"Heh, kamu kenapa?" tanya Rey sedikit terkejut mendengar teriakan Yumna.
"Ak.. Akuu mimpi! Mimpi tentang pembunuhan Risma," ucap Yumna sambil berusaha bernafas dengan baik.
"Nih, minum dulu. Makanya kalau lagi kerja itu jangan tidur! Percuma ku bayar kamu kalau buat pingsan dalam mobil," seru Rey kesal.
"Maaf, tapi aku bener-bener.....eh STOOOPP!!" teriak Yumna membuat Rey terkejut, hampir menabrak tiang listrik di pinggir jalan.
"G*la kamu ya, ngagetin orang aja! Untung keburu direm. Kalau nggak, bisa remuk mobilku, termasuk aku dan kamu!" gerutu Rey semakin kesal.
"Maaf, Rey. Maaf banget!!! Itu orang yang aku lihat dalam mimpi. Dia yang membunuh Risma," ucap Yumna melihat seseorang yang baru masuk ke dalam taksi di depan mobil Rey.
"Ku harap kamu benar, kita ikutin dia!" ajak Rey.
"Risma, kamu kenal orang itu?" tanya Rey memastikan, dengan terus mengikutinya.
"Huwaaaaa.......," tangis Risma pecah.
"Nah lo... Nah lo... Anak orang dibikin na....ngiss," ucap Yumna sedikit dilagukan untuk mengejek Rey, tapi segera menunduk ketika Rey memandangnya dengan tatapan dingin.
"Aduuhh, nangis lagi. Eh, itu orang mau kemana ya kira-kira?" tanya Rey.
"MAMAAAA........," teriak Risma saat mobil mulai memasuki kawasan perumahan elite.
"Cup... Cup... Adek manis, tenang ya. Kita mau bantuin kamu kok!" kata Yumna mencoba menenangkannya.
"Lhoh, kenapa dia berhenti di depan rumah kosong?" seru Rey.
"Eh, iya ya? Tuh... Dia masih celingukan.....," sahut Yumna.
"Menunduk!!" perintah Rey menekan kepala Yumna ke bawah.
Deeggghh......
Sempat ada sedikit getaran di dada Yumna. Baru kali ini ada laki-laki yang bersentuhan sangat dekat dengan dia. Bahkan kepala Yumna bersembunyi di bawah dada pria tampan itu, meski tanpa sengaja.
Yumna tertegun dan merasa nyaman mencium harumnya tubuh Rey yang masih berada di atasnya, meski Yumna sedang menunduk. Sedangkan Rey masih mengintip dan mengawasi keadaan pria itu yang sedang berdiri jauh di depan mobilnya.
"Syukurlah, dia tidak tahu. Padahal tadi sepertinya sudah mau berjalan ke sini," kata Rey mulai menegakkan badannya, dan baru sadar kalau Yumna sedikit tertindih olehnya.
"Eh, maaf ya!" ucap Rey singkat.
"Iya, gak apa-apa. Gimana? Orangnya kemana?" tanya Yumna.
"Tadi aku lihat dia masuk rumah itu mencurigakan sekali!" sahut Rey mulai penasaran.
"Ayo kita ikuti!" ajak Yumna.
"Kamu berani?"
"Ya beranilah, orang aku yang ngajak juga!" jawab Yumna yakin.
"Risma, kamu tenang ya. Jangan nangis kalau ikut kami ke dalam sana," pinta Yumna mengajak Risma yang dibalas dengan anggukan saja.
Mereka mengendap, perlahan ikut masuk ke rumah kosong tersebut. Tak disangka, ternyata di sana sudah banyak penghuni tak kasat mata.
Dari mulai pintu pagar sudah terlihat makhluk tinggi besar, berbulu hitam, dan bermata merah yang sedang duduk dengan bangsa sejenisnya. Kelihatannya mereka sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.
Rey minta ijin untuk masuk ke dalam rumah itu, dengan memberikan voucher makan malam, spesial hanya untuk mereka berdua di restorannya nanti malam. Dan sepasang kekasih itu pun mempersilahkan Rey, Yumna, dan Risma masuk ke dalam.
Masih sambil mengendap tanpa suara, Rey melihat pria itu sedang mencangkul sesuatu di lahan belakang bangunan tak terpakai itu. Rey mengambil beberapa gambar di smartphone miliknya.
'Gludakk'
Tak sengaja Rey menyenggol kayu bekas yang ada di depannya, membuat pria itu menghentikan aksinya.
Dengan gugup, Rey segera menarik Yumna ke belakang tumpukan bahan bangunan di sebelahnya. Mereka masih bersembunyi dalam diam dan pikiran masing-masing.
