Dua hari kemudian.
"Ayo shaka, semangat sayang," teriak Keira dari tribun menyemangati putranya yang sedang berlari di lapangan.
Sorak-sorai terdengar dari arah tribun, banyak anak-anak yang tidak ikut lomba mensupport teman-temannya bersama para orang tua mereka.
Hari ini adalah hari di mana sekolah mereka, TK Rainbow yang merupakan sekolah swasta elit di Jakarta mengadakan perlombaan untuk merayakan hari jadi sekolah mereka yang ke 25 Tahun. Semua para guru dan kepala sekolah sepakat untuk merayakannya dengan mengadakan perlombaan antar kelas, dan bagi siapa pun yang memenangkan perlombaan akan mendapatkan sebuah penghargaan.
"Ayo Shaka kalahkan Ezra."
"Ayo Shaka cepat."
"Semangat Shaka."
"Ezra semangat."
"Kalahkan Shaka Ezra."
Sorak-sorai yang berbeda menyemangati teman sekelas mereka masing-masing. Shaka yang mendengar penyemangat dari ibu dan teman-temannya, menambah kecepatan larinya dari posisi yang kelima berhasil menyalip pesaing-pesaingnya dan menjadi nomor urut dua selangkah di belakang Ezra.
Melihat garis finish tidak jauh darinya, Shaka sekali lagi menambahkan kecepatannya sehingga berhasil sejajar dengan Ezra. Teriakan para penonton semakin meriah di kala ketegangan antar dua pesaing.
Ezra yang tidak terima disalip akhirnya menambah kecepatan, namun karena terlalu menggunakan banyak energi saat memulai dia tidak bisa menyusul Shaka yang sudah di depannya.
"Shaka!"
"Shaka!"
"Shaka!"
"Ayo Shaka!"
"Ayo sayang, kamu pasti bisa!" teriak Keira menyemangati putranya.
Teriakan para penonton menyulut semangat Shaka, dengan mata yang penuh tekad Shaka berlari kencang dan berhasil menjadi yang pertama sampai di garis finish dan disusul oleh Ezra dan pesaing pesaingnya.
"Hore!"
"Yeayy!"
"Shaka hebat!"
"Kelas kita menang!"
Teriakan para penonton sangat antusias atas kemenangan shaka ada juga yang kecewa karena teman mereka kalah.
Dengan senyum lebar shaka berbalik ke arah tribun dan melihat teman-temannya bersama ibu berlari ke lapangan dengan ekspresi bahagia yang terpatri di wajah mereka.
"Hebat Shaka kamu luar biasa!"
"Shaka kamu yang terbaik!"
"Selamat Shaka!"
Satu persatu semua temannya mengelilingi Shaka, lalu memeluknya dan mengucapkan selamat atas kemenangannya. Dengan senyum bahagia Shaka membalas pelukan mereka sambil mengucapkan terima kasih.
Sedangkan Keira dia hanya melihat interaksi mereka di pinggir lapangan untuk memberi mereka waktu bersama.
Setelah berinteraksi dengan teman-temannya, Shaka berlari ke arah ibunya dengan ekspresi gembira yang terpancar dari wajahnya.
"Ibu…."teriak shaka menerjang ibunya dengan pelukan.
Dengan sigap Keira menangkapnya, meski badannya ramping tapi pertahanannya sangat kuat.
"Ibu aku menang!" ucap shaka bahagia mata bulatnya terlihat senang ketika melihat Keira.
"Ya, anak Ibu hebat," sahut Keira dengan senyum lembut, lalu menatap putranya dengan bangga.
"Hahaha aku kan sudah bilang aku akan menjadi juara," kata Shaka tersenyum sombong, mata hitamnya yang bulat bersinar dengan kegembiraan.
"Em, Shaka kita tidak berbohong."
Teman-teman Shaka yang sedari tadi melihat Shaka sangat akrab dengan perempuan cantik itu, sangat penasaran. Pasalnya mereka tau kalau Shaka tidak memiliki ibu, dan ayahnya, mereka tidak tahu rupa ayah Shaka seperti apa. Jadi melihat Shaka yang sangat bergantung pada kakak cantik itu membuat mereka penasaran.
Salah satu teman akrab Shaka berusaha memberanikan diri untuk bertanya kepadanya dengan wajah malu.
"Shaka siapa kakak cantik ini?"
Mendengar pertanyaan dari temannya, Shaka segera turun dari gendongan Keira, dan dengan ekspresi bangga, Shaka menatap mata teman sekelasnya yang penasaran.
