Setelah kesalah pahaman yang terjadi, kini mereka rukun kembali. Keira yang sudah lelah karena kegiatan hari ini akhirnya bisa menghela nafas lega, dia membaringkan tubuhnya yang lelah di atas kasur empuk.
Diikuti oleh Xavier yang berbaring di samping Keira, lalu membawa tubuh mungil istrinya ke dalam dekapan hangatnya dan membiarkan dia bersarang di tubuhnya.
Keira terlalu lelah untuk melawan pendekatan Xavier, lagian pelukan suaminya sangat nyaman dan hangat membuat dia merasa aman.
Dia mencari posisi nyaman di dekapan Xavier untuk tidur, kepalanya bersandar di lengan Xavier sehingga Keira bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdegup kencang.
Walaupun tidak ada percakapan di antara mereka tapi suasananya sangat harmonis, Xavier melingkarkan tangannya di pinggang ramping Keira lalu memeluknya erat. Sesekali dia akan mencium rambut Keira dan menghirup wangi shampo yang menyegarkan.
Entah kenapa dia sangat suka menempel pada istrinya dan bermanja-manja. Mungkin karena aroma tubuhnya yang sangat menenangkan, sehingga membuat dia bisa tenang dan tertidur nyenyak tanpa mengalami insomnia parah dan mimpi buruk.
Sedangkan Keira yang merasakan ciuman bertubi-tubi di atas kepalanya hanya menghiraukannya saja. Karena terlalu bosan dan tidak bisa tidur Keira ingin bertanya tentang kehidupan Xavier.
"Mas aku ingin tahu bagaimana kehidupanmu sebelum menikah" ucap Keira dengan raut wajah penasaran, dia mengubah posisinya menjadi telungkup seraya menopang dagunya dengan kedua tangan.
Mendengar pertanyaannya Xavier terdiam sejenak, mengingat bagaimana kehidupannya yang membosankan hanya kerja, kerja dan kerja.
"Tidak ada yang menarik dihidupku, hanya pergi bekerja dan pulang kerja."
"Kenapa? Bukankah sangat membosankan seperti itu?"
"Memang Mas tidak pernah berkencan atau berpacaran gitu?"
"Tidak pernah, lagian hal itu membuang-buang waktu Mas,"ucap Xavier tegas.
"Benarkah?"tanya Keira dengan curiga.
Bagaimana mungkin sosok sempurna seperti
Xavier tidak pernah berpacaran atau dekat dengan wanita. Bukankah banyak wanita yang tergila-gila padanya. Mungkin wanita yang ingin menikahinya akan berbaris seperti kereta.
"Hm."
"Lalu apa pernikahan ini juga membuang-buang maktu Mas?"
Xavier tercengang sebentar mendengar pertanyaan yang tak terduga dari istrinya, lalu tertawa tak berdaya.
Dia dengan mudah mengambil tubuh Keira untuk berbaring di atas badannya. Dan melingkarkan tangannya di pinggang langsing Keira.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku menikah denganmu," bisik Xavier tepat di depan wajah Keira.
Napas panas dan wangi mint menerpa wajahnya, membuat dia terkejut dan tanpa sadar mundur selangkah.
Dalam jarak ini Keira bisa melihat rupa suaminya yang tampan, meski terlihat pucat tapi itu tidak mengurangi ketampanannya. Terutama bibir tipisnya yang terlihat menggoda, membuat Keira ingin merasakannya sedikit.
Dan tanpa Keira sadari wajahnya perlahan mendekati xavier, perhatiannya tidak pernah lepas dari bibir menggodanya.
Memandang wajah cantik Keira yang mendekat, Xavier tersenyum licik lalu dengan patuh bekerja sama menunggu serangan dari istrinya.
Namun…
Dug…dug…dug
Gedoran pintu yang sangat kencang mengganggu kegiatan mereka disertai teriakan yang melengking.
"Ayah, Ibu buka pintunya!"
Keira yang terkejut langsung duduk di perut Xavier dengan wajah yang memerah seperti tomat.
"Apa yang aku lakukan!"
"Ibu Shaka ingin masuk buka pintunya!"
Mendengar teriakan Shaka, Keira menoleh ke arah pintu lalu pada Xavier yang wajahnya sudah hitam seperti dasar pot.
"A-ku, a-ku akan membuka pintunya." Setelah berbicara Keira hendak turun dari tubuh Xavier. Namun sebelum kakinya menyentuh lantai, dia sudah ditarik kembali kepelukan Xavier dan dicium paksa tanpa perlawanan.
