Setelah sampai di villa Keira segera turun dari mobil sambil membawa Shaka yang tertidur pulas. Sebelum pergi dia terlebih dahulu mengucapkan terima kasih pada Keenan.
"Kamu bisa menelpon saya kapan saja, jika suamimu sudah setuju," ucap Keenan pada Keira yang berdiri di luar.
"Begitu, terima kasih hati-hati di jalan." Setelah berpamitan, Keira berbalik dan melangkahkan kakinya masuk ke villa.
Melihat punggung wanita itu yang menjauh, Keenan tidak segera pergi. Dia menatap villa megah di depannya yang terasa familiar dan tidak asing.
"Semoga saja bukan dia."
Setelah masuk ke dalam rumah Keira melihat bi Eli turun dari lantai atas sambil membawa nampan makanan.
"Kenapa makanannya di bawa lagi Bi?" tanya Keira bingung melihat makanan yang masih utuh.
"Itu Nyonya, Tuan tidak mau makan. Katanya dia mau tunggu Nyonya pulang,"jawab bi Eli.
"Kalau begitu taruh saja di meja, nanti aku yang anterin, aku mau ke kamar Shaka dulu."
"Baik Nyonya."
Keira segera melangkahkan kakinya naik ke lantai atas, menuju kamar Shaka. Dia dengan hati-hati menidurkan Shaka di ranjang kecilnya.
"Nghh…," lenguh Shaka matanya mengerjap akan bangun.
Keira langsung menepuk punggungnya pelan untuk menenangkannya.
"Sssstttt… tidur lagi sayang," bisik Keira lembut di telinga Shaka lalu mencium keningnya.
Setelah Shaka tidur lagi dan tidak akan bangun, Keira berjalan keluar dengan hati-hati lalu menutup pintu dengan pelan.
Keira mengambil makanan di atas meja yang disimpan bibi tadi dan membawanya ke atas.
"Kapan kakak pulang?" tanya William saat berpapasan di tangga.
"Oh… barusan, kamu kalau mau makan malam duluan aja ya bangunin Shaka. kakak mau anter makanan ini dulu," jelas Keira ketika melihat William dengan setelan rumahannya, rambutnya yang pendek terlihat masih basah, mungkin sehabis mandi. Tanpa menunggu jawaban dari William keira langsung meninggalkannya dan pergi ke kamar Xavier.
Tanpa mengetuk pintu, Keira perlahan membuka pintu kamar dan melihat ruangan yang gelap gulita tanpa penerangan. Dia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam lalu menekan saklar lampu di dekat pintu. Seketika ruangan yang tadinya gelap kini menjadi terang benderang.
Keira berjalan ke tempat tidur yang di mana ada Xavier tengah memejamkan matanya. Pada saat ini wajahnya yang tampan terlihat lembut dan tidak berbahaya saat tertidur.
Bulu matanya yang panjang sangat lentik, dengan hidung mancung dan rahangnya yang tegas. Tidak heran dia dijuluki pria paling sempurna, yang menjadi impian para gadis.
Setelah puas mengagumi wajah tampannya, Keira menyimpan nampan makanannya di atas meja, lalu mengulurkan tangannya yang ramping ke dahi Xavier untuk mengecek suhu tubuhnya. Dirasa demamnya sudah turun Keira menghela nafas lega.
"Mas…,"panggil Keira lembut sembari mengguncang bahu Xavier pelan.
"Hm…."
"Bangun, makan dulu nanti istirahat lagi." Keira merapikan rambut Xavier yang menghalangi matanya, lalu menepuk pipi Xavier pelan.
"En." Xavier dengan patuh membuka matanya perlahan terus bangun dan bersandar ke belakang.
"Nah makan." Keira menyerahkan mangkuk di tangannya kepada Xavier, saat dia hendak pergi tangan seseorang mencengkram pergelangan tangannya.
"Kamu mau ke mana?" Xavier memandang Keira yang akan pergi, matanya yang gelap penuh keluhan dan tuduhan karena ditinggalkan.
"Aku mau mandi, kenapa?"
"Jangan pergi suapin Mas dulu."
"Hah?" Keira sangat tercengang ketika mendengar permintaan Xavier yang tak terduga. Apa yang dia katakan tadi, minta disuap! Apakah demamnya membakar otaknya hingga jadi seperti ini.
"Kenapa? Cepat suapin Mas,"perintah Xavier tidak ingin dibantah.