"Tentu saja Ibuku,"ujar Shaka sombong.
"Benarkah, wah ibumu sangat cantik seperti peri."
"Iya seperti di buku dongeng."
Shaka melihat teman-temannya mengerubungi ibunya sehingga membuat dia tersingkir.
"Halo kakak peri."
"kakak peri apa kami mau jadi Ibuku."
Mendengar salah satu temannya ingin merebut ibunya, mata bulatnya langsung melotot dengan wajah marah Shaka melangkahkan kakinya ke depan dan membawa ibunya berlari menjauh dari sini.
Terdengar teriakan protes dari teman-temannya namun tak dihiraukan Shaka, dia menggenggam tangan ibunya dan membawanya ke tempat lain. Keira yang dibawa lari hanya pasrah mengikuti anaknya.
"Aduh…." keluh Shaka kesakitan ketika menabrak seseorang, dia mengusap pantat kecilnya lalu menatap orang yang ditabraknya.
Melihat wajah yang tidak asing berdiri di depannya, kening shaka mengernyit seolah mengingat sesuatu.
"Ah iya bukankah itu anak kecil yang tidak bisa bicara di taman." Batin shaka
Melihat putranya terjatuh Keira buru-buru membantunya.
"Sayang kamu gak papa, mana yang sakit beritahu Ibu."
"Aku tidak papa Bu."
"Benarkah?"
"Iya Bu."
"Ah… maaf anak saya tidak sengaja menabrak putra anda."
Mendengar suara magnetis seorang pria dari atas kepalanya, Keira mendongak dan melihat wajah yang dikenalnya.
"Ah ternyata kamu, halo saya Keenan pria yang waktu itu di taman. Sekali lagi saya minta maaf atas anak saya," ucap keenan terkejut saat melihat gadis itu.
"Ah oh iya, tidak apa-apa itu juga salah anak saya yang tidak hati-hati,"ucap Keira tersenyum sopan.
Lucas yang merasa bersalah menulis permintaan maafnya di kertas dan memperlihatkannya pada Shaka.
"Aku juga minta maaf karena tidak hati-hati." sesal Shaka setelah membaca permintaan maaf dari Lucas.
Melihat mereka yang saling meminta maaf, membuat Keira tersenyum hangat. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada keenan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"tanya Keira heran.
"Oh…kami sedang jalan-jalan untuk melihat bagaimana suasana sekolah baru Lucas," jawab Keenan seraya menatap Keira dengan tatapan lembut dan terasing.
Mendengar penjelasan pria dewasa di depannya, Shaka bertanya penasaran pada Lucas.
"Oh jadi kamu murid baru, kamu berada di kelas mana?"
Lucas yang ditanya menarik pakaian ayahnya dan menatapnya dengan cemas, seolah meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan dari Shaka.
Melihat tatapan memohon anaknya, keenan menghela nafas tak berdaya dia berjongkok di depan Shaka untuk mensejajarkan tinggi badannya.
"Dia berada di kelas 2A," jawab keenan lembut, lalu mengusap rambut hitam legam Shaka yang lembut.
"Wah, berarti satu kelas sama aku." ucap Shaka dengan mata berbinar.
"Benarkah kalau begitu teman kecil tolong jaga Lucas ya."
"Jangan khawatir paman aku akan menjaga anak paman. di bawah lindungan aku tidak akan ada yang berani menggertaknya," ucap Shaka dengan nada serius sambil memegang pundak paman di depannya seolah meyakinkannya untuk percaya.
"Benarkah, apa kamu sangat ditakuti," cibir Keira.
"Tentu saja, kenapa ibu gak percaya," protes Shaka menatap ibunya marah.
"Lihat saja badanmu yang kecil, ototmu yang lembek, bagaimana bisa melindungi orang lain,"ucap Keira dengan kejam.
"Meskipun badanku kecil aku bisa mengalahkan teman-temanku!"
"Percaya diri sekali."
"Tentu saja, karena Ayah meminta guru untuk mengajariku bela diri,"ujar Shaka tersenyum percaya diri.
"Aku juga akan melindungi Ibu, tenang saja."
"Dengan badan kecilmu? Hah tidak perlu,"tolak Keira secara langsung.
"Ibu kamu! Huh Shaka marah!"
Ayah dan anak itu dibiarkan melihat pertengkaran kecil mereka yang terlihat lucu dan menggelikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments