Pilihan Yang Berat

"Lhooo, maksa banget sih!" teriak Yumna sedikit kesal, menatap punggung Rey yang berjalan terus ke depan.

"Yumna, ngapain di situ? Ayo pulang, nanti malah kesambet baru tau rasa!" ucap Martha, teman satu kelas dari bangku sekolah saat Taman Kanak-Kanak sampai sekarang, Sekolah Menengah Atas.

"Iya, kamu baru pulang juga?" tanya Yumna mencoba ramah seperti biasa.

"Kepo banget sih, mau tau urusan orang aja!" jawabnya ketus seperti biasa juga.

Yumna memilih pergi meninggalkan Martha, sebelum dia mulai meneruskan caci makinya.

Martha merupakan anak pengusaha kelapa sawit, yang juga paling kaya di desanya. Tetapi karena kesibukan ayahnya yang lebih sering ke luar pulau, dan ibunya yang suka ikut perkumpulan sosialita ke kota menjadikannya kesepian.

Kurang kasih sayang orangtua, meski bibi Lina yang selalu ada untuknya. Asisten rumahtangga, yang sudah dari bayi mengasuh dirinya. Tapi itu tak membuatnya bahagia, malah menjadikannya seorang anak yang egois tak mau kalah dari yang lain. Itu dilakukan hanya semata-mata mencari perhatian yang selama ini kurang didapatkan.

"Yumna, mau pergi kemana? Kurang ajar banget, belum juga selesai ngomong sudah minggat aja!" teriaknya marah, karena tak mau diacuhkan.

Martha memilih melajukan motor matic keluaran terbaru menuju rumahnya, setelah kemarahannya tak tersalurkan. Meski tak ada kebahagiaan juga yang akan dia temukan di rumahnya nanti.

Yumna mengetuk pintu rumahnya, tapi belum ada jawaban di sana. Dia mencoba mengelilingi rumahnya, berharap nenek Kip sedang berkebun di belakang rumahnya.

Kosong, tak ada siapapun di sana. Justru makhluk berdaster putih yang dia temukan sedang menggantungkan kakinya di atas pohon nangka sebelah rumah.

"Kamu cari nenekmu?" tanya mbak Susi, panggilan Yumna untuknya.

"Iya, kamu tahu?" tanya Yumna mendongakkan kepalanya.

"Tahulah, kan dari tadi aku di sini!" jawabnya memainkan rambut gimbalnya yang sudah mulai dipenuhi ulat dan kecoa.

"Mbak Susi yang cantik, boleh Yumna tau kemana nenek Kip pergi?" tanya Yumna.

"Tadi nenekmu pingsan, lalu dibawa warga ke rumah sakit kayaknya!" ucapnya yang langsung membuat Yumna bersandar lemas ke dinding batu bata.

"Terimakasih," jawab Yumna singkat, dan segera berlari ke tetangga sebelah rumahnya.

"Permisi, Bu Nuri?" ucap Yumna memberi salam di depan rumah.

"Eh, Yumna sudah pulang. Ayo sini makan dulu," kata bu Nuri, yang sudah menganggap Yumna seperti anak sendiri.

Bu Nuri hanya tinggal dengan pak Robi, suaminya. Kedua anak mereka sudah berumah tangga dan tinggal di kota yang berbeda.

"Terimakasih, Bu. Yumna cuma ingin tanya, apa ibu tau nenek Kip sekarang dimana?" tanya Yumna yang sudah bersusah payah menahan air mata.

"Yumna, sabar ya. Nenekmu pasti akan baik-baik saja. Pak Robi, sudah membawanya ke rumah sakit terdekat," jelasnya menegaskan.

"Baiklah, saya akan segera ke sana."

"Mari ibu antar saja, naik sepeda motor biar cepat sampai ya," ucap bu Nuri menawarkan diri.

"Trimakasih, tapi Yumna bisa ke sana sendiri. Maaf kalau sudah merepotkan ibu," sahut Yumna menunduk, dan tak bisa menahan air mata yang sudah mengalir di pipinya.

Bu Nuri bersikeras mengantarkannya, karena tak mau sesuatu terjadi padanya. Akhirnya Yumna pun menurutinya.

Selama dalam perjalanan, Yumna hanya terdiam. Memikirkan bagaimana cara membayar biaya rumah sakit itu.

Tabungannya sudah sangat menipis, mungkin akan langsung habis setelah digunakan membayar tagihan rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dia segera menghampiri nenek Kip, satu-satunya keluarga yang masih tersisa.

"Nenek, Yumna di sini!" ucapnya mendekati nenek renta yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

"Karena Yumna sudah datang, kami pamit dulu ya. Nanti malam biar kami saja yang menunggu di sini. Yumna tidur di rumah saja, karena besok harus ke sekolah," pamit pak Robi.

"Trimakasih, Pak!" ucap Yumna singkat, karena tak tahu harus berkata apa lagi.