Yumna semakin grogi saat Rey lupa kalau masih menggenggam jemarinya. Bahkan sempitnya tempat persembunyian, membuat Yumna lebih dekat dengannya karena wajah Rey hanya beberapa senti di depan wajahnya.
"Wooiiiii, siapa?" tanya pria itu semakin mendekat ke tempat persembunyian mereka.
Detak jantung mereka berdua seperti berlomba. Bukan hanya karena takut, tapi juga karena baru sadar kalau hidung mereka hampir bersentuhan.
'Gludakk'
Terdengar suara kayu terjatuh dari arah yang berlawanan, dan pria itupun berbalik arah untuk menghampiri asal suara yang baru terjadi di belakangnya.
"Pinter banget sih mas gondrong," bisik Yumna setelah mengintip ke arah asal suara.
"Mas gondrong siapa?" tanya Rey penasaran ikut mengintip, tapi sudah tak terlihat apapun di sana.
"Mas gondrong itu yang tadi kamu kasih voucher makan di resto mu, sebagai tamu spesial malam ini," jelas Yumna.
"Hantu di depan gerbang tadi maksudnya?"
"Ya iyalah, kan rambutnya gondrong sampai menutupi seluruh badannya. Eh, lihat itu!" bisik Yumna terlejut melihat pria itu mengangkat bungkusan putih panjang dari dalam lubang.
"Itu bungkusan apa ya kira-kira yang baru dikeluarkan dari lubang bekas cangkulannya?" tanya Rey masih tetap mengambil gambar sebagai bukti nantinya.
"Bungkusan itu mirip tamu restomu kemarin, yang ada ikatan di kepalanya trus jalannya lompat-lompat itu kan?" ucap Yumna polos.
"Eh, iya bener. Jangan-jangan.......," kata Rey menatap Yumna.
"Itu jasad Risma?" timpal Yumna yang dijawab anggukan oleh Risma.
"Ayo kita cepat pergi dari sini, kita lapor ke satpam perumahan dulu sebelum dia membawa pergi jasad itu!" usul Rey langsung menarik tangan Yumna, untuk mencari pertolongan terdekat.
Sesampainya di gerbang jalan masuk perumahan, Rey menceritakan kejadian yang baru dilihatnya. Mereka ditemani dua orang satpam menuju ke tempat yang telah di ceritakan sebelumnya.
Tepat satpam sampai di pintu pagar rumah, pria itu baru keluar.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seorang satpam saat berhadapan dengan pria itu.
"Ehm, saya cuma mau cari rumah, Pak! Kira-kira ini yang punya siapa ya, Pak?" tanyanya berpura-pura.
"Apa bungkusan yang kau bawa tadi?" tegas pak satpam langsung pada tujuannya, setelah melihat foto yang ada di smartphone Rey sebelumnya.
"Bungkusan? Saya tidak tahu apa maksudnya?" elak pria itu.
"Ini, Pak!" sahut Rey menunjukkan foto hasil tangkapannya.
"Kurang ajar, dari mana kau dapat foto itu?" tanya pria itu kesal.
"Kamu tidak perlu tahu, cepat tunjukkan saja!!!" desak pak satpam melindungi Rey, yang hendak didekati pria itu untuk mengambil gadget canggih milik Rey.
"Ampuuunn, Pak!! Maafkan saya, saya khilaf," tangis pria itu.
"Lalu dimana kau letakkan bungkusan itu?" tanya pak satpam lagi.
"Saya kembalikan ke lubang yang sudah saya gali sebelumnya, Pak! Hu...huu.....," pria itu menunjukkan letaknya mengubur.
"Cepat bongkar dan keluarkan isinya! Tono, panggil polisi segera!" perintah salah satu satpam yang terlihat dominan dalam memimpin.
"Siap, Ndan! Laksanakan!" ucap satpam satunya menekan gawai miliknya untuk terhubung ke kepolisian.
"Ini, Pak! Hu... Huuu......, saya menyesal. Saya benci sama ibunya. Ibunya selalu mendapatkan yang terbaik di keluarga dari kecil. Saya memang anak angkat, tapi bukan berarti harus selalu dibedakan. Saya ingin membuat ibunya menangis saja. Dan menurut saya, itulah jalan yang terbaik untuk membuat kesedihan ibu anak ini. Setelah puluhan tahun selalu merasa bahagia, ha....haaa....haaaaa," tawa pria itu terus menerus, dengan menunjuk ke arah jasad Risma meskipun air mata tangisannya belum sempat mengering.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Wah sakit tu orang
2024-09-04
1
Maz Andy'ne Yulixah
Kayak nya edan🙄🙄
2024-05-12
2
Diana Sujito
kisah horor..yg di bumbuin dengan apa y thor😆 lupa aku
2021-09-18
0