"Mbak Santi, kemana aku harus cari tanganmu? Gini aja ya, aku mau berangkat kerja sekarang. Aku kerja di restoran yang khusus menyajikan makanan untuk para hantu yang masih berkeliaran di dunia. Silahkan kalau mau ikut, tapi kalau mau cari tanganmu aku gak janji ya," kata Yumna mencoba membuatnya lega.
"Tapi aku tak akan bisa tenang, kalau tanganku belum dikubur bersama ragaku yang lain," ucapnya bersikeras.
Belum sempat menjawab, telepon genggam Yumna mulai berbunyi. Masih dengan nama Rey yang tertera, karena cuma dialah kontak yang dia punya.
"Share lokasi, sekarang!" perintah Rey langsung menutup sambungan, tanpa menunggu jawaban dari Yumna.
"Hiiiihhh! Coba kalau aku gak butuh duit, pasti dah menjauhi makhluk mengerikan seperti dia," gumam Yumna.
"Apa ada makhluk yang lebih mengerikan daripada saya?" tanya Santi.
"Bosku itu, makhluk paling mengerikan yang pernah aku temui!" ucap Yumna kesal, sambil mengirim lokasi rumahnya.
"Tubuhnya hancur juga kayak saya?" tanya Santi lagi.
"Tubuhnya sih utuh, tapi hatinya yang hancur. Selalu bikin orang sebel," jawab Yumna.
'Tiiiiiinn......'
Suara mobil terdengar di luar. Membuat Yumna segera berlari, padahal lokasi baru saja dikirim.
"Cepet banget?" tanya Yumna masuk ke dalam mobil, setelah mengunci semua pintu dan jendela rumah.
"Masuk mobil! Siapa itu?" tanya Rey tanpa basa basi.
"Oh, itu nama ya mbak Santi. Dia nempel saat kita melewati rel kereta api tadi. Katanya mau minta tolong buat cari tangannya, gimana? Boleh ikut ke resto dulu gak, terus besok kita cari tangannya?" tanya Yumna meminta ijin.
"Kita? Kamu sendiri ajalah! Daripada disuruh bayar uang lemburmu lagi," kata Rey memandang ke hantu wanita yang masih berdiri di depannya.
"Gak usah dibayar lembur gak masalah, daripada dia ngikut terus!" sahut Yumna cepat.
"Terserah dia mau ikut ke resto atau nggak, cepat kamu masuk!" perintah dingin Rey seperti biasa.
Mobil berjalan menuju restoran milik Rey, dan Santi pun mengikuti dari belakang.
"Waaaoow, bagus juga restorannya!" kata Santi takjub.
"Berisik, kalau mau makan nanti jam dua belas," ucap Rey masuk ke dalam.
"Ayo masuk, Mbak. Itu Rey bos aku, memang kayak gitu orangnya," kata Yumna mengajak Santi.
"Itu yang kamu maksud makhluk paling mengerikan?" tanya Santi.
"Iya bener, dia makhluk paling dan sangat mengerikan dari semua makhluk yang pernah aku temui," jawab Yumna tak sadar kalau Rey berdiri di belakangnya.
"Siapa maksudmu? Ayo cepat kerja, jangan kebanyakan ngobrol!" perintah Rey mengejutkan Yumna.
"Menu hari ini apa?" tanya Yumna saat akan mengganti tulisan di papan menu harian.
"Rendang daging sapi, sesuai request tamu spesial malam ini!" ucap Rey dari dalam.
"Oh iya, hari ini mas gondrong mau datang ya?" tanya Yumna, tapi tak ada jawaban.
"Mas gondrong siapa?" tanya Shema mendekati Yumna yang masih membersihkan tempat duduk pelanggan.
"Ow, makhluk berambut hitam lebat di sekujur tubuhnya. Aku panggilnya mas gondrong aja, he....," jawab Yumna tertawa garing.
"Cakep nggak? Kok sampai jadi tamu spesial?" tanya Shema masih penasaran.
"Dia nanti datang sama pasangannya. Dia dah nolong aku sama Rey saat membantu Risma tadi. Eh, Risma dah akrab sama mbak Santi?" tanya Yumna saat melihat mereka berdua duduk di kursi paling ujung, dekat tempat piano klasik berdiri.
"Mbak Santi ini dulu tetanggaku. Dia menabrakkan dirinya di atas rel kereta api, saat baru putus sama mantan pacarnya trus ditinggal menikah," jelas Risma.
"Yaelah, mbak. Kalau putus mah cari lagi, jangan terlalu bucin sama cowok!" kata Shema.
