"Setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi setelah kejadian itu beritanya sudah menyebar ke mana-mana dan sejak itu nyonya Karina tidak pernah terlihat lagi di depan publik ataupun pergi mengunjungi tuan Xavier."
"Tapi beberapa bulan kemudian, nyonya Karina dan orang tuanya datang ke kediaman keluarga Chester. Mereka ingin meminta pertanggung jawaban tuan Alaric untuk menikah nyonya Karina, karena telah menghamili nyonya Karina. Namun, pada saat itu tuan Alaric menolak keras permintaan itu karena dia merasa itu bukan tanggung jawabnya dan juga kejadian itu murni jebakan seseorang untuk mengkambing hitamkannya,"ungkap Mila panjang lebar.
"Lalu sekarang, kenapa dia bisa menjadi nyonya di sini?"tanya Keira seraya menatap Mila ingin tau bagaimana kelanjutannya.
Menghela nafas panjang, Mila melihat ke depan sambil mengayun-ayunkan kakinya.
"Karena orang tua nyonya Karina mengancam jika tuan Alaric tidak mau menikahi anaknya, maka mereka akan mengumumkan pada awak media kalau tuan Alaric tidak mau bertanggung jawab atas semua perbuatannya…"
"Dan tuan Alaric yang mendengar itu terpaksa harus menikah dengan nyonya Karina. Jika tidak, mungkin orang tua nyonya Karina akan menyebarkannya dan membuat reputasi yang tuan Alaric bangun menjadi pria yang baik dan lembut akan tercoreng," lanjut Mila.
Mila tahu semua kebusukan orang-orang di kediaman ini, karena sejak kecil sampai sekarang dia selalu berada di sini. Mungkin bisa dibilang ini adalah rumah kedua selain rumah kontrakannya bersama ibu. Karena setiap pekerja juga disediakan tempat tidur di sini untuk berehat.
"Ternyata seperti itu. Yah, itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Dia yang menggali lubang, dia juga yang masuk sendiri ke lubang itu."
Sambil menghela nafas panjang Keira memandang daun-daun kuning yang berjatuhan dari atas pohon.
Melirik wajah imut Shaka , Keira berpikir sejenak, mungkin jika Xavier berhasil masuk ke perangkap Karina dia tidak akan berada di sini dan bertemu dengan pria kecil di hadapannya.
"Kenapa Ibu menatapku seperti itu?" tanya Shaka bingung sembari mengerutkan keningnya saat melihat tatapan ibu tertuju padanya.
Melengkungkan bibirnya ke atas, Keira mencubit hidung kecil Shaka sambil terkekeh pelan dia menjawab,"Karena ibu bahagia bisa bertemu Shaka dan menjadi orang tuamu."
Wajah Shaka tersipu malu,dia memalingkan mukanya yang memerah ke samping sambil menautkan jari-jarinya.
"Aku juga senang Ibu menjadi orang tuaku," gumam Shaka rendah.
"Hah… apa, Ibu gak dengar." Keira mendekatkan telinganya ke muka Shaka sambil mengulum senyumnya, dia sebenarnya dengar apa yang dibicarakan Shaka tapi Keira hanya ingin mendengarnya secara jelas.
Melihat wajah samping ibu yang terlalu dekat membuat wajah Shaka kembali tersipu.
"A-ku… aku… juga senang Ibu menjadi orang tuaku." Setelah berteriak Shaka langsung mengalungkan lengan kecilnya di leher Keira dan membenamkan wajahnya di leher ibunya yang harum.
Keira tertawa sangat puas. Dia kemudian berdiri dan membawa Shaka ke pelukannya.
"Ayo sekarang kita kembali."
"Baik nyonya." Mila berjalan terlebih dahulu untuk membimbing mereka.
Keira berjalan perlahan di belakang Mila sambil menggendong Shaka dan mengamati sekelilingnya yang ditumbuhi dengan bunga-bunga yang sangat cantik.
Sesampainya mereka di dalam rumah.