"I-iya." Keira mengambil alih makanannya lalu duduk kembali di kursi.
"Kenapa di situ,"ujar Xavier tidak puas ketika melihat Keira yang duduk jauh darinya.
"Apanya?"
"Duduknya."
"Lalu aku harus duduk di mana?"tanya Keira mencoba untuk bersabar di hadapan orang sakit.
"Di sini." Xavier menepuk pahanya menginstruksikan Keira untuk duduk di pangkuannya.
"Gila! Gak mau, aku duduk di sini aja,"tolak Keira cepat, apa-apaan pria itu menyuruhnya duduk di pahanya, memangnya tidak ada tempat lain apa.
"Kamu mau bantah ucapan suami,hm."
"Bu-bukan tapika-"
"Hm?"
"Oke, fine." Pasrah Keira saat melihat tatapan berbahaya di mata xavier. Dia dengan canggung duduk di pahanya, wajahnya terasa terbakar. Dia benar-benar sangat malu.
Dengan senyum puas Xavier melingkarkan tangannya di pinggang ramping keira, dan dengan rakus mencium wangi tubuh Keira yang terasa menenangkan meski sudah beraktivitas di luar.
Dan dengan senang hati menerima suapan dari istrinya seraya memandang wajah cantik istrinya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Keira mengangkat sebelah alisnya.
Dengan seringai di sudut bibirnya Xavier membisikan kata-katanya dengan nada rendah, "Karena kamu cantik."
Tiba-tiba wajah Keira sudah memerah seperti tomat, membuat Xavier yang melihatnya merasa gemas.
"Kamu lucu kalau sedang tersipu."
"Diam! Cepat makan." Keira langsung memasukan sebagian besar nasi ke dalam mulut Xavier, mencegahnya untuk berbicara lagi.
"Kenapa pulangnya lama?" tanya Xavier penasaran setelah menelan nasi di mulutnya.
"Ya karena acaranya lama," jawab Keira seadanya, dia dengan sabar dan telaten menyuapi suaminya lalu memberinya minum.
"Terus kamu pulangnya sama siapa? tadi pak Dani nelpon katanya gak bisa jemput kamu karena mobilnya mogok," Xavier menerima air minum yang disodorkan Keira
"Oh itu aku pulang diantar Keenan," jawab Keira enteng tanpa menyadari perkataannya membuat dia dalam bahaya.
Mendengar nama laki-laki lain di mulut istrinya, Xavier memicingkan matanya tajam dan berbahaya lalu mencengkram pinggang tipis Keira untuk lebih dekat dengannya.
Dengan wajah suram Xavier menatap Keira dengan tatapan datar lalu bertanya dengan nada dingin.
"Siapa kenan?"
Melihat perubahan emosinya yang cepat, Keira meneguk ludahnya kasar dan dengan gugup berkata, "Pria yang aku temui di taman."
"Jadi kamu diam-diam bertemu dengan pria lain di belakangku, hah?" Xavier menjepit dagu Keira untuk melihatnya.
"Hm?"
"Tidak! Bu-bukan seperti itu kamu salah paham. Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat membantu menemukan anaknya yang hilang,"jelas Keira dengan cepat.
"Benarkah?"
"En." Keira buru-buru mengangguk membenarkan ucapannya.
"Bagus, jika kejadian seperti ini lagi kamu bisa telpon David untuk menjemputmu." Xavier menepuk kepala Keira lembut.
Tanpa membantah Keira segera menyetujuinya, dia menyimpan mangkuk yang sudah kosong di meja lalu bangun dari pangkuan Xavier.
"Aku mau mandi dulu." Tanpa menunggu persetujuan Xavier, Keira langsung berlari terbirit-birit menuju kamar mandi.
Melihat wanita itu pergi Xavier merilekskan tubuhnya dengan santai, keningnya mengernyit erat ketika mendengar nama Keenan. Seolah pernah mendengarnya di suatu tempat, namun dia lupa lagi di mana tempat itu.
"Keenan?"gumam Xavier lembut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Jamayah Tambi
Dr.Keenan.Pakar tulang
2024-11-01
0
Ayu Suyanto
keenan tu spertinya dokter nya si xavier. trus xavier tu sbnrnya sdah sembuh, cma pura2 lumpuh z
2023-12-21
2
nurhasila Sil
musuhan kayaknya
2023-12-10
0