"Sebentar lagi makanan siap, beberapa menit lagi buka pintunya. Jangan ngobrol terus!" kata Rey pelan saat lewat di sebelah Yumna untuk mengecek persiapan tempat.
Jam dua belas teng persiapan selesai, dan makanan segera disajikan untuk semua tamu yang sudah datang.
"Toniii???" ucap Santi mendekati seseorang.
"Santi???" jawab laki-laki bernama Toni itu mendekat.
Mereka saling berpelukan dalam tangis, di depan semua makhluk di dalam restoran. Kami yang menunggu para tamu menikmati sajian, ikut tercengang melihatnya. Sampai Boni mengikutinya dengan memeluk Shema yang ikut dramatis melihatnya.
"Trus aku peluk siapa?" kata Jodi hendak memeluk Yumna, tapi segera dihalangi oleh Rey yang memasang badan di depannya.
"Yaahh, pak bos. Kalau gitu aku gak berani deh!" ucap Joni mengurungkan niatnya.
"Beda alam, jangan coba-coba!" ucap Rey singkat.
Ada rasa haru di mata Yumna, saat melihat Santi dan Toni bertemu. Meski sebenarnya dia belum tahu maksudnya. Tapi lebih terharu lagi saat melihat Rey peduli padanya.
"Itu yang namanya mas gondrong?" tanya Shema yang baru melihatnya dan melepas pelukan Boni.
Dia datang bersama pasangannya, berjalan masuk mencari tempat spesial yang sudah disediakan. Setelan jas hitam menutupi sebagian rambut lebatnya yang menempel di tubuh. Begitu juga dengan pasangannya yang mengenakan gaun hitam.
"Iya, cakep gak?" tanya Yumna menyenggol Shema dengan pundaknya.
"Lumayan keren sih, tapi sayangnya sudah ada gandengan," kata Shema sedikit kecewa.
"Kamu juga ada Boni kan," kata Yumna melirik Boni yang sedang berjalan menuju dapur untuk mempersiapkan hidangan tamu spesial.
"Ya buat cadangan gitu, biar gak kayak si mbak yang hancur sebelah itu," jawab Shema menunjuk, dengan tatapan matanya yang selalu cetar membahana walau tanpa maskara.
"Yumna!" panggil Santi melambaikan tangannya.
Yumna menghampiri Santi, setelah mempersilahkan tamu spesialnya, menempati tempat yang sudah dihias sebelumnya.
"Kenapa? Oh iya, ini siapa?" tanya Yumna pada laki-laki pucat dengan lingkaran darah di lehernya.
"Dia Toni, mantan kekasih yang membuatku nekat ke tengah rel kereta api," ucap Santi.
"Trus, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Yumna.
"Aku menikah karena perjodohan. Tapi aku tak bisa menolaknya. Karena orangtuaku, terutama ayahku tidak pernah mau mendengar penolakan sedari aku kecil," jelas Toni.
"Lalu?" tanya Yumna, saat Toni berhenti sejenak sambil menerawang ke langit-langit ruangan.
"Sehari setelah pernikahan, aku mendengar kabar kematian Santi yang tragis. Aku terus merasa bersalah, sampai belum pernah ku sentuh sedikitpun istriku. Tepat hari ke tujuh, aku memberanikan diri mengikuti Santi," cerita Toni.
"Berarti dah lama juga kamu mati?" tanya Santi masih menggenggam jari Toni, dengan tangan yang hanya sebelah saja.
"Iya, tapi ternyata aku tak dapat mememukanmu. Sampai akhirnya kita ketemu di sini sekarang," kata Toni memeluk tubuh Santi yang sangat mengerikan.
"Kamu gak jijik melihatku seperti ini?" tanya Santi merasa minder.
"Tujuanku masih penasaran di dunia ini, hanya karena ingin bisa menemukan kamu. Ayo kita bersama menuju ke alam selanjutnya," ajak Toni.
"Tapi aku masih belum bisa tenang, sampai aku menemukan tanganku untuk dikubur bersama bagian tubuh yang lain," ucap Santi.
"Besok ku bantu mencarinya, biar kalian berdua tak lagi penasaran dan cepat melanjutkan perjalanan ke dunia kalian yang semestinya," janji Yumna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Yoke Febrianti
like this puol wes... ga serem critanya tp bener2 bs kuikuti,, secara q tkt setan heheehhe
2024-10-22
0
julius
imajinasi yg hebar, thor. menyatukan dua alam yg berbeda. blm pernah baca yang seperti ini. walaupun dgn bahasa yg sederhaba 👍👍👍
2024-09-06
0
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
😃😄 kereen
2024-09-04
0