Mereka berencana memulai pencarian di sekitar rel kereta api, tempat saat Yumna diikuti oleh sosok itu. Rey menitipkan mobilnya di depan sebuah toko, yang membelakangi rel.
"Rel kereta api panjang banget ya. Kalau kita gak bisa nemu gimana?" tanya Yumna pada Santi, setelah sampai di tempat perkiraan terjadinya tragedi kematiannya.
"Tolong, temukan meskipun hanya berupa tulang," jawab Santi memohon.
"Oke kami usahakan supaya kalian bisa segera tenang. Woi, kamu jalan ke sana. Nanti aku yang menyisir ke arah sana," jelas Rey menatap Yumna, dan sempat membuat jantungnya deg-degan sambil geram karena Rey tak mau menyebut namanya.
"Tumben nih bocah bisa ngomong panjang, biasanya cuma ngomong singkat aja?" ledek Santi.
"Mau ditolong gak?" seru Rey sedikit kesal.
"Iya deh, terserah mau ngomong apa. Yang penting tolongin cari ya!" mohon Santi lagi dengan menangkupkan sebelah tangannya di depan dada.
"Ya udah, ayo!" seru Rey membuat semuanya segera beranjak untuk mencari.
Santi dan Toni menyusuri area persawahan di seberang kanan rel kereta. Sedangkan Yumna di sebelah kirinya, berlawanan arah saling membelakangi dengan Rey.
Berjalan sendiri-sendiri, dan terus berharap agar segera ditemukan.
Saat Yumna melewati sebuah pohon sukun, terdengarlah suara khas salah satu tokoh horror yang dikenalnya. Pohon itu terletak tepat di belakang pabrik tua yang sudah tak terpakai.
Sesosok berdaster panjang, dengan rambut yang terurai mulai terlihat tersenyum menyeringai.
"Eh, si embak. Kok tumben dasternya merah? Biasanya kan putih ya? Ngapain liatin Yumna, Mbak?" tanya Yumna, setelah melihat sekilas ke sosok hantu yang terus tertawa cekikikan di atasnya.
"Hiii.... Hiiiiii.... Hiiiiiii......., kalau yang pakai putih itu model lama. Yang sekarang sudah mulai banyak pilihan warnanya. Kamu mau apa celingukan di situ?" tanya si embak masih melihat dari atas pohon.
"Wuiihh gaya bener, Mbak. Noh temen saya ada yang kehilangan tangan. Aku disuruh bantu cari biar dia bisa tenang, gak berkeliaran lagi di dunia ini," jawab Yumna menunjuk ke arah Santi dan Toni.
"Panggil aku Mbak Sus aja," ucapnya memperkenalkan diri.
"Bagus bener namanya, kayak nama kue kesukaanku aja. He..., bercanda ya Mbak Sus!" ucap Yumna membuat tatapan tajam dari atasnya.
"Nama lengkapku Susilowati. Eh, itu bukannya orang yang sengaja menabrakkan diri di rel kereta ya? Wuiihh, saya suka lihat gayanya. Baru mau aku ajak gabung buat cari berondong yang suka mabuk di bawah pohon ini, eh ternyata sudah punya gandengan."
"Idiiihhh, cantik-cantik suka godain berondong. Memang gak ada gebetan sebangsanya apa, dah gaya pake baju merah bagus gitu?" tanya Yumna asal.
"Ada sih, cuma bingung mau deketinnya. Kayaknya sih dia gak punya pasangan juga."
"Siapa sih, jadi penasaran," ucap Yumna masih celingukan mencari tangan Santi.
"Naik sini, biar kelihatan. Nanti kalau kamu bisa bantu aku buat deket sama si Aryo, aku bantu kamu cari tangannya. Lagian dari sini lebih jelas kalau mau cari tuh," ajak mbak Sus.
"Aku kan masih pakai rok seragam, gimana naiknya?"
"Biar aku bantu, kamu merem bentar ya," perintah mbak Sus.
Sesaat kemudian, Yumna sudah duduk di salah satu ranting pohon yang lumayan kuat.
"Kamu lihat makhluk bertubuh harimau berkepala manusia itu? Nah, itu yang namanya Aryo," kata mbak Sus mengarahkan telunjukknya ke dalam bangunan pabrik.
"Owalaaahh, kenapa gak coba ajak kencan aja?"
"Kencan ke mana? Maunya sih gitu, tapi masak ku ajak ke kuburan? Kalau malam minggu seperti sekarang, tuh tempat sudah penuh sama pasangan."
