Bab 13

"Apa itu?" tanya Xavier penasaran ketika melihat kotak persegi di tangan Keira. 

"Oh, aku beli ini untuk mu." Keira menyerahkan kotak persegi itu pada Xavier, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. 

"Hah…." Akhirnya dia bisa beristirahat dengan nyaman setelah seharian menghabiskan waktu bersama. 

Melihat kotak hadiah di tangannya Xavier perlahan membukanya dan terpampanglah jam tangan mewah edisi terbatas. 

"Kenapa kamu membelikan jam tangan untuk Mas?"tanya Xavier heran. 

"Karena aku belanja pakai uang Mas, jadi aku  membelikan jam ini untuk Mas,"jawab Keira acuh tak acuh. 

"Kamu tidak perlu membelikan Mas barang mewah seperti itu, Mas memberikan kartu itu untuk kamu belanjakan. Kamu bebas menggunakan uang itu untuk membeli apapun, jangan khawatirkan Mas." Xavier menepuk kepala Keira dengan pelan

"Oke kalau begitu, berikan padaku jamnya." Keira hendak mengambil jam tangan itu, namun Xavier langsung menepis tangannya. 

"Bukannya ini hadiah untukku? Kenapa kamu ingin mengambilnya."

"Mas kan bilang jangan belikan Mas barang mewah, jadi sini barangnya. Aku mau menjualnya lagi." Keira ingin merebut barang itu, tapi Xavier langsung menahan pergelangan tangannya. 

"Barang yang sudah di tangan orang lain, gak bisa dibalikin lagi." 

"Kok gitu, kan Mas gak mau."

"Siapa bilang Mas gak mau, Mas mau kok. Ayo bantu Mas memakainya." Xavier menyerahkan jam itu ke tangan Keira. 

"Huh." Dengus Keira lalu mengambil alih jam itu dan membantu Xavier memakainya. 

"Gimana bagus gak,"tanya Keira menatap Xavier dengan mata berbinar seolah meminta pujian. 

Melihat mata berbinar Keira, seulas senyum tipis muncul di bibirnya. Dengan tatapan manja Xavier menepuk kepala Keira seolah menepuk hewan peliharaan. 

"Bagus, terima kasih."

"Ya, kamu menyukainya?"

"Mas menyukainya."

"Bagus kalau begitu."

Saat Keira hendak berguling ke sisi lain, mendadak tangan seseorang mencengkram pinggangnya lalu membawa tubuhnya ke pelukan hangat Xavier. 

"A-apa yang ingin kamu lakukan!" Keira mencoba kabur dari pelukan Xavier, tapi lengan kekarnya terlalu erat memeluknya. 

"Tentu saja memberimu imbalan,"ujar Xavier dengan nada rendah. 

Wajah tampannya perlahan mendekati Keira, membuat istrinya semakin gugup. Xavier memegang tengkuk Keira agar tidak menjauh. 

Melihat wajah Xavier hanya berjarak beberapa inci darinya, Keira kemudian menutup matanya dengan gugup. 

"Apa yang akan dia lakukan! Apa dia ingin menciumku? Apa aku harus membalasnya atau aku menamparnya."

 

Namun ciuman yang Keira harapkan tidak terjadi, malah sentuhan lembut yang jatuh di pipinya dan tawa rendah Yang terdengar di telinganya, membuat Keira segera membuka mata indahnya. 

"Ka-kamu,"ucap Keira gugup sekaligus malu karena terlalu berharap. 

"Ada apa, apa kamu kecewa karena aku tidak menciummu di sini,"goda Xavier tersenyum menawan, ibu jarinya mengusap bibir lembab Keira yang terlihat menggoda. 

"Hm?"

"Si-siapa yang kecewa! Aku tidak kecewa!" Karena terlalu malu, Keira langsung berguling ke sisi tempat tidur lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. 

Gerakannya sangat cepat, sehingga tidak memberi Xavier kesempatan untuk menghentikannya. 

Di dalam selimut Keira tak henti-hentinya mengutuk Xavier karena bajingan dan membuat dia malu sendiri. 

"Kenapa kamu bersembunyi, kemari Mas akan memuaskan keinginanmu." Xavier hendak membuka selimut yang menutupi tubuh Keira, tapi diinterupsi oleh raungan yang memekakkan telinga. 

"Pergi! Siapa juga yang mau berciuman denganmu!"

"Dasar brengsek!"

"Bajingan tua!"

