Mas gondrong nampak menikmati malamnya sebagai tamu spesial. Dia berjoget ria bersama pasangannya di tengah ruangan yang temaram. Sebagian besar para tamu lainnya, termasuk Shema juga ikut berjoget bersama.
Tak terasa pagi hampir menjelang, dan Rey segera melakukan pengumuman tutupnya restoran. Para pengunjung sudah mulai pergi. Yumna dan Shema pun segera membereskan ruangan.
"Kak Yumna, Kak Rey, terimakasih atas makanannya, enaaakkk banget. Risma bersyukur pernah datang ke sini. Risma juga senang bisa ketemu kalian. Trimakasih karena kalian sudah membuat Risma pergi dengan tenang. Risma pamit ya!" ucapnya mencium pipi kiri Yumna, dan berlanjut ke pipi kanan Rey.
"Risma, hati-hati di jalan ya!" ucap Yumna membuat semua mata tertuju padanya.
"Memang Risma mau nyebrang!" ucap Jodi.
"Iya, Risma. Pergilah dengan tenang, dan nikmati dunia indahmu selanjutnya," kata Shema.
Cahaya putih datang menyambut kepergian Risma. Dia berjalan mendekat dan menghilang tertelan cahaya itu. Semua mata merasa sedih meski baru bertemu dengannya. Termasuk Yumna dan Shema yang tak berhenti meneteskan air mata.
"Ayo, aku antar!" ucap Rey setelah menutup pintu restoran.
"Ciehh, kayaknya pak bos ada ehem-ehem ini sama Yumna!" celetuk Boni melongok menembus tembok.
"BONI!!" ucap Rey melotot membuatnya tak berani berkutik lagi.
"Maaf, Pak Bos!" seru Boni, mundur dan menghilang ke dalam restoran.
Rey mangantar Yumna pulang di sepertiga malam. Santi dan Toni masih mengikuti dari belakang.
"Pulang sekolah aku jemput!" kata Rey setelah tiba di depan rumah Yumna.
"Kenapa?" tanya Yumna bingung.
"Katanya mau bantu mereka," ucap Rey menunjuk dua hantu sejoli.
"Serius? Kamu mau bantu? Ya udah, besok aku gak usah pimjem motor bu Nuri. Aku jalan kaki saja biar pulangnya gak bingung taruh kendaraan dulu."
"Terserah!" ucap Rey pergi melajukan mobil mewahnya.
****
Pagi ini Yumna sedikit bangun kesiangan. Ditambah harus berjalan kaki ke sekolah, membuat waktu perjalanannya lebih lama. Yumna keluar rumah dengan tergesa-gesa, setengah berlari menutup pintu lagi.
"Lama banget," sebuah suara mengagetkan Yumna.
"Rey?" tanya Yumna sedikit tak percaya.
"Ayo, sudah siang!"
"Kenapa kamu jemput aku?"
"Mau naik atau jalan kaki?" tanya Rey kembali tanpa memberi jawaban.
Sesampainya di sekolah, semua mata kembali menatap ke arah mobil super mewah milik Rey, termasuk Martha. Dan betapa terkejutnya dia, saat tau Yumna ada di dalamnya.
"Trimakasih," kata Yumna tanpa jawaban seperti biasa.
Yumna segera turun, dan hendak melangkah ke ruang kelasnya.
"Woi, nanti tunggu aku jemput!" kata Rey melongok dari jendela pintu mobilnya.
"Iya, trimakasih."
Yumna kembali berjalan ke kelasnya, setelah mobil Rey sudah tak nampak lagi.
"Eh, si yuyu kangkang. Gaya banget kamu naik mobil begituan. Mau naik kasta nyaingi kita?" ucap Martha yang mendekat bersama dua temannya.
"Apaan sih, gak jelas banget!" sahut Yumna tak menanggapi dan segera pergi.
"Ih, memang ya kalau orang gak punya pengen jadi kaya tuh, biasanya cari cara yang cepet. Dasar anak tak tahu malu. Palingan dia bisa dianter pake mobil tuh karena dia menjual dirinya, ha....ha....haa......," tawa Martha diikuti dua temannya dengan keras, membuat seluruh ruangan melihatnya.
Yumna tak menghiraukan ucapan Martha karena sudah terbiasa mengejeknya.
"Si Yumna diem aja, jangan-jangan bener ya? Dibayar berapa sih buat melayani mereka?" kata Martha mulai mendekati Yumna, karena tak puas oleh ejekannya yang tak ditanggapi.