"Gimana kalau mbak Sus bantu kita dulu, nanti aku minta sama bos buat kasih voucher tamu spesial di restoran hantu miliknya? Kita persiapkan tempat romantis buat mbak Sus nembak dia nanti, gimana?" tanya Yumna mencoba memberi penawaran.
"Oke deh, gampang kalau itu mah. Kebetulan aku punya niat mau ajak dia ke sana juga, setelah denger dari para geng sosialitaku yang ngomongin tentang restoran itu. Jadi kamu kenal pemiliknya?" tanya mbak Sus memandang lekat ke arah Yumna.
"Aku kerja di sana, Mbak. Ya sudah, deal ya!"
"Siip, aku tau kok tempat yang kamu cari. Kan aku juga lihat pas kejadiannya ditabrak kereta," sahut mbak Sus.
"Wah, kebetulan. Tolong kasih tahu kami biar lebih cepat buat dia tenang ke alamnya," mohon Yumna pada makhluk berbaju merah di depannya.
"Cari di tempat pembuangan sampah di sebelah situ. Nanti ada sebuah karung, nah di dalamnya situ tempat tangannya."
"Hah, iseng bener. Siapa yang masukkin ke karung?" tanya Yumna heran.
"Biasalah, para pemabuk. Dia kira itu kucing mati, jadi pas nemu karung punya pemulung langsung diambil buat buang tuh bangkai, biar gak bau di tempat mereka biasa pesta minuman keras."
"Trimakasih, Mbak Sus. Nanti kalau sudah ketemu, aku ke sini lagi deh. Sekalian aku kenalin sama yang punya testoran," ucap Yumna sambil mengerlingkan sebelah mata.
"Widiiih, mana-mana? Cowok apa cewek?" tanya mbak Sus menatap Yumna.
"Cowok mbak! Tuh orangnya juga lagi nyari tangan, sama kayak aku," jawab Yumna menunjuk ke arah Rey.
"Itu manusia apa bukan sih?"
"Ya manusialah, kakinya aja napak di tanah."
"Waduh, jadi gak bisa godain dong ya? Ah, lagian masih bisa juga godain cowok-cowok yang biasa di bawah sini," sahutnya mulai kecentilan.
"Bisa aja. Yuk, sekarang tolongin Yumna turun lagi!" perintah Yumna pada sosok di sampingnya.
"Eh, satu pertanyaan lagi ya. Memang kalau dia manusia, kenapa bisa buka restoran hantu?"
"Nah, itu juga Yumna belum tahu tuh. Kayaknya dia terlalu kaya, sampai bingung mau buat apa uangnya, he....," jawab Yumna asal.
"Ya sudah, kamu merem lagi. Tapi inget janjinya ya!"
"Siaaapp, nih dah merem."
Kurang dari satu detik, tubuh Yumna sudah kembali berdiri di bawah pohon sukun itu. Dia segera berteriak memanggil Rey untuk segera mendekat.
"Kenapa sih teriak panggil-panggil. Sekarang mana tangannya?" tanya Rey celingukan mencari di sekitarku.
"Kata mbak Sus, kita harus cari di tempat pembuangan sampah itu," tunjuk Yumna.
"Mbak Sus siapa?" tanya Rey.
"Tuh, di atasmu!" jawaban Yumna sempat membuat Rey kaget, melihat wajah mbak Sus mulai genit menggoda Rey.
"Ih, siapa lagi dia?"
"Dia yang nunggu pohon itu dari dulu, jadi tahu peristiwa mbak Santi saat mengakhiri hidupnya," jawab Yumna.
"Hai, Mas Ganteng. Namanya siapa sih? Ihii...hiii......," tanyanya.
"Kan tadi sudah dikasih tahu. Malah nanya lagi," seru Yumna menepuk dahinya sendiri.
"Tadi kan kamu yang bilang, aku cuma pengen denger dia jawab pertanyaanku saja. Ihii...hiiii.....," sungut mbak Sus tak mendapat jawaban dari Rey.
"Rey, dia bilang mau jadi tamu spesial malam ini di restoran. Itu juga kalau nanti tangannya dah ketemu," pinta Yumna pada Rey.
"Tapi aku gak mau dia ganggu aku atau pelanggan lainnya."
"Beres, dia datang sama gebetannya kok," sahut Yumna membujuk Rey.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Hati Yang Terkilan
🤣🤣🤣🤣benar juga tu🤣🤣🤣
2025-01-29
0
Desyi Alawiyah
Mbak Sus, genit banget yah 😜
2024-10-30
0
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
😂😅😅
2024-09-04
0