"Kamu banyak berdoa ya, jangan pikirkan biayanya. Kami sudah membayarnya," lanjut pak Robi menepuk bahu Yumna yang tak tahu harus berbuat apa.

"Sabar, Nak. Semangat ya, biar nenekmu juga bisa segera sembuh. Oiya, nanti kamu bisa memakai motor kami yang satunya. Supaya kamu bisa lebih mudah ke mana-mana," timpal bu Nuri mengikuti suaminya keluar kamar rumah sakit.

Yumna benar-benar bingung, apa yang harus dilalukannya untuk menggantikan biaya rumah sakit ini. Tiba-tiba dia mengingat tawaran kerja di restoran hantu itu.

"Ya, mungkin aku harus mencobanya. Tak ada salahnya aku menerima tawarannya," gumam Yumna.

"Yum.. Yumna...., maafkaan nenek ya," kata nek Kip saat pertama membuka mata.

"Nenek, Yumna takut. Yumna cuma punya nenek. Nenek harus sehat untuk Yumna," tangis Yumna mencium tangan keriput itu.

"Nenek minta maaf, sudah membuat susah Yumna. Nenek jadi menambah beban Yumna sekarang padahal harusnya nenek yang merawat Yumna," kata nek Kip mengusap kepala gadis itu.

"Sstt, nenek gak boleh bilang seperti itu. Yang terpenting bagi Yumna, nenek harus segera sehat dan pulang ke rumah bersama Yumna," sahut Yumna menenangkan neneknya.

"Tapi bagaimana dengan biaya rumah sakit ini? Lebih baik nenek pulang sekarang saja, biar biayanya tidak bertambah banyak."

"Tenang, Nek. Pak Robi sudah membayarnya, dan Yumna janji akan menggantinya kalau sudah mendapat upah kerja. Doakan Yumna supaya bisa lancar kerja paruh waktunya ya, Nek!"

"Memangnya kamu sudah mendapat kerja? Dimana?" tanya nek Kip.

"Yumna kerja paruh waktu di restoran, lumayam kok gajinya," jawab Yumna tak sepenuhnya berbohong, meski tak menceritakan semuanya.

"Syukurlah! Yang penting harus jujur, dan berhati-hatilah," nasehat neneknya yang hanya dijawab anggukan olehnya.

Waktu cepat berjalan saat dia menemani neneknya di dalam kamar rumah sakit. Yumna juga memanfaatkan waktunya untuk tidur sebentar di sebelah ranjang neneknya, setelah menyelesaikan tugas rumah dari sekolah.

"Yumna, bangun nak!" ucap suara membangunkannya.

"Eh, bu Nuri. Maaf tadi ketiduran, he....," jawab Yumna mengusap sedikit cairan yang keluar dari mulutnya.

"Sekarang mumpung masih belum terlalu malam, pulanglah! Lanjutkan istirahat di rumah biar besok bisa membuat semangat nenekmu."

"Trimakasih banyak, Bu, Pak! Kalau sudah ada uang Yumna akan segera mengganti biayanya," ucap Yumna.

"Tak usah kau pikirkan. Doakan saja nenekmu bisa cepat sehat dan menemanimu di rumah lagi," sahut pak Robi.

"Oh iya, ini kunci dan stnk nya. Pakai saja motornya! Dan ini sudah ibu siapkan bekal makan malam untukmu. Sebaiknya kau bawa pulang saja," ucap bu Nuri.

"Sekali lagi terimakasih," kata Yumna ingin berlutut mencium kaki keduanya, tapi segera ditahan dan dipeluk bu Nuri.

Ada kebahagiaan saat dia merasa ada keluarga yang peduli dengannya.

"Kalau begitu, Yumna pamit dulu. Trimakasih banyak," kata Yumna sebelum keluar ruangan kamar dengan membawa kunci motor dan suratnya, beserta makan malamnya.

Malam yang belum terlalu larut. Dia sempatkan dulu pulang ke rumah untuk menghabiskan makan malamnya, setelah terlalu banyak penampakan-penampakan yang dia temui selama di perjalanan pulang.

Yumna membersihkan dirinya dan rumahnya, kemudian bersiap berangkat memutuskan pilihannya.

****

**Ilustrasi Tokoh

Martha

Bu Nuri

Nek Kip (Nenek Yumna)

**

Terpopuler

Comments

Asih Prawawati

Asih Prawawati

Yumma anak baik...maka dr itu selalu di kelilingi orang baik .
Pak Robi dn Bu Nuri .