Keadaan ruang tamu itu sudah kosong, hanya tersisa William yang tengah duduk sendiri di sofa sambil tertunduk lesu. Perlahan Keira berjalan mendekat dan mendudukan dirinya di samping William bersama Shaka di pangkuannya.
"Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Keira khawatir karena melihat William yang tampak lesu.
William mengangkat wajahnya dan melihat iparnya sudah duduk di samping dia. Seolah melihat penyelamat, mata William berbinar dan menyandarkan kepalanya di bahu Keira berpura-pura menyedihkan.
"Ya semuanya sangat lancar. Karena mereka tidak bisa melawan kakak," ucap William sangat bangga, wajahnya tersenyum sumringah saat memuji-muji kakaknya.
"Yah kakakmu sangat hebat." Keira mengulum senyumnya, dia menggosok kepala berbulu william dengan sayang.
"Tapi di mana kakakmu?" tanya Keira heran saat tidak melihat batang hidung Xavier di sini.
"Tadi bilang kakak akan menyusul kak Kei ke taman, tapi kenapa hanya kakak yang kembali sendiri?"
"Tapi kakak tidak bertemu dengannya..."
"Apa mungkin tersesat,"panik Keira.
"Mana mungkin tersesat, kakak tau kok tata letak rumah ini. Mungkin kakak sedang jalan-jalan," jawab william enteng.
"Syukur deh." Keira menghela nafas lega begitu tahu kalau Xavier tidak akan tersesat.
----------------
Selain itu di sisi lain taman.
"Kenapa…kenapa kamu menikahi perempuan itu! kenapa kamu tidak melihatku sekali saja, kenapa! Apa kamu pernah menyukaiku sedikit saja Xavier?"
"Tidak."
Jawaban yang sangat dingin dan tak berperasaan itu membuat perasaan Karina hancur berkeping-keping. Dia tidak menyangka kebersamaannya selama ini tidak juga meluluhkan hati pria dingin di hadapannya.
"Kenapa! apa pertemanan kita juga tidak ada artinya bagimu."
"Saya tidak pernah menganggapmu teman."
Seperti tersambar petir di siang bolong kaki Karina melemas dia tidak bisa menopang tubuhnya dan langsung terduduk lesu di hadapan Xavier. Mengangkat kepalanya, Karina menatap Xavier dengan wajah pucat dan tatapan putus asa.
"A-pa…apa maksudmu, bukankah sejak kecil kita berteman, aku selalu mengikutimu dari belakang,"gumamnya rendah.
"Itu hanya anggapanmu sendiri, karena aku tidak pernah menganggapmu ada,"ucap Xavier dingin dan kejam tanpa memperdulikan perasaan wanita di depannya.
Mendengar pernyataannya yang kejam dan tak berperasaan itu, wajahnya seketika langsung pucat dan cairan bening mulai luruh dari netranya membasahi pipinya. Karina mencengkram dadanya yang berdenyut nyeri lalu memukul-mukulnya untuk menghilangkan rasa sakit yang dirasanya.
"Kenapa! Kenapa kamu sangat membenciku? Apa karena aku mencelakai wanita kesayanganmu hingga menyebabkannya koma, hah!" jerit Karina putus asa.
Karina mengangkat wajahnya yang berderai air mata, menatap langsung mata hitam Xavier yang dingin disertai dengan niat membunuh yang membuat hati Karina bergetar ketakutan.
"Apa karena itu juga kamu menyetujui pernikahan yang dilakukan ayahmu, karena dia sangat mirip dengan wanita yang sangat kau cintai…."
"Bagaimana Jika aku memberitahunya seperti apa ya reaksi dia kalau suami yang selama ini berbagi bantal dengannya hanya menganggapnya sebagai pengganti,"ucapnya gila dengan senyuman seringai di sudut mulutnya.
"Diam! Jangan ikut campur dengan urusan saya," desis Xavier tajam dengan aura membunuh menyelimutinya.
Selain itu di balik pohon besar seseorang berdiri dengan tubuh yang bergetar.
"Apa maksudnya…"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Jamayah Tambi
Kacau mcm ni
2024-11-01
0
Bastard_🗡️
karina anjng
2024-02-04
1