucap Rey yang kakinya masih dipeluk sosok bertubuh tambun, dengan kaki hanya sebatas lutut saja.

"Tapi janji ya, awas kalau bohong!" ancam Tina.

"Iya, nanti Yumna yang bantuin," sahut Rey.

"Kok cuma aku? Ya sama kamu lah!" seru Yumna.

"Kan tadi yang janji mau bantuin kamu."

"Ya sudah, biar dia nemplok di kakimu terus kalau gitu. Lumayan, ada temen mandi juga kan? Cewek lagi!" jawab Yumna tak mau kalah.

"Iya, iya deh. Cepetan lepasin!"

Akhirnya hantu itu menurut untuk melepaskan Rey.

"Eh, kok Santi sama Toni gak kelihatan lagi? Dasar tuh hantu, abis ditolong gak ada ucapannya sama sekali. Memang bilang terimakasih tuh susah ya?" omel Rey langsung menyita perhatian Yumna saat masih berjalan menuju ruang perawatan nenek Kip.

"Hayoooo, lagi cari aku ya?" kata Santi yang sudah terlihat utuh lagi.

Terpopuler

Comments

Maz Andy'ne Yulixah

Maz Andy'ne Yulixah

Mba Santi lagi mau pasang tangan nya dulu Rey😅

2024-05-12

2

YuniSetyowati 1999

YuniSetyowati 1999

Sekalian modus juga yak 🤭 hehehehe 😁

2024-05-01

0

Yenni Kurniati D

Yenni Kurniati D

Lucu banget bacanya... 😃😃😃

2021-07-11

0

lihat semua
Episodes
1 Tawaran Kerja Untuk Yumna
2 Pilihan Yang Berat
3 Hari Pertama Bekerja
4 Perjalanan Membantu Risma
5 Penemuan Jasad Risma
6 Diikuti Hantu Rel Kereta Api
7 Pertemuan Santi dan Toni
8 Perpisahan Risma
9 Pencarian di Rel Kereta
10 Penemuan Tangan Santi
11 Perhatian Rey Terhadap Nenek Yumna
12 Kisah Lampau Rey
13 Keisengan Brodi
14 Kecelakaan Brodi
15 Menjenguk Brodi
16 Bertemu di Alam Lain
17 Permintaan Maaf Brodi
18 Ke Rumah Korban Kecelakaan
19 Cerita Meyta, Hantu Rumah Angker
20 Menemui Keluarga Meyta
21 Ke Bank Mayara
22 Penjebakan Bimo
23 Kisah Kinan, Hantu Wanita Hamil
24 Saingan Rey Untuk Yumna
25 Leila, Hantu Ruang Bawah Tanah
26 Penemuan Mayat Leila
27 Hubungan Rey dan Yumna
28 Kakek Tua Misterius
29 Penemuan Mayat Kakek
30 Suami Kinan ke Restoran
31 Pertemuan Kinan dan Suaminya
32 Canda, Sosok Anak Tanpa Orang Tua
33 Pencarian Rey ke Makam
34 Pengakuan Orang Tua Canda
35 Kematian Aneh Robert
36 Mencari Tahu Kasus Robert
37 Ungkapan Perasaan Rey
38 Kisah Tragis Robert
39 Pertolongan Untuk Novi
40 Penangkapan Ravon
41 Perpisahan Robert
42 Rumah Sakit Misterius
43 Pencarian Kamar Bersalin
44 Makhluk Dari Kamar Mayat
45 Perjalanan Keluar Rumah Sakit
46 Kedekatan Rey dan Yumna
47 Kepindahan Novi
48 Gangguan Rumah Baru Novi
49 Rumah Baru Penuh Misteri
50 Penemuan Di Rumah Novi
51 Perjalanan Mimpi Yumna
52 Pertolongan Om Barjo
53 Menjenguk Bu Mey
54 Pengakuan Kepada Nek Kip
55 Rencana Perlawanan 1
56 Rencana Perlawanan 2
57 Pasukan Tak Kasat Mata
58 Malam Keramat
59 Penumbalan Oleh Praja
60 Pertemuan Singkat Rey dan Neneknya (END)
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Tawaran Kerja Untuk Yumna
2
Pilihan Yang Berat
3
Hari Pertama Bekerja
4
Perjalanan Membantu Risma
5
Penemuan Jasad Risma
6
Diikuti Hantu Rel Kereta Api
7
Pertemuan Santi dan Toni
8
Perpisahan Risma
9
Pencarian di Rel Kereta
10
Penemuan Tangan Santi
11
Perhatian Rey Terhadap Nenek Yumna
12
Kisah Lampau Rey
13
Keisengan Brodi
14
Kecelakaan Brodi
15
Menjenguk Brodi
16
Bertemu di Alam Lain
17
Permintaan Maaf Brodi
18
Ke Rumah Korban Kecelakaan
19
Cerita Meyta, Hantu Rumah Angker
20
Menemui Keluarga Meyta
21
Ke Bank Mayara
22
Penjebakan Bimo
23
Kisah Kinan, Hantu Wanita Hamil
24
Saingan Rey Untuk Yumna
25
Leila, Hantu Ruang Bawah Tanah
26
Penemuan Mayat Leila
27
Hubungan Rey dan Yumna
28
Kakek Tua Misterius
29
Penemuan Mayat Kakek
30
Suami Kinan ke Restoran
31
Pertemuan Kinan dan Suaminya
32
Canda, Sosok Anak Tanpa Orang Tua
33
Pencarian Rey ke Makam
34
Pengakuan Orang Tua Canda
35
Kematian Aneh Robert
36
Mencari Tahu Kasus Robert
37
Ungkapan Perasaan Rey
38
Kisah Tragis Robert
39
Pertolongan Untuk Novi
40
Penangkapan Ravon
41
Perpisahan Robert
42
Rumah Sakit Misterius
43
Pencarian Kamar Bersalin
44
Makhluk Dari Kamar Mayat
45
Perjalanan Keluar Rumah Sakit
46
Kedekatan Rey dan Yumna
47
Kepindahan Novi
48
Gangguan Rumah Baru Novi
49
Rumah Baru Penuh Misteri
50
Penemuan Di Rumah Novi
51
Perjalanan Mimpi Yumna
52
Pertolongan Om Barjo
53
Menjenguk Bu Mey
54
Pengakuan Kepada Nek Kip
55
Rencana Perlawanan 1
56
Rencana Perlawanan 2
57
Pasukan Tak Kasat Mata
58
Malam Keramat
59
Penumbalan Oleh Praja
60
Pertemuan Singkat Rey dan Neneknya (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!