Xavier menekan tengkuk Keira untuk memperdalam ciuman mereka yang penuh gairah, tanpa memperdulikan suara teriakan di luar. Bibirnya yang manis membuat dia kecanduan dan tidak ingin berhenti.
Keira meninju dada keras Xavier untuk segera melepaskannya. Dia benar-benar kewalahan oleh ciumannya yang mendominasi.
Tanpa memedulikan perjuangan istrinya, Xavier malah semakin memperdalam ciuman manis mereka.
Setelah beberapa saat dibawah perjuangan Keira yang tak henti-henti, Xavier dengan enggan melepaskan tautan bibir mereka.
Sesudah lepas dari jeratan Xavier, Keira langsung menghirup oksigen dengan rakus dan bersandar lemas di dada suaminya.
"Kamu sepertinya ingin membuatku mati lemas."
"Mana ada, aku hanya ingin terus mencicipi bibir manismu," goda Xavier dengan senyum puas setelah mendapatkan apa yang dia mau.
"Diam!" Keira mencubit mulut Xavier dengan jarinya. Dan dengan seringai licik, dia berkata, "Ini terakhir kalinya kita berciuman selanjutnya, jangan harap!"
Tanpa menunggu reaksi dari Xavier ,Keira segera turun dari tubuhnya dan berlari menuju pintu.
"Kenapa Ibu lama sekali buka pintunya," keluh Shaka, bibirnya merengut kesal saat melihat ibunya berdiri di hadapannya.
"Maaf sayang tadi ibu habis dari kamar mandi, kenapa? Apa Shaka butuh sesuatu?" tanya Keira tenang, berbohong tanpa mengubah raut wajahnya.
"Tidak,aku hanya ingin tidur bersama ibu,"jawab Shaka, lalu nyelonong masuk ke dalam sambil membawa bantal kecil. Ekor dinosaurusnya bergerak di belakang pantat kecil Shaka, membuatnya terlihat lucu.
"Ayah,"teriak Shaka gembira, dia langsung melompat ke atas kasur dan memeluk ayahnya.
"Kenapa kamu di sini?"tanya Xavier saat menerima pelukan besar putranya.
"Dia ingin tidur bersama kami," jawab Keira seketika saat mendengar pertanyaan dari Xavier. Dia kemudian ikut naik ke tempat tidur di sisi lain, sehingga membuat Shaka berada diantara mereka.
"Ya Ayah aku ingin tidur bersama kalian seperti anak-anak lain, bolehkan?" ucapnya dengan nada memohon sembari menatap Xavier dengan mata.
Wajah Xavier sedikit melunak saat melihat mata berbinar putranya, dia tanpa daya menyetujui permintaan Shaka seraya menjauhkan wajah putranya yang terlalu dekat dengannya.
"Hah… tidur yang benar,"titahnya saat melihat Shaka yang masih bergelantung di tubuhnya.
"Terima kasih ayah." Shaka langsung turun dari tubuh ayahnya lalu berguling kepelukan Keira. Tangan kecilnya melingkar di perut ibu, lalu membenamkan wajahnya di dada lembut ibunya.
"Ibu ceritakan dongeng untukku sebelum tidur."
"Mau cerita apa?" tanya Keira lembut sambil menepuk punggung putranya.
"Bebas terserah ibu."
"Oke." Keira mulai menceritakan kisah seorang Putri salju dan Pangeran yang menyelamatkannya.
Suaranya yang lembut dan merdu membuat mereka yang mendengarnya merasa nyaman dan tenang. Xavier yang melihat interaksi mereka tersenyum lembut, wajahnya yang selalu dingin akhirnya melunak sedikit.
Perlahan matanya yang terasa berat pun ikut terpejam saat mendengar cerita dari wanita cantik di sampingnya.
...----------------...
Keesokan harinya.
Anggota empat orang itu sedang sarapan bersama, dengan Xavier yang duduk sebagai kepala keluarga sendiri dan Keira yang duduk di sisi kanannya bersama Shaka sedangkan William dia duduk di sebrang keira.
Suasananya sangat harmonis dan tentram, sebelum bi eli datang dan membawa kabar yang tidak menyenangkan.
"Tuan, Tuan Besar menyuruh Tuan dan Tuan Muda William untuk kembali ke kediamannya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Jamayah Tambi
kenapa pulak nak kembali ke rumah.Bukan sudah dihalau ke
2024-11-01
0