"Pria tua, tua, tua!"

Xavier dengan kesabaran yang seluas samudera hanya untuk Keira, mendengarkan sumpah-serapah istrinya sampai selesai. Lalu berkata lembut, " Selesai? Sekarang buka selimutnya."

Namun setelah beberapa saat menunggu, Xavier tidak menerima tanggapan dari gadisnya. Takut sesuatu terjadi padanya, Xavier langsung membentangkan selimutnya.

Dan tampaklah Keira yang sudah tertidur lelap dengan wajah polosnya seperti putri tidur.

"Ternyata sudah tidur." Xavier mengusap surai lembut rambut panjangnya. 

Dering ponsel memecah kesunyian malam yang gelap-gulita. Mengganggu Xavier yang sedang mengagumi wajah istrinya, dengan wajah hitam dia langsung mengangkat ponselnya. 

"Halo tuan."

"Hm, ada apa? "jawab Xavier dengan nada rendah takut membangunkan gadis di sampingnya

Xavier hanya mendengarkan laporan dari bawahannya, seraya menatap keluar jendela yang menampakan rembulan yang bersinar terang di langit malam. Pupil matanya yang gelap sangat dingin dan tajam, setelah mendengarkan laporannya dari bawahannya. 

"Yah kerja bagus."

Setelah menutup telepon, Xavier membaringkan tubuhnya di samping Keira lalu membawa tubuh istrinya kepelukannya. 

......................

Di sisi lain. 

Di sebuah bangunan sepi yang terbengkalai di tengah hutan, seorang pria dengan tubuh yang berlumur darah berjalan terseok-seok menuju seseorang yang terbaring lemah di lantai, dengan darah yang berceceran di mana-mana.

"Ja-Jack… bangun… Jack,"panggil pria itu dengan suara terputus-putus dan gemetar.

Namun seberapapun John memanggil atau mengguncang tubuhnya, Jack tidak merespon. 

Dengan mata merah yang penuh kebencian, John mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh darinya lalu memutar serangkaian nomor tak di kenal. Setelah beberapa saat berdering akhirnya terhubung.

"Bos… ka-kami… telah… diserang,"ucap John terbata-bata lalu jatuh pingsan. 

Di malam yang sunyi dan gelap, gedung itu terlihat sangat menyeramkan dengan darah yang berceceran di mana-mana dan anggota tubuh yang tergeletak tak bernyawa.

••••

Selain itu di sebuah bar dengan lampu yang berkelap kelip dan suara musik yang keras memekakkan telinga. Seorang pria paruh baya tengah duduk di sofa dengan wine di tangannya. Wajahnya yang garang terlihat sangat menyeramkan dengan bekas luka yang membentang dari ujung alis sampai ujung pipi.

"Brengsek!"

Setelah menutup panggilan teleponnya, Baron segera berdiri dan berjalan keluar dengan wajah suram. 

"Henry cepat pergi."

"Baik Tuan." Henry buru-buru mengikuti pria paruh baya itu.

"Dasar sialan! bawahan tidak berguna, menjaga satu orang saja tidak bisa," gerutunya sangat marah

"Tuan," sapa pengawal itu dengan hormat lalu membukakan pintu penumpang untuk bosnya.

"Cepat pergi ke bangunan tua itu."

"Baik tuan." Setelah menutup pintu penumpang pengawal itu berlari ke kursi kemudi lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena ini sudah tengah malam, jadi tidak banyak mobil yang berlalu lalang di jalan, sehingga memudahkan pengemudi itu untuk melajukan kendaraannya dengan cepat.

Dengan lihai pengemudi itu menjalankan mobilnya di jalan yang berkelak-kelok menuju hutan belantara. Setelah beberapa menit melewati  hutan  dengan pohon-pohon besar, akhirnya mereka sampai di bangunan terbengkalai.

Dapat dilihat bangunan itu sudah sangat tua dengan beberapa lumut yang menghiasi tembok-tembok tinggi itu.

Saat Baron berjalan masuk dia sudah disuguhi pemandangan yang sangat berdarah.

"Sialan! Siapa yang melakukan ini semua!"teriaknya marah ketika melihat semua bawahannya mati. 

"Tuan menurut laporan yang didapat, mereka semua diserang oleh sekelompok orang misterius." 

"Orang misterius." 

"Ya,Tuan." 

Terpopuler

Comments

Nic

Nic

musuh Xavier?

2023-10-11

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!