2024-11-17

0

Hati Yang Terkilan

Hati Yang Terkilan

Wahhh Ternyata cantik juga ni si Martha

2025-01-29

1

Kazuto

Kazuto

masih salfok sama ilustrasi nya. 😅😅😅😅

2025-01-18

0

lihat semua
Episodes
1 Tawaran Kerja Untuk Yumna
2 Pilihan Yang Berat
3 Hari Pertama Bekerja
4 Perjalanan Membantu Risma
5 Penemuan Jasad Risma
6 Diikuti Hantu Rel Kereta Api
7 Pertemuan Santi dan Toni
8 Perpisahan Risma
9 Pencarian di Rel Kereta
10 Penemuan Tangan Santi
11 Perhatian Rey Terhadap Nenek Yumna
12 Kisah Lampau Rey
13 Keisengan Brodi
14 Kecelakaan Brodi
15 Menjenguk Brodi
16 Bertemu di Alam Lain
17 Permintaan Maaf Brodi
18 Ke Rumah Korban Kecelakaan
19 Cerita Meyta, Hantu Rumah Angker
20 Menemui Keluarga Meyta
21 Ke Bank Mayara
22 Penjebakan Bimo
23 Kisah Kinan, Hantu Wanita Hamil
24 Saingan Rey Untuk Yumna
25 Leila, Hantu Ruang Bawah Tanah
26 Penemuan Mayat Leila
27 Hubungan Rey dan Yumna
28 Kakek Tua Misterius
29 Penemuan Mayat Kakek
30 Suami Kinan ke Restoran
31 Pertemuan Kinan dan Suaminya
32 Canda, Sosok Anak Tanpa Orang Tua
33 Pencarian Rey ke Makam
34 Pengakuan Orang Tua Canda
35 Kematian Aneh Robert
36 Mencari Tahu Kasus Robert
37 Ungkapan Perasaan Rey
38 Kisah Tragis Robert
39 Pertolongan Untuk Novi
40 Penangkapan Ravon
41 Perpisahan Robert
42 Rumah Sakit Misterius
43 Pencarian Kamar Bersalin
44 Makhluk Dari Kamar Mayat
45 Perjalanan Keluar Rumah Sakit
46 Kedekatan Rey dan Yumna
47 Kepindahan Novi
48 Gangguan Rumah Baru Novi
49 Rumah Baru Penuh Misteri
50 Penemuan Di Rumah Novi
51 Perjalanan Mimpi Yumna
52 Pertolongan Om Barjo
53 Menjenguk Bu Mey
54 Pengakuan Kepada Nek Kip
55 Rencana Perlawanan 1
56 Rencana Perlawanan 2
57 Pasukan Tak Kasat Mata
58 Malam Keramat
59 Penumbalan Oleh Praja
60 Pertemuan Singkat Rey dan Neneknya (END)
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Tawaran Kerja Untuk Yumna
2
Pilihan Yang Berat
3
Hari Pertama Bekerja
4
Perjalanan Membantu Risma
5
Penemuan Jasad Risma
6
Diikuti Hantu Rel Kereta Api
7
Pertemuan Santi dan Toni
8
Perpisahan Risma
9
Pencarian di Rel Kereta
10
Penemuan Tangan Santi
11
Perhatian Rey Terhadap Nenek Yumna
12
Kisah Lampau Rey
13
Keisengan Brodi
14
Kecelakaan Brodi
15
Menjenguk Brodi
16
Bertemu di Alam Lain
17
Permintaan Maaf Brodi
18
Ke Rumah Korban Kecelakaan
19
Cerita Meyta, Hantu Rumah Angker
20
Menemui Keluarga Meyta
21
Ke Bank Mayara
22
Penjebakan Bimo
23
Kisah Kinan, Hantu Wanita Hamil
24
Saingan Rey Untuk Yumna
25
Leila, Hantu Ruang Bawah Tanah
26
Penemuan Mayat Leila
27
Hubungan Rey dan Yumna
28
Kakek Tua Misterius
29
Penemuan Mayat Kakek
30
Suami Kinan ke Restoran
31
Pertemuan Kinan dan Suaminya
32
Canda, Sosok Anak Tanpa Orang Tua
33
Pencarian Rey ke Makam
34
Pengakuan Orang Tua Canda
35
Kematian Aneh Robert
36
Mencari Tahu Kasus Robert
37
Ungkapan Perasaan Rey
38
Kisah Tragis Robert
39
Pertolongan Untuk Novi
40
Penangkapan Ravon
41
Perpisahan Robert
42
Rumah Sakit Misterius
43
Pencarian Kamar Bersalin
44
Makhluk Dari Kamar Mayat
45
Perjalanan Keluar Rumah Sakit
46
Kedekatan Rey dan Yumna
47
Kepindahan Novi
48
Gangguan Rumah Baru Novi
49
Rumah Baru Penuh Misteri
50
Penemuan Di Rumah Novi
51
Perjalanan Mimpi Yumna
52
Pertolongan Om Barjo
53
Menjenguk Bu Mey
54
Pengakuan Kepada Nek Kip
55
Rencana Perlawanan 1
56
Rencana Perlawanan 2
57
Pasukan Tak Kasat Mata
58
Malam Keramat
59
Penumbalan Oleh Praja
60
Pertemuan Singkat Rey dan Neneknya (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!