"Martha, pliss. Aku cuma ingin belajar di sini, jangan cari ribut ya," kata Yumna dengan nada lembutnya mulai membuka buku, karena hari ini ada ulangan tengah semester yang akan diselenggarakan.
Yumna hanya diam, memasang earphone meski Martha terus mengomelinya.
'Gubraaakk....'
Tak lama Martha jatuh saat hendak duduk di kursi samping Yumna. Yumna yang sedikit mendengar ada kegaduhan, membuka earphone nya.
Ada Santi dan Toni di sebelah Martha yang masih terduduk di lantai menahan sakit. Yumna melotot ke arah makhluk tak kasat mata itu, agar tak melakukannya lagi.
"Aku kesel banget sama dia, daritadi ngomel marahi kamu terus. Padahal kamu nyenggol dia juga enggak," kata Santi terbawa emosi.
Yumna hanya menggelengkan kepala, agar tak ada yang tau dia sedang berkomunikasi dengan makhluk itu.
"Huuuu, kuwalat tuh. Daritadi ngomel mlulu, berisik tau," kata Yoga yang diikuti sorak ramai seisi kelas menyalahkan Martha.
"Awas ya kalau kalian berani tertawa!" sahut Martha dibantu temannya berdiri.
Tak ada satupun yang menanggapi Martha lagi, karena takut berurusan dengan sekolah. Kedudukan ayahnya sebagai penyumbang dana terbesar di sekolah, membuatnya sangat berpengaruh.
Teman yang tak menyukai sifatnya hanya berani menjauhinya saja tanpa melawan. Tapi teman yang hanya memanfaatkan kekuasaannya, mau mengikuti semua perilaku buruknya.
Ulangan tengah semester dapat dilalui dengan baik oleh Yumna, meski sedikit waktunya untuk belajar mengerjakan latihan soal. Sedangkan Martha terus kebingungan, menoleh kanan dan kiri untuk mencari bantuan jawaban dari temannya.
Bel tanda pulang sudah berbunyi, Yumna segera berlari ke gerbang sekolah sebelum Rey datang. Dia tak ingin membuat Rey menunggu lama.
"Yuyu kangkang belum pulang? Masih nunggu jemputan buat disewa ya, ha....ha.....," tawa Martha menggelegar di telinga.
"Martha, pliss. Sebenarnya salahku sama kamu itu apa sih?" ucap Yumna mulai berani mendekati Martha.
"Salah kamu apa ya, ehm...salahmu itu sudah lahir ke dunia. Bikin aku mual aja lihat muka kamu terus, ha...ha...haaaa......," tawa Martha lagi semakin mengejek Yumna.
Santi dan Toni hendak mengerjainya lagi, tapi gelengan kepala Yumna mengurungkan niatnya. Yumna masih diam dan mulai melangkah pergi menjauhi Martha. Tapi ada satu genggaman dari belakang menahannya pergi.
"Martha, pliss. Jangan hina aku lagi, lepaskan!" sahut Yumna masih tertunduk sedih.
"Ayo pulang!" ucap suara Rey yang ternyata ada di belakangnya.
"Oh, maaf. Kirain....," jawab Yumna melirik ke arah Martha, yang masih duduk di atas kendaraannya di belakang tubuh Rey.
"Yumna, itu pacarmu?" tanya Martha berpura-pura ramah, setelah melihat Rey dari dekat dan mencium aroma tubuhnya yang membuatnya langsung jatuh cinta.
"Bu..bukaann, dia bosku. Pemilik restoran tempatku bekerja," jawab Yumna sedikit tak enak pada Rey, takut ada jawaban yang salah atas dirinya.
"Baguslah. Kenalin ke kita boleh?" tanya Martha mendekat dan mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman.
"Rey, tunggu. Maaf ya Martha," sahut Yumna, saat melihat Rey pergi tanpa mau membalas tangan Martha.
"Ayo masuk! Nanti keburu sore," kata Rey membuat Yumna berlari untuk segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan Martha yang semakin geram.
Santi dan Toni yang menyaksikan drama itu, bersorak gembira. Puas hatinya melihat Martha yang kecewa karena penolakan mentah-mentah dari Rey.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Rasain si Martha emang enak dikerjain Mba Santi🤣🤣
2024-05-12
1
Uun Kurniasih
lanjut author, cerita nya bagus
2021-12-03
0
akun sudah diblok MT
semngat Thor.
salam dari Bangkitnya penjaga bukit Welwo
2021